Thu 5 Saf 1436 - 27 November 2014
107330
Urgensi Shalat Istikharah
Izinkan saya menyampaikan soal ini. Saya ingin bertanya untuk menenangkan akal saya. Saya sering mendengar tentang shalat istikharah, akan tetapi kami tidak melakukannya kecuali dalam kondisi yang sangat jarang sekali. Kadang kami shalat, namun masih ada keraguan dalam hati kami, karena kami tidak mengetahui urgensinya. Kadang terbetik di pikiran kami bahwa ketetapan Allah-lah yang akan berlaku, kalau begitu apa manfaatnya berdoa dan berusaha? Mohon berikan penjelasan tentang shalat istikharah.


Alhamdulillah

Urgensi shalat istikharah terkandung dalam tiga perkara:

Pertama: Totalitas dalam menunjukkan kebutuhannya kepada Allah serta meniadakan ketergantungan kepada selain Allah. Merealisasikan tawakal kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepadanya. Ini semua adalah nilai tauhid dan keislaman yang sangat agung yang menjadi peran shalat Istikharah dalam mewujudkannya, khususnya bagi siapa yang melakukannya dan menghadirkan dalam hatinya tentang hakekat dan hikmat diajarkannya.

Kedua: Mendapatkan kebaikan dalam pilihannya dan kesuksesan dalam perkaranya serta taufiq dalam usahanya. Siapa yang menyerahkan urusannya kepada Allah, Dia akan mencukupinya, siapa yang memohon kepada Allah dengan jujur, Allah akan memenuhi kebutuhannya dan tidak akan mencegahnya.

Al-Ghazali berkata dalam kitab 'Ihya Ulumuddin' (1/206), "Sebagian orang bijak berkata, 'Siapa yang diberikan empat perkara, tidak akan terhalang dari empat perkara, 'Siapa yang diberikan sifat syukur tidak akan terhalang dari tambahan nikmat, siapa yang diberikan taubat, tidak terhalang dari penerimaan taubatnya, siapa yang diberikan istikharah tidak terhadap dari kebaikan dalam pilihannya, siapa yang diberikan masyurah (bermusyawarah) tidak terhalang dari kebenaran."

Adapun hadits, 

 ( ما خاب من استخار ، ولا ندم من استشار )

"Tidak rugi orang yang istikharah dan tidak menyesal orang yang suka bermusyawarah."

Ini merupakan hadits maudhu. Lihat As-Silsilah Adh-Dhaifah, no. 611, Syekh Al-Albany.

Ketiga: Ridha dengan takdir dan menerima setiap bagian. Siapa yang istikharah dalam urusannya, tidak akan menyesal atas pilihannya, hatinya akan tenang dan yakin, berikutnya akan sirna kegundahan dan kesedihan atas pilihannya. Bagian ini merupakan manfaat yang paling besar yang teraih dalam dalam shalat istikhara dalam hati seorang hamba.

Ibnu Abi Dunya berkata dalam Kitab 'Ar-Ridha Anillahi Biqadhaaihi' (92) begitu juga dengan sanadnya dari Wahab bin Munabbih, dia berkata, "Daud alaihissalam berkata, 'Tuhanku, hamba-Mu yang manakah yang paling Engkau benci?' Dia berkata, 'Hamba yang selalu istikharah kepada-Ku dalam sebuah perkara, lalu Aku pilihkan untuknya, namun dia tidak ridha dengannya."

Ibnu Qayim rahimahullah berkata dalam Al-Wabil Ash-Shayib, no. 157, "Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, 'Tidak menyesal orang yang selalu istikharah kepada Sang Khaliq dan bermusyawarah kepada makhluk serta teguh dalam perkaranya."

Hikmah-hikmah ini dikumpulkan oleh Al-Allamah Ibnu Qayim dalam penjelasannya yang sangat menarik tentang pentingnya shalat Istikharah sebagaimana dia katakana dalam Kitab Zadul Ma'ad, (2/442)

"Allah mengganti untuk mereka dengan doa istikharah. Dia merupakan tauhid dan sikap membutuhkan serta penghambaan, tawakal dan permohonan kepada Siapa yang di tangannya terdapat sumber kebaikan, yang hanya Dia dapat mendatangkan kebaikan dan hanya Dia yang dapat menolak keburukan, yang apabila telah Dia buka rahmat bagi hamba-Nya tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, dan jika Dia telah tahan, tidak ada seorang pun yang dapat menurunkannya, apakah itu keyakinan sesat, ahli nujum atau semacamnya. Doa ini merupakan pengharapan yang mendatangkan kebahagiaan dan taufiq yang akan mendapatkan kebaikan dari Allah. Dia bukan pekerjaan para pelaku syirik, sengsara dan orang hina yang menjadikan tuhan-tuhan lain selain Allah. Niscaya mereka akan mengetahuinya.


Di dalam doanya terkandung penetapan terhadap tauhid kepada-Nya, penetapan terhadap sifat-sifat-Nya yang sempurna, seperti kesempurnaan ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, kehendak-Nya, rububiyah-Nya. Di dalamnya terdapat pelimpahan segala perkara kepada-Nya, memohon pertologan dan tawakal kepada-Nya serta keluar dari ketergantungan terhadap diri sendiri dan menggantungkan segala daya dan upaya hanya kepada-Nya. Di dalamnya terdapat pengakuan seorang hamba tentang kelemahan ilmunya, kekuasaannya dan kehendaknya untuk mengetahui dan meraih manfaat terhadap dirinya. Seraya meyakini bahwa semua itu ada di tangan Allah, pelindung dan penciptanya dan Tuhannya yang haq.

Dalam Musnad Imam Ahmad, dari hadits Saad bin Abi Waqqash, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

من سعادة ابن آدم استخارة الله ورضاه بما قضى الله ، ومن شقاوة ابن آدم ترك استخارة الله وسخطه بما قضى الله

"Di antara (sebab) kebahagiaan seorang Anak Adam adalah istikharahnya dia kepada Allah dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan kepada-Nya. Dan di antara sebab kesengsaraan Anak Adam adalah meninggalkan istikharah kepada Allah dan murka terhadap apa yang Allah tetapkan baginya."

Perhatikanlah, bagaimana sebuah takdir diapit oleh dua perkara; Tawakal yang hal itu terkandung dalam istikharah sebelumnya dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan baginya sesudahnya, keduanya merupakan alamat kebahagiaan. Sedangkan alamat kesengsaraan adalah meninggalkan tawakal dan istikharah sebelumnya dan murka dengan ketentuan sesudahnya.

Tawakal adalah sikap sebelum terjadinya ketentuan, jika ketentuan telah terjadi, maka penghambaan kepada Allah beralih kepada ridha.Sebagaiman terdapat riwayat dalam Musnad, lalu An-Nasai menambahkan dalam doa yang terkenal,


وأسألك الرضا بعد القضاء

"Aku mohon kepada-Mu ridha terhadap qadha (ketetapan)."

Kalimat ini lebih dalam daripada ridha terhadap qadha. Karena boleh jadi sebelum terjadinya ketetapan, hatinya kuat (siap untuk ridha), namun ketika ketetapan tersebut terjadi, kekuatan hatinya melemah. Akan tetapi jika ridha terjadi setelah ketetapan, maka dia akan tetap berlaku baik sekarang atau esok.

Maksudnya adalah bahwa istikharah merupakan bentuk tawakal kepada Allah dan menyerahkan urusan kepadanya serta memohon pembagian dengan kekuasaan dan ilmu-Nya agar dipilihkan yang terbaik bagi hamba-Nya. Ini semua merupakan bentuk ridha kepada Allah sebagai rabb, yang tidaklah seseorang dapat merasakan lezatnya keimanan sebelum merealisasikannya. Maka jika dia ridha terhadap takdir setelah kejadiannya, itu merupakan pertanda kebahagiaan."

Wallahu a'lam.

Soal Jawab Tentang Islam