Tue 7 DhQ 1435 - 2 September 2014
112070
KAPAN DIMULAINYA MASA BERLAKU DIBOLEHKANNYA MENGUSAP KHUF ATAU KAOS KAKI
Kapan dimulai masa berlaku mengusap khuf?


Alhamdulillah

Ulama dalam masalah ini memiliki dua pendapat yang dikenal;

Pertama. Dimulai sejak petama kali hadats.

Kedua. Dimulai ketika mengusap setelah berhadats.

Pendapat pertama dinyatakan oleh Abu Hanifah, Syafi'i, Ahmad dan para pengikutnya. Kami tidak mengetahui dalil yang layak disebutkan kecuali sekedar pendapat saja. Karena itu, sebagian pengikut mereka berbeda pendapat sebagaimana disebutkan kemudian. Dan tidak aku ketahui pendapat pendahulu mereka dari kalangan sahabat.

Berbeda dengan pendapat kedua, dalilnya adalah hadits shahih dan fatwa Umar bin Khattab radhiallahu anhu.

Adapun hadits shahih, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat dalam shahih Muslim, dan Sunan yang empat serta beberapa musnad dan selainnya. Di dalamnya dinyatakan, 'Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa salllam memerintahkan mengusap' 


Dalam sebagian riwayat, dikatakan, 'Beliau memberikan keringanan (rukhsah) untuk mengusap (khuf)' dalam riwayat lain,  'Beliau menetapkan usapan (khuf)  bagi orang yang menetap sehari semalam, dan bagi musafir, tiga hari dan tiga malam'

Tampak sekali bahwa hadits ini merupakan nash tentang dimulainya waktu mengusap dari sejak dia mengusap, dia juga sebagai nash yang menjawab pendapat pertama. Karena konsekwensi (dari pendapat pertama tersebut) sebagaimana mereka katakan dalam perkara cabang, 'Bahwa siapa yang shalat Fajar sesaat sebelum matahari terbit, kemudian berhadats pada saat masuk fajar di hari kedua, lalu dia berwudu dengan mengusap khuf untuk pertama kalinya untuk shalat Fajar, maka setelah itu dia tidak boleh lagi mengusap khuf. Apakah dibenarkan dengan contoh ini mereka dikatakan boleh mengusap selama sehari semalam? Adapun berdasarkan pendapat kedua, maka orang tersebut masih boleh mengusap khuf hingga sebelum masuk waktu fajar hari ketiganya. Bahkan mereka (yang berpendapat pertama) berpendapat lebih unik lagi dari apa yang telah kami sebutkan, yaitu jika seseorang berhadats dan belum sempat mengusap khufnya hingga berlalu setelah masa hadatas tersebut sehari semalam, atau tiga hari tiga malam bagi musafir, maka habislah baginya masa dibolehkannya mengusap khuf dan tidak boleh lagi baginya mengusap sesudahnya, hingga dia memulai lagi memakainya kedua khufnya dalam keadaan suci. Dengan pendapat ini mereka mencegah seseorang memanfaatkan keringanan tersebut. Berdasarkan pandangan yang bertentangan dengan sunnah.

Karena itu, Imam Nawawi berpandangan berbeda dengan mazhabnya (beliau berpendapat dengan pendapat kedua, sedang mazhabnya berpendapat dengan pendapat pertama) karena kuatnya dalil.

Beliau berkata setelah menjelaskan pendapat pertama dan orang-orang yang berpandangan demikain, 1/487, 'Al-Auza'i dan Abu Tsaur berkata, 'Awal masa (berlakunya mengusap khuf) adalah sejak dia pertama kali mengusap setelah hadats. Ini adalah termasuk pendapat Ahmad dan Abu Daud. Inilah pendapat yang dipilih karena dalilnya lebih kuat, sebagaimana juga dipilih oleh Ibnu Munzir. Diriwayatkan bahwa ini juga merupakan pendapat Umar bin Khattab radhiallahu anhu. Sedangkan Al-Mawardi dan Asy-Syasyi meriwayatkan dari Hasan Basri, bahwa awal waktunya bermula dari pertama kali memakai khuf.

Mereka yang berpendapat bahwa awalnya dari pertama kali mengusap adalah hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam, 'Seorang musafir mengusap selama tiga hari.' Ini adalah termasuk hadits-hadits yang shahih sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dalam hadits ini terdapat pernyataan yang jelas bahwa masa mengusap adalah tiga hari, dan hal tersebut tidak terwujud kecuali jika batasan waktunya berawal dari pertama kali mengusap. Juga karena Imam Syafi'i radhiallahu anhu berkata, 'Jika seseorang berhadats saat dia masih menetap, kemudian mengusapnya setelah dia dalam safar, maka dia menyempurnakan masa usapaan yang berlaku bagi musafir.' Berarti beliau mengaitkan hukum dengan mengusap.

Sedangkan rekan-rekan kami (dalam mazhab Syafi'i) berpedoman dengan riwayat Al-Hafiz Qasim bin Zakaria Al-Muthrizi dalam hadits Shofwan, '(Masanya) dari hadats ke hadats' Ini merupakan tambahan yang aneh, tidak kuat. Mereka juga berdalil dengan qiyas.

Aku (Al-Albani) berkata, 'Qiyas yang dimaksud, jika dia benar, maka syarat diterimannya dan dapat dijadikan dalil adalah jika tidak bertentangan dengan sunnah. Adapun jika dia ternyata bertentangan, maka tidak boleh diperhatikan. Karena itu dikatakan, jika telah ada atsar, maka batallah pandangan akal.

Cukuplah bahwa pendapat ini (memulai masa khuf sejak mengusap khuf) dengan pandangan Khalifah Umar bin Khattab. Saya serukan kepada mereka yang bertaklid untuk memilih sunah yang shahih ketika bertentangan dengan ucapannya radhiallahu anhu, sebagaimana yang mereka lakukan dalam masalah thalaq tiga dalam satu majelis. Jika hal itu mereka lakukan, maka mereka tidak mengambil pendapatnya yang sesuai dengan sunnah?

Abdurrazzaq telah meriwayatkan dalam Al-Mushannaf, 1/209/807) dari Abu Utsman An-Nahdi, dia berkata, 'Saya datang ketika Sa'ad dan Ibnu Umar berselisih tentang mengusap khuf. Umar berkata, 'Mengusapnya hingga saat seperti waktu dia mengusap, sehari semalam.'

Saya katakan bahwa riwayat ini sanadnya sah berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim. Di dalamnya jelas dinyatakan bahwa masa berlaku mengusap adalah sejak dia mengusap khuf hingga waktu yang sama setelah sehari semalam berikutnya. Inilah kesimpulan yang tampak berdasarkan riwayat-riwayat dari para shahabat tentang masa berlaku mengusap sebagaimana yang kami ketahui. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushonnaf. Sebagai contoh saya sebutkan riwayat dari Ibnu Abi Syaibah, 1/180, dari Amr bin Al-Harits, dia berkata, 'Saya keluar bersama Abdullah ke Mada'in, lalu beliau mengusap kedua khufnya selama tiga hari tanpa beliau copot.' Sanadnya shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.

Riwayat dari salafushshaleh bersesuaian dengan sunnah Nabi Muhammad sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka jadikanlah dia pedoman, maka dengan izin Allah, anda akan mendapat petunjuk." (Risalah Tamam An-Nush fi Ahkamil-Mash, Syekh Al-Albani, rahimahullah, hal. 89-92)

Wallahua'lam.

Soal Jawab Tentang Islam