Wed 28 DhH 1435 - 22 October 2014
11277
Makna Al-Bathin dan Az-Zahir
Mohon dijelaskan kepada kami makna dari nama Allah (الباطن) dan (الظاهر)?


Alhamdulillah

Kedua nama yang mulia ini ditafsirkan oleh hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu. Di dalamnya terdapat sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

وأنت الظاهر فليس فوقك شيء ، وأنت الباطن  فليس دونك شيء (رواه مسلم)

"Engkau adalah Az-Zahir, tidak ada sesuatupun di atas-Mu, Engkau adalah Al-Batin, tidak ada sesuatupun yang berada di balik-Mu." (HR. Muslim)

Az-Zaahir dalam hadits ini ditafsirkan dengan makna tinggi, maka Allah Ta'ala Maha Tinggi di atas segala sesuatu. Sebagian orang menafsirkan zahir dengan makna tampak. Maksudnya adalah Dia tampak bagi akal berdasarkan bukti-bukti akan keberadaan-Nya dan keesanNya. Maka Dia Zahir berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkannya, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang menunjukkan ilmu tentang-Nya. Dia adalah zahir, dapat diketahui berdasarkan akal dan dalil. Dia adalah batin, tidak tampak sebagaimana tampaknya segala sesuatu di dunia. Allah Ta'ala Maha Tinggi.

Allah Ta'ala adalah Az-Zahir berdasarkan hikmah dan penciptaan-Nya serta seluruh nikmat-Nya yang telah dia berikan. Dia adalah Al-Bathin, tertutup hakikat-Nya, baik dzat, cara dan sifat-sifat-Nya.

Sebagian ulama mengartikan Al-Bathin adalah bahwa Dia dekat. Dikatakan bahwa Al-Bathin lebih dekat dari segala sesuatu dengan ilmu dan kekuasaan-Nya sedangkan dia berada di atas Arasy-Nya.

Ada juga yang menafsirkan Al-Bathin bahwa Dia mengetahui segala perkara yang tersembunyi. Maka Dia adalah Maha Mengetahui yang tersembunyi maupun yang tampak. Bukhari berkata, "Yahya, maksudnya Al-Farra, bahwa Az-Zahir adalah berada di atas segala sesuatu berdasarkan ilmu-Nya sedangkan Al-Bathin terhadap segala sesuatu berdasarkan ilmu-Nya."

Sebagian ada yang menafsirkan bahwa Al-Bathin artinya bahwa Dia tidak diketahui berdasarkan panca indra seperti makhluk yang dapat diketahui dengan indra.

Sebagian lagi mengatakan bahwa Dia terhalang dari pandangan makhluk dan perkiraan-Nya. Dia tidak dapat terlihat oleh mata dan juga orang perkiraan.

Meskipun semua makna tersebut benar, akan tetapi lebih utama jika berpatokan dengan penafsiran Nabi, sebab itulah penafsiran yang paliang baik, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling mengetahui tentang Allah Ta'ala. Ibnu Jarir berkata, "Az-Zahir adalah berada di atas segala sesuatu yang dibawahnya. Dia tinggi di atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang lebih tinggi dari-Nya. Dia adalah Al-Bathin atas segalah sesuatu, tidak sesuatu yang lebih dekat darinya kecuali Dia."

Ibnu Qayim menyebutkan bahwa siapa yang mengingkari bahwa Allah di atas, maka dia berarti mengingkar kandungan dari makna Az-Zahir. Tidak sah makna Az-Zahir hanya untuk yang tinggi kedudukannya, sebagaimana dikatakan bahwa 'emas berada di atas perak' Karena keberadaan di atas di sini terkait dengan 'penampakan', bahkan bisa jadi yang dibawah lebih bernilai dari yang di atas. Tidak benar pula jika Az-Zahir di sini hanya terkait dengan kekuatan dan kekuasaan saja, meskipun Allah Ta'ala kekuatan dan kekuasaannya berada di atas. Maka bagi Allah ketinggian secara mutlak dari berbagai sisi. Dia tinggi dzat-Nya, kedudukan-Nya dan kekuasaan-Nya.

Maka Allah Ta'ala Al-Bathin, tidak mengandung makna di bawah. Sebab keberadaan di bawah berarti cacat dan maha suci Allah dari sifat demikian. Karena Allah Ta'ala Maha Tinggi, Dia tidak ada kecuali Maha Tinggi.

Az-Zahir dikaitkan dengan Al-Bathin. Penampakkan disandingkan dengan ketinggian, sebab, semakin sesuatu itu tinggi semakin dia tampak. Masing-masing kata tinggi dan tampak mengandung makna lainnya. Karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Tidak ada sesuatu pun di atasmu." Beliau tidak mengatakan, "Tidak ada yang lebih tampak dari-Mu." Karena Az-Zuhur(tampak) mengandung makna tinggi.

Di dalamnya juga terkandung makna bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, dan segala sesuatu menjadi kecil di hadapan kebesaran Allah. Adapun Dia adalah Al-Bathin karena dia mengetahui perkara tersembunyi dan rahasia serta perkara-perkara yang sang detail.

(Kitab Syarh Asmaullahi Ta'ala Al-Husna. Penyusun: Hassah Ash-Shugair, hal. 61)