Thu 3 Shw 1435 - 31 July 2014
12290
Tidak Ada Pertentangan Antara Turunnya Allah Ta'ala Ke Langit Dunia Dan Bersemayam-Nya Di Atas Arasy
Ketika dilontarkan pertanyaan, 'Di mana Allah?' Maka jawabannya adalah, 'Di atas langit yang tujuh dan di atas Arasy.' Akan tetapi, jika kita mengambil hadits yang di dalamnya menunjukkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sebagian akhir malam, maka jika ditanya, 'Di mana Allah?' lalu ketika itu (saat pertanyaan itu dilontarkan) dia menjawab, 'Di sepertiga malam terakhir.' Maka apa jawaban yang dia katakan. Perkara lain lagi adalah bahwa sebagian orang ada yang berkata bahwa sebagian malam terakhir itu pada hakekatnya terus berlangsung setiap waktu (di sebuah tempat di muka bumi dan pada waktu tertentu), karena itu mereka berkesimpulan bahwa Allah tidak berada di arasy-Nya.


Alhamdulillah

Pertama, yang diwajibkan kepada kita adalah mengenal aqidah Ahlussunah wal jamaah dalam hal nama dan sifat-Nya. Aqidah Ahlussunnah wal jamaah adalah menetapkan apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam hal nama dan sifat, tanpa merubah, menggugurkan, menggambarkan bagaimananya dan menyerupakan. Mereka meyakini apa yang telah Allah perintahkan untuk diyakini. Allah Ta'ala berfirman,

ليس كمثله شيء وهو السميع البصير

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

Allah Ta'ala telah memberitahukan kepada kita tentang diri-Nya. Dia berfirman,

إِنَّ رَبَّكُمْ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ (سورة الأعراف: 54)

"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Al-A'raf: 54) 

Dia juga berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى  (سورة طه: 5)

" (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaha: 5)

Dan ayat lainnya yang didalamnya disebutkan istiwa (bersemayam)nya Allah Ta'ala di atas Arasy-Nya.

Istiwanya Allah Ta'ala di atas Arasynya adalah menunjukkan ketinggian dzatnya, yaitu ketinggian yang khusus sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak diketahui caranya selain Dia.

Terdapat riwayat dalam sunah yang shahih, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Allah Ta'ala turun dalam sepertiga malam terakhir.

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه البخاري( كتاب التوحيد/6940) ومسلم ( صلاة المسافرين/1262) .

"Tuhan kita Tabaaraka wa Ta'ala turun pada setiap malam ke langit dunia saat sepertiga malam terakhir. Lalu dia berkata, 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang memohon kepadaku, niscaya akan Aku berikan. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya akan aku ampuni." (HR. Bukhari, Kitab Tauhid, no. 6940, Muslim, Shalatul Musafirin, no. 1262)

'النزول' (turun) menurut Ahlussunnah artinya adalah, bahwa Allah Ta'ala turun dengan dzat-Nya ke langit dunia secara hakiki namun sesuai dengan kebesaran-Nya, dan tidak ada yang mengetahui caranya selain Dia.

Akan tetapi, apakah turunnya Allah Azza wa Jalla berarti dia harus meninggalkan Arasy-Nya atau tidak? Syekh Ibnu Utsaimin berkata terkait soal seperti itu, "Kami katakan bahwa soal seperti ini sebenarnya soal yang berlebih-lebihan dan tidak layak disampaikan. Karena kita dapat balik bertanya, 'Apakah anda lebih bersungguh-sungguh dari para shahabat dalam memahami sifat Allah?' Jika dia mengatakan, 'Ya', maka sungguh dia telah dusta. Jika dia katakan, 'Tidak' maka kita katakan, 'Bersikaplah lapang seperti mereka bersikap lapang, mereka tidak menanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, misalnya dengan berkata, 'Wahai Rasulullah, jika Dia turun, apakah berarti Dia meninggalkan Arasy-Nya?' Untuk apa anda bertanya seperti ini. Katakan saja 'Dia turun' lalu diam, apakah Dia meninggalkan Arasy-Nya atau tidak, itu bukan urusan anda. Anda hanya diperintahkan untuk membenarkan kabar yang disampaikan, khususnya yang berurusan dengan dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Karena ini adalah perkara di luar kemampuan akal."

(Majmu Fatawa Syekh Muhammad Al-Utsaimin, 1/204-205)

Syaikhul Islam (Ibnu Taimiah) rahimahullah berkata tentang masalah ini, "Yang benar adalah bahwa Dia turun dan tidak meninggalkan Arasy-Nya. Ruh seorang hamba di tubuhnya di waktu siang dan malam hingga dia mati, sementara kalau dia tidur, ruhnya diangkat.... hingga beliau berkata, 'Malam itu berbeda, sepertiga malam di negeri timur sebelum sepertiga malam di negeri barat, maka turunnya Dia sebagaimana dikabarkan oleh Rasulul-Nya ke langit mereka adalah pada sepertiga malam mereka, sedangkan pada langit mereka yang lainnya pada sepertiga malam mereka yang lainnya. Dia tidak terpengaruh oleh keadaan...." (Majmu Fatawa Ibnu Taimiah, 5/132)

Istiwa (bersemayam) dan nuzul (turun) merupakan sifat fi'liyah (kerja) yang terkait dengan kehendak Allah. Ahlussunnah wal jamaah beriman dengan hal itu. Akan tetapi dalam mengimani ini mereka menghindari dari penyerupaan dan menyatakan caranya. Maksudnya tidak mungkin terbetik dalam jiwa mereka bahwa turunnya Allah seperti turunnya makhluk dan bersemayamnya Dia di Arasy seperti bersemayamnya makhluk. Karena mereka beriman bahwa Allah Ta'ala tidak serupa sedikitpun dengan makhluk dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat. Berdasarkan akal saja telah dapat diketahui perbedaan yang besar antara dzat, sifat dan perbuatan, tidak mungkin terbetik dalam hati mereka bagaimana Dia turun? Dan bagaimana dia bersemayam di atas Arasy? Maksudnya adalah bahwa Ahlussunnah tidak memperkirakan bagaimana sifat-sifat-Nya meskipun mereka yakin ada caranya dan hanya Allah Ta'ala saja yang mengetahuinya. Maka ketika itu, tidak mungkin digambarkan bagaimana caranya.

Kita mengetahui dengan yakin bahwa apa yang terdapat dalam Al-Quran dan sunah nabinya shallallahu alaihi wa sallam adalah hak dan tidak bertentangan satu sama lain, berdasarkan firman Allah Ta'ala,

 أفلا يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافاً كثيراً  (سورة النساء: 82)

"Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. An-Nisa: 82)

Karena jika terjadi pertentangan dalam kabar yang disampaikan berarti kabar tersebut satu sama lain saling mendustaka. Ini mustahil bagi kabar yang disampaikan dari Allah dan rasul-Nya.

Siapa yang mengira adanya petentangan dalam Kitabullah dan sunah rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam atau di antara keduanya, apakah karena kurang ilmu, atau pemahaman terbatas atau kurang dalam pemahaman, maka hendaklah dia menuntut ilmu lagi dan bersungguh-sungguh mendalaminya agar jelas baginya kebenaran. Jika belum jelas baginya kebenaran, maka limpahkan masalah ini kepada orang yang pandai dan dia berhenti mengira-ngira, lalu selebihnya dia berkata seperti orang-orang yang telah mendalam ilmunya,

 آمنا به كل من عند ربنا (سورة آل عمران: 7)

"Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." (QS. Ali Imran: 7)

Hendaknya dia mengetahui bahwa Al-Quran dan Sunah tidak bertentangan di antara keduanya. Wallahua'lam.

(Lihat Fatawa Ibnu Utsaimin, 3/237-238)

Persangkaan adanya pertentangan antara turunnya Allah ke langit dunia dengan bersemayamnya Dia di Arasy dan ketinggiannya di langit bersumber dari adanya perbandingan antara khalik dan makhluk. Jika seorang manusia tidak dapat menggambarkan dengan akalnya perkara-perkara gaib di antara makhluk-Nya seperti kenikmatan surga, maka bagaimana dia dapat menggambarkan Sang Khalik Azza wa Jalla yang Maha Gaib. Maka cukup bagi kita beriman bahwa bersemayam, turun dan tinggi merupakan sifat Allah dan kita tetapkan sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.".

Syekh Muhammad Shaleh Al-Munajjid