Fri 18 Jm2 1435 - 18 April 2014
12295
Syarat Lailaha illallah
Tolong dijelaskan syarat Lailaha illallah ( Ilmu, Yakin dst,,, )


Segala puji hanya milik Allah semata,

Syekkh Hafidz al-Khakimi berkata dalam mandhumahnya “ Sullamul wusul “ yang artinya :

Ilmu, yakin dan penerimaan XXX dan pelaksanaan maka ketahuilah apa yang kukatakan

Jujur, ikhlas dan kecintaan XXX semoga Allah memberi taufik terhadap yang Ia cintai-Nya

Syarat pertama : (( Ilmu )) maknanya adalah meniadakan dan menetapkan, meniadakan kebodohan, sebagaimana firman Allah : “ Ketahuilah bahwasanya Tiada Ilah melainkan Allah “ dan ayat lain : “ Kecuali yang memberikan persaksian dengan kebenaran “ yaitu dengan Lailaha illallah. “ Mereka mengetahuinya “ dengan hati maknanya apa yang diucapkan dengan lisannya. Dalam hadits shoheh dari Utsman bin Affan radhiallahu’anhu berkata : Rasulullah sallallahu’alihi wasallam bersabda : “ Barangsiapa yang meninggal dunia sementara dia mengetahui makna Lailaha illallah, melainkan Allah akan memasukkan ke dalam surga “,

Syarat kedua : (( Yakin )), hendaklah orang yang mengucapkan dalam kondisi yakin terhadap isi yang terkandung di dalamnya dengan keyakinan penuh. Kerena keimanan tidak bermanfaaat melainkan dilandasi dengan ilmu yakin bukan ilmu dzon ( persangkaan semata ) bagaimana lagi kalau ragu-ragu. Allah berfirman yang artinya :

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu dan berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka adalah orang-orang yang jujur “

Dalam keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya disyaratkan tidak ada keraguan. Sementara orang-orang yang ragu adalah golongan orang-orang Munafik. Dalam hadits shoheh dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata : Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda : Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Saya adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah dengan dua kalimat ini tanpa ragu kecuali Allah akan memasukkan ke dalam surga “ dalam riwayat yang lain “ Tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan kedua kalimat tersbut tanpa ragu kemudian menutupinya untuk masuk surga “. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu juga dalam hadits yang panjang. Ketika Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam mengutusnya dengan kedua sandalnya beliau sambil bersabda : “ Barangsiapa yang engkau temui dibelakang dinding ini dia mengucapkan Syahadat ( Saya bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah ) dalam keadaan yakin dalam hatinya, maka berikan khabar gembira baginya akan masuk surga “. Maka disyaratkan bagi orang yang mengatakannya harus benar-benar yakin dalam hatinya untuk bisa memasuki surga. Ketika syaratnya tidak ada, maka hasilnyapun juga tidak ada pula.

Syarat ketiga : ( Penerimaan ) dari isi yang terkandung dalam kalimat tauhid dengan hati dan lisannya. Allah telah menceritakaan tentang umat-umat terdahulu sebab selamatnya karena menerima kalimat tauhid dan menghancurkannya karena menolaknya. Firman Allah : “ Kumpulkan orang-orang dholim, istri-istrinya dan sesembahan yang mereka sembah selain Allah, seretlah ke dalam neraka Jahim. Berhentikan mereka akan ditanyai “ sampai ayat “ manakala dikatakan kepada mereka tiada Tuhan melainkan Allah, mereka sombong dan mengatakan : “ Apakah kamu akan meninggalkan Tuhan-tuhan kami untuk seorang penyair yang gila ?? “ maka sebab Allah mengadzab mereka dikarenakan kesombongan akan penolakan kalimat tauhid dan pembohongan terhahadap orang yang membawanya, mereka tidak meniadakan dan menetapkan apa yang seharusnya ditiadakan dan ditetapkan. Bahkan mereka mengatakan dengan keingkaran dan kesombongan : “ Apakah dijadikan tuhan-tuhan kami menjadi satu , sesungguhnya ini sangat mengherankan sekali “ segerombolan diantara mereka supaya berjalan dan bersabar terhadap tuhan-tuhan mereka, sesungguhnya ini adalah yang diinginkannya. Sesungguhnya kami tidak pernah mendengarkannya pada agama-agama terdahulu, ini hanyalah sekedar buatan saja “. Maka Allah membantahnya lewat lisan Rasul-Nya dan berfirman : “ Bahkan telah datang kebenaran dan membenarkan orang-orang yang diutus “ kemudian berkaitan dengan umat-umat terdahulu : “ Kecuali para hamba Allah yang ikhlas, mereka mendapatkan rizki yang ditentukan, buah-buahan dan mereka di muliakan dalam surga yang penuh dengan kenikmatan “. Dalam hadits shoheh dari Abu Musa radhiallahu’anhu dari Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda : “ Perumpamaan apa yang Allah utus kepadaku dari petunjuk dan ilmu bagaikan hujan lebat yang mengenai tanah, maka diantaranya ada yang subur menerima air kemudian tumbuh rerumputan nan rindang. Dan tanah lainnya bagaikan tanah tandus tidak menyerap air dan tidak tumbuh rerumputan. Hal itu bagaikan orang yang mengerti akan agama Allah sehingga bermanfaat dan dia mengetahui dan mempelajarinya. Dan bagaikan orang yang tidak mengambil manfaat sama sekali terhadap petunjuk yang Allah utuskan kepadamu “.

Syarat keempat : ( Pelaksanaan ) manakala meniadakan isi yang terkandung, maka dia akan meninggalkannya. Firman Allah : “ Dan barangsiapa yang mengislamkan wajahnya kepada Allah dan dia dalam kondisi muhsin, maka dia termasuk memegang dengan pegangan erat “ yaitu dengan Lailaha illallah “ Dan kepada Allah semua perkara dikembalikan “, makna “ Mengislamkan wajahnya “ yaitu melaksanakan, dia “ Muhsin “ yaitu mengesakan. Dan barangsiapa yang tidak mengislamkan wajahnya kepada Allah berarti dia termasuk muhsin, karena itu dia tidak memegang dengan pegangan yang erat. Yang semakna dengan ini adalah firman Allah lainnya : “ Barangsiapa yang kufur maka janganlah engkau bersedih akan kekufurannya. Kepada Kami ( Allah ) dikembalikan dan akan Kami beritahukan terhadap apa yang mereka telah lakukan “. Dalam hadits shoheh, sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda : “ Belum dikatakan beriman secara sempurna salah satu diantara kamu, sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang saya bawa “. Dan ini adalah puncak kesempurnaan pelaksanaan.

Syarat kelima : ( Jujur ) meniadakan kebohongan, yaitu mengucapkan dengan jujur di hati yang sesuai dalam hati dan lisannya. Allah berfirman : “ Alif lam miim, Apakah manusia akan mengira akan dibiarkan saja mengucapkan kami beriman sementara tidak diuji. Sungguh orang-orang terdahulu telah diuji, agar Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan orang-orang yang bohong “. Allah juga berfirman berkaitan dengan orang-orang munafik : “ Dan diantara manusia ada yang mengatakan Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal sebenarnya mereka tidak beriman. Mereka hanya menipu Allah dan orang-orang beriman. Tidaklah mereka menipu melainkan kapada dirinya sendiri sementara mereka tidak merasakannya. Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah tambahi penyakit dan baginya akan mendapatkan siksaan yang sangat pedih terhadap apa yang  mereka dustakan “

Dalam hadits shohihain ( Bukhori Muslim ) dari Muad bin Jabal dari Rasulullah sallallahu’alihi wasallam bersabda : “ Tiada seorangpun yang mengucapkan Saya bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah jujur keluar dari hatinya, melainkan Allah akan haramkan baginya masuk neraka “.

Keenam : ( Ikhlas ) membersikan semua amalan dari kotoran syirik. Allah berfirman : “ Ketahuilah hanya milik Allah agama yang bersih “ firman lain : “ Katakanlah : “ Saya hanya menyembah kepada Allah dengan ikhlas, bagi-Nya agamaku “. Dalam hadits shoheh dan Abu Hurairoh dari Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda : “ Orang yang paling bahagia mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengucapkan Lailaha illallah dengan ikhlas keluar dari lubuk hati dan jiwanya.. “.

Ketujuh : ( Kecintaan ) terhadap kalimat tauhid, isi yang terkandung di dalamnya, kepada orang-orang yang komitmen dengan syarat-sayaratnya. Dan membenci orang yang tidak menepatinya. Allah berfirman : “ Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah tandingan. Mereka mencintai seperti mencintai Allah. Sementara orang-orang yang beriman lebih cintanya kepada Allah “. Allah memberitahukan bahwa kecintaan orang-orang beriman sangat mencintai kepada Allah. Karena mereka tidak menggabungkan kecintaanya kepada seorangpun juga. Sebagaimana orang yang menganggap kecintaannya orang-orang musyrik yang menjadikan kecintaan selain Allah sebagai tandingan. Mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Dalam shohehain dari hadits Anas rodhiallahu’anhu berkata : Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda : “ Belum dikatakan beriman secara sempurna salah satu diantara kamu, sampai saya lebih dicintai dibandingkan anak, orang tua dan semua manusia.

Wallahu’alam dan shalawat kepada nabi kita Muhammad sallallahu’alaihi wasallam .

Syekh Muhammad Sholeh Al-Munajid