Wed 25 Rmd 1435 - 23 July 2014
133315
HUKUM UNGKAPAN ‘ALLAH DENGAN MATA TIDAK KITA LIHAT, TAPI DENGAN AKAL DAPAT KITA KETAHUI.'
Apa hukum ungkapan ‘Allah tidak kita lihat, tapi dengan akal kita mengetahuinya’


Alhamdulillah

Kalimat ini mencakup dua masalah, pertama, kebenaran yang tidak diragukan lagi. Kedua, ada sebagian dari hakekat (kenyataan) akan tetapi tidak secara sempurna. Penjelasannya adalah:

1.      Masalah pertama, dalam ungkapan mereka ‘Allah tidak kita lihat’ yakni tidak kita lihat. Ini adalah benar. Karena itu termasuk aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah di dunia. Sesungguhnya melihat-Nya nanti di akhirat, setelah meninggal dunia. Dalam shahih Muslim , no. 7540, sungguh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

تَعَلَّمُوا أَنَّهُ لَنْ يَرَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَمُوتَ

“Ketahuilah, bahwa tidak ada seorang pun melihat Tuhannya Azza Wa Jalla sampai dia meninggal dunia."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, ‘Oleh karena itu para ulama salaf dan imam-imamnya sepakat bahwa Allah dilihat di akhirat dan tidak ada seorang pun melihat dengan matanya di dunia.‘ (Majmu Fatawa, 2/230)

2.      Sedangkan masalah kedua, ungkapan mereka ‘Dengan akal kami dapat mengenalnya’ ini bagian dari yang hakekat (kebenaran). Karena dalil-dalil mengenal Allah berbagai macam, di antaranya secara fitrah, akal, agama dan perasaan. Di antara dalil logika yang dijadikan sandara para ulama dalam menetapkan wujud Allah Ta’ala adalah bahwa setiap sebab pasti ada penyebabnya. Dan setiap yang baru pasti apa penciptanya. Ini adalah dalil logika. Allah pun telah memerintahkan untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi. Pemikiran ini berasal dari akal. Allah berfirman, ‘Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.’ (QS. Al-A’raf: 185). Firman-Nya pula, ‘Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar.’ (QS. Ar-Rum: 8)

Di antaranya juga perkataan orang badui, anak onta menunjukkan adanya induk onta, jejak perjalanan menunjukkan ada yang berjalan. Bumi penuh dengan tumbuh-tumbuhan, langit penuh dengan bintang gemintang, bukankah itu menunjukkan adalanya Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui (Allah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

‘Adapun penetapan bahwa Allah sang pencipta, cara menerangkannya tidak dapat dihitung. Bahkan mayoritas ulama menyatakan bahwa penetapan Dia sebagai pencipta itu berdasarkan fitrah, dharuri (keharusan) dan merupakan kepercayaan yang telah menyatu dalam tabiat (manusia). Oleh karena itu dakwah para Rasul secara umum adalah beribadah kepada Allah saja tanpa ada sekutu bagi-Nya. Karena semua umat umumnya mengakui adanya pencipta, namun mereka menyekutukan ibadah kepada selain-Nya. Karenanya, terhadap mereka yang mengingkari adanya Sang Pencipta –seperti Fir’aun- para Rasul menghadapainya dengan perkataan kepada mereka yang telah mengetahui kebenaran. Seperti ucapan Musa kepada Fir’aun, ‘Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.’ (QS. Al-Israa: 102). Ketika Fir’aun mengatakan, ‘Dan siapa Tuhan semesta alam.’ (QS. As-Syu’ara: 23), maka Musa mengatakan kepadanya, "Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya. Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?" Musa berkata (pula): "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu." Fir'aun berkata: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila." Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal." (QS. As-Syuara: 24-28). Minhajus Sunnah, 2/270.

Kenyataan bahwa Allah disifati dengan semua kesempurnaan, dibersihkan dari seluruh kekurangan juga dapat diketahui lewat logika. Akan tetapi yang dimaksud adalah pengenalan secara global, sedangkan pengenalan secara rinci tidak sempurna kecuali lewat agama. Di dalamnya dapat diketahui Nama-nama dan sifat-Nya yang mulia.

Syekh Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah ditanya: ‘Sejauhmana dibolehkan ucapan orang yang mengatakan ‘Kami kenal Tuhan kami dengan akal secara terperinci’? terima kasih

Beliau menjawab, ‘Alhamdulillah, waba’du. Sungguh Allah telah memberikan secara fitrah kepada hamba-Nya untuk mengenal-Nya. Karena seseorang secara fitrah mengetahui bahwa setiap makhluk pasti ada penciptanya. Bahwa sesuatu yang baru pasti ada yang menciptakan. Sungguh Allah telah menyebutkan dalil-dalil kauniyah dari ayat-ayat langit dan bumi akan keberadaan-Nya. Kekuasaan, ilmu dan hikmah-Nya. Oleh karena itu Allah menyebutkan hamba-Nya dengan ayat-ayat ini. Sementara orang-orang musyrik mengingkarinyanya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ (سورة يوسف:  105)

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.” (QS. Yusuf: 105)

Pengetahuan ini di dapatkan dari ayat-ayat kauniyah yaitu dari pengenalan logika, dengan cara melihat dan berfikir. Oleh karena itu Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ (سورة الأعراف: 185)

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (QS. Al-A’raf: 185)

Firman-Nya lagi,

‘Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar.” (QS. Ar-Rum: 8)

Ayat semakna dengan ini banyak sekali. Meskipun begitu, pengenalan yang didapati dengan logika, adalah mengenal secara global. Karena manusia tidak mengenal Tuhannya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, pekerjaan-Nya secara terperinci kecuali dengan apa yang ada dari para Rasul. Diturunkan kitab. Maka dengan kedatangan para Rasul salawatullah wa salamullah alaihim mengenalkan para hamba kepada Tuhannya, dengan nama, sifat, dan prilaku-Nya. Dari sisi ini diketahui bahwa logika (akal) lemah, tidak dapat mengetahui nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan yang seharusnya (diketahui)  secara terperinci. Cara untuk dapat mengenal Allah nama dan sifat-Nya secara terperinci adalah lewat apa yang disampaikan para Rasul. Seorang hamba tidak dapat menguasai pengetahuan seberapapun ilmu yang telah dia capai, sebagaiamana firman Allah Ta’ala, ‘Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.’ (QS. Thaha: 110)

sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam;

لا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ (أخرجه مسلم، رقم 486)

“Saya tidak dapat meghitung pujian kepada Engkau. Engkau sebagaimana yang telah Engkau sanjung pada diri-Mu.’ (HR. Muslim, no. 486)

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa cara mengenal Allah dapat dengan dua jalan, secara logika dan naql (wahyu), yaitu berdasarkan apa yang disampaikan Rasul sallallahu alaihi wa sallam dalam Al-Quran dan Sunnah. Di antara Nama dan Sifat-Nya ada yang dapat diketahui lewat logika dan wahyu dan di antaranya ada yang tidak dapat diketahui kecual dengan wahyu.

Dalam kesempatan ini, sangat bagus untuk diketahui bahwa kewajiban berhukum kepada wahyu  menjadikan logika mengikuti dan terbimbing oleh petunjuk Allah. Termasuk kesesatan yang nyata adanya membentukan naql (wahyu) dengan akal. Sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan kelompok sesat dari kalangan para filsafat dan mutakallimin.

Allah telah memberikan taufik kepada Ahli sunnah wal jama’ah berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan sunnah Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam, mengikuti jejak ulama salafus shaleh, maka mereka berhukum dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dengan meletakkan setiap urusan pada tempatnya, mengetahui keutamaan akal dan tidak meninggalkan petunjukknya. Tidak mengedepankan (akal) atas nash Kitab dan Sunnah. Sebagaimana yang dilakukan kelompok sesat. Allah telah memberi hidayah kepada ahli sunnah dengan jalan yang lurus. Maka kami memohon kepada Allah agar kita dapat melalui jalan orang mukmin, dan semoga kita dijaga dari jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat. Wallahua'lam. (Dikutip dari website Syekh hafizahullah)

http://albarrak.islamlight.net/index.php?option=content&task=view&id=1164&Itemid=25

semoga Allah memberikan kemulyaan kami dan anda sehingga dapat melihat Allah subhanahu wa ta'ala  di surga-Nya.

Wallahu’alam .

Soal Jawab Tentang Islam