Tue 21 DhQ 1435 - 16 September 2014
13333
Keutamaan Ali bin Abi Thalib dan Hukum Mengkhususkan Shalawat Kepada Beliau
Apa hukumnya jika kita mengatakan: Ali bin Abi Thalib –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, apakah hal tersebut dibenarkan atau tidak ?


Alhamdulillah

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang seseorang yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- bukan termasuk ahlul bait, tidak boleh bershalawat kepadanya, bershalawat kepada beliau hukumnya bid’ah.

Beliau menjawab:

“Adapun bahwa Ali bin Abi Thalib termasuk ahlul bait, maka hal ini tidak ada perbedaan di antara kaum muslimin tanpa membutuhkan dalil pun sudah jelas, bahkan beliau adalah ahlul bait yang paling utama dan sebaik-baik Bani Hasyim setelah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan telah diriwayatkan bahwasanya Rasulullah ingin memberikan pakaian kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan bersabda:

اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب الرجس عنهم وطهرهم تطهيرا " .

“Ya Allah, mereka ini ahlul baiti (keluargaku), maka jauhkan mereka dari kekejian, dan sucikanlah mereka”.

Adapun bershalawat kepada beliau secara khusus, masalah ini berkaitan dengan apakah shalawat itu juga boleh kepada selain Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara personal?, seperti: “Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Umar atau Ali… Para ulama berbeda pendapat terkait masalah tersebut.

Imam Malik, Syafi’i dan sebagian Hanabilah berpendapat bahwa shalawat tidak untuk  selain Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara personal, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa beliau berkata: “Saya tidak mengetahui bahwa shalawat boleh untuk selain Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-“.

Imam Ahmad dan sebagian besar pengikutnya berpendapat bahwa shalawat untuk selain Nabi tidak masalah; karena Ali bin Abi Thalib pernah berkata kepada Umar bin Khattab: “Semoga Allah bershalawat kepadamu”, pendapat ini yang lebih kuat dan lebih utama. Namun mengkhususkan shalawat kepada salah seorang sahabat dan jalur kerabat seperti Ali bin Abi Thalib atau yang lainnya adalah menyerupakannya dengan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- karena shalawat menjadi ciri khas Rasulullah, dari sisi inilah bid’ahnya.

Al Fatawa al Kubro: 1/56