Wed 28 DhH 1435 - 22 October 2014
140570
Hukum Menjadikan Rambut Di Sekitar Kemaluan Dengan Model Tertentu Sebagai Hiasan Untuk Suami
Apakah seorang istri dibolehkan membentuk hati (love) dari rambut kemaluannya ketika mencukurnya berhias untuk suaminya?


Alhamdulillah

Membersihkan rambut kemaluan dengan mencabut atau mencukur termasuk sunan fitrah yang dianjurkan oleh Islam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, no. 5441 dan Muslim, no. 377 dan redaksi darinya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam, beliau  bersabda:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ : الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

"Fitrah itu ada lima atau lima dari fitroh adalah sunat, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut rambut ketiak dan memendekkan kumis.”

Kata ‘الاستحداد ‘ adalah mencukur rambut kemaluan. Dinamakan ‘Istihdad’ karena menggunakan besi yaitu silet.

Dan Nabi sallallahu’alaihi wa sallam telah menentukan waktu untuk umatnya agar tidak membiarkan lebih dari empat puluh malam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, no. 379 dari Anas,

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Kami diberi waktu dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan. Agar tidak membiarkan lebih dari empat puluh malam.”

Al-Mubarokfuri dalam kitab ‘Tuhfatul Afwadzi’ mengatakan, “Nawawi mengatakan, maksudnya adalah kita tidak boleh membiarkan begitu saja melebihi empat puluh, tapi beliau batasi waktu bagi mereka membiarkan sampai empat puluh. Yang jadi pilihan adalah ditentukan sesuai keperluan dan panjangnya. Kalau sudah panjang, maka harus dicukur."

Asy-Syaukani mengatakan, “Yang menjadi pilihan adalah ditentukan empat puluh hari sebagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam telah menentukannya. Maka tidak dibolehkan lebih dari itu. Dan tidak termasuk menyalahi sunnah ketika membiarkan tidak memendekkan dan semisalnya jika memanjang sebelum batas waktunya."

Apa yang disebutkan dalam pertanyaan dengan membiarkan rambut kemaluan dan menjadikan seperti bentuk hati berhias untuk suaminya, ada dua larangan

Pertama, hal itu kalau dibiarkan melebihi dari empat puluh hari, maka hal itu menyalahi perintah Nabi sallallahu aihi wa sallam

Kedua, tempat ini termasuk aurat mugholadhoh (besar) tidak dibolehkan membukanya kecuali dalam kondisi keperluan mendesak. Tidak dibolehkan membukanya untuk para tukang cukur hanya sekedar berhias.

Telah diriwayatkan oleh Muslim, no. 338 dari Abu Said Al-Khudri berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا تَنْظُرُ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

"Lelaki tidak dibolehkan melihat aurat lelaki lain, dan wanita tidak dibolehkan melihat aurat wanita lai."

Diriwayatkan Tirmizi,  no. 2794, Abu Daud, no. 4017, no. Ibnu Majah, no. 1920, dari Bahz bin Hakim dari Ayahnya dari Kakeknya berkata:

 قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ ؛ عَوْرَاتُنَا مَا نَأْتِي مِنْهَا وَمَا نَذَرُ ؟

قَالَ : احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلَّا مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ .

قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا كَانَ الْقَوْمُ بَعْضُهُمْ فِي بَعْضٍ ؟

قَالَ : إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَرَاهَا أَحَدٌ فَلَا يَرَاهَا .

قَالَ : قُلْتُ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِذَا كَانَ أَحَدُنَا خَالِيًا ؟

قَالَ : فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يُسْتَحْيَا مِنْهُ مِنْ النَّاسِ ) والحديث حسنه الألباني في صحيح الترمذي .

“Saya berkata, Wahai Nabi Allah, aurat kita apa yang boleh kita perlihatkan dan apa yang tidak?

Beliau berkata: Jagalah auratmu kecuali kepada istri atau budakmu.

Saya berkata: “Wahai Rasulullah, jika suatu kaum melihat satu sama lain?

Beliau berkata: “Jika anda mampu agar tidak seorang pun dapat melihatnya, maka jangan diperlihatkan."

Dia berkata: “Saya bertanya, 'Wahai Nabi Allah, bagaimana kalau kita seorang diri?"

Beliau menjawab, “Allah itu lebih berhak manusia malu kepadanya." (Hadits dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam shahih Tirmizi)

An-Nawawi rahimahullah mengomentari dalam Syarh Muslim, sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam,

لاَ يَنْظُر الرَّجُل إِلَى عَوْرَة الرَّجُل , وَلَا الْمَرْأَة إِلَى عَوْرَة الْمَرْأَة , وَلَا يُفْضِي الرَّجُل إِلَى الرَّجُل فِي ثَوْب وَاحِد , وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَة إِلَى الْمَرْأَة فِي الثَّوْب الْوَاحِد

"Lelaki tidak dibolehkan melihat aurat lelaki lain, dan wanita tidak dibolehkan melihat aurat wanita lain. Seorang laki-laki jangan tidur (telanjang) bersama laki-laki lainnya tidur di bawah satu selimut. Begitu juga wanita  jangan tidur (telanjang) dengan wanita lainnya di bawah satu selimut."

Di dalamnya ada pengharaman seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya. Dan seorang wanita melihat aurat wanita lainya. Hal ini tidak ada perbedaan. Begitu juga lelaki (diharamkan) melihat aurat wanita dan seorang wanita (diharamkan) melihat aurat lelaki dengan ijmak (consensus para ulama).

Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengingatkan seseorang lelaki (dilarang) melihat aurat lelaki lainnya, maka dalam melihat aurat wanita, pengharamannya lebih utama. Hal ini terkait dengan hak selain para suami istri dan budak. Adapun suami istri, masing-masing dibolehkan melihat aurat pasangannya semuanya.” (Fathul Bari, 9/338, 339).

Wallahua'lam.

Soal Jawab Tentang Islam