Wed 25 Rmd 1435 - 23 July 2014
140990
HUKUM MEMBERI NAMA EMAIL DENGAN NAMA MUKMIN
Ketika pertama kali saya membuat email, saya di kelas delapan. Waktu itu saya sangat menjaga agar ada sisi agamisnya, sehingga user nama saya dengan nama ‘mukmin’ ketika besar, saya ketahui bahwa ‘Al-Mukmin’ termasuk diantara nama-nama Allah nan indah. Saya khawatir hal itu terjerumus pada kesyirikan atau melakukan sesuatu yang haram. Apakah diperbolehkan saya melanjutkan mempergunakan email ini atau tidak? Apa nasehat anda?


Alhamdulillah

Pertama,

Allah berfirman,

( وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ) الأعراف/180.

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’ SQ. AL-A’raf: 180.

Syekh As-Sa’dy rahimahullah berkata, ‘Ini adalah penjelasan akan keagungan dan ketinggian serta keluasan sifat-Nya bahwa Dia mempunyai nama-nama nan indah. Yakni Dia mempunyai semua nama yang bagus. Kreterianya adalah semua nama yang menunjukkan sifat sempurna nan agung. Oleh karena itu (nama-nama) itu bagus.

Firman Allah, ‘وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ’ yakni sebagai balasan dan siksaan atas penyimpangan terhadap nama-nama-Nya.

Hakekat penyimpangan adalah, penyelewangan dari apa yang seharusnya dijadikan. Bisa dengan memberi nama yang tidak layak sebagaimana penamaan orang-orang musyrik kepada Tuhannya. Atau dengan meniadakan arti dan membelokkannya dengan menjadikan arti yang tidak diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Atau dengan menyerupakan dengan lainnya. Maka seharusnya berhati-hati dari penyimpangan itu. dan mengingatkan terhadap orang yang menyimpang. Tafsir As-Sa’di, 309 dengan ringkasan. Silahkan dilihat kitab ‘Badai’ AL-Fawaid, 1/179. ‘Al-Qawaid A;-Mutsla, karangan Ibnu Utsaimin, 25-26.

Dari situ jelas, bahwa Allah memiliki nama-nama yang tidak layak untuk lainnya. Dan penggunaan secara umum nama-nama ini kepada salah satu makhluk-Nya termasuk penyimpangan pada nama-nama-Nya. Yang mana pelakunya berhak mendapatkan balasan di sisi Tuhannya nanti pada hari kiamat.

Kedua,

Nama dan sifat Allah Ta’ala, meskipun khusus untuk-Nya Subhana dari sisi makna, dimana tidak sama sedikitpun dengan makhluk-Nya. Bahkan apa yang telah ditetapkan sangat layak untuk ketinggian uluhiyyah dan keagungan rububiyahnya. Sebagaiamana apa yang telah ditetapkan untuk makhluk layak pada kondisi ubudiyahnya. Meskipun begitu, dalam ajaran agama telah ada penamaan untuk Allah Ta’ala nama dan sifatnya, secara umum digunakan untuk sebagian makhluk-Nya. Hal ini hanya sekedar dari sisi lafadz dan nama saja. Kalau tidak, apa yang disandarkan kepada Allah Ta’ala, khusus untuk-Nya. Tidak ada sekutu satupun dari makhluk-Nya. Sebagaimana yang disandarkan kepada hamba, maka khusus untuknya yang layak sesuai kondisinya.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, ‘Oleh karena itu Allah menamai diri-Nya dengan nama. Dan menamai sifat-Nya dengan nama. Nama-nama itu khusus bagi-Nya ketika disandarkan kepada-Nya. Tidak ada sekutu selain dari-Nya. Dan sebagian makhluk dinamakan dengan nama-nama yang khusus untuknya, disandarkan kepadanya. Terkadang nama-nama itu sama ketika tidak disandarkan dan dikhususkan. Kesamaan dua nama dan yang dinamai, serta kesatuan ketika dibiarkan secara umum dan dihilangkan dari sandaran serta kekhususan. Itu (tidak harus) sama pada keduanya. Dan yang dinamai tidak sama ketika tidak  disandarkan dan dikhususkan. Apalagi ketika kedua nama tersebut disandarkan dan dikhususkan.

Allah telah menamai dirinya dengan ‘Hayyan (Yang Maha Hidup)’ dalam Firman-Nya,

{ الله لا إله إلا هو الحي القيوم }

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).’ SQ. Al-Baqarah: 255.

Dan sebagian makhluk dinamai dengan ‘Hayyan’ seperti dalam firman-Nya:

{ يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي }

“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.’ SQ. Ar-Rum: 19.

Kata ‘Al-Hayyu’ ini tidak sama dengan kata ‘Al-Hayyu’ yang tadi. Karena Firman-Nya ‘Al-Hayyu’ adalah khusus nama Allah. sementara firman-Nya, ‘يخرج الحي من الميت’ adalah nama ‘Hayyu’ khusus untuk makhluk. Akan tetapi keduanya satu ketika dikatakan secara umum tidak dikhususkan. Yang dinamai dikatakan secara umum itu tidak berada di luar (jangkauan pikiran). Akan tetapi akal memahami dari keumuman tersebut sesuai dengan kadar kebersamaan diantara dua nama tadi. Ketika dikhusukan, akan mengikat hal itu dimana dapat dibedakan antara kholik dari makhluk dan makhluk dari kholik (pencipta). Hal ini seharusnya (berlaku) untuk semua nama dan sifat Allah. difahami darinya apa yang menunjukkan (arti nama) itu dari sisi kesamaan dan kesatuan. Apa yang ditunjukkan dari penyandaran dan pengkhususan itu sebagai penghalang kesamaan makhluk dengan kholik dari sesuatu yang menjadi ciri kekhususan-Nya subhanahu Wa Ta’ala. Maka menamai dirinya dengan ‘Al-Mukmin AL-Muhaimin’ dan sebagian hamba-Nya dinamai dengan AL-Mukmin’ dalam firman-Nya:

{ أفمن كان مؤمنا كمن كان فاسقا لا يستوون } 

“Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama.’ SQ. As-Sajdah: 18. Maka nama ‘Al-Mukmin’ disini tidak sama dengan nama ‘Al-Mukmin’ tadi. Selesai ‘Majmu’ Fatawa. 3/10-12 dengan ringkasan.

Kesimpulannya bahwa tidak mengapa menamai dengan ‘Al-Mukmin’ dari sisi ini. Karena nama ‘AL-Mukmin’ bukan termasuk khusus untuk nama Allah Jalla Jalaluhu, dimana makhluk tidak diperkenankan memberi nama itu. bahkan Allah Subhanahu menamai dirinya dengan Al-Mukmin di Al-Qur’an, begitu juga menamai sebagian hamba-Nya dengan ‘Mukmin’ akan tetapi artinya keduanya tidak sama. Bahkan kholik mempunyia sifat khusus yang layak untuk-Nya, pada hakekatnya tidak ada sekutu sedikitpun dari makhluk. Dan makhluk mempunyai nama dan arti yang layak untuknya.

Wallahu’alam .

Soal Jawab Tentang Islam