Mon 7 Shb 1436 - 25 May 2015
148086
Pada Saat Mendidik Anak-Anak Dihadapkan Pada Pola Pendidikan Yang Tidak Sesuai Dengan Syariat Islam
Telah berlalu hubunganku dengan suamiku mendekati dua puluh tahun. Ketika aku bertemu dengannya pada saat itu aku belum menjadi seorang Muslimah baru kemudian setelah itu aku masuk Islam dengan selang waktu yang cukup lama, oleh sebab itu aku memiliki empat anak dari suamiku sebelum aku masuk Islam, bahkan sebelum aku menikah dengannya, pada saat itu hubungan kami dengan suamiku hanya sekedar persahabatan biasa, dan saya mendapat pengetahuan dari membaca meski sudah terlambat bahwasannya anak-anak yang dilahirkan di luar pernikahan mereka akan memiliki perangai dan perilaku yang buruk, apakah ini benar? Dan apa kiranya solusi yang bisa diberikan untuk merubah sekaligus memperbaiki kondisi semacam ini ?.
Lalu problematika yang kedua adalah : Sesungguhnya suamiku meskipun dia seorang Muslim akan tetapi dia termasuk orang yang tidak iltizam atau konsisten dengan ajaran agamanya, bahkan dia seorang pemabuk, satu perkara yang sangat mempengaruhi pola pendidikan dan perilaku anak-anak dan dampak yang sangat mencolok dari perilaku buruk suami adalah anak-anak tidak biasa dan enggan pergi untuk melaksanakan shalat jum’at padahal umur mereka telah memasuki enam belas tahun bahkan lebih, dan saya telah berusaha sekuat tenaga untuk mengarahkan mereka dan membiasakan kepada mereka dengan kebiasaan yang baik, akan tetapi seringkali saya mendapatkan kesulitan dalam hal itu, maka apa gerangan yang harus saya lakukan ?


Alhamdulillah.. 

Anak yang dihasilkan dari perzinaan tidak ada dosa baginya dan tidak ada karma atau keburukan yang melekat padanya meski dia dilahirkan dari dosa perbuatan zina, dan terkait permasalahan baik dan buruknya dalam perjalanan hidupnya itu semua kembali kepada banyak faktor yang mempengaruhi dan yang terpenting adalah kebaikan dari pendidikan dan tarbiyahnya, maka jika ia mendapatkan pendidikan yang baik dan ia tidak mendapatkan penolakan atau dijelek-jelekkan oleh masyarakat di sekelilingnya, maka ia akan menjadi anak yang istiqomah sebagaimana anak-anak yang lain yang mendapatkan bimbingan dengan benar. 

Dan sesungguhnya mengapa seringkali kita mendapati anak-anak dari hasil perzinaan tersebut menjadi tidak baik dan melakukan hal-hal yang buruk, itu semua karena mereka tidak mendapatkan perhatian dan bimbingan yang baik serta mereka juga mendapatkan penolakan dan pengasingan dari orang-orang di sekelilingnya sehingga kemudian mereka ditampung oleh orang-orang yang jahat dan buruk, padahal perkara pendidikan dan tarbiyah itu membutuhkan kesabaran dan keuletan, betapa banyak keluarga yang menghadapi banyak problematika pendidikan, terlebih lagi anak-anak yang memasuki usia akil baligh, terutama apabila kedua orang tua tidak memperdulikannya atau malah menjauhkannya dan menjadikan sang anak menyimpang. 

Maka wasiat kami kepada anda, hendaknya anda mengedepankan sikap sabar dan terus bersabar, dan hendaknya anda meliputi anak-anak anda dengan kasih sayang dan kecintaan, memenuhi mereka dengan suasana yang kondusif penuh kehangatan dan pendampingan yang kontinyu, dan anda senantiasa memenuhi waktu-waktu senggang mereka dengan hal-hal yang berfaedah dan mendekatkan hati mereka dengan masjid atau Islamic Center, memotifasi mereka agar gemar membaca dan mendalami keilmuan, menguatkan keimanan mereka dengan senantiasa menjaga dzikir kepada Allah dan membaca Al Qur’an, dan mengoptimalkan waktu-waktu yang sangat dianjurkan melakukan ketaatan di dalamnya; seperti bulan Ramadhan yang disertai dengan banyak berdoa dan berserah diri di hadapan Allah Ta’ala agar Allah memberikan hidayah kepada mereka dan memperbaiki perilaku dan kondisi mereka.  

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ) .
رواه الترمذي ( 1905 ) وأبو داود ( 1563 ) وابن ماجه ( 3862 ) ، وصححه الألباني في " صحيح الترمذي " .
قال العظيم آبادي رحمه الله : " ( دعوة الوالد ) أي : لولده ، أو عليه ، ولم يذكر الوالدة ؛ لأن حقها أكثر ، فدعاؤها أولى بالإجابة " انتهى من "عون المعبود" ( 4 / 276 ) . 

Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah Shallallahu Alihi Wasallam bersabda : ( Ada tiga macam jenis doa yang pasti akan dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi padanya, yaitu : Doa orang yang sedang didzolimi, Doa orang yang sedang dalam Safar, dan Doa seorang ayah kepada puteranya ). Diriwayatkan oleh At Turmudzi ( 1905 ), Abu Daud ( 1563 ), Ibnu Majah ( 3862 ), dan dishahihkan oleh Al Albani dalam “ Shahih At Turmudzi ”. 

Al ‘Adzim Abady Rahimahullah berkata : “( دعوة الوالد ) Doa seorang ayah, yaitu : kepada anaknya, dan tidak disebutkan di sini doa seorang Ibu; karena sesungguhnya berbakti kepada Ibu itu lebih banyak maka doa-doa yang dipanjatkan oleh seorang Ibu akan lebih utama untuk dikabulkan ”. Diambil dari kitab “ ‘Aunul Ma’Bud ” ( 4/ 276 ).

Dan sudah sepatutnya anda melakukan upaya untuk kebaikan suami anda dan menjadikannya Istiqomah agar dia juga ikut andil dalam memberikan arahan serta pendidikan kepada putera-puteri anda, dan hendaklah perhatian terbesar kalian berdua yang harus kalian berikan kepada putera-puteri kalian adalah kewajiban yang sangat agung yaitu Shalat, karena Shalat merupakan tiang agama dan tidak ada nilainya Islam seseorang jika ia meninggalkan Shalat.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar anda diberikan penyejuk mata dengan kesalehan, amal kebaikan dan keistiqomahan mereka semua.

Wallahu A’lam.

Soal Jawab Tentang Islam