Mon 7 Shb 1436 - 25 May 2015
155483
Apakah Benar Bahwa Nabi Shallallahu alaihi Wa Sallam Mengumpulkan Puasa Sunah Untuk Diqadha Pada Bulan Sya’ban
Sejauhmana keshahihan hadits, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasanya berpuasa tiga hari setiap bulan, kadang beliau akhirkan hingga terkumpul baginya puasa dalam setahun, lalu beliau berpuasa pada bulan Sya’ban.”


Alhamdulillah

Hadits ini diriwayatkan dari Aisyah, Ummul Mukminin radhiallahu anha, dia berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم من كل شهر ثلاثة أيام ، فربما أخَّر ذلك حتى يجتمع عليه صوم السنة ، وربما أخَّره حتى يصوم شعبان

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasanya berpuasa tiga hari setiap bulan, kadang beliau akhirkan hingga terkumpul baginya puasa dalam setahun, lalu beliau berpuasa pada bulan Sya’ban.”

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrany dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (2/320), dia berkata, “Telah menyampaikan kepada kami Ahmad, dia berkata telah menyampaikan kami Ali bin Harb Al-Jandisabury, dia berkata, telah menyampaikan kepada kami Sulaiman bin Abi Hauzah, dia berkata, telah menyampaikan kepada kami Amr bin Abi Qais, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila dari saudaranya Isa dari bapaknya Abdurrahman, dari Aisyah, dia berkata…. (dengan menyebutkan hadits tersebut). Kemudian dia berkata, “Tidak diriwayatkan hadits ini dari Abdurrahman bin Abi Laila kecuali dengan sanad ini. Hanya Amr yang mengambil riwayat ini darinya.”

Sanad hadits ini dhaif sebab adanya Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, ahli fiqih yang terkenal. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Hafalannya buruk, haditsnya berubah-ubah.” Syu’bah berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang hafalannya lebih buruk selain Ibnu Abi Laila.

Ali Al-Madini berkata, “Dia buruk hafalannya, haditsnya lemah.”

Karena itu, para ahli ulama melemahkan hadits ini. Al-Haitsami rahimahullah berkata, “Di dalamnya terdapat Muhammad bin Abi Laila, dia diperdebatkan.”  (Majma’uzzawaid, 3/195)

Alhafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Ibnu Abi Laila lemah, hadits dalam bab ini serta sesudahnya menunjukkan kelemahan yang dia riwayatkan.” (Fathul Bari, 4/252)

Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Dalam sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila, dia lemah.” (Nailul Authar, 4/332)

Para ulama berbeda pendapat tentang hikmah Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadikan bulan Sya’ban sebagai bulan yang paling banyak beliau berpuasa, dalam beberapa pendapat. Di antaranya adalah pendapat sebelumnya, akan tetapi dalilnya tidak shahih. Tampaknya orang pertama yang menukil pendapat tersebut adalah Ibnu Bathal dalam syarahnya terhadap kitab Shahih Bukhari, 4/115. Beliau juga menyebutkan berbagai pendapat lainnya yang dikutip oleh Ibnu Hajar rahimahullah dan menambahkannya. Kemudian beliau berkata, “Yang utama dalam hal ini adalah sesuai dengan riwayat hadits yang lebih shahih dari sebelumnya, yaitu yang diriwayatkan oleh Nasa’I, Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, Aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?’ Beliau bersabda, 

ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Dia adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”

(Fathul Bari, 4/215)

Wallahua’lam..

Soal Jawab Tentang Islam