Fri 7 Muh 1436 - 31 October 2014
162737
Hukum Menerima Orang-orang Yang Memberi (Ungkapan) Belasungkawa Di Dalam Masjid
Ketika ada salah seorang dari kalangan umat Islam meninggal dunia, sebagian anggota masjid merubah masjid setelah shalat magrib atau isya’ menjadi rumah belasungkawa selama tiga hari, ditaruhkursi di dalam tempat shalat untuk duduk keluarga mayit dan kerabatnya. Kemudian setelah itu dihidangkan makanan untuk semua, apakah hal ini sesuai dengan sunnah tolong disertai dalil?


Alhamdulillah

Duduk untuk memberikan belasungkawa dan menyiapkan makanan bagi orang yang memberikan (ucapan) belasungkawa, baik di dalam masjid atau di rumah termasuk bid’ah yang diada-adakan. Berdasarkan hadits Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiallahu’anhu beliau berkata:

(كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياحة) رواه أحمد (6866) وصححه الشيخ الألباني رحمه الله

“Kami menganggap berkumpul di keluarga mayit dan membuat makanan setelah penguburan termasuk niyahah (ratapan).” HR. Ahmad, 6866 dan dinyatakan shoheh oleh Syekh Al-Albany rahimahullah

Syafi’I rahimahullah berkomentar, “Saya tidak menyukai ma’tsam (berkumpul di rumah duka) yaitu berkelompok. Meskpun tidak ada tangisan. Karena hal itu memperbaharui kesedihan. Memberi beban tanggungan disertai adanya bekas (duka) yang telah berlalu.” Selesai dari ‘Al-Umm, 1/318.

As-Syairozi rahimahullah mengatakan, “Dimakruhkan duduk untuk memberikan ucapan belasungkawa, karena hal itu ada sesuatu yang baru. Dan sesuatu yang baru termasuk bid’ah.” Selesai

Nawawi rahimahullah mengatakan, “Sementara duduk-duduk untuk memberikan ucapan belasungkawa, dengan tegas Syafi’I dan teman-teman memakruhkannya dengan mengatakan, “Maksudnya duduk di mana keluarga mayit di suatu rumah untuk menerima orang yang ingin memberikan belasungkawa. Mereka mengatakan, “Hendaknya mereka membubarkan diri untuk memenuhi keperluannya. Barangsiapa yang bertemu, dapat langsung memberi ucapan belasungkawa. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita makruhnya duduk-duduk (memberikan belasungkawa).” Selesai dari ‘Syakh Al-Muhadzab, 5/278.

Telah ada dalam ‘AL-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 12/189: “Para ahli fikih memakruhkan duduk untuk memberikan belasungkawa di masjid. Sementara Syafiiyyah dan Hanabilah memakruhkan duduk-duduk untuk memberikan belasungkawa. Dimana keluarga mayit berkumpul di suatu tempat agar orang-orang mendatangi untuk memberikan belasungkawa. Karena hal itu termasuk sesuatu yang baru dan bid’ah. Dan hal itu dapat memperbaharui kesedihan.” Selesai

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum bermaksud memberikan ucapan belasungkawa dan pergi ke keluarga mayit di rumahnya?

Beliau menjawab, “Hal ini tidak ada asalnya dalam sunnah. Akan tetapi sekiranya seseorang mempunyai hubungan kerabat, dikhawatirkan terputus kekerabatannya kalau tidak pergi. Maka tidak mengapa dia pergi. Akan tetapi bagi keluarga mayat, tidak disyareatkan baginya berkumpul di rumah dan menerima orang-orang yang memberi belasungkawa. Karena hal ini sebagian ulama’ salaf termasuk niyahah (ratapan). Rumahnya ditutup. Kalau bertemu di pasar atau masjid, diberi ungkapan belasungkawa. Disini ada dua masalah, pertama, pergi ke keluarga mayat. Ini tidak di anjurkan. Kecuali seperti yang saya katakan tadi dia termasuk kerabat dikhawatirkan meninggalkan hal itu termasuk memutus (hubungan kerabat).

Kedua, duduk menerima orang yang memberikan ungkapan belasungkawa. Ini tidak ada asalnya. Bahkan sebagian ulama’ salaf menganggap termasuk ratapan.” Selesai dari ‘Majmu’ Fatawa, 17/342. Masalah ini semakin runyam manakala berkumpul memberikan belasungkawa di dalam masjid. Karena masjid dibangun bukan untuk ini.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum menaruh kursi di masjid untuk menerima para takziyah?

Beliau menjawab, “Belasungkawa dalam masjid tidak disyareatkan. Masjid dibangun bukan untuk belasungkawa. Sesungguhnya dibangun untuk shalat, bacaan Al-Qur’an, zikir dan semisal itu. Dilarang menaruh kursi di dalamnya untuk memberikan belasungkawa. Karena hal itu dapat menyempitkan masjid dan terjadi kegaduhan. Karena semua orang ingin menaruh kursi untuk belasungkawa. Padahal asalnya, menaruh kursi untuk belasungkawa tidak dikenal di kalangan ulama’ salaf. Baik itu di dalam masjid atau di tempat lainnya.” Selesai dari ‘Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 17/354.

Syekh Al-Albany rahimahullah mengatakan, “Selayaknya menjauhi dua hal, meskpin orang-orang pada melakukannya:

a.      Berkumpul untuk takziyah di tempat khusus seperti rumah, kuburan atau masjid

b.      Keluarga mayat membuat makanan untuk para tamu yang datang memberikan takziyah.” Selesai dari ‘Ahkamul Janaiz, 1/167.

Wallahu’alam.

Soal Jawab Tentang Islam