Thu 2 DhQ 1435 - 28 August 2014
174729
Duduk Di Masjid Untuk Belasungkawa (Ta’ziyah)
Apa hukum duduk di masjid untuk takziah (belasungkawa)?


Alhmadulillah

Duduk untuk belasungkawa baik di masjid atau di rumah termasuk bid’ah yang diada-adakan. Berdasarkan hadits Jarir bin Abdullah Al-Bajali radhiallahu anhu sesungguhnya beliau berkata,

 
كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياحة   (رواه أحمد (6866) وصححه الشيخ الألباني رحمه الله)

“Kami menganggap berkumpul di keluarga mayat dan membuat makanan setelah dikuburkan, termasuk niyahah (meratapi mayat).” (HR. Ahmad, 6866 dinyatakan shahih oleh Syekh Al-Albany rahimahullah)

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Saya memakruhkan ma’tsam yaitu berkumpul. Meskipun tidak ada tangisan, karena hal itu memperbaharui kesedihan. Disamping menambahi beban serta  berbagai dampak lainnya.” (Al-Umm, 1/318)

Terdapat dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 12/189, “Para ulama fikih memakruhkan duduk untuk belasungkawa di masjid. (mazhab) Syafiiyah dan Hanabilah memakaruhkan duduk untuk ta’ziyah, yaitu ahli mayat berkumpul di suatu tempat agar orang-orang datang untuk memberikan belasungkawa. Karena hal itu termasuk yang diada-adakan yaitu bid’ah. Karena hal itu dapat memperbaharui kesedihan.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Terkait dengan ahli mayat, tidak dianjurkan mereka berkumpul di rumah, untuk menerima orang yang belasungkawa. Karena hal ini oleh sebagian ulama salaf dianggap sebagai niyahah (meratap). Tutuplah pintu rumah, dan ketika berpapasan di pasar atau di masjid, mereka dapat memberikan belasungkawa. Dalam hal ini ada dua masalah,

Pertama, pergi ke rumah ahli mayat. Hal ini tidak dianjurkan, kecuali kalau dari kalangan kerabat yang dikhawatirkan apabila dia tinggalkan hal itu termasuk memutuskan (hubungan kekerabatan).

Kedua, duduk untuk menerima orang yang memberikan belasungkawa. Hal ini tidak ada asalnya, bahkan sebagian ulama salaf memasukkan hal itu termasuk niyahah (ratapan).” (Majmu Al-Fatawa, 17/343)

Beliau rahimahullah juga ditanya, “Apa hukum meletakkan kursi di masjid untuk menerima (ucapan) belasungkawa?"

Beliau menjawab, “Memberikan ucapan belasungkawa di dalam masjid tidak dianjurkan. Karena masjid dibangun bukan untuk belasungkawa. Dia dibangun untuk menunaikan shalat, membaca Al-Qur’an, zikir dan semisal itu. Dilarang meletakkan kursi di dalam masjid untuk belasungkawa, karena hal itu dapat mempersempit (ruangan) masjid dan terjadinya kegaduhan. Karena setiap orang ingin menaruh kursi di masjid untuk belasungkawa. Padahal asalnya, menaruh kursi untuk berkumpul melakukan belasungkawa itu tidak dikenal oleh para ulama salaf. Baik di dalam masjid atau di tempat lain.” (Majmu Fatawa, 17/354)

Syekh Al-Albany rahimahullah mengatakan, “Selayaknya menjauhi dua perkara, meskipun orang banyak melakukannya, yaitu:

1.      Berkumpul untuk memberikan belasungkawa di tempat khusus seperti rumah, kuburan atau masjid.

2.      Ahli mayat membuat makanan untuk para tamu yang melakukan belasungkawa. “ (Ahkamu Al-Janaiz, 1/167)

Adapun riwayat Abu Daud dalam Sunannya, 3122 dari hadits Aisyah radhiallahu anha beliau berkata,

لما قتل زيد بن حارثة وجعفر وعبد الله بن رواحة جلس رسول الله صلى الله عليه وسلم في المسجد يعرف في وجهه الحزن وذكر القصة  (وصححه الشيخ الألباني في "صحيح أبي داود)

“Ketika Zaid bin Haritsah, Ja’far dan Abdullah bin Rawahah meninggal dunia, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam duduk di dalam masjid. Terlihat raut mukanya kesedihan….. dan disebutkan ceritanya.” Dishahihkan oleh Syekh Al-Albany di Shahih Abu Daud)

Kita tidak memahaminya, bahwa beliau duduk agar orang-orang datang dan memberikan belasungkawa kepadanya.” (Asna Al-Matolib, 1/334)

Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizahullah berkata, “Hadits ini tidak menunjukkan sebagai dalil disyariatkannya duduk untuk menerima orang yang memberi belasungkawa dan para tamu. Sesungguhnya beliau duduk di masjid karena pengaruh (musibah) dan kesedihan (mendalam) sallallahu alaihi wa sallam. Bisa jadi beliau duduk, karena dengan duduk ada ketenangan bagi diri seseorang. Hal itu lebih baik bagi tubuh seseorang dibandingkan dia tetap berdiri.” (Syarh Sunan Abi Daud)

Kesimpulannya, bahwa berkumpul untuk menerima belasungkawa termasuk bid’ah. Baik hal itu dilakukan di masjid atau di tempat lain.

Wallahua'lam .

Soal Jawab Tentang Islam