Fri 26 Shw 1435 - 22 August 2014
22236
Apakah Kehendak Allah Menjadi Sebab Manusia Menyimpang?
Apakah seseorang tersesat, apakah itu juga atas kehendaki Allah, atau Allah tidak menakdirkan demikian?


Al-Hamdulillah. Syaikh Asy-Syinqithi --Rahimahullah-- menyatakan:

"Firman Allah: "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.."(Al-Kahfi : 17)

Dalam ayat mulia tersebut Allah menjelaskan bahwa hidayah dan petunjuk berada di tangan-Nya semata. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada orang yang mampu menyesatkan. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, tidak akan ada orang yang dapat menolongnya.

"Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak..." (Al-Israa : 97)

Demikian juga Allah berfirman:

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi...." (Al-A'raaf : 178)

Allah juga berfirman:

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.." (Al-Qashash : 56)

Dan firman Allah:

"Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. " (Al-Maai-dah : 51)

Demikian juga firman Allah:

"Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong..." (An-Nahl : 37

Juga firman Allah:

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk(memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit.." (Al-An'aam : 125)

Dan masih banyak sekali ayat-ayat lainnya.
Dari seluruh ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat lain yang senada, dapat diambil kesimpulan tentang batilnya madzhab Al-Qadariyyah. Yakni keyakinan bahwa seorang hamba itu memiliki ketidakterkaitan dengan takdir, dalam amal perbuatannya baik maupun buruk. Semua perbuatan itu tidaklah atas kehendak Allah, namun kehendak si hamba sendiri. Allah yang Maha Suci sungguh tidak mungkin kekuasaannya itu ditembus oleh sesuatu tanpa kehendak-Nya. Sungguh Maha Suci Allah dari semua itu.

Adwaa-ul Bayaan IV : 44