Sun 5 Rb2 1436 - 25 January 2015
22950
Pendidikan Keimanan Bagi Anak
Saya memiliki anak kecil yang berusia tiga tahun, dan saya ingin mulai memahamkannya tentang iman, maka apa yang harus saya lakukan ?


Alhamdulillah

Seorang anak yang berusia tiga tahun hendaknya melihat langsung bapak dan ibunya juga mendirikan shalat, dan mendengarkan keduanya membaca al Qur’an; karena seorang anak yang mendengarkan al Qur’an, dzikir harian dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya berkali-kali, akan menyirami ruhnya dan hatinya akan hidup, sebagaimana akan menghidupkan tanah yang gersang, karena seorang anak yang mendengar kedua orang tuanya berdzikir kepada Allah, dan menyaksikan keduanya beribadah akan memberikan efek positif pada prilaku dan perkataannya.

Di antara banyak contoh adalah kisah seorang anak perempuan berikut ini:

Setelah seorang ibu selesai mengambil air wudhu, seraya anak perempuannya yang berusia tiga tahun ikut membasuh muka dan kedua tangannya menirukan ibunya, dan mengangkat jari telunjuknya dan berkata: “Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah”, hal ini menunjukkan bahwa anak perempuan tadi memperhatikan kedua orang tuanya bahwa di sana ada dzikir khusus yang diucapkan setelah wudhu.

Kisah yang lain: Suatu hari ada seorang ibu mendirikan shalat sunnah setelah wudhu dan langsung menyempurnakan pekerjaan rumahnya. Anak perempuannya telah terbiasa melihat ibunya setelah shalat duduk di mushallanya sampai selesai membaca dzikir setelah shalat, namun sang anak tadi memperhatikan ibunya langsung beranjak dari mushalla setelah mendirikan shalat sunnah, lalu berkata kepadanya: “Kenapa anda beranjak dari mushalla anda sebelum anda mengucapkan: “Astaghfirullah”. Sikap ini menunjukkan bahwa ia begitu sangat mengawasi kedua orang tuanya. 

Manusia itu suatu saat akan sakit, suatu saat seorang anak bisa saja sakit, maka pada saat ia sakit itulah kesempatan untuk menguatkan hubungannya dengan Allah –Ta’ala-, yaitu; dengan mengingatkannya tentang keutamaan sehat wal afiyat, yang merupakan bagian dari nikmat-nikmat Allah –Ta’ala- dan wajib disyukurinya, bahwa manusia pada dasarnya adalah lemah tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Rabbnya. Ketika meminum obat atau pergi ke rumah sakit, kita jelaskan bahwa kesembuhan itu dari Allah, akan tetapi yang kita jalani saat ini adalah sebab yang Allah menyuruh kita menjalaninya, kemudian kita kaitkan dengan ruqyah syar’i yang juga kita amalkan. Sebagai contoh para Nabi misalnya mereka menjalani sebab dan bertawakal kepada Allah, seperti kisah Nabi Ayub –‘alaihis salam- dan penyakitnya, kisah Nabi Ya’kub –‘alaihis salam- ketika menyuruh anak-anaknya masuk dari pintu bermacam-macam, namun demikian ia tidak dapat melepaskan mereka dari takdir Allah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, Allah –Ta’ala berfirman melalui lisan Ya’kub:

( لا تدخلوا من باب واحد وادخلوا من أبواب متفرقة وما أغني عنكم من الله من شيء ) يوسف/67

“Dan Ya`qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah…". (QS/ Yusuf: 67)

Dan perkara yang paling penting adalah mengingatkan anak-anak untuk mengharapkan pahala, sabar atas penyakit dan obatnya. Seperti seorang anak perempuan tadi mengingatkan ibunya bahwa Allah –subhanahu wa ta’ala- menginginkannya untuk sakit, sebagaimana yang dikenal dengan istilah penyakit kronis yang sudah sesuai kalkulasi dokter -akan tetapi kesehatan itu dari Allah- , seorang ibu harus mengingatkan bahwa keharusan minum obat 2 kali sehari ini adalah darurat, juga mengingatkannya selalu dengan adanya pahala, maka suatu saat sang anak ini akan mengatakan: Saya mendapatkan pahala karena saya minum obat ini.

Ia mengatakan itu seakan merasa bangga dan memiliki keistimewaan pahala dari keluarga dan saudara-saudaranya yang lain.

Kitab Ummahat Qurba Abnaihinna: 21