Sat 8 Muh 1436 - 1 November 2014
34464
ZIARAH KE MASJID NABAWI
Kalau jamaah haji atau umrah ingin berkunjung ke Masjid Nabawi, apakah diniatkan ziarah ke Masjid Nabawi atau ziarah ke kuburan Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Dan bagaiman adab ziarah ke masjid Nabawi?


Alhamdulillah

Syekh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah mengatakan, "Kalau jamaah haji ingin berkunjung ke Masjid Nabawi sebelum atau sesudah haji, hendaknya dia niat ziarah ke Masjid Nabawi, bukan ziarah ke kuburan. Karena tujuan perjalanan untuk beribadah bukan berziarah ke kuburan. Akan tetapi ziarah ke tiga masjid, Masjid Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha sebagaimana yang ada dalam hasits yang tetap dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda:

لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد : المسجد الحرام ، ومسجدي هذا ، والمسجد الاقصى . (رواه البخاري، رقم  1189 و مسلم، رقم 1397)

“Tidak diperkenankan perjalan kecuali menuju tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha" (HR. Bukhari, 1189 dan Muslim, 1397)

Ketika sampai di Masjid Nabawi, hendaknya mendahulukan kaki kanan ketika memasukinya dan berdoa:

بسم الله والصلاة و السلام على رسول الله اللهم اغفرلي ذنوبي و افتحلي أبواب رحمتك  أعوذ بالله العظيم و بوجهه الكريم و بسلطان القديم من الشيطان الرجيم

“Dengan nama Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah pintu-pintu Rahmat-Mu. Saya berlindung dengan (Nama) Allah yang Agung, dengan Wajah nan Mulia dan Kekuasaan yang Lama dari syetan yang terkutuk.”

Kemudian shalat (beberapa rakaat) sesuai dengan keinginannya. Yang lebih utama shalat di Raudhah yaitu antara mimbar Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan kamarnya yang di dalamnya ada kuburan beliau sallallahu’alaihi wa sallam. Karena di antara keduanya adalah taman (raudhoh) diantara taman surga. Setelah shalat, kalau ingin ziarah ke kuburan Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Hendaknya dia berdiri di depan (kuburan) dengan beradab dan tenang seraya mengucapkan:

السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته اللهم صل على محمد كما صليت على إبراهيم  وعلى آل محمد وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد , اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد أشهد أنك رسول الله حقا وأنك قد بلغت الرسالة وأديت الأمانة ونصحت الأمة وجاهدت في الله حق جهاده , فجزاك الله عن أمتك أفضل ما جزى نبيا عن أمته.

“Semoga keselamatan, rahmat dan barokah Allah menyertai anda wahai Nabi. Ya Allah berikan shalawat kepada Nabi Muhammad sebagaimana Engkau berikan kepada Nabi Ibrohim. Dan kepada keluarta Muhammad dan kepada keluarga Ibrohim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Tinggi. Ya Allah berikan barokah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau berikan barokah kepada Ibrohim dan keluarganya. . Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Tinggi. Saya bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar utusan Allah, sesungguhnya engkau telah menunaikan risalah, menjalankan amanah, memberi nasehat kepada umat serta berjihad karena Allah dengan jihad yang sungguh-sungguh. Semoga Allah membalas anda untuk umatnya yang lebih baik dari apa yang diberikan nabi kepada umatnya.

Kemudian bergeser ke kanan sedikit dan memberi salam kepada Abu Bakar As-Siddiq dan memohon keredhaan Allah untuknya. Kemudian bergeser ke kanan sedikit dan memberi salam kepada Umar bin Khattab dan memohon keredhaan Allah untuknya. Jika dia mendoakan Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhuma dengan doa yang sesuai, maka hal itu juga bagus.

Tidak dibolehkan seorang pun mendekatkan diri kepada Allah dengan mengusap kamar nabi atau thawaf (disekitarnya). Tidak dibolehkan juga menghadap (ke kuburan) sewaktu berdoa, akan tetapi (ketika berdoa) menghadap kiblat. Karena beribadah kepada Allah tidak dibolehkan kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena ibadah pondasinya dibangun dengan dasar ittiba (mengikuti aturan Nabi) bukan dengan ibtida (mengada-adakan dalam agama).

Adapun wanita tidak diperkenankan ziarah ke kuburan Nabi sallallahu alaihi wa sallam juga ke kuburan lain. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam melaknat para wanita yang sering ziarah ke kuburan. (HR. Tirmizi dan dihasankan oleh Al-Albany di shahih Tirmizi, 843)

Akan tetapi para wanita dibolehkan menyampaikan shalawat dan memberi salam kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam di tempatnya. Maka (salam tersebut) akan sampai kepada Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dimanapun dia berada.

Dalam hadits dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda:

صلوا عليَّ فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم ، وقال :

“Bershalawatlah kepadaku. Karena shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun anda berada."

Beliau juga  bersabda,

إن لله ملائكة سياحين في الأرض يبلغوني من أمتي السلام

"Sesungguhnya Allah mempunyai para Malaikat yang berkeliling di bumi, akan menyampaikan salah dari umatku.” (HR. Nasa’i, 1282 dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Nasa’i, no. 1215)  

Catatan:

Kata ‘Zawwarat’ artinya zairot (wanita yang berziarah). Karena kata ‘Zawwarat plural dari kata Zawwar yakni zair (orang yang berziarah). Silahkan melihat kitab ‘Ziyaratul qubur Lin nisaa’ hal. 17 karangan Syekh Abu Bakar Abu Zaid.

Khusus bagi lelaki, dianjukan berziarah ke pekuburan Baqi, yaitu kuburan di Madinah dengan berdoa:

السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون يرحم الله المستقدمين منا ومنكم والمستأخرين نسأل الله لنا ولكم العافية اللهم لا تحرمنا أجرهم ولا تفتنا بعدهم واغفر لنا ولهم

“Semoga keselamat bagi penduduk kuburan dari kalangan orang islam dan beriman. Dan sesungguhnya kami insyaallah bersama anda akan menyusul. Semoga Allah memberikan rahmat bagi orang-orang yang telah berlalu dan yang akan datang dari kalangan kamu dan anda semua. Kami memohon kepada Allah untuk kami dan anda semua kesehatan. Ya Allah janganlah Engkau halangi kami dari pahala mereka dan janganlah Engkau coba kami setelah mereka dan ampunilah kami dan mereka semua."

Kalau dia ingin mendatangi Gunung Uhud dan mengingat peristiwa yang terjadi pada Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersama para shahabatnya pada peperangan itu dari sisi jihad, ujian, penyeleksian dan syahadah (yang didapatkannya). Dan memberikan salam kepada para syuhada di sana seperti Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Nabi sallallahu alaihi wa sallam, maka hal itu tidak mengapa. Karena hal itu termasuk perjalanan di muka bumi yang dianjurkan.

Wallahu’alam.

Kitab Al-Minhaj Limuridil Umrah Wal Hajj