Thu 24 Jm2 1435 - 24 April 2014
37667
APAKAH MENGIKUTI MAJLIS EROPA MESKIPUN MEMAKAI HISAB FALAKI
Kami (bagian) administrasi Markaz Islamy di Inggris, kami ingin menentukan kesepakatan permulaan bulan Ramadan dan penghujungnya untuk orang-orang yang shalat di markaz kami. Kami telah berkomitmen untuk berusaha menyatukan (pendapat) umat Islam dengan cara semaksimal mungkin menyatukan pendapat mereka dalam masalah ini. Sebagian berpendapat dengan rukyah (sementara) sebagian lainnya dengan hisab. Sementara Majlis Eropa Lil Ifta’ melihat (juga) masalah ini. Perlu diketahui bahwa badan ini yang berkompeten mengeluarkan fatwa untuk umat Islam di Eropa. Pertanyaan kami adalah, apakah kami mengikuti Majlis Eropa Lil Ifta’ meskipun mengambil dari hisab atau kami tetap seperti yang telah menjadi pegangan kami dengan mencoba menyatukan (pendapat) diantara masjid-masjid di kota kami meskipun berbeda (pendapat) dengan Majlis?


Alhamdulillah.

Tidak diperkenankan mengamalkan dengan hisab falaki dalam menetapkan masuk atau keluarnya bulan Ramadan. Seharusnya dia beramal dengan rukyah hilal, sebagaimana sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam: “Berpuasalah kamu semua karena melihatnya (hilal) dan berbukalah (untuk hari raya) karena melihatnya.” HR. Bukhori, 1909. Muslim, 1081. Silahkan merujuk ke soal. 1602.

Umat Islam telah bersepakat (ijma’) akan tidak diperbolehkannya mengamalkan dengan hisab falaki sebagai pengganti  dari rukyah hilal ketika langit cerah. Sementara kalau langit ada mendung, sebagian ulama’ menyalahi mayoritas ulama’ dengan memperbolehkan beramal dengan hisab falaki bagi orang yang menghitung saja.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya telah diketahui secara aksioma dari agama Islam bahwa beramal dengan rukyah hilal puasa, haji, iddah, ila’ atau hukum-hukum lain terkait dengan hilal dengan kabar hisab bahwa dia melihat atau tidak melihat (hilal) itu tidak diperbolehkan. (bahkan) nas-nas begitu banyak dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam akan hal itu. umat Islam telah sepakat akan hal itu dan asalnya dahulu memang tidak dikenal adanya perbedaan. Begitu juga sekarang tidak ada perbedaan kecuali sebagian dari ulama’ baru dari kalangan seakan-akan faqih (pada masa) setelah tiga ratus tahunan menyangka bahwa kalau ada hilal terhalangi (dengan mendung) seorang ahli hisab diperbolehkan mengamalkan bagi dirinya saja dengan hisab, kalau sekiranya hisab menunjukkan (kemungkinan) dilihat, maka (harus) berpuasa kalau tidak, tidak (boleh berpuasa).

Pendapat ini meskipun terikat dengan adanya penutup (mendung) dan khusus untuk dengan hisab adalah syaz (menyalahi mayoritas ulama) yang didahului dengan adanya kesepakatan (ijma’) yang berlainan dengan (pendapat itu). sementara mengikuti hal itu (dengan hisab) dalam kondisi cerah atau menggantungkan keumuman hukum secara global dengannya (hisab), maka tidak ada seorang muslimpun yang mengatakannya.” Majmu’Al-Fatawa, 25/132.

Dari sini, maka bagi kamu semua tidak diperkenankan mengikuti majlis yang disebutkan kalau (hanya) bersandarkan kepada hisab falaki bukan dengan rukyah hilal. Dan hendaklah kamu semua mengamalkan dengan rukyah hilal sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dan umat Islam pada sepakat akan hal itu. semoga Allah memberikan taufiq kepada anda semua terhadap apa yang dicintai dan diridhoi.

Wallallahu’alam .

Soal Jawab Tentang Islam