Tue 6 DhH 1435 - 30 September 2014
38282
Istri Tidak Mau Berpuasa
Saudaraku orang yang baik agamanya, akan tetapi istrinya kurang bagus agamanya. Dia tidak berpuasa dan memang asalnya dia sendiri tidak tahu tentang Ramadan. Sementara, tidak ada salah satu kerabat kami yang tinggal dekat dengannya sehingga sulit untuk bisa memberikan pengaruh kepada istrinya atau menjadikannya berubah. Sang suami selalu berdoa kepada Allah agar memberikan hidayah kepadanya dan dirinya diberi kesabaran atasnya. Akan tetapi tampaknya dia tidak ingin berubah atau berprilaku sebagaimana layaknya orang Islam. Apakah mungkin anda beritahukan kepadaku bagaimana (cara) menghadapi dia supaya lebih dekat kepada Islam dan menjadi orang yang lebih bagus agamanya?


Alhamdulillah.

Wajib bagi saudara anda untuk menggunakan berbagai macam cara agar istrinya mendapat hidayah ke jalan yang benar. Dia dapat menggunakan metode anjuran (targib) dan ancaman (tarhib), mengingatkannya kepada Allah Azza Wa Jalla dan hak-hak-Nya. Memberinya nasehat dan memperingatkan akan bahaya dari sikapnya sekarang. Kemudian, usahakan agar dia menjalin hubungan dengan teman yang baik (shaleh) meskipun bukan dari kerabatnya. Seperti dihubungkan dengan istri-istri teman-temannya yang istiqamah dan shaleh. Dapat juga dengan memberikan kaset-kaset yang bermanfaat, buku-buku kecil yang berfaedah.

Kalau dia mentaatinya, itu yang diinginkan. Kalau tidak, maka tidak mengapa menggunakan metode hajr (mengisolir/tidak mengajaknya berbicara) jika hal itu bermanfaat menghadapi sikap seperti ini. Karena kalau metode ini dibolehkan agama untuk menuntut hak suami, maka untuk menuntut hak Allah lebih dibolehkan lagi.

Terdapat riwayat dari Abu Umamah Al-Bahili, dia berkata, aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان فأخذا بضبعيّ ( الضبع هو العضد ) فأتيا بي جبلا وعِرا ، فقالا : اصعد . فقلت : إني لا أطيقه . فقالا : إنا سنسهله لك . فصعدت حتى إذا كنت في سواء الجبل إذا بأصوات شديدة ، قلت : ما هذه الأصوات ؟ قالوا : هذا عواء أهل النار . ثم انطلق بي فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم ، مشققة أشداقهم ، تسيل أشداقهم دما ، قلت : من هؤلاء ؟ قال : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم (صححه الألباني في صحيح موارد الظمآن (1509)

“Aku bermimpi didatangi dua orang membawa pundakku. Keduanya membawaku ke gunung yang  terjal. Keduanya berkata: Naiklah! Aku menjawab: “Aku tidak mampu.” Keduanya mengatakan: “Kami akan membantu  memudahkanmu. Maka aku mendaki, ketika sampai di puncak gunung, tiba-tiba terdengar suara melengking keras. Aku: “Suara apa itu? Mereka menjawab: “Itu adalah suara penghuni neraka.” Kemudian dia berangkat lagi membawaku, ternyata saya dapati suatu kaum yang bergantungan tubuhnya mulutnya pecah dan mengeluarkan darah. Saya bertanya: ”Siapa mereka?” Dia berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum dibolehkan (waktunya) berbuka puasa.” (HR. Baihaqi, no.7796, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Mawarid Adz-Dzam’an, no. 1509)

Jikalau hukuman itu bagi orang yang berbuka (puasa) sebelum waktu buka, bagaimana bagi orang yang memang asalnya tidak berpuasa?.

Kalau sekiranya selain tidak berpuasa juga tidak melakukan shalat sama sekali, hal itu dapat mengeluarkan dari ruang lingkup Islam, menurut pendapat yang kuat dari pendapat ahli ilmu. Kalau seperti itu, maka tidak dibolehkan saudara laki-laki anda membiarkan (istrinya) berada di bawah perlindungannya.

Wallahu’alam

Silahkan merujuk soal jawab no. 12828.

Soal Jawab Tentang Islam