Tue 7 DhQ 1435 - 2 September 2014
4033
HUKUM MERAYAKAN ASYURO DAN MENGADAKAN PERKUMPULAN UNTUK MEMPERINGATINYA
Apa hukum yang dilakukan sebagian orang yang pada hari Asyuro memakai celak mata, mandi, memakai hinna (pacar) dan berjabat tangan, memasak aneka makanan dan menampakkan kegembiraan dan lain sebagainya. Apakah terdapat hadits shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang hal tersebut, atau tidak? Jika tidak terdapat hadits shahih sedikit pun apakah perbuatan tersebut termasuk bid'ah atau tidak? Begitu pula dengan perbuatan orang pada hari itu berupa perayaan duka dan kesedihan serta sengaja membuat diri kehausan, serta tindakan lainnya berupa ratapan dan kesedihan serta merobek-robek baju. Apakah semua itu ada dalilnya atau tidak?


Al-Hamdulillah.

Syaikhul Islam pernah ditanya dengan pertanyaan ini, lalu beliau menjawab, "Al-hamdulillah rabbil alamin. Tidak terdapat riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, tidak juga dari para shahabatnya. Tidak ada satu pun dari para imam yang empat dan selain mereka yang menganjurkan hal tersebut. Tidak pula ada para penyusun kitab yang terpercaya pada masa-masa utama yang meriwayatkan hal itu, tidak dalam kitab shahih, sunan dan juga musnad. Tidak juga dikenal satu pun hadits tentang hal tersebut, apakah hadits shahih atau hadits dha'if.

Akan tetapi, ada sebagian ulama yang datang belakangan, meriwayatkan beberapa hadits tentang hal tersebut. Di antaranya mereka meriwayatkan bahwa siapa yang memakai celak tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu, dan bahwa siapa yang mandi pada hari Asyuro, tidak akan sakit pada hari itu, dan semacamnya.  

Mereka juga meriwayatkan keutamaan shalat pada hari Asyuro, mereka riwayatkan bahwa taubatnya Nabi Adam, bertambatnya perahu Nabi Nuh di gunung Judy, kembalinya Nabi Yusuf kepada Nabi Ya'kub, serta selamatnya Ibrahim dari api, semua itu terjadi pada hari Asyuro.

Hadits yang menyatakan bahwa "Siapa yang memberi keluasan kepada keluarganya pada hari Asyuro, maka Allah akan memberinya keluasan sepanjang tahun." Adalah hadits maudhu (palsu) dan perbuatan dusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah telah berbicara tentang dua kelompok sesat yang terdapat di Kufah di negeri Irak yang menjadikan hari Asyuro sebagai hari raya untuk menampakkan perbuatan bid'ah mereka. Yang satu adalah kelompok Nawasib, dan yang satu lagi kelompok (syiah) rafidah yang menampakkan seolah-oleh membela Ahlul Bait padahal mereka menyimpan kekufuran, zindiq, kebodohan, pengikut hawa nafsu. Dan satu lagi adalah Nawashib yang membenci Ali dan para shahabatnya setelah terjadinya peperangan dan fitnah yang menimpa mereka.  

Terdapat riwayat shahih dalam Shahih Muslim, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata, "Akan ada dari Tsaqif Kaddab dan Mubir". Yang dimaksud Al-Kaddab adalah Al-Mukhtar bin Abi Ubaid Ats-Tsaqafi. Dia menampakkan pembelaannya terhadap Ahlul Bait, membunuh Ubaidillah bin Ziad, gubernur Irak yang mempersiapkan pasukan untuk membunuh Husain bin Ali radhiallahu anhuma, diapun mengaku Nabi dan bahwa Malaikat Jibril turun kepadanya. Hingga mereka mengadu kepada Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Mereka berkata kepada salah satu dari keduanya, sesungguhnya yang paling menampakkan dusta adalah Mukhtar bin Abi Ubaid, dia mengaku bahwa malaikat turun kepadanya, maka beliau berkata, 'Benar' Allah berfirman, "Apakah akan aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa," (QS. Asy-Syu'ara: 221-222)

Lalu mereka berkata kepada yang lain, Sesungguhnya Mukhtar mengaku bahwa dia diberikan kepadanya. Dia berkata, 'Benar, (Allah berfirman), "Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu." (QS. Al-An'am: 121)

Kelompok pertama ini merupakan kelompok rafidhah (syiah).

Adapun Mubir adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, dia adalah orang yang memisahkan diri dari Ali dan para pendukungnya. Dia ini yang dikenal sebagai kelompok nawasib.  

Dahulu di Kufah antara kedua kelompok ini terjadi saling fitnah dan peperangan. Ketika Husain bin Ali bin Abi Thalib pada hari Asyuro dibunuh oleh kelompok zalim yang pemberontak yang membunuh bapaknya Ali beserta yang lainnya, Allah telah memuliakan Husain dengan kesyahidan, sebagaimana sebelumnya telah Allah muliakan dari kerabatnya, seperti Hamzah dan Ja'far. Dengan syahidnya itulah Allah mengangkat derajatnya dan meninggikan kedudukannya, karena sesungguhnya dia dan saudaranya, Hasan, merupakan pemimpin pemuda di surga. . Kedudukan yang tinggi tersebut tidak akan didapat kecuali melalui ujian. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika ditanya seseorang, "Siapakah orang yang paling berat cobaannya?" Beliau bersabda, "Seseorang akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya, jika agamanya kuat, maka ujiannya akan ditambah, jika agamanya tidak kuat, maka ujiannya diringankan. Ujian akan selalu menimpa seorang mu'min hingga dia berjalan dimuka bumi tanpa dosa." (HR. Tirmizi dan lainnya) 

Sebelum Hasan dan Husain sudah mendahului mereka, para nabi, orang-orang shaleh dan seterusnya dan seterusnya. Akan tetapi ujian yang menimpa mereka tidak seperti ujian yang menimpa pendahulunya. Sebab keduanya dilahirkan saat Islam sedang jaya, dididik dengan kemuliaan dan penghormatan, mereka sendiri dimuliakan dan dihormati kaum muslimin, dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat saat keduanya belum masuk usia tamyiz. Maka, merupakan nikmat Allah kepada keduanya, apabila Dia menguji keduanya dan memasukkannya ke tengah kerabatnya. Sebagaimana pernah diuji sebelumnya orang yang lebih baik dari keduanya, karena Ali bin Abi Thalib lebih utama dari keduanya, dan dia pun terbunuh sebagai syahid. Terbunuhnya Husain menyebabkan terjadinya fitnah di tengah manusia, sebagaimana terbunuhnya Utsman radhiallahu anhu merupakan sebab utama terjadinya fitnah di antara manusia dan terjadinya perpecahan di kalanganumat hingga sekarang. Karenanya terdapat dalam sebuah hadits,

ثلاث من نجا منهن فقد نجا: موتي ، وقتل خليفة مسطبر، والدجال

"Tiga hal yang apabila selamat darinya, maka dia akan selamat. Kematianku, terbunuhnya khalifah yang tabah dan datangnya Dajjal."

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah menjelaskan tentang sejarah Hasan dan keadilannya hingga dia berkata, "Kemudian dia (Hasan) mendapatkan kemuliaan dan keridaan Allah Ta'ala. Setelah itu, sekelompok orang menulis surat kepada Husain, mereka berjanji membelanya dan menolongnya apabila dia siap menjadi pemimpin mereka. Namun mereka bukanlah orang-orang yang menepati janji. Sebab, ketika anak pamannya (Yazid) mengirim pasukannya, mereka mengingkari janjinya dan membatalkan perjanjiannya.  

Sebenarnya, para penasehat Husain, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan selain keduanya telah memberikan isyarat agar dia tidak pergi menemui mereka dan tidak menerima tawaran mereka. Mereka berpandangan bahwa keluarnya Husain kepada mereka tidak memiliki manfaat dan tidak mendatangkan sesuatu yang menggembirakan. Dan kenyataanya yang terjadi adalah apa yang telah mereka perkirakan. Demikianlah segala sesuatunya terjadi berdasarkan ketentuan Allah Ta'ala. Husain radhiallahu anhu, ketika berangkat memenuhi permintaan mereka dan melihat kenyataan yang berbeda dari apa yang dia harapkan, dia meminta kepada mereka untuk kembali atau pergi ke perbatasan atau menemui sepupunya Yazid, mereka menolaknya semua pilihan tersebut, lalu mereka memeranginya, maka beliau memerangi mereka hingga akhirnya mereka membunuhnya dalam keadaan terzalimi dan syahid yang mengantarkannya pada kemuliaan dari Allah menyusul kerabatnya dari kalangan Ahlul Bait yang mulia.  

Kejadian tersebut kemudian menimbulkan keburukan di tengah manusia. Sehingga timbul kelompok yang bodoh dan zalim, apakah dia seorang atheis atau munafik, atau kelompok yang sesat. Di antara kelompok yang muncul adalah mereka yang menampakkan pembelaannya terhadap Husain dan Ahlul Bait dengan menjadikan hari Asyuro sebagai hari duka cita, kesedihan dan ratapan. Kemudian mereka menampakkan semboyan-semboyan jahiliah dengan menampar-nampar pipi, merobek baju dan senandung ratapan jahiliah. Padahal, yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan apabila mendapatkan musibah –pertama kali- adalah bersabar, mengharap pahala dan mengucapkan istirja' (Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji'un). Sebagaimana firman Allah Ta'ala, 

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ  . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ  أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ  (سورة البقرة: 155-157) 

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157) 

Dalam hadits shahih, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,  

ليس منا من لطم الخدود وشق الجيوب ودعا بدعوى الجاهلية

"Bukan termasuk golongan kami, orang yang menampar pipinya, merobek bajunya dan menyeru dengan seruan jahiliah (apabila mengalami kesedihan)."  

Beliau juga bersabda,

"Aku berlepas diri dari orang yang berteriak-teriak, menggundul kepalanya dan merobek-robek bajunya." 

Beliau juga bersabda,

"Wanita yang meratap, jika tidak bertaubat sebelum meninggal, akan dibangkitkan pada hari kiamat akan dikenakan pakaian dari leburan ter dan baju besi dari leburan perak." 

Dalam Al-Musnad diriwayatkan dari Fatimah binti Al-Husain dari bapaknya Al-Husain dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Seseorang yang mendapatkan musibah, lalu dia ingat musibahnya meskipun telah lama, kemudian dia mengucapkan istirja', niscaya Allah berikan kepadanya pahala, sebagaimana pahala saat dia mendapatkan musibah."  

Ini merupakan kemuliaan bagi seorang mukmin yang mengingat musibah setelah terjadi selang sekian lama. Maka hendaklah seorang mukmin mengucapkan istirja' ketika itu, sebagaiman diperintahkan Allah dan Rasul-Nya agar dia diberikan pahala sebagaimana saat dia petama kali menerimanya.  

Jika Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan untuk bersabar dan mengharap pahala saat musibah tersebut baru pertama kali terjadi, maka apalagi jika musibah tersebut telah lama terjadi. Maka sungguh termasuk bisikan dan godaan setan kepada orang-orang yang sesat dengan menjadikan hari Asyuro sebagai perkumpulan duka cita dengan melakukan ratapan dan menyenandungkan bait-bait kesedihan serta mengisahkan cerita-cerita yang di dalamnya banyak terdapat dusta. Perayaan tersebut hanya memperbaharui kesedihan, menimbulkan sikap fanatik, menimbulkan kebencian dan peperangan serta menebarkan fitnah di kalangan kaum muslimin serta menjadikannya sebagai sarana mencaci para tokoh-tokoh Islam generasi pertama. Tidak ada satupun kelompok yang paling banyak dustanya dan fitnahnya serta pembelaannya terhadap kaum kafir selain kelompok sesat ini. Mereka lebih buruk dari kelompok Khawarij yang membelot. Mereka semuanya menjadi pembela orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang Musyrik terhadap keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan isteri-isterinya, sebagaimana orang Khawarij membantu bangsa Tatar atas perbuatan mereka berupa pembunuhan dan perampokan di Baghdad. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala."

Keburukan dan bahaya mereka, tidak dapat dihitung oleh orang yang fasih dalam berbicara sekalipun. 

Kebalikan dari mereka adalah orang yang menentang mereka, apakah dari kalangan nawasib fanatik penentang Husain dan keluarganya, ataukah dari kalangan orang-orang bodoh yang ingin menentang kerusakan dengan kerusakan, dusta dengan dusta, keburukan dengan keburuukan, bid'ah dengan bid'ah. Mereka mengarang-ngarang riwayat tentang ritual suka cita pada hari Asyuro, seperti bercelak mata, memakai pacar, melebihkan belanjaan untuk keluarga dan memasak makanan lain dari biasanya, atau yang semacamnya yang biasa dilakukan pada hari Ied. Maka, jika mereka (kalangan syiah) menjadikan hari Asyura sebagai hari berkabung, mereka (kaum nawasib) menjadikannya sebagai hari raya suka cita, meskipun kalangan syiah, lebih busuk maksud dan tujuannya dan lebih besar kebodohannya serta kezalimannya. Akan tetapi Allah memerintahkan untuk bersikap adil dan berbuat baik.  

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya, siapa di antara kalian yang hidup, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunahku, genggamlah dia dan gigitlah dengan geraham kalian. Janganlah kalian melakukan perbuatan yang baru, sebab semua bid'ah adalah sesat." 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga para Khulafaurrasyidin tidak mengajarkan peringatan Asyura, apakah ritual kesedihan dan nestapa, atau kegembiraan dan suka cita.  

Akan ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, beliau bertanya, "Hari apa ini?" Mereka menjawab, " ini adalah hari diselamatkannya Nabi Musa alaihissalam dari tenggelam di laut." Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa salalm berkata, "Kami lebih berhak kepada Nabi Musa daripada kalian." Lalu beliau berpuasa, dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa. Kaum Quraisy pun menghormati hari ini semasa jahiliahnya. 

Hari yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk berpuasa adalah satu hari. Beliau datang ke Madinah pada bulan Rabi'ul Awal, maka pada tahun depannya beliau berpuasa Asyuro dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. Kemudian puasa Ramadan diwajibkan pada tahun itu, maka kewajiban puasa Asyuro menjadi terhapus.  

Para ulama berbeda pendapat, apakah puasa beliau ketika itu merupakan kewajiban?  Ada dua pendapat yang masyhur. Pendapat yang kuat adalah bahwa puasa asyuro saat itu (sebelum diwajibkan puasa Ramadan) hukumnya wajib. Kemudian setelah itu, bagi yang ingin berpuasa, dia berpuasa, sebagai sunnah saja, tidak diwajibkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk berpuasa kepada kalangan umum. Bahkan beliau bersabda: ‘Ini adalah hari Asyura’, saya dalam kondisi berpuasa pada hari intu, barangsiapa berpuasa dipersilahkan. Dan beliau juga mengatakan, ‘Puasa Asyura’ dapat menghapus (dosa kecil) setahun. Dan puasa hari Arofah dapat menghapus (dosa) dua tahun. Dan ketika di akhir kehidupan beliau dan mendengar bahwa orang Yahudi menjadikan (hari Asyura) sebagai hari raya. Maka bersabda; kalau sekiranya saya masih hidup pada tahun depan, saya akan berpuasa pada hari kesembilan. Agar berbeda dengan orang Yahudi. Dan tidak menyerupai dengan menjadikannya sebagai hari raya. Diantara pada shahabat dan para ulama’ ada yang tidak berpuasa, dan tidak menganjurkan berpuasa bahkan ada yang memakruhkan menyendirikan puasa (hari asyura) sebagaimana hal itu dinukilakan dari golongan orang Kufah. Diantara ulama ada yang menganjurkan puasa (Asyura). Yang benar bahwa dianjurkan bagi yang berpuasa, hendaknya berpuasa dengan hari kesembilan. Karena hal ini ada perintah terakhir Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dalam sabdanya,’Kalau sekiranya saya masih hidup pada tahun depan, maka saya akan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Sebagaiman penjelasan dari jalur hadits lain. Dan ini adalah seperti yang disunnahkan oleh Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam. Sementara perkara yang lainnya, seperti membuat makanan yang diluar dari kebiasannya, baik serbuk maupun bukan serbuk. Memperbaharui pakaian, melapangkan nafkah, membeli keperluan setahun pada hari ini, atau melakukan ibadah khusus, seperti shalat khusus untuk itu, bermaksud menyembelih, menyimpan daging sembelihan untuk dimasak dengan serbuk, atau memakai celak dan pacar, mandi atau bersalam-salaman, saling mengunjungi atau mengunjungi masjid dan tempat tertentu atau semacam itu. maka ini termasuk bid’ah munkar yang tidak disunnahkan oleh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, para khulafaurrosyidin, tidak pula dianjurkan oleh salah seorang imam umat Islam baik itu Imam Malik, Tsauri, Laits bin Sa’ad, Abu Hanifah, Auza’i, Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahuyah, atau ulama’ semisal mereka dan para imam Umat Islam. Agama Islam dibangun atas dua pondasi dasar, tidak menyembah melainkan kepada Allah, dan tidak menyembah kecuali dengan yang disyareatkan. Kita tidak menyembah dengan (melakukan) bid’ah. Allah ta’ala berfirman, ‘Maka barangsiapa yang siapa yang ingin bertemu dengan Tuhannya, maka hendaklah dia melakukan amalan sholeh dan tidak menyekutukan sedikitpun dalam beribadah kepada tuhannya. Maka amalan sholeh adalah apa yang dicintai oleh Allah dan RasulNya. Yaitu yang disyareatkan dan disunnahkan. Oleh karena itu Umar bin Khottob radhiallahu’anhu mengatakan dalam doanya:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِك خَالِصًا , وَلا تَجْعَلْ لأَحَدٍ فِيهِ شَيْئًا

 “Ya Allah, Jadikanlah semua amalanku menjadi sholeh, dan jadikanlah hanya (menggapai) keikhlasan untukMu. Dan janganlah Engkau jadikan sesuatu apapun yang yang lainnya.”

Selesai ringkasan dari perkataan syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahiamhullah, ‘AL-Fatawa AL-Kubro, vol.5 dan Allah sebagai petunjuk ke jalan yang lurus.

Syekh Muhammad Sholeh AL-Munajid