Fri 4 Shw 1435 - 1 August 2014
45730
DOA YANG DIBACA SAAT BERWUDU
Apa doa yang dibaca saat berwudu?


Alhamdulillah.

Terdapat riwayat yang kuat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam doa-doa yang dibaca saat memulai wudu dan setelah selesia berwudu.

Adapun yang dibaca saat memulai wudu, hanya tasmiah saja, yaitu membaca Bismillah.

Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

لا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

Tidak ada wudu bagi orang yang tidak menyebu nama Allah padanya.

(HR. Tirmizi, no. 25, dia berkata, 'Dalam bab ini diriwayatkan dari Aisyah, Abi Said, Abu Hurairah, Sahl bin Sa'ad dan Anas. Ahmad bin Hambal berkata, 'Dalam bab ini saya tidak mengetahui ada hadits dengan sanad yang baik.' Demikian kata Tirmizi. Sementara Al-Albanya menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih Tirmizi)

Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam kita Shahih Tirmizi.

Telah disebutkan sebelumnya dalam jawaban soal no. 21241, bahwa kesahihan hadits ini diperdebatkan para ulama.

Imam Nawawi dalam kita Al-Majmu, 1/385, mengutip perkataan Baihaqi,

'Riwayat yang paling sahih dalam masalah tasmiah (membaca basmalah dalam berwudu) adalah hadits Anas, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam memasukkan tangannya dalam wadah berisi air, kemudian beliau berkata, 'Berwudulah kalian dan bismillah' Dia (Anas) berkata, 'Lalu aku lihat air mengalir di antara jemarinya, sementara orang-orang berwudu yang orang terakhir dari mereka, jumlah mereka sekitar tujuh puluh orang.' Sanad hadits ini jayid (baik). Baihaqi berdalil dengan hadits ini dalam kitabnya Ma'rifatus-Sunan wal Aatsar, lalu beliau menyatakan dha'if hadits-hadits yang lainnya.'

Adapun bacaan setelah berwudu, terdapat beberapa hadits yang diriwayatkan. Berdasarkan keseluruhan dari riwayat yang ada, bacaannya adalah,

Imam Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Setiap kalian yang berwudu, lalu dia menyempurnakan wudunya, setelah itu membaca, Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluh, niscaya akan dibukakan baginya pintu surga yang delapan, dia dapat masuk dari pintu mana saja yang dia suka.' (HR. Muslim, no. 234)

Tirmizi, no. 55 menambahkan dalam riwayatnya (bacaan),

Allahummaj'alnii minat-tawwaabina, waj'alnii minal-mutathahhirin.

Tambahan ini dinyatakna dhaif oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah, bahwa dia berkata, tambahan yang terdapat dalam riwayat Tirmizi tidak kuat dalam hadits ini' Demikian dikutip dari Al-Futuhat Ar-Rabbaniyah, 2/19

Namun Al-Albanya menyatakan shahih dalam Shahih Tirmizi, dan Ibnu Hazm memastikan bahwa riwayat ini benar berasal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Adapun bacaan,

Subhaanallahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik,

Ini  diriwayatkan oleh Nasa'i dalam Kitab Amalul-Yaumi wal-Lailah, juga oleh Hakim dalam Kitab Al-Mustadrak, dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu. Para perawi berbeda pendapat, apakah hadits ini marfu (sampai) ke Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau dia hanya perkataan Abu Said radhiallahu anhu?

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

'Sanad riwayat ini tidak diragukan kesahihannya, akan tetapi diperselisihkan apakah hadits ini marfu (sampai kepadan Nabi) atau mauquf (hanya perkataan sahabat). Nasa'I sebagaimana metodenya menguatkan perkara yang lebih hati-hati, karenanya dia menghukumi hadits ini salah (bukan perkataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam). Sedangkan metode Syaikh pengarang (maksudnya Imam Nawawi) yang mengikuti metode Ibnu Shalah dan lainnya bahwa menetapkan marfu menurut mereka lebih dipilih, karena dengan menetapkan demikian, akan bertambahnya ilmu. Dan dengan perkiraan bahwa amal dengan cara tertentu bukan perkara yang dapat disimpulkan oleh pandangan akal semata, maka yang lebih kuat riwayat ini adalah marfu' (Al-Futuhat Ar-Rabaniyah, 2/21)

Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih At-Targhib, no. 225, dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2333.

Lihat Tamamul-Minnah, hal. 94-98

Demikianlah zikir-zikir yang dibaca saat berwudu berdasarkan riwayat yang kuat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Adapun berdoa di sela-sela membasuh anggota wudu, tidak ada satu pun riwayat yang kuat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Azkar, hal. 30, berkata, 'Adapun doa yang dibaca saat membasuh anggota wudu, tidak ada satupun riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Ibnu Qoyim berkta dalam kitab Zadul Ma'ad, 1/195

Tidak ada satupun riwayat bahwa beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) membaca sesuatu saat berwudu selain tasmiah (bismillah). Semua hadits tentang zikir-zikir di tengah wudu (saat membasuh masing-masing anggota wudu) yang diriwayatkan adalah dusta dan dibuat-buat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak membacanya, tidak pula mengajarkannya kepada umatnya, dan tidak ada riwayat yang kuat dalam masalah ini selain tasmiah di awalnya, dan ucapan, Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuuluh, Allahummaj'alnii minat-tawwaabina, waj'alnii minal-mutathahhirin. di akhirnya. Begitu pula dalam hadits lain dalam Sunan Nasa'i, disebutkan pula zikir yang dibaca setelah wudu, yaitu,  Subhaanallahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.'

Disebutkan dalam Fatawa Lajnah Da'imah, 5/221

'Tidak ada riwayat yang kuat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan adanya doa yang dibaca ketika sedang berwudu. Doa-doa yang dibaca kalangan awam setiap membasuh anggota wudu adalah bid'ah. Seperti ucapan mereka ketika membasuh muka, Allahumma bayyidh wajhii yauma taswaddal-wujuh' (Ya Allah, putihkan mukaku pada hari muka-muka menjadi hitam), lalu ketika membasuh kedua tangan, 'Allahumma a'tini kitaabi bi yamini, wa laa tu'tini kitabi bi syimali' (Ya Allah, berikan catatan amalku dengan tangan kananku, jangan berikan catatan amalku dengan tangan kiriku), dan doa-doa lainnya yang dibaca saat membasuh anggota wudu.'.

Soal Jawab tentang Islam