Mon 27 DhQ 1435 - 22 September 2014
65754
Disunahkan Khataman Al-Quran Di Bulan Ramadan
Mohon berikan penjelasan kepada saya, apakah menjadi keharusan bagi seorang muslim mengkhatamkan Al-Quranul Karim di bulan Ramadan. Jika jawabannya ya, mohon jelaskan hadits yang menguatkan pendapat tersebut.


Alhamdulillah

Pertama:

Sang penanya layak mendapatkan apresiasi atas kesungguhannya untuk mengetahui hukum dalam sebuah masalah beserta dalilnya. Tidak diragukan lagi bahwa perkara ini dituntut. Wajib diupayakan setiap muslim, agar dia menjadi orang yang mengikuti ketentuan Al-Quran dan Sunah.

Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Irsyadul Fuhul, 450-451,

"Jika telah anda pahami bahwa seorang awam hendaknya bertanya kepada orang yang pandai, maka handaknya seseorang bertanya kepada ahli ilmu yang telah dikenal agamannya dan kesempurnaan wara'nya, kepada orang yang telah mengetahui Al-Quran dan Sunah serta yang mengetahui keduanya, kepada orang yang telah mengetahui apa yang dia butuhkan dalam memahami keduanya dari ilmu-ilmu alat, sehingga dia dapat memberinya petunjuk dan arahan. Lalu ketika orang itu bertanya kepadanya apa yang dia alami dan meminta ketentuan hukum dari Al-Quran dan Sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ketika itu, orang tersebut akan mengantarkannya pada perkara yang hak dari sumbernya serta ketetapan hukum dari dasarnya. Maka, orang yang ingin komitmen terhadap agamanya, akan merasa tenang terhindar dari pendapat yang keliru dan bertentangan dengan syariat serta jauh dari kebenaran."

Dalam Kitab Ibnu Shalah, "Adab Al-Mufti wal Mustafti, hal. 171, dikatakan,

"As-Sam'ani menyebutkan bahwa tidak dilarang untuk meminta dalil kepada seorang mufti (pemberi fatwa), untuk menumbuhkan sifat kehati-hatian terhadap dirinya sendiri. Dia wajib menunjukkan dalil, jika perkaranya sudah dapat dipastikan, namun tidak diwajibkan menyebutkannya jika perkaranya belum dipastikan dan membutuhkan ijtihad yang tidak dapat dipahami oleh kalangan awam. Wallahua'lam bishshawab."

Kedua:

Ya, disunahkan bagi seorang muslim untuk memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadan dan bersungguh-sungguh untuk dapat mengkhatamkannya. Akan tetapi, perkara itu tidak diwajibkan atasnya. Maksudnya, jika dia tidak mengkhatamkan Al-Quran, maka dirinya tidak berdosa, akan tetapi dia telah kehilangan kesempatan meraih pahala yang banyak.

Dalil dari hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari, no. 4614, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu,

( أن جبريل كان يعْرضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعرضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فيه

"Sesungguhnya Jibril mengulang kembali Al-Quran kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sekali dalam setahun. Pada tahun wafatnya beliau, Dia mengulangnya dua kali."

Ibnu Atsir berkata dalam Al-Jami Fi Gharibil Hadits, 4/64, maksudnya adalah bahwa dia mengulang kembali seluruh Al-Quran yang pernah diturunkan.

Termasuk petunjuk di kalangan salaf ridhwanullahi alaihim adalah bersungguh-sungguh untuk mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan untuk meneladani Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Ibrahim An-Nakhai dia berkata, "Al-Aswad mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan setiap dua malam sekali." (As-Siyar, 4/51)

Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Quran dalam tujuh hari. Jika telah datang bulan Ramadan, beliau mengkhatamkannya dalam tiga hari. Jika telah masuk sepuluh hari terakhir, beliau mengkhatamkannya dalam sehari." (As-Siyar, 5/276)

Sedangkan Mujahid menghkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan setiap malam (At-Tibyan, An-Nawawi, hal. 74. Dia berkata, "Sanadnya shahih."

Mujahid berkata, "Ali Al-Azdi biasanya mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan setiap malam." (Tahzibul Kamal, 2/983)

Rabi' bin Sulaiman berkata, "Asy-Syafii biasanya mengkhatamkan Al-Quran dalam bulan Ramadan sebanyak 60 kali." (Siyar A'lam Nubala, 10/36)

Al-Qasim bin Hafiz bin Asakir berkata, "Dahulu bapakku selalu shalat berjamaah dan membaca Al-Quran. Beliau mengkhatamkannya setiap Jumat. Sedangkan pada bulan Ramadan, beliau mengkhatamkannya setiap hari." (Siyar A'lam An-Nubala, 20/562)

Imam Nawawi memberi komentar tentang mengkhatamkan Al-Quran, "Pendapat yang dipilih adalah bahwa masalah ini berbeda sesuai perbedaan antara individu. Siapa yang lebih condong untuk mendalami kandungannya, pelajaran dan hikmahnya, maka hendaknya dia membatasi amalnya sesuai kemampuannya untuk memahami apa yang dia baca. Demikian pula yang sibuk untuk menyebarkan ilmu, atau tugas lainnya dalam agama dan kemaslahatan kaum muslimin serta masyarakat umum. Hendaknya dia dapat berkonsentrasi secara proporsional dengan ukuran tidak menyebabkannya menjadi lalai pada bidang khususnya. Jika seseorang tidak memiliki tugas khusus, maka hendaklah dia memperbanyak membaca Al-Quran, asal jangan sampai keluar batas, hingga bosan atau stres."

(At-Tibyan, hal. 76)

Walaupun anjuran dan kesunahan mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan, sedemikian kuat, namun tetapi saja ruang lingkupnya adalah perbuatan sunah, bukan merupakan kewajiban yang harus, sehingga seorang muslim dianggap berdosa apabila meninggalkannya.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, "Apakah diwajibkan bagi orang yang berpuasa untuk mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan?"

Beliau menjawab, "Mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan bukan perkara wajib. Akan tetapi, selayaknya seseorang memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadan, sebagaimana hal terebut merupakan sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dahulu beliau mengulang kembali bacaan Al-Qurannya bersama malaikat Jibril di bulan Ramadan."

(Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 20/516)

Lihat soal no. 66063, 26327.

Wallahua'lam.

Soal Jawab Tentang Islam