Sat 19 Jm2 1435 - 19 April 2014
6578
BAGAIMANA SESEORANG MENGOBATI DIRINYA KETIKA ADA AJAKAN RIYA
Setiap kali saya melakukan sesuatu kebaikan, saya memandang ke orang-orang agar mereka mengapresiasikan pekerjaanku. Dengan kata lain, saya melakukan agar dilihat orang (riya). Saya tahu kalau riya tidak diboehkan dalam Islam, akan tetapi bagaimana caranya agar terlepas dari riya dan perasaan semacam ini?


Alhamdulillah

Bagi orang yang berkeinginan untuk melepaskan dari riya hendaknya mengikuti jalan ini dalam mengobati dirinya, diantaranya adalah:

1.    Menghadirkan pengawasan Allah Ta’ala kepada seorang hamba. Yaitu kedudukan ‘Ihsan’ yang disebutkan oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam hadits Jibril yaitu anda beribadah kepada Allah seakan-akan anda melihat-Nya. Kalau tidak tidak dapat melihatnya, maka dia (pasti) melihat anda.” (HR. Muslim, no. 97) Barangsiapa yang merasa diawasi oleh Allah pada setiap amalannya, maka akan sepele baginya  semua pandangan orang dan lahir rasa pengagungan dan ketakutan kepada Allah Ta’ala.

2.    Memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala agar  menjauhi riya.

Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang mukmin, "Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" (QS. Al-Fatihah: 5)

 Yang bermanfaat dalam masalah ini adalah meminta pertolongan kepada Allah dalam doanya. Nabi sallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

أيها الناس اتقوا هذا الشرك فإنه أخفى من دبيب النمل فقال له من شاء الله أن يقول :وكيف نتقيه وهو أخفى من دبيب النمل يا رسول الله ؟ قال قولوا اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما لا نعلم " (رواه أحمد، 4/403،  وصححه الشيخ الألباني في صحيح الجامع 3731)

“Wahai manusia takutlah kamu semua dari syirik. Karena ia lebih tersembunyi dibandingkan langkah semut. Lalu ada yang bertanya  kepada beliau, “Wahai Rasulullah, bagaimana kita membentenginya, sementara ia lebih lembut dari langka semut?" Maka beliau bersabda: “Katakanlah  ‘Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari mensekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad, 4/403. Dishahihkan oleh Syekh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami: 3731)

3.    Mengetahui dampak riya dan hukumnya di akhirat. Sebab ketidaktahuan tentang hal ini  mengakibatkan seseorang terjerumus di dalamnya. Hendaklah diketahui bahwa riya dapat menghapuskan amal dan mendapatkan kemurkaan Allah. Orang yang berakal tentu  tidak bersedia  diri berlelah-lelah  dengan beramal tanpa mendapatkan pahala. Bagaimana lagi kalau hal itu mendapatkan kemurkaan dan kemarahan Allah.

4.    Di antara hadits yang paling agung terkait dengan hukuman di akhirat bagi orang yang (beramal) agar dilihat orang. Apa yang dikabarkan Nabi sallallahu alaihi wa sallam kepada kita:

" أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ وَرَجُلٌ يَقْتَتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَرَجُلٌ كَثِيرُ الْمَالِ فَيَقُولُ اللَّهُ لِلْقَارِئِ أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُولِي قَالَ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عُلِّمْتَ قَالَ كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ كَذَبْتَ وَتَقُولُ لَهُ الْمَلائِكَةُ كَذَبْتَ وَيَقُولُ اللَّهُ بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ إِنَّ فُلَانًا قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ وَيُؤْتَى بِصَاحِبِ الْمَالِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ أَلَمْ أُوَسِّعْ عَلَيْكَ حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ قَالَ بَلَى يَا رَبِّ قَالَ فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا آتَيْتُكَ قَالَ كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ وَأَتَصَدَّقُ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ كَذَبْتَ وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ كَذَبْتَ وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلانٌ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ وَيُؤْتَى بِالَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ فِي مَاذَا قُتِلْتَ فَيَقُولُ أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِكَ فَقَاتَلْتُ حَتَّى قُتِلْتُ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ كَذَبْتَ وَتَقُولُ لَهُ الْمَلائِكَةُ كَذَبْتَ وَيَقُولُ اللَّهُ بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلانٌ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ ثُمَّ ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رُكْبَتِي فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ  (رواه الترمذي، رقم  2382  وحسّنه ، وصححه ابن حبان، رقم  408 ، وابن خزيمة، رقم  2482 )

“Sesungguhnya Allah Tabaroka wa Ta’ala ketika hari kiamat turun kepada para hamba untuk menetapkan keputusannya di antara mereka. Setiap umat akan berkumpul. Orang yang pertama kali dipangil adalah pembaca Al-Qur’an, orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang kaya. Allah berfirman kepada Al-Qari (pembaca Al-Qur’an): “Bukankah Aku telah mengajarkan kepada anda melalui apa  yang diturunkan kepada utusan-Ku." Dia menjawab, “Ya, wahai Tuhanku. (Allah) bertanya, “Apa yang telah engkau perbuat dengan apa yang telah anda ketahui?" Dia menjawab, “Saya dahulu shalat dengannya siang malam." Allah membantahnya, “Engkau bohong." Lalu para Malaikat juga mengatakan kepadanya, “Engkau bohong." Lalu Allah berfirman, “Akan tetapi engkau ingin dikatakan bahwa si fulan adalah qori (pandai membaca) dan engkau telah dijuluki demikian. Kemudian didatangkan pemilik harta (orang kaya), Allah bertanya kepadanya, “Bukankah Aku telah melapangkan (harta) kepada engkau, hingga engkau tidak membutuhkan seorang pun." Dia menjawab, “Ya wahai Tuhanku." Allah bertanya, “Apa yang engkau lakukan terhadap apa yang telah Aku berikan kepadamu?" Dia menjawab, “Dahulu aku menyambung silaturahim dan bershadaqah dengannya." Allah membantahnya, “Engkau bohong." Dan para Malaikat mengatakan kepadanya, “Engkau bohong." Allah berkata kepadanya, “Akan tetapi engkau ingin dikatakan bahwa si fulan dermawan. Dan engkau telah dijuluki demikian." Lalu didatangkan orang yang berperang di jalan Allah. Allah bertanya kepadanya, “Kenapa engkau terbunuh?" Dia menjawab, “Anda memerintahkan untuk berjihad di jalan-Mu. Maka saya berperang sampai terbunuh." Allah membantahnya,”Anda bohong." Para malaikat juga berkata kepadanya, “Anda bohong." Allah berkata kepadanya, “Akan tetapi anda ingin dikatakan si fulan pemberani, dan engkau telah dijuluki demikian." Kemudian Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menepuk kedua pahanya dan mengatakan, “Wahai Abu Hurairah itulah tiga makhluk Allah yang pertama kali di lemparkan ke neraka pada hari kiamat.” (HR. Tirmizi, no. 2382 dan beliau nyatakan hasan. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, no.  408 dan Ibnu Huzaimah, no. 2482)

5.    Menghayati hukuman riya di dunia. Sebagaimana riya mendapatkan hukuman di akhirat, begitu juga ada hukuman di dunia. Yaitu Allah akan mempermalukannya dan akan diperlihatkan niatnya yang jelek kepada orang-orang. Hal itu merupakan salah satu pendapat dalam penafsiran sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

من سمَّع : سمَّع الله به ، ومَن راءى : راءى الله به  (رواه البخاري، رقم، رقم  6134 ومسلم، رقم  2986 )

“Barangsiapa yang (beramal) ingin didengarkan (oleh orang), maka Allah akan memperdengarkannya. Dan barangsiapa yang (beramal) agar dilihat (orang), maka Allah akan perlihatkan.” (HR. Bukhari, no. 6134 dan Muslim, no. 2986)

Ibnu Hajar mengatakan, “Al-Khattabi mengatakan, maksudnya adalah barangsiapa yang beramal tanpa ikhlas, hanya ingin dilihat dan didengar oleh orang, maka akan dibalas dengan hal itu. Yaitu akan dipermalukan oleh Allah dan menampakkan apa yang dia sembunyikannya.

Ada pula yang mengatakan bahwa barangsiapa yang amalannya dimaksudkan untuk mendapatkan kedudukan dan posisi dimata orang, tidak berniat karena Allah. Maka Allah jadikan perbincangan jelek di kalangan manusia bagi orang yang ingin mendapatkan posisi dan tidak mendapatkan pahala di akhirat.  (Fathul Bari, 11/336)

6.    Menyembunyikan ibadah dan tidak menampakkannya. Semakin seseorang tidak menampakkan ibadahnya, maka dia semakin selamat dari riya. Barangsiapa yang tujuannya ingin dipuji di tengah khalayak, maka setan sangat berusaha untuk memperlihatkan ibadahnya agar dipuji dan disanjungnya.

Ibadah yang seyogyanya disembunyikan disini adalah yang tidak diwajibkan atau disunahkan menampakkannya seperti qiyamul lail, shodaqah dan semisalnya. Bukan seperti azan, shalat berjamaah dan semisalnya dimana tidak memungkinkan dan tidak dianjurkan menyembunyikannya.

Kita memohon kepada Allah keikhlasan dalam ucapan dan perbuatan, dan semoga mengampuni kita apa sifat riya dan sum’ah yang pernah dilakukan. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad.

Syekh Muhammad Sholeh Al-Munajid