Wed 13 Shw 1436 - 29 July 2015
81134
Kedudukan Hadits ‘Tidak (sah) I’tikad Kecuali Di Tiga Masjid'
Imam Al-Albani mengatakan dalam risalahnya ‘Qiyamu Ramadan’ pada bagian I'tikaf yang teksnya: “Kemudian saya perhatikan ada hadits shahih yang jelas yang mengkhususkan masjid-masjid ini, yaitu "Tidak ada I'tikaf kecuali di tiga msjid." Beliau mengisyaratkan ini adalah hadits Hudzaifah dalam riwayat Thahawi, Baihaqi dan Ismaili. Sehingga ia tercantum dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah. Apa hukum hadits ini? Dan apa yang dapat diambil dalam hadits ini pada babnya? Maksudnya penafian di sini, apakah dalam arti pengharaman atau menafikan kesempurnaan? Kalau memang begitu apa hubungannya?


Alhamdulillah

Pertama

Al-Quran, Sunnah maupun ijmak menunjukkan dianjurkannya beri'tikaf di masjid. Allah berfirman:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ   (سورة البقرة: 125)

"Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (QS: Al-Baqarah: 125)

Dan firman-Nya:

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ   (سورة البقرة: 187)

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid.” (QS: Al-Baqarah: 187)

Perkara ini telah ditetapkan sebagai ijmak tidak hanya oleh seorang ulama. Silahkan lihat ‘Al-Ijma’ karangan Ibnu Munzir, 47, Al-Mughni, 3/122. Meskipun para ulama berbeda tentang sifat masjid yang dianjurkan untuk beri'tikaf di dalamnya. Akan tetapi setiap masjid yang di dalamnya ditunaikan shalat Jum’at dan jamaah, para ahli fikih hampir tidak berbeda tentang dibolehkannya beri'tikaf di dalamnya. Tidak dikutip adanya perbedaan kecuali dari sebagian tabiin tentang hal itu. Telah diuraikan masalah tersebut dalam situs kami soal jawab no. 49006, 48985.

Kedua,

Adapun hadits yang disebutkan, yaitu ‘Tidak (sah) i'tikaf kecuali di tiga masjid’ ia termasuk hadits sahabat yang agung ;Huzaifah bin Al-Yaman, datang dari jalan Sofyan bin Uyainah dari Jami’ bin Abi Rasyid dari Abi Wail.

قَالَ حُذَيْفَةُ لِعَبْدِ اللَّهِ يَعْنِى ابْنَ مَسْعُودٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ : عَكُوفًا بَيْنَ دَارِكَ وَدَارِ أَبِى مُوسَى وَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاَ اعْتِكَافَ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَوْ قَالَ فِى الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ . فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ : لَعَلَّكَ نَسِيتَ وَحَفِظُوا وَأَخْطَأْتَ وَأَصَابُوا

“Huzaifah mengatakan kepada Abdullah, maksudnya Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, 'Beri'tikaf antara rumah anda dan rumah Abu Musa. Padahal anda telah mengetahui bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak (sah) I'tikaf (kecuali) di Masjidil Haram atau mengatakan, “Di tiga masjid.’ Abdullah mengatakan, “Mungkin anda lupa dan mereka masih hafal. Anda salah, dan mereka yang benar."

Akan tetapi murid-murid Sofyan bin Uyainah berbeda akan hal itu. Diantara mereka ada yang meriwayatkan darinya sebagai perkataan Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, mereka adalah Muhammad bin Al-Faraj di Ismaily dalam ‘Mu’jam Syuyukh, 2/112. Mahmud bin Adam Al-Marwazi di Baihaqi di Sunan, 4/316. Hisyam bin Ammar di Thohawi di ‘Bayan Musykiltul Atsar, 7/40. Said bin Mansur, sebagaimana di ‘AT-Tahqiq Fi Ahadits Al-Khilaf, karangan Ibnu Al-Jauzi, 2/127.

Diantara mereka ada yang meriwayatkan darinya dan menyatakan sebagai perkataan Huzaifah secara mauquf  (hanya sampai di shahabat). Mereka adalah Abdur Razaq dalam Kitab Al-Mushannaf, 4348. Said bin Abdurrahman dan Muhammad bin Abu Umar di Al-Fakihi dalam Kitab  Akhbar Makkah, 2/149.

Yang terkuat –wallahu ta’ala a’lam- bahwa riwayat tersebut adalah riwayat mauquf yang sampai di Huzaifah. Maksdunya bahwa perkataan tersebut merupakan pendapat dan ijtihadnya, bukan mendengarkan dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Hal itu dikarenakan berikut ini:

1.      Terdapat riwayat bahwa nash ini merupakan perkataan Huzifah rahdiallahu anhu dari jalur lain. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 2/337, dan Abdurrazzaq juga, 4/347 dari jalan Sofyan At-Tsauri dari Wasil Al-Ahdab dari Ibrohim An-Nakho’i, dia berkata, “Huzaifah datang ke Abdullah dan berkata, “Saya heran dengan kaum anda yang beri'tikaf diantara rumah anda dan rumah Al-Asy’ari, maksudnya masjid." Abdullah berkata, “Mungkin mereka benar dan anda yang salah?" Huzaifah mengatakan, “Apakah anda tidak tahu bahwa tidak (sah) i’tikaf kecuali di tiga masjid, Masjidil-Haram, Masjidil-Aqsho dan Masji Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Saya tidak pedulikan beri'tikaf di dalamnya atau di pasar kamu ini. Riwayat Ibrahim An-Nakha’i dari Abdullah bin Mas’ud adalah periwayatan yang diterima dari kalangan ulama. Silahkan lihat Jami At-Tahsil, 141. Syarh Al-‘Ilal, 1/294.

2.      Perbedaan periwayatan dari Huzaifah radhiallahu anhu. Terdapat riwayat darinya melalui jalur lain bahwa beliau mengatakan, “Tidak (sah) i'tikaf kecuali di masjid (tempat shalat) berjamaah. Tidak dikhususkan tiga masjid saja." Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan dalam kitab Al-Muhalla, 5/195 setelah menyebutkan perbedaan ini, “Ini adalah keraguan dari Huzaifah atau orang setelahnya. Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak menetapkan sesuatu  dengan keraguan. Jika Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak (sah) beri'tikaf kecuali di tiga masjid, pasti riwayat tersebut telah dihafalkannya dan tidak ada keraguan lagi. Maka telah ada ketetapan dengan yakin bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak mengucapkannya.”

3.      Para senior shahabat berbeda (dalam masalah ini). Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Ibnu Abbas radhiallahu anhum telah memberikan fatwa (dibolehkannya) beri'tikaf di seluruh masjid yang didirikan shalat jama’ah. Tidak seorang pun dari kalangan shahabat yang berbeda akan hal itu. Bahkan hal ini telah sudah terkenal diamalkan di berbagai penjuru negeri tanpa ada penolakan. Kecuali riwayat dari Huzaifah radhiallahu anhu. Wallahua'lam. Dikatakan oleh Syekh Sulaiman Al-Ulwan.

Ringkasannya, tidak sah menyandarkan hadits ini kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Bahwa hal ini termasuk ucapan, ijtihad dan pendapat Huzaifah yang berbeda dengan shahabat lainnya rahdiallahu anhum. Sebagaimana riwayat tersebut juga menyalahi zahir Al-Qur’an Al-Karim dengan membebaskan tempat beri'tikaf dengan firman-Nya “Dan kamu semua beri'tikaf di dalam masjid-masjid," (QS. Al-Baqarah: 187). Maka tidak seyogyanya menyalahi zahir Al-Qur’an dan pengamalan mayoritas para shahabat dengan riwayat mauquf (hanya sampai Shahabat) dimana di dalamnya masih ada simpang siur, tidak diriwayatkan oleh penyusun kitab Shahih, tidak juga di (Kitab) Sunan. Tidak ada seorang pun ahli fiqih terdahulu yang menfatwakannya. Meskipun sebagian ulama belakangan berpendapat tentang hal itu. Ijtihad mereka telah salah, dan yang benar dalam masalah ini (adalah mayoritas ulama).

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dala kitab ‘As-Syarhu Al-Mumti’, 6/504, “Semua masjid yang ada di dunia, disunnahkan di dalamnya untuk beri'tikaf. Tidak khusus di tiga masjid, sebagaimana riwayat Huzaifah bin Al-Yaman radhiallahu’anhu, bahwa sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidah (sah) beri'tikaf kecuali di tiga masjid.” Sesungguhnya hadits ini lemah. Yang menunjukkan akan kelemahannya adalah bahwa Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata, “Mungkin mereka benar dan anda salah. Mereka ingat dan anda lupa.” Sehingga hal ini mengisyaratkan lemahnya dari sisi hukum dan periwayatan.

Dari sisi hukum dalam perkataannya ‘Mereka benar dan anda salah’ sementara dari sisi periwayatan ‘Mereka ingat dan anda lupa’ seseorang bisa jadi lupa. Kalaupun  hadits ini dianggap shahih, maka maksudnya adalah ‘Tidak sempurna i'tikaf di masjid-masjid lain selain tiga masjid. Sebagaimana shalat di masjid pada umumnya (berbeda dengan) di tiga masjid tersebut (Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsho)."

Yang menunjukkan bahwa i'tikaf boleh di semua masjid adalah firman Allah Ta’ala “Dan sementara anda dalam kondisi beri’tikaf di dalam masjid-masjid” Bagaimana mungkin hukum yang ada di Kitabullah untuk seluruh umat di belahan timur dan barat bumi, kemudian kita mengatakan ‘Tidak sah (beri'tikaf) kecuali di tiga masjid.' Hal ini sangat jauh sekali terkait dengan hukum yang disebutkan secara umum untuk umat Islam, kemudian kita mengatakan bahwa ibadah ini tidak sah kecuali di tiga masjid.”

Wallahua'lam .

Soal Jawab Tentang Islam