Sun 6 Rb1 1436 - 28 December 2014
98673
Bagaimana Malaikat bisa Mengetahui Apa yang Ada Dalam Hati Manusia
Kadangkala seseorang membaca doa dalam hati ketika masuk kamar mandi atau membaca basmalah dalam dirinya, Apakah bisikan dalam hati diketahui oleh malaikat penjaga kita ? Dan akan ditulis dan dihisap kapada kita ?


Alhamdulillah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori ( no 6491 ) dan Muslim ( no 131 ) dari Abbas radhiallahu’anhuma dari Nabi sallallahu’alahi wasallam yang diriwayatkan dari Tuhan-Nya berfirman ; “ Sesungguhnya Allah telah menulis kebaikan dan kejelekan, kemudian menjelaskannya. Barangsiapa yang berkeinginan kuat untuk melakukan kebaikan kemudian tidak bisa melakukannya, maka Allah mencatat disisi-Nya satu kebaikan sempurna. Kalau dia berkeinginan untuk melakukan kebaikan kemudian dia melakukannya, maka disisi-Nya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kebaikan sampai kebaikan yang banyak sekali. Dan barangsiapa yang berkeinginan kuat untuk melakukan kejelekan, kemudian dia tidak jadi melakukan. Maka Allah mencatat di sisi-Nya satu kebaikan yang sempurna. Jikalau berkeinginan melakukan kejelekan dan melakukannya. Allah mencatatnya dengan satu kejelekan saja.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata di buku Fathul Bari ( 11 / 325 ) : “ Hadits ini merupakan dalil bahwa Malaikat itu mengetahui apa yang ada dalam hati manusia. Bisa jadi kerena Allah memberitahukan kepadanya atau Allah menciptakan ilmu yang bisa mengetahui hal tersebut. Yang menguatkan pertama adalah apa yang dikeluarkan Ibnu Abu Dunya dari Abu Imron Al-Juni berkata :

" Malaikat dipanggil dan diperintahkan : " Tulislah untuk si fulan ini dan itu, dia berkata : Wahai Tuhanku. Dia belum beramal. Kemudian Allah Berkata : " Dia telah meniatkannya ". dikatakan juga ada malaikat untuk orang yang berkeinginan jelek ada bau busuk dan dengan keinginan baik ada bau wangi. Hal ini seperti yang dikeluarkan oleh Thobari dari Abu Ma'syar Al-Madani dan riwayat seperti ini juga dari Sofyan bin Uyainah.

Syekhul Islam Ibnu Taimaiyah pernah ditanya tentang hadits Rasulullah sallallahu'alaihi wasallam : " Jikalau seorang hamba berkeinginan melakukan kebaikan kemudian dia tidak melakukannya, maka dia dicatat baginya satu kebaikan penuh… " Keinginan adalah hal yang tersembunyi antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Bagaimana Malaikat bisa mengetahuinya ??

Beliau menjawab : " Segala puji hanya milik Allah semata, masalah ini telah dijawab oleh Sofyan bin Uyainah beliau berkata : " Bahwasanya ketika seseorang berkeinginan melakukan kebaikan, Malaikat mencium bau harum dan ketika berkeinginan melakukan kejelekan dia akan mencium bau busuk ".

Yang benar bahwa Allah mampu memberitahukan kepada Malaikat apa-apa yang ada dalam diri seorang hamba bagaimanapun juga caranya " selesai (( Majmu' Fatawa : 4 / 252 )

Beliau juga menambahkan : " Mereka para Malaikat meskipun bisa mencium bau wangi dan bau busuk, mereka juga mempunyai ilmu, mengetahui apa yang ada dalam hati Bani Adam, melihatnya, mendengarkan was-was dalam dirinya. Bahkan syetan juga mengganggu dalam hatinya ( Bani Adam ). Kalau dia mengingat Allah, maka Syetan akan lari. Kalau hatinya lengah dari mengingat Allah akan ada was-was. Dia juga mengetahui apakah dia mengingat Allah atau lalai, mengetahui apakah jiwanya condong kepada syahwat sehingga dia akan menghiasinya. Telah ada hadits shoheh dari Nabi sallallahu'alaihi wasallam berkaitan dengan Sofiyyah rodhiallahu'anha : " Sesungguhnya syetan itu masuk ke dalam tubuh Bani Adam lewat pembulu darah "

Kedekatan Malaikat dan syetan dalam hati Bani Adam merupakan khabar yang mutawatir. Baik hamba tersebut beriman maupun kafir. Selesai dari Majmu' Fatawa : 5 / 508

Sementara dzikir dalam hati tanpa gerakan lisan, maka dia akan mendapatkan pahala. Akan tetapi pahalanya berbeda dalam pandangan agama dengan orang yang melafadzkan dengan lisannya. Karena pahala berkaitan dengan perkataan yang diucapkannya. Sementara ucapan tidak akan bisa tanpa melafadkan dengan lisan. Akan tetapi sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa gerakan lisan saja cukup meskipun tidak keluar suara yang bisa didengar orang yang mengucapkannya. Pendapat ini adalah dari Malikiyah dan dikuatkan oleh Syekh Islam Ibnu Taimiyah. Ibnu Muflih rahimahullah berkata di kitab : Furu' " ( 1 / 410 ) Syekh kami – yakni Ibnu Taimiyah _ cukup dengan huruf meskipun tidak terdengar suaranya ". selesai

Akan tetapi Jumhur ulama ( kebanyakan ulama' ) berpendapat harus melafadkan sampai terdengat pada dirinya. Imam Nawawi berkata dalam Syark Muhadzab ( 3 / 120 ) : " Kalau sekiranya tidak terdengar maka itu bukan adzan juga buka ucapan " selesai

Beliau juga berkata lagi : “ Ketahuilah bahwa dzikir-dzikir yang dianjurkan oleh agama baik dalam shalat ataupun yang lainnya, baik yang wajib maupun sunnah. Ia tidak dihitung dan tidak dianggap sampai diucapkan dan didengarkan dirinya dalam kondisi pendengarannya baik tidak cacat “ Al-Adzkar : 42. sementara perhitungan manusia terhadap masalah bisikan dalam dirinya, sudah ada jawabannya soal / fatwa no (( 99324 ))

wallahu’alam.

Islam Soal jawab