I'tikaf

I'tikaf

I'tikaf Dianjurkan Di Bulan Ramadan Dan Selain Ramadan. Beri’tikaf Di Kamar Dalam Masjid. Petunjuk I’tikaf Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam. Tidak Sah I'tikaf Lelaki Dan Wanita Kecuali Berada Dalam Masjid. Apakah Dibolehkan Bagi Orang Yang I’tikaf Keluar Dari Masjid. Pahala I'tikaf. Beri'tikaf Pada Sepuluh Hari Terakhir, Kapan Mulai Masuk dan Keluar Masjid?. Syarat I'tikaf.

I'tikaf Dianjurkan Di Bulan Ramadan Dan Selain Ramadan
Apakah I'tikaf dilaksanakan waktu kapan saja? Ataukah hanya di bulan Ramadan saja?

Alhamdulillah

I'tikaf itu disunnah pada setiap waktu. Di Ramadan maupun diluar Ramadan. Akan tetapi di bulan Ramadan itu lebih utama. Bahkan lebih ditekankan pada sepuluh malam akhir Ramadan. Yang menunjukkan akan hal itu adalah keumuman dalil anjuran beri'tikaf. Karena mancakup Ramadan dan selain Ramadan. Silahkan merujuk pada soal no. 48999.

An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu, 6/501, dia berkata, “I'tikaf itu sunah, dan tidak diwajibkan kecuali dengan nazar menurut ijmak. Dianjurkan memperbanyak dan dikuatkan anjurannya pada sepuluh malam akhir di bulan Ramadan.

Beliau juga menambahkan, 6/54, “Yang lebih utama dilaksanakan dengan berpuasa, yang lebih utama di bulan Ramadan dan yang paling utama di sepuluh malam akhir Ramadan.”

Al-Albany dalam kitab ‘Qiyam Ramadan’ mengatakan, “I'tikaf itu sunah di bulan Ramadan dan selain Ramadan pada rentang setahun. Asalnya hal itu adalah firman Allah Ta’ala, “Dan kamu semua dalam kondisi beri'tikaf di dalam masjid” disertai banyaknya hadits shahih akan i'tikafnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam dan atsar yang banyak dari ulama salaf. Terdapat riwayat bahwa Nabi sallallahu’alaihi wa sallam telah melaksanakan i'tikaf  sepuluh hari di bulan Syawal.” Muttafaq ‘Alaihi. Bahwa umar radhiallahu’anhu mengatakan kepada Nabi sallallahua’alaihi wa sallam, “Dahulu saya pernah bernazar waktu jahiliyah untuk beri'tikaf semalam di masjidil Haram?" Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikan nazar anda. Kemudian beliau beri'tikaf semalam.” (Muttafaq alaih)

Dikuatkannya i'tikaf di bulan Ramadan berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu:

 كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام ، فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما (رواه البخاري)

“Biasanya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam beri'tikaf sepuluh hari di setiap Ramadan. Di tahun kematiannya, beliau beri'tikaf dua puluh hari.” (HR. Bukhari)

Yang lebih utama di akhir Ramadan. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam biasanya beri'tikaf di sepuluh malam akhir Ramadan, sampai Allah wafatkan.” (Muttafaq alaih)

Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam Majmu Al-Fatawa, 15/437 mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa i'tikaf di masjid merupakan salah bentuk ibadah. Baik di bulan Ramadan maupun selain Ramadan. Dan ia dianjurkan di bulan Ramadan dan selain Ramadan.”

Silahkan lihat Fiqhu Al-I'tikaf karangan DR. Khalid Al-Musyaiqiq, hal. 41.

Soal Jawab Tentang Islam


Beri’tikaf Di Kamar Dalam Masjid
Apakah kamar penjaga dan kamar panitia zakat dalam masjid layak digunakan untuk beri’tikaf di dalamnya? Perlu diketahui bahwa pintu-pintu kamar ini berada dalam masjid?

Alhamdulillah

Kamar-kamar yang ada di dalam masjid dan pintu-pintunya terbuka di masjid, hukumnya seperti masjid. Dengan demikian, dibolehkan beri’tikaf di dalamnya karena ia termasuk dalam masjid. Adapun kalau bangunannya di luar masjid, tidak sah beri’tikaf di dalamnya meskipun pintu-pintunya di dalam masjid.

Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/411


Petunjuk I’tikaf Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam
Saya ingin mengenal petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam Dalam Masalah I’tikaf

Alhamdulillah

Petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah yang paling sempurna dan paling mudah.

Suatu kali beliau I’tikaf pada sepuluh hari pertama, kemudian sepuluh hari pertengahan untuk mencari Lailatul Qadar, berikutnya menjadi jelas baginya bahwa dia terdapat pada sepuluh malam terakhir. Maka beliau setelah itu kontinyu I’tikaf selama sepuluh hari terakhir (Ramadan) hingga bertemu Tuhannya Azza wa Jalla.

Suatu kali beliau meninggalkan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir, lalu beliau qadha di bulan Syawal pada sepuluh hari pertam di bulan tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan pada tahun kematiannya, beliau melakukan I’tikaf menjadi selama 20 hari. (HR. Bukhari, no. 2040)

 Ada yang mengatakan bahwa sebab beliau I’tikaf lebih lama adalah karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengetahui ajalnya, maka beliau ingin memperbanyak amal kebaikan untuk menjelaskan kepada umatnya tentang kesungguhan beramal agar mereka menghadap Allah dalam kondisi terbaik. Adapula yang mengatakan bahwa sebabnya adalah karena Jibril menyimak Al-Quran darinya sekali setiap Ramadan, namun pada tahun kematiannya dia menyimaknya sebanyak dua kali, karena itu beliau I’tikaf dua kali lebih banyak dari sebelumnya.

Namun pendapat yang lebih kuat mengapa beliau ketika itu I’tikaf selama dua puluh hari adalah karena pada tahun sebelumnya beliau safar, hal itu ditunjukkan oleh riwayat Nasai, Abu Daud, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan selainnya dari hadits Ubai bin Ka’ab,

أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْر الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَان , فَسَافَرَ عَامًا فَلَمْ يَعْتَكِف , فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اِعْتَكَفَ عِشْرِينَ )فتح الباري(

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan I’tikaf sepuluh akhir Ramadan. Lalu beliau safar sehingga tidak i’tikaf. Maka pada tahun berikutnya beliau i’tikaf dua puluh hari.” (Fathul Bari)

Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam minta dipasangkan tenda di dalam masjid, lalu beliau berdiam di dalamnya menghindar dari orang-orang untuk menghadap Allah Tabaraka wa Ta’ala, sehingga sempurnalah khalwat (menyendiri) dalam bentuk sebenarnya.

Suatu saat beliau beri’tikaf di kemah kecil dan meletakkan tikar di pintunya. (HR. Muslim, no. 1167)

Ibnu Qayim berkata dalam Kitab Zaadul Ma’ad, 2/90

Ini semua kesimpulan dan maksud i’tikaf. Berbeda dengan apa yang dilakukan orang-orang yang tidak paham yang menjadikan i’tikaf sebagai tempat bersenang-senang dan menarik pengunjung serta tempat berbincang-bincang. Cara i’tikaf mereka berbeda dengan i’tikaf Nabi.

Beliau selalu berada di dalam masjid, tidak keluar kecuali untuk memenuhi hajat. Aisyah radhiallahu anha berkata, 

وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا ) رواه البخاري (2029) ومسلم (297) . وفي رواية لمسلم : ( إِلا لِحَاجَةِ الإِنْسَانِ ) . وَفَسَّرَهَا الزُّهْرِيُّ بِالْبَوْلِ وَالْغَائِط .

“Beliau tidak pulang ke rumah kecuali jika memiliki hajat jika sedang i’tikaf.” (HR. Bukhari, no. 2029, Muslim, no. 297)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Kecuali untuk memenuhi kebutuhan manusia.”

Az-Zuhri menafsirkannya, “Buang air kecil dan besar.”

Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selalu menjaga kebersihannya. Beliau mengeluarkan kepalanya dari masjid ke kamar Aisyah, lalu rambutnya dicuci dan disisir olehnya.

Bukhari (2028) dan Muslim (297) meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْغِي إِلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ مُجَاوِرٌ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ . وفي رواية للبخاري ومسلم : (فَأَغْسِلُهُ) . وترجيل الشعر تسريحه .

“Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyorongkan kepalanya kepadaku saat beliau i’tikaf di masjid, lalu aku sisir saat aku sedang haid.” (Dalam riwayat Muslim, ‘Lalu aku mencucinya.’)

Al-Hafiz berkata, “Dalam hadits terdapat kebolehan membersihkan dan mengharumkan serta mandi dan berhias termasuk menyisir. Jumhur berpendapat, tidak ada sesuatu yang dimakruhkan, kecuali apa yang dimakruhkan di dalam masjid.

Termasuk petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam, jika dia sedang i’tikaf tidak membesuk orang sakit dan tidak takziah. Hal tersebut agar lebih berkonsentrasi untuk munajat kepada Allah Ta’ala. Realisasi hikmah dari i’tikaf adalah memutuskan hubungan dengan manusia untuk menghadap Allah Ta’ala.

Aisyah berkata,

السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لا يَعُودَ مَرِيضًا ، وَلا يَشْهَدَ جَنَازَةً ، وَلا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلا يُبَاشِرَهَا ، وَلا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلا لِمَا لا بُدَّ مِنْهُ (رواه أبو داود، رقم  2473  وصححه الألباني في صحيح أبي داود )

“Sunah bagi orang yang i’tikaf untuk tidak membesuk orang sakit dan tidak takziah serta tidak berjimak atau mencumbu isterinya, juga tidak keluar dari masjid untuk suatu keperluan, ke cuali perkara yang harus.” (HR. Abu Daud, no. 2473, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud) 

" Sebagian isteri-isteri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menemuinya saat beliau sedang i’tikaf. 

Apabila mereka pulang, maka beliau ikut mengantarkannya. Hal itu terjadi di malam hari.”

Dari Shafiah, isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menemuinya saat dia i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Lalu dia berbincang-bincang sesaat dengannya. Kemudian dia bangkit pulang, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam ikut bangkit mengantarkannya ke rumahnya.” (HR. Bukhari, no. 2035, Muslim, no. 2175)

Kesimpulan pendapat adalah bahwa I’tikaf nabi shallallahu alaihi  wa sallam menggambarkan kemudahan dan tidak memberatkan. Waktunya adalah berzikir kepada Allah Ta’ala dan menyambut ketaatan dan Lailatul Qadar.

Lihat: Zadul Ma’ad, Ibnul Qayim, 2/90, Al-I’tikaf, Nazratun Tarbawiyah, DR. Abdullati Balthu.

Soal Jawab Tentang Islam


Tidak Sah I'tikaf Lelaki Dan Wanita Kecuali Berada Dalam Masjid
Apakah dibolehkan wanita beri'tikaf di rumahnya?

Alhamdulillah

Para ulama sepakat bahwa lelaki tidak sah i'tikafnya kecuali di dalam masjid. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

 وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ  (سورة البقرة: 187)

(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid.” (QS: Al-Baqarah: 187)

Dikhususkan I'tikaf di dalam masjid. Silahkan lihat Al-Mughni, 4/461.

Sementara wanita, mayoritas ulama berpendapat (wanita) seperti lelaki. Tidak sah I'tikafnya kecuali dalam masjid berdasarkan ayat tadi:

(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid.” (QS: Al-Baqarah: 187)

Karena istri-istri Nabi sallallahu’alaihi wa sallam meminta izin kepada beliau untuk beri'tikaf dalam masjid dan diberi izin. Dan mereka juga beri'tikaf di dalam masjid sepeninggal beliau sallallahu’alaihi wa sallam. Jika wanita dibolehkan beri'tikaf dalam rumahnya, pasti Nabi sallallahu’alai wa sallam akan memberikan arahan kepadanya. Karena tertutupnya wanita di dalam rumah itu lebih utama dibandingkan dengan keluarnya ke masjid.

Sebagian ulama berpendapat bahwa wanita sah i'tikafnya di masjid rumahnya. Yaitu tempat yang dikhususkan untuk shalat dalam rumahnya. Sementara jumhur (mayoritas ulama) melarang hal itu dengan mengatakan, “Bahwa masjid rumahnya dinamakan masjid hanya sebatas istilah saja, tapi hakekatnya bukan masjid, sehingga tidak mengambil hukum masjid. Oleh karena itu dibolehkan orang junub dan haid masuk ke dalamnya." Silakan lihat Al-Mughni, 4/464

An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’, 6/505 mengatakan, “I'tikafnya lelaki dan wanita tidak sah kecuali dalam masjid. Tidak sah juga di masjid rumah wanita tidak juga di masjid rumah lelaki. Yaitu (tempat) tersendiri dikhususkan untuk shalat.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Majmu Al-Fatawa, 20/264 ditanya, “Wanita kalau ingin beri'tikaf, dimanakah dia beri'tikaf?

Beliau menjawab, “Wanita kalau ingin beri'tikaf. Sesungguhnya dia beri'tikaf di dalam masjid jika hal itu tidak ada larangan syar’i. Jika adalah larangan syar’i, maka tidak dibolehkan beri'tikaf.”

Dalam ‘Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 5/212, “Mereka berbeda pendapat terkait dengan tempat I'tikaf wanita. Jumhur berpendapat wanita seperti lelaki, tidak sah I'tikafnya kecuali dalam masjid. Dengan demikian, maka tidak sah I'tikafnya di masjid rumahnya. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma ketika ditanya tentang wanita bernazar untuk i'tikaf di masjid rumahnya. Maka beliau menjawab, “Bid’ah. Amalan yang paling dibenci Allah adalah bid’ah. Maka jangan beri'tikaf kecuali di masjid yang didirikan shalat di dalamnya. Karena masjid rumah hakekatnya bukan masjid, begitu juga dari sisi hukum (bukan masjid). Maka dibolehkan untuk ganti (pakaian), dan orang junub tidur di dalamnya. Begitu juga, jika dibolehkan (i'tikaf di masjid rumah), maka para ummahatul mikminin akan melaksanakannya meskipun hanya sekali untuk mengingatkan akan kebolehannya.” .

Soal Jawab Tentang Islam


Apakah Dibolehkan Bagi Orang Yang I’tikaf Keluar Dari Masjid
Saya ingin mengetahui bagiamana cara I’tikaf dalam masjid di sepuluh malam akhir Ramadan, perlu diketahui bahwa saya bekerja dan selesai kerja jam dua siang. Apakah diharuskan berdiam di dalam masjid terus?

Alhamdulillah

Keluarnya orang yang sedang beri’tikaf dari masjid dapat membatalkan I’tikafnya. Karena I’tikaf adalah berdiam diri dalam masjid untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala. Kecuali kalau keluarnya sesuatu yang memang menjadi keharusan. Seperti buang hajat, berwudhu, mandi, membawa makanan kalau tidak ada orang yang membawakannya ke masjid atau semisal itu, yaitu berupa urusan yang menjadi suatu keharusan dan tidak mungkin dilaksanakannya di dalam masjid.

Diriwayatkan oleh Bukhari, 2092 dan Muslim, 297 dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلا لِحَاجَةِ الإِنْسَانِ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

"Biasanya Rasulullah sallallahu’alaihi wa salam apabila sedang i'tikaf tidak masuk rumah keculai untuk keperluan manusia."

Ibnu Qudamah rahimahullah dalam ‘Al-Mughni, 4/466 mengatakan, “Maksud keperluan manusia adalah kencing dan buang air besar. Dinamakan hal itu karena setiap manusia memerlukan keduanya. Dan semaknanya akan hal itu adalah makan dan minum, apabila tidak ada orang yang menghadirkannya. Maka dia Dibolehkan keluar kalau hal itu dibutuhkan. Maka, setiap yang menjadi keharusan dan tidak mungkin dilakukan dalam masjid, maka dia dibolehkan keluar. Hal itu tidak membatalkan i’tikafnya jika dia dalam kondisi demikian, jika tidak lama.”

Adapun keluarnya orang i’tikaf untuk pekerjaannya termasuk menafikan I’tikaf.

Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya, “Apakah orang yang beri’tikaf dibolehkan mengunjungi orang sakit, memenuhi undangan, menunaikan keperluan keluarga, mengantar jenazah atau pergi kerja?"

Maka dijawab, “Yang sesuai sunah orang yang beri’tikaf tidak mengunjungi orang sakit ketika sedang i’tikaf. Sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata,

 السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لا يَعُودَ مَرِيضًا ، وَلا يَشْهَدَ جَنَازَةً ، وَلا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلا يُبَاشِرَهَا ، وَلا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلا لِمَا لا بُدَّ مِنْهُ  (رواه أبو داود،  رقم 2473)

“Yang sesuai sunah bagi orang i’tikaf adalah tidak mengunjungi orang sakit, tidak menyaksikan jenazah, tidak menyentuh dan mencumbui wanita dan tidak keluar untuk kebutuhannya kecuali yang menjadi suatu keharus baginya.” (HR. Abu Daud, 2473)

Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/410.

Soal Jawab Tentang Islam


Pahala I'tikaf
Apa pahala beri'tikaf?

Alhamdulillah

Pertama:

I'tikaf itu dianjurkan dan ia termasuk ketaatan kepada Allah Azza Wajalla. Silahkan merujuk soal no. 48999. Jika ini telah disepakati, terdapat banyak hadits yang menganjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan ibadah-ibadah sunah. Semua hadits-hadits ini secara umum mencakup semua ibadah termasuk di dalamnya adalah I'tikaf. Di antara hadits tersebut adalah firman Allah dalam hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ  (رواه البخاري، رقم 6502)

“Tidak ada suatu ibadah hamba-Ku kepada-Ku yang lebih Aku cintai dibanding apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan apabila hamba-Ku senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan (ibadah-ibadah) sunah, maka Aku akan mencintainya. Ketika Aku telah mencintainya, maka Aku (membimbing) pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar. Aku (membimbing) penglihatannya ketika melihat, (membimbing) tangannya ketika memukul dan (membimbing) kakinya ketika melangkah (sesuai dengan taufik da inayah-Ku). Kalau dia meminta-Ku, pasti akan Aku beri. Kalau dia meminta perlindungan-Ku, pasati akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari, no. 6502)

Kedua:

Terdapat hadits terkait dengan keutamaan i'tikaf dan penjelasan pahalanya. Akan tetapi semuanya itu lemah atau palsu. Abu Daud rahimahullah mengatakan, ‘Saya bertanya kepada Ahmad (maksudnya Imam Ahmad bin Hambal), “Apakah anda mengetahui suatu (riwayat) tentang keutmaan I'tikaf?" Beliau menjawab, “Tidak, kecuali sesuatu (riwayat) yang lemah.” (Rasail Abi Daud, hal. 96)

Di antara hadits-hadits ini adalah:

1.      Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, 1781 dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam berkata kepada orang yang beri'tikaf, “Dia menahan dosa-dosa dan dialirkan baginya kebaikan sebagaimana orang yang melakukan kebaikan semuanya.” Dilemahkan oleh Al-Albany dalam Kitab Dhaif Ibnu Majah. Kata ‘Ya’kifu Zunub’ maksudnya adalah menahan dosa, sebgaimana dikatakan oleh As-Sindi.

2.      Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Hakim, Baihaqi dan dilemahkannya, dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa beri'tikaf sehari mengharap wajah Allah, maka Allah jadikan antara dia dengan neraka tiga parit yang lebih jauh di antara timur dan barat.” Dinyatakan lemah oleh Al-Albany dalam  As-Silsilah Ad-Dha'ifah, no. 534. Kata ‘Al-Khafaqani’ adalah timur dan barat.

3.      Diriwayatkan Dailami dari Aisyah radhiallahu’anha sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beri'tikaf dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” Dinyatakan lemah oleh Al-Albany dalam Dhaif Al-Jami, 5442.

4.      Diriwayatkan oleh Baihaqi dan dilemahkannya dari Husain bin Ali radhiallahu’anhuma berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan i'tikaf sepuluh hari di bulan Ramadan, bagaikan melakukan dua haji dan dua umroh.” Disebutkan Al-Albany dalam As-Silsilah Ad-dhaifah, 518 dan dia mengomentari, “Palsu." .

Soal Jawab Tentang Islam


Beri'tikaf Pada Sepuluh Hari Terakhir, Kapan Mulai Masuk dan Keluar Masjid?
Saya ingin beri'tikaf pada sepuluh malam akhir di bulan Ramadan, dan saya ingin mengetahui kapan saya masuk dan kapan saya keluar dari masjid?

Alhamdulillah

Pertama,

Terkait masuknya orang  yang akan beri'tikaf, mayoritas ulama (diantaranya empat imam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad rahimahumullah) berpendapat bahwa bagi orang yang ingin beri'tikaf di sepuluh malam akhir Ramadan, maka dia masuk sebelum matahari terbenam di malam dua puluh satu. Mereka berdalil akan hal itu dengan beberapa dalil, diantaranya:

1.      Telah ada ketetapan bahwa Nabi sallallahu’alihi wa sallam beri'tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan. Muttafaq’alaihi. Hal ini menunjukkan bahwa beliau beri'tikaf pada malam bukan pada siangnya. Karena sepuluh dibedakan pada malamnya. Allah ta’ala berfirman, “Dan demi malam sepuluh.” (QS. Al-Farj: 2) Dan sepuluh malam akhir dimulai pada malam keduapuluh satu. Dengan demikian, maka dia masuk ke masjid sebelum matahari terbenam malam keduapuluh satu.

2.      Mereka mengatakan, “Sesungguhnya diantara maksud terbesar dari I'tikaf adalah menggapai malam lailtul qadar, dan malam duapuluh satu termasuk malam ganjil pada sepuluh malam akhir. Jadi ada kemungkinan termasuk lailatul qadar. Maka seyogyanya ketika itu seseorang dalam kondisi beri'tikaf di dalamnya. Hal ini dikatakan oleh As-Sindy di Hasyiyah An-Nasa’i. Silahkan lihat Al-Mughni, 4/489. Akan tetapi diriwayatkan oleh Bukhari, no. 2041 dan Muslim, no. 173 dari Aisyah radhiallahu’anha berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ

“Dahulu Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam ketika ingin beri'tikaf, shalat fajar kemudian memasuki tempat i'tikafnya."

Sebagian ulama salaf berpendapat dari sisi zahir hadits ini. Bahwa dia masuk tempat i'tikafnya setelah shalat fajar. Pendapat ini dipakai oleh para ulama Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/411 dan Syekh Ibnu Baz, 15/442. Akan tetapi mayoritas ulama menjawab hal itu dengan salah satu dari dua jawaban:

Pertama, sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam biasanya beri'tikaf sebelum terbenam matahari akan tetapi tidak masuk ke tempat khusus beri'tikaf kecuali setelah shalat fajar. An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ketika ingin beri'tikaf, shalat fajar kemudian masuk tempat I'tikafnya. Hal ini sebagai dalil bagi orang yang mengatakan, “Mulai I'tikaf dari awal siang. Dan ini adalah pendapat Auza’i, Tsauri, Laits dalam salah satu pendapatnya. Malik, Abu Hanifah, Syafi'i dan Ahmad berpendapat, ‘Masuk (ke tempat I'tikafnya) sebelum matahari terbenam. Dan setelah itu meyendiri. Mereka mentakwilkan hadits, bahwa beliau masuk ke tempat I'tikaf, dan diputuskan di dalamnya ketika ingin beri'tikaf sebulan atau beri'tikaf sepuluh (hari). Sementara shalat subuhnya, hal itu bukan memulai waktu I'tikaf, bahkan (dimulainya) sebelum magrib sudah dalam kondisi beri'tikaf di dalam masjid. Ketika selesai shalat subuh, dia menyendiri.”

Jawaban kedua, Al-Qodhi Abu Ya’la dari Hambali menjawabnya dengan menafsirkan hadits bahwa Nabi sallallahu’alaihi wa sallam melakukan hal itu pada hari keduapuluh. As-Sindi mengatakan, “Jawaban ini yang bermanfaat dari sisi pandangan dan lebih utama untuk dijadikan patokan.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya dalam ‘Fatawa As-Siyam hal, 501: ‘Kapan mulai I'tikaf?" Beliau menjawab, “Mayoritas ahli ilmu berpendapat bahwa mulai i'tikaf sejak malam keduapuluh satu, bukan dari fajar keduapuluh satu. Meskipun sebagian ulama berpendapat, bahwa mulai i'tikaf dari fajar keduapuluh satu. Berdasarkan dalil hadits Aisyah radhiallahu’anha di Bukhari, “Ketika (Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam) shalat subuh, beliau masuk ke tempat i'tikafnya”. Akan tetapi Jumhur menjawabnya bahwa hal itu adalah saat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menyendiri dari orang-orang adalah sejak pagi. Sementara niat i'tikafnya dari awal malam. Karena sepuluh malam akhir itu dimulai sejak terbenamnya matahari di hari keduapuluh.”

Beliau juga mengatakan di hal, 503: “Orang yang beri'tikaf masuk di sepuluh malam akhir ketika terbenam matahari dari malam keduapuluh satu. Hal itu karena telah memasuki waktu sepuluh akhir. Hal ini tidak bertentangan dengan hadits Aisyah radhiallahu ’anha karena teksnya berbeda. Maka diambil yang lebih dekat dari sisi petunjuk (madlul) bahasa. Yaitu apa yang diriwayatkan oleh Bukhari, 2041.

“Dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata,

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ

 “Dahulu Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam beri'tikaf pada setiap Ramadan. Ketika shalat subuh, beliau masuk ke tempat beliau beri'tikaf.”

Perkataan ‘Ketika shalat subuh, beliau masuk ke tempat beliau beri'tikaf.” Hal ini mengandung pemahaan bahwa beliau lebih dahulu berdiam, sebelum masuk ke dalamnya. Maksudnya berdiam di masjid lebih dahulu daripada masuk ke tempat I'tikafnya. Karena perkataan ‘I’takafa’ adalah fiil madhi (kata kerja masa lampau). Maka asalnya (sebuah kata) digunakan sesuai hakekatnya.”

Kedua,

Adapun masalah selesainya, maka i'tikaf selesai ketika matahari terbenam di akhir hari bulan Ramadan. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, ‘Kapan orang beri'tikaf keluar dari I'tikafnya? Apakah keluar setelah terbenam matahari di malam hari raya atau setelah fajar hari raya?

Maka beliau menjawabnya, “Orang beri'tikaf keluar dari i'tikafnya ketika Ramadan selesai. Dan selesainya bulan Ramadan sejak matahari terbenam di malam hari raya.” (Fatawa As-Siyam, hal. 502)

Terdapat dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/411: “Waktu I'tikaf sepuluh Ramadan selesai dengan terbenamnya matahari di akhir hari Ramadan.”

Kalau dia memilih tetap di tepatnya sampai shalat fajar dan keluar dari tempat i'tikafnya menuju shalat Ied juga tidak mengapa. Sebagian ulama salaf menganjurkan hal itu. Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Bahwa beliau melihat sebagian ahli ilmu, ketika mereka beri'tikaf pada sepuluh malam akhir Ramadan. Mereka tidak pulang ke keluarganya. Malik mengatakan, “Hal itu disampaikan kepadaku dari orang baik yang telah melakukannya. Hal ini lebih aku sukai dari apa yang aku dengar. Agar mereka dapat menyaksikan hari raya Idul Fitri bersama masyarakat.

An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam Al-Majmu’, 6/323: “Syafi'i dan pengikutnya mengatakan, “Bagi orang yang ingin mencontoh Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam beri'tikaf di sepuluh malam akhir Ramadan, hendaknya dia masuk masjid sebelum matahari terbenam malam keduapuluh satu, agar tidak terlewatkan sedikitpun. Dan keluar setelah matahari terbenam di malam hari raya. Baik bulan sempurna atau kurang. Yang lebih utama adalah berdiam diri malam hari raya di dalam masjid sampai melaksanakan shalat Id, atau keluar ke musholla tempat  shalat Id, jika mereka shalat di lapangan shalat id. Kalau dia keluar dari i'tikaf langsung ke shalat Id, maka dianjurkan mandi dan berhias sebelum keluar. Karena hal ini termasuk sunah dalam hari raya. Silahkan merujuk perincian hal itu di soal no. 36442

Soal Jawab Tentang Islam


Syarat I'tikaf
Apa persyaratan beri'tikaf, apakah puasa termasuk diantaranya? Apakah orang yang beri'tikaf dibolehkan mengunjungi orang sakit, mendatangi undangan, menunaikan keperluan keluarganya, mengikuti jenazah atau pergi ke tempat kerja?

Alhamdulillah

Dianjurkan beri'tikaf di masjid yang didirikan di dalamnya shalat jama’ah. Kalau orang yang beri'tikaf termasuk diwajibkan dirinya melakukan shalat Jum’at, maka disela-sela I'tikafnya harus melakukan shalat Jum'at. Dan (melaksanakan I'tikaf) di masjid yang ditunaikah shalat Jum'at itu yang lebih utama.

Dan tidak diharuskan berpuasa.

Yang sesuai sunnah, orang yang beri'tikaf agar tidak mengunjungi orang sakit di sela-sela I'tikafnya. Tidak mendatangi undangan, tidak menunaikan keperluan keluarganya, tidak menyaksikan jenazah, tidak pergi ke tempat kerjanya di luar masjid. Sebagaimana telah ada ketetapan dari Aisyah radhiallahu’anha beliau berkata,

 السنة على المعتكف ألا يعود مريضاً ، ولا يشهد جنازة  ولا يمس امرأة ،  ولا يباشرها ، ولا يخرج لحاجة إلا لما لابد منه   (أخرجه أبو داوود 2473)

“Yang sesuai sunah  bagi orang yang beri'tikaf adalah tidak menjenguk orang sakit. Tidak menyaksikan jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak mencumbuinya dan tidak keluar untuk keperluannya kecuali keperluan yang tidak bisa ditinggalkan." (HR. Abu Daud, no.  2473).

Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Wal Ifta’, 10/410
I'tikaf