Alhamdulillah.
Keutamaan shalat pada malam-malam bulan
Ramadan adalah;
Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu,
dia berkata: Dahulu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
menganjurkan menunaikan qiyam Ramadan tanpa memerintahkan dengan kuat (baca:
bukan wajib). Kemudian beliau bersabda:
(
ومن قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه )
”Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di
bulan Ramadan dengan iman dan mengharap (pahala), maka dosa-dosanya yang
telah lalu akan diampuni.”
Kemudian beliau sallallahu ‘alaihi wa
sallam wafat dan pelaksanaannya tetap seperti itu (yakni meninggalkan
berjama’ah dalam Taraweh), kemudian terus seperti itu pada zaman khalifah
Abu Bakar radhiallahu ’anhu dan dipermulaan kekhalifahan Umar
radhiallahu ’anhu.
وعن
عمرو بن مرة الجهني قال : جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم رجل من قضاعة فقال:
يا رسول الله ! أرأيت إن شهدت أن لا إله إلا الله ، وأنك محمد رسول الله ،
وصليت الصلوات الخمس ، وصمت الشهر ، وقمت رمضان ، وآتيت الزكاة ؟ فقال النبي
صلى الله عليه وسلم : " من مات على هذا كان من الصديقين والشهداء "
Dari Amr bin Murroh Al-Juhany, dia berkata:
Ada seseorang dari suku Qudho’ah datang menemui Rasulullah sallallahu
‘alaihi wa sallam, lalu bertanya: “Wahai Rasulullah! Bagaimana
pendapat anda kalau sekiranya saya bersaksi tiada tuhan yang berhak di
sembah melainkan Allah dan sesungguhnya engkau adalah Muhammad utusan Allah,
lalu saya menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan,
menunaikan qiyam Ramadan dan saya mengeluarkan zakat?”, maka Nabi
sallallahu ‘alaihi wa sallam bersada: “Barangsia yang meninggal
dunia dalam kondisi seperti ini, maka dia termasuk orang-orang siddiq
(jujur) dan syuhada (orang yang mati syahid).
Lailatul qadar dan Ketetapan Waktunya:
1.
Sebaik-baik malam Ramadan adalah Lailatul qadar, berdasarkan sabda Beliau
sallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa yang menunaikan shalat pada
Lailatul Qadar (kemudian dia ditakdirkan dapat menemuinya) dengan iman dan
harap akan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."
(HR. Muttafaq alaihi)
2.
Ia adalah malam kedua puluh tujuh di bulan
Ramadan menurut pendapat yang paling kuat. Dan kebanyakan hadits menunjukkan
seperti itu. Di antaranya hadits Zir bin Hubaisy, dia berkata: Aku mendengar
Ubay bin Ka’ab berkata –dikatakan kepadanya- : Sesungguhnya Abdullah bin
Mas’ud berkata: “Barangsiapa yang menunaikan sunnah, dia akan mendapatkan
Lailatul Qadar! Kemudian Ubay radhiallahu’anhu berkata: “Semoga Allah
merahmati beliau, dia menginginkan agar orang-orang tidak bergantung
terhadapnya. Dan demi yang tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia,
sesungguhnya ia ada di bulan Ramadan –dia bersumpah adanya pengecualian-,
dan Demi Allah, sesungguhnya saya sungguh mengetahuinya malam apa itu? Dia
adalah malam yang Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan kepada kami untuk melaksanakannya. Dia adalah malam yang di
pagi harinya adalah hari ke dua puluh tujuh. Dan tanda-tandanya adalah
matahari terbit di pagi harinya dengan cerah namun tidak terasa terik
menyengat." Riwayat ini bersambung sampai kepada Nabi sallallahu ‘alaihi
wa sallam. Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya.
Anjuran berjama’ah dalam
qiyamul lail:
Dianjurkan melaksanakan qiyam Ramadan secara
berjama’ah, bahkan (berjamaah) lebih utama daripada (shalat) seorang diri.
Karena Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melaksanakannya dan
menjelaskan keutamaannya dengan sabdanya. Sebagaimana diriwayatkan dalam
hadits Abu Dzar radhiallahu’anhu, dia berkata: “Kami melaksanakan
puasa bersama Nabi sallallahu ‘alaihi wa salam di bulan Ramadan. Beliau
tidak shalat bersama kita sedikitpun dalam bulan itu hingga tinggal tujuh
(hari), lalu beliau menunaikan qiyam bersama kami sampai habis sepertiga
malam. Ketika tinggal enam (hari), beliau tidak shalat bersama kami. Ketika
tinggal lima (hari), baliau shalat bersama kami sampai habis pertengahan
malan. Kemudian saya bertanya: “Wahai Rasulullah! bagaimana kalau engkau
tambah untuk kami qiyam (semua) malam ini. Kemudian beliau bersabda:
“Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam sampai selesai, maka
dihitung baginya qiyam semalam (penuh).” Maka ketika (tinggal hari) keempat,
beliau tidak shalat (bersama kami). Dan ketika (tinggal hari) ketiga, beliau
kumpulkan keluarga, istri-istrinya dan orang-orang. Dan beliau berdiri
(shalat) bersama kami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah
(sahur). Saya bertanya: “Apa falah itu?” dia menjawab: “Sahur”. Kemudian
beliau tidak shalat (lagi) bersama kami sisa bulan (Ramadan). Hadits shaheh,
dikeluarkan oleh ashabus sunan (pemilik kitab-kitab sunan).
Sebab tidak kontinyunya Nabi sallallahu
‘alaihi wa sallam (shalat qiyam) dengan berjama’ah di bulan Ramadan, di
antaranya:
Beliau khawatir hal itu (shalat malam) akan
diwajibkan kepada umatnya di bulan Ramadan. Sehingga mereka tidak sanggup
menunaikannya sebagaimana dalam hadits Aisyah dalam dua kita shahih (Sahih
Bukhari dan Muslim) dan di selainnya. Kekhawatiran ini telah lanyap
bersamaan dengan wafatnya beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam
setelah Allah sempurnakan syariat (Islam).Dengan demikian, maka ma’lul
(tindakan karena adanya sebab) tidak berlaku lagi, yaitu meninggalkan
jama’ah dalam qiyam Ramadan, dan hukum yang berlaku adalah dianjurkannya
berjama’ah (dalam qiyam Ramadan). Oleh karena itu, Umat Islam menghidupkan
lagi sebagaimana dalam shahih Bukhari dan lainnya.
Dianjurkannya berjama’ah bagi para wanita
Dianjurkan bagi para wanita untuk
menghadirinya, sebagaimana hadits Abu Dzar tadi, bahkan dibolehkan
menjadikan wanita sebagai imam yang khusus untuk para wanita, bukan imam
laki-laki.
Terdapat riwayat dari Umar
radhiallahu’anhu ketika mengumpulkan orang-orang untuk (menunaikan)
qiyam, beliau menjadikan Ubay bin Ka’ab untuk para laki-laki dan Sulaiman
bin Abu khotsmah untuk para wanita. Dan dari Arfaja Ats-Tsaqafi berkata:
“Dahulu Ali bin Abu Thalib radhiallahu ’anhu menyuruh orang-orang
untuk menunaikan qiyam di bulan Ramadan, dan menjadikan imam untuk para
laki-laki dan imam untuk para wanita. Beliau berkata: Maka saya menjadi Imam
para wanita.
Aku berkata: Hal ini menurutku apabila
masjidnya luas, agar tidak mengganggu antara satu dengan yang lainnya.
Bilangan rakaat qiyam
Rakaatnya adalah sebelas rakaat. Kami memilih
tidak ditambah untuk mengikuti Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena beliau tidak menambahnya sampai meninggalkan dunia. Aisyah
radhiallahu ’anha pernah ditanya tentang shalatnya Nabi (sallallahu
‘alaihi wa sallam) di bulan Ramadan?, kemudian beliau berkata:
ما كان رسول الله يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة
، يصلي أربعاً فلا تسل عن حسنهن وطولهن ، ثم يصلي أربعاُ فلا تسل عن حسنهن
وطولهن ، ثم يصلي ثلاثاً (أخرجه الشيخان وغيرهما)
“Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak pernah menambah (bilangan rakaat) baik di bulan Ramadan atau selainnya
dari sebelas rakaat. Maka beliau shalat empat rakaat, jangan anda bertanya
akan bagus dan lamanya. Kemudian shalat empat rakaat, dan jangan anda
bertanya akan bagus dan lamanya. Kemudian belia shalat tiga (rakaat).” (HR.
Bukhari dan Muslim dan selain keduanya)
Dibolehkan mengurangi rakaatnya, bahkan walau
dikurangi sampai satu rakaat witir saja, dengan dalil perbuatan dan sabda
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tentang perbuatan (Nabi), Aisyah
radhiallahu’anha, beliau ditanya. Berapa (banyak) Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam shalat witir? Beliau menjawab: “Beliau
witir dengan empat dan tiga (rakaat). Dan enam dan tiga (rakaat). Dan
sepuluh dengan tiga (rakaat). Beliau tidak pernah witir kurang dari tujuh
rakaat dan tidak pernah lebih dari tiga belas rakaat.” (HR.Abu Daud, Ahmad
dan selain dari keduanya)
Sementara sabda beliau sallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah:
الوتر حق ، فمن شاء فليوتر بخمس ، ومن شاء فليوتر بثلاث ، ومن
شاء فليوتر بواحدة.
“Witir adalah haq, yang ingin melakukan witir
lima rakaat, silakan, yang ingin melakukan Witir tiga rakaat silakan, dan
yang ingin melaukan Witir satu rakaat, silakan."
Bacaan dalam qiyam
Sementara (berkaitan) dengan bacaan shalat
malam di qiyam Ramadan atau lainnya. Tidak didapatkan dari Nabi
sallallahu ‘alaihi wa sallam ketentuan pasti yang tidak boleh melebihi
atau kurang. Bahkan bacaannya di shalat malam berlainan, terkadang pendek
dan terkadang panjang. Terkadang beliau membaca pada satu rakaat sekitar
(surat ya ayyuhal muzzammil) yaitu dua puluh ayat. Terkadang lima
puluh ayat. Dan beliau berkata:
من
صلى في ليلة بمائة آية لم يكتب من الغافلين (وفي حديث آخر) .. بمائتي آية فإنه
يُكتب من القانتين المخلصين.
“Barangsiapa shalat malam dengan membaca
seratus ayat, maka tidak akan ditulis sebagai golongan orang-orang yang
lalai." Dalam hadits lain; “... dengan dua ratus ayat, maka dia akan ditulis
di antara (golongan) orang-orang qanitin (ta'at beribadah) yang
ikhlas.
Dan beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam
membaca waktu qiyam ketika dalam kondisi sakit tujuh surat panjang yaitu
surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-Maidah, Al-An’am, Al-A’raf dan
At-taubah.
Dalam kisah shalat Hudzaifah bin Al-Yaman di
belakang Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau
sallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam satu rakaat surat Al-Baqarah
kemudian An-Nisaa’ kemudian Ali Imran. Dan beliau membacanya dalam kondisi
tenang dan pelan.
Terdapat riwayat dengan sanad yang paling
shahih, sesungghunya Umar radhiallahu’anhu ketika memerintahkan Ubay
bin Ka’ab (mengimami) orang-orang dalam shalat dengan sebelas rakaat di
bulan Ramadan, saat itu Ubay radhiallahu’anhu membaca dua ratus
(ayat), sampai orang yang di belakangnya bersandar dengan tongkat karena
lamanya berdiri. Mereka baru selesai shalat menjelang fajar.
Juga terdapat riwayat shahih dari Umar
radhiallahu’anhu bahwa beliau mengundang para qurra (pembaca
Al-Qur’an), lalu meminta yang paling cepat bacaanya untuk membaca tiga
puluh ayat, yang pertengahan membaca dua puluh lima ayat, dan yang lambat,
dua puluh ayat.
Kesimpulannya, kalau seseorang shalat (qiyam)
seorang diri, dipersilahkan baginya memanjangkan bacaan sesuai keinginannya,
begitu juga jika bersamanya orang sepakat. Semakin panjang bacaannya,
semakin baik. Namun, jangan sampai terlalu panjang hingga seluruh malam
semuanya untuk shalat dan tersisa sedikit sekali. Sebagai upaya meneladani
Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda: “Sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Muhammad”.
Adapun kalau dia shalat (sebagai) imam, maka
dia dibolehkan memparpanjang (shalat) yang tidak sampai memberatkan orang
yang ada di belakangnya. Berdasarkan sabda Beliau sallallahu ‘alaihi wa
sallam:
إذا
قام أحدكم للناس فليخفف الصلاة ، فإن فيهم الصغير والكبير وفيهم الضعيف ،
والمريض ، وذا الحاجة ، وإذا قام وحده فليُطل صلاته ما شاء .
“Jika jika seseorang menjadi imam shalat,
maka ringankan shalatnya. Karena di sana ada anak kecil, orang tua, dan juga
ada orang lemah, orang sakit dan orang yang mempunyai keperluan. Kalau dia
shalat sendiri, maka silakan perpanjang shalatnya sesukanya.”
Waktu qiyamul-lail:
Waktu qiyamul-lail dimulai setelah shalat
Isya hingga fajar. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa salllam:
إِنَّ
اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً ، وَهِيَ الْوِتْرُ ، فَصَلُّوْهَا بَيْنَ صَلاَةِ
الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Allah memberikan
kalian bekal berupa shalat. Yaitu
(shalat) Witir, maka shalatlah antara Isya hingga shalat fajar.”
Shalat di penghujung malam lebih baik bagi
yang mudah melakukannya, karena Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
مَنْ خَافَ أَن لاَ يَقُوْمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ ،
وَمَنْ طَمَعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ ، فَإِنَّ
صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ.
“Siapa
yang khawatir tidak dapat menunaikan shalat
di penghujung malam, maka shalat witirlah di awal malam. Dan siapa yang
dapat menunaikannya di penghujung malam, maka hendaklah dia shalat Witir di
akhir malam. Karena shalat akhir malam itu disaksikan (malaikat) dan itu
adalah yang paling baik.”
Kalau masalahnya seputar antara shalat awal
malam dengan berjama’ah dengan shalat akhir malam sendirian (mana yang lebih
baik), maka shalat berjama’ah (meskipun di awal malam) lebih baik. Karena
hal tersebut dinilai qiyamul-lail secara sempurna. Seperti inilah yang
amalan para shahabat yang berlaku di masa Umar radhiallahu’anhu.
Abdurrhaman bin Abdun Al-Qari berkata: “Suatu
malam di bulan Ramadan, saya bersama Umar berangkat menuju ke masjid.
Ternyata orang-orang shalat berpencar-pencar. Ada yang shalat seorang diri,
dan ada yang shalat dengan sejumlah orang yang mengikuti. Maka beliau
berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku berpandangan, lebih baik kalau mereka
dikumpulkan di belakang satu qari (imam). Setelah keinginan beliau
bulat, mereka dikumpulkan dengan imam Ubay bin Ka’b. Kemudian saya keluar
lagi bersama Umar pada malam lain. Sementara (kini) orang-orang menunaikan
shalat dengan satu qari (imam). Maka Umat berkomentar: “Inilah
sebaik-baik bid’ah (sesuatu yang baru) adalah ini, waktu yang mereka gunakan
untuk tidur (akhir malam) lebih baik dibandingkan waktu yang mereka gunakan
untuk shalat –maksudnya akhir malam-. Pada awalnya, orang-orang waktu itu
menunaikan shalat pada awal malam.
Zaid bin Wahb berkata: Dahulu Abdullah shalat
bersama kami di bulan Ramadan dan baru selesai di waktu malam.”
Ketika Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam
melarang shalat witir tiga rakaat, beliau menyebutkan illat-nya
(sebabnya) dengan berkata: “Jangan kalian menyerupai (Wtir) dengan shalat
Magrib”. Oleh karena itu, bagi orang yang menunaikan shalat Witir tiga
rakaat, maka harus menghindari praktek yang menyerupai (shalat Maghrib). Hal
itu dapat dilakukan dengan dua cara:
Salah satunya adalah, salam antara (bilangan)
genap dan ganjil. Ini yang lebih kuat dan lebih baik. Yang lainnya adalah,
agar tidak duduk di antara yang genap dan yang ganjil.
Wallahu’alam
Bacaan dalam tiga (rakaat) Witir:
Termasuk sunnah pada tiga rakaat shalat
Witir, pada rakaat pertama membaca Sabbihisma rabbika al-a’la’
(surat Al-A’la), pada rakaat kedua membaca Qul ya ayyuhal kafirun
(surat Al-Kafirun). Dan pada rakaat ketiga (membaca) qul huwallahu ahad
(surat Al-Ikhlas). Terkadang ditambah (dengan membaca) qul a’udzubi
robbil falaq (surat Al-Falaq) dan qul a’udzu birabbin nass (surat
an-nass).
Terdapat riwayat yang shahih dari Nabi
sallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah membaca dalam rakaat
witir seratus ayat dari surat An-Nisaa’.
Doa qunut
Membaca doa qunut (dalam shalat Witir)
dengan doa yang diajarkan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada cucunya; Hasan bin Ali
radhiallahu’anhuma, yaitu:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْت وَعَافِنِي فِيْمَنْ عَافَيْت
وَتَوَلَّنِي فِيْمَنْ تَوَلَّيْت ، وَبَارِكْ لِي فِيْمَا أَعْطَيت ، وَقِنِي
شَرَّ مَا قَضَيْت ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْك ، وَإِنَّهُ لاَ
يَذِلُّ مَنْ وَالَيت ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيت ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا
وَتَعَالَيْت ، لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ )
“Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana
orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan sebagaimana
orang yang telah Engkau lindungi, uruslah aku sebagaimana orang yang telah
Engkau urus. Berilah berkah apa yang Engkau berikan kepadaku, jauhkan aku
dari kejelekan apa yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau yang
menjatuhkan qada’ (ketetapan), dan tidak ada orang yang membe-rikan hukuman
kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau cintai tidak akan hina dan orang
yang Engkau musuhi tidak akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Rabb kami dan
Maha Tinggi Engkau.”
Terkadang setelahnya bershalawat kepada Nabi
sallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak mengapa ditambah dengan doa yang
dianjurkan dan baik.
Tidak mengapa menjadikan qunut setelah ruku,
ditambah dengan melaknat orang-orang kafir, shalawat kepada Nabi
sallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa untuk umat Islam pada
pertengahan kedua di bulan Ramadan. Karena hal ini terdapat riwayat bahwa
hal ini dilakukan para imam zaman Umar radhiallahu’anhu.
Terdapat di penghujung hadits Abdurrahman bin
Abdun Al-Qari tadi: “Mereka melaknat orang-orang kafir pada pertengahan
(Ramadan), Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang menghalangi jalan-Mu,
dan mendustakan utusan-utusan-Mu, dan tidak mengimani janji-Mu, cerai
beraikan pendapat-pendapat mereka. Dan turunkan ketakutan di hati mereka,
dan berikan balasan dan siksa-Mu kepada mereka, (Engkau adalah) Tuhan yang
benar. Kemudian bershalawat kepada Nabi sallallahu’alaihi wa sallam
dan berdoa untuk (kebaikan) umat Islam semampunya. Kemudian memohon ampunan
untuk orang-orang mukmin.
Setelah selesai melaknat orang-orang kafir
dan shalawat kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam serta memohon
ampunan dan permintaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan
(mereka membaca): “Ya Allah hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya KepadaMu
kami shalat dan bersujud, hanya kepadaMu kami bersegera dan, kami memohon
rahmat-Mu wahai Tuhan kami. Dan kami takut akan siksa-Mu yang keras.
Sesungguhnya siksa-Mu bagi orang-orang yang memusuhi-Mu pasti akan
mengenai.” Kemudian takbir dan turun dalam kondisi sujud."
Apa yang dibaca di akhir witir
Termasuk sunah, di penghujung witir (sebelum
atau sesudah salam) membaca:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمَعَافَاتِكَ مِنْ
عُقُوبَتِكَ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ
كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan
rida-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan ampunan-Mu dari siksaan-Mu, dan saya
berlindung denganMu dan dariMu. Saya tidak bisa menghitung (untuk) memujiMu.
Engkau sebagaimana yang telah Engkau puji pada diriMu.”
Ketika salam dari witir mengucapkan:
سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ ، سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ ،
سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ ( ثلاثاً )
“Maha suci (Engkau) Raja yang Suci, Maha suci
(Engkau) Raja yang Suci, Maha suci (Engkau) Raja yang Suci.” Dibaca tiga
kali, dan pada bacaan yang ketiga suaranya dipanjangkan dan ditinggikan.
Dua rakaat setelahnya
Dibolehkan melakukan shalat dua rakaat
(setelah witir jika dia mau), karena telah ada ketetapan dari contoh
perbuatan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan (beliau)
bersabda:
إن
هذا السفر جهد وثقل ، فإذا أوتر أحدكم ، فليركع ركعتين ، فإن استيقظ وإلا كانتا
له.
“Sesungguhnya perjalanan ini memayahkan dan
berat, kalau salah satu di antara kalian (telah) menunaikan witir, maka
ruku’lah dua rakaat, kalau dia dapat bangun (dia dapat shalat malam). Kalau tidak, maka dua rakaat tadi cukup baginya.”
Di antara sunnahnya, membaca di (dua rakaat) tadi: idza zulzilatil ardhu (surat Az-Zalzalah) dan qul yaa ayyuhal kafirun (surat Al-Kafirun).