20031: QUNUT DALAM SHALAT


Saya ingin bertanya tentang qunut dalam shalat (mengangkat kedua tangan setelah ruku). Apakah perbuatan ini disunahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ataukan perbuatan ini hanya pengecualian, yaitu dalam kondisi tertentu yang sedang mereka alami. Mohon jawabannya. Karena ketua masjid kami berkata, Rasululullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya, shalat apa yang paling utama? Beliau menjawab,'Shalat yang qunutnya panjang."

Alhamdulillah

Qunut menurut pemahaman para fuqaha adalah, 'Nama bagi semua doa dalam shalat di tempat tertentu saat berdiri."

Perbuatan tersebut disyariatkan dalam shalat Witir setelah ruku berdasarkan pendapat yang shahih dari kedua pendapat para ulama.

Qunut juga disyariatkan jika kaum muslimin mengalami musibah besar, lalu mereka berdoa setelah bangun dari ruku di akhir rakaat pada setiap rakaat shalat fardhu yang lima, hingga musibah tersebut Allah angkat dari kaum muslimin.

(Lihat Kitab Tashih Ad-Du'a, Syekh Bakar Abu Zaid, hal. 460)

Adapun melakukan qunut selalu dalam shalat Shubuh dan dalam setiap kondisi, tidak terdapat riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau mengkhususkan shalat Shubuh dengan qunut, juga tidak ada riwayat bahwa beliau terus menerus melakukan qunut dalam shalat Shubuh. Yang ada riwayatnya adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah (apabila kaum muslimin mengalami musibah besar) sesuai kondisinya. Beliau pernah melakukan qunut pada shalat Shubuh dan pada shalat-shalat fardhu lainnya untuk mendoakan kehancuran bagi suku Ra'l, Dzakwan dan Ushay, karena mereka membunuh para penghafal Al-Quran yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam utus ke suku mereka untuk mengajarkan agama kepada mereka. Juga terdapat riwayat shahih bahwa beliau dalam shalat Shubuh dan shalat lainnya mendoakan kaum muslimin agar mereka Allah selamatkan dari musuh-musuh mereka, akan tetapi belia tidak terus menerus melakukannya. Hal tersebut kemudian diikuti oleh para Khulafaur-Rasyidin setelahnya. Maka lebih baik seorang imam hanya membatasi qunut nazilah untuk mengikuti contoh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana terdapat riwayat dari Abu Malik Al-Asyja'I, dia berkata, "Aku berkata kepada bapakku, 'Wahai bapakku, engkau telah shalat di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, di belakang Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu anhum, apakah mereka melakukan qunut dalam shalat Fajar?" Beliau berkata, "Wahai anakku, itu adalah perkara baru." (HR. Perawi yang lima selain Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'ul Ghalil, no. 435)

Sesungguhnya, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Wabillahittaufiq, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabatnya .

Lajnah Da'imah Lil Buhuts Al-Ilmiah wal Ifta, 7/47 

Jika anda katakan, Apakah ada redaksi tertentu untuk qunut dalam shalat Witir dan qunut Nazilah?

Jawabannya adalah bahwa doa dalam qunut shalat Witir memilik beberapa redaksi, di antaranya;

1- Redaksi yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Hasan bin Ali radhiallahu anhuma, yaitu;

اللهم اهدني فيمن هديت ، وعافني فيمن عافيت ، وتولني فيمن توليت ، وبارك لي فيما أعطيت ، وقني شر ما قضيت ، فإنك تقضي ولا يقضى عليك ، إنه لا يذل من واليت ، ولا يعز من عاديت ، تباركت ربنا وتعاليت ، لا منجى منك إلا إليك

( أخرجه أبو داود، رقم 1213 والنسائي، رقم 1725 ، وصححه الألباني في الإرواء، رقم 429 )

Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang Engkau beri petunjuk, selamatkan aku sebagaimana orang-orang yang Engkau selamatkan, Peliharalah aku sebagaimana orang-orang yang Engkau pelihara, berkahilah aku atas apa yang Engkau berikan, lindungilah aku keburukan apa yang Engkau tentukan. Sungguh Engkau Maha Menentukan dan tidak ada yang menentukan atas-Mu. Sungguh, tidak akan hina orang yang taat kepada-Mu, dan tidak akan mulia orang yang memusuhi-Mu. Wahai Rabb kami, Engkau sumber kebaikan, Engkau Maha Tinggi. Tidak ada keselamatan kecuali dari-Mu.

(HR. Abu Daud, no. 1213, Nasa'I, no. 1725, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'ul Ghalil, no. 429)

2- Dari Ali bin Abi Thalib, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, pada akhir shalat witir membaca,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ " رواه الترمذي 1727  وصححه الألباني في الإرواء 430 وصحيح أبي داود 1282

Ya Allah, sungguh Aku berlindung kepada-Mu dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, Aku berlindung dari azab-Mu dengan kemaafan-Mu, Aku berlindung kepada-Mu dari (murka)-Mu, Aku tidak dapat menghitung pujian kepada-Mu, Engkau sebagaimana yang Engkau puji atas diri-Mu."

(HR. Tirmizi, no. 1727, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'ul Ghalil, no. 430, Shahih Abu Daud, no. 1282)

Kemudian bacalah shalawat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana terdapat riwayat dari sebagian shahabat radhiallahu anhum pada akhir qunut Witir. Di antara mereka adalah Ubay bin Ka'b, Mu'az Al-Anshari radhiallahu anhuma. Lihat Shahih Ad-Du'a, Syekh Bakr Abu Zaid, no. 460.

Bacaan Qunut Nazilah

Ketika qunut nazilah, seseorang boleh berdoa sesuai dengan kondisi sebagaimana terdapat riwayat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau melaknat beberapa suka Arab yang melakukan pengkhianatan terhadap shahabat-shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan membunuh mereka. Kemudian beliau berdoa kepada kaum lemah yang tertindas di Mekah agar Allah menyelamatkan mereka. Terdapat pula riwayat dari Umar bahwa dia melakukan qunut dengan doa berikut,

( اللهم إنا نستعينك ونؤمن بك ، ونتوكل عليك ونثني عليك الخير ولا نكفرك ، اللهم إياك نعبد ، ولك نصلي ونسجد ، وإليك نسعى ونحفد ، نرجو رحمتك ونخشى عذابك ، إن عذابك الجدَّ بالكفار مُلحق ، اللهم عذِّب الكفرة أهل الكتاب الذين يصدون عن سبيلك "

(رواه البيهقي 2/210 وصححه الألباني في الإرواء 2/170)

"Ya Allah, sungguh aku mohon pertolongan-Mu, dan beriman kepada-Mu, kami bertawakal kepada-Mu, kami memuji-Mu dengan kebaikan dan kami tidak kufur kepada-Mu. Ya Allah, kepada-Mu kami menyembah, untuk-Mu kami shalat dan sujud, kepadamu kami beramal dan bersegera, kami berharap rahmat-Mu dan takut dari azab-Mu, sesungguhnya azab-Mu sungguh-sungguh akan menimpa orang kafir. Ya Allah, azablah orang-orang kafir, Ahlul Kitab yang menghalangi dari jalan-Mu."

(HR. Baihaqi, 2/210, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'ul Ghalil, 2/170)

Al-Albany berkata, riwayat ini dari Umar dalam qunut shalat Fajar. Yang tampak adalah bahwa ini merupakan qunut nazilah sebagaiman di dalamnya memberikan isyarat berdoa untuk kecelakaan bagi orang-orang kafir)

Jika anda mengatakan apakah boleh saya berdoa dengan selain apa yang disebutkan?

Maka jawabannya;

Ya, hal itu dibolehkan. Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmu, 3/497, "Pendapat yang shahih dan dikenal serta dipakai sebagai pendapat jumhur ulama bahwa qunut tidak harus dengan redaksi tertentu, akan tetapi boleh dengan seluruh doa."

Karena redaksi yang disebutkan dalam beberapa riwayat, tidak ditentukan secara langusng dan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak berdoa dengannya, maka tidak mengapa melakukan penambahan. Syekh Al-Albany rahimahullah berkata, "Tidak mengapa melakukan tambahan dengan melaknat orang-orang kafir, atau bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam serta mendoakan kaum muslimin." (Qiyam Ramdan, Al-Albany, no. 31)

Tinggal satu lagi masalah penting, yaitu apakah doa qunut dilakukan sebelum atau sesudah ruku?

Jawabannya, "Mayoritas hadits-hadits dan juga pendapat kebanyakan para ulama adalah bahwa qunut dilakukan setelah ruku. Namun jika qunut dilakukan sebelum ruku, tidak mengapa. Seseorang boleh memilih, dia ruku jika telah selesai membaca surat, kemudian ketika bangun dari ruku dia membaca 'rabbana wa lakal hamdu' (lalu membaca doa qunut), atau dia membaca qunut setelah selesai membaca surat, kemudian setelah itu takbir dan ruku. Kesemua itu dibolehkan dalam sunah."

(Syarh Al-Mumti, 4/64)

Catatan:

Ucapan penanya, 'Sebaik-baik shalat adalah yang di dalamnya paling panjang qunutnya', tampaknya itu merujuk kepada hadits riwayat Muslim, no. 1257, dari Jabir radhiallahu anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 'Sebaik-baik shalat adalah qunut yang panjang."

Imam Nawawi berkata, "Yang dimaksud dengan qunut di sini adalah berdiri, berdasarkan kesepakatan para ulama, sebagaimana yang aku ketahui."

Jadi yang dimaksud dalam hadits tersebu sebagai qunut bukan berdoa setelah bangun dari ruku, akan tetapi yang dimaksud adalah berdiri dengan lama.

Wallahua'lam.

Syekh Muhamad bin Shaleh Al-Munajid
Create Comments