Sun 5 Jm1 1437 - 14 February 2016
109224
Tidak Disyariatkan Menghadap Kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam Saat Berdoa
Aku saksikan di Masjid Nabawi, orang-orang menghadap ke kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat berdoa mengangkat tangan mereka. Apakah hal ini termasuk sunah?


Alhamdulillah.

Apa yang dilakukan sebagian pengunjung yang berupaya untuk berdoa di sisi kuburan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seraya menghadap ke arah kuburan dan mengangkat kedua tangannya, hal ini bertentangan dengan apa yang dilakukan salafushshaleh dari para shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta mereka yang mengikutinya dengan benar.

Bahkan dia termasuk perkara yang diada-adakan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي ، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ، وإياكم ومحدثات الأمور ، فإن كل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة (أخرجه أبو داود ، والنسائي بإسناد حسن)

“Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunah para Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Berpegang teguhlah denganya, gigitlah dengan geraham. Hendaknya kalian menghindari perkara yang baru (dalam agama), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Beliau juga bersabda,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد (متفق عليه)

“Siapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami yang tidak bersumber darinya, maka dia tertolak.” (Muttafaq alaih)

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد (رواه مسلم)

 “Siapa yang melakukan suatu amalan (ibadah) yang tidak ada perintah dari kami, maka dia tertolak.” (HR. Muslim)

Ali bin Husain Zainal Abidin radhiallahu anhuma melihat seseorang sedang berdoa di sisi kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka dia melarangnya dari perbuatan tersebut, lalu berkata, “Maukah engkau aku sampaikan sebuah hadits yang aku dengar dari bapakku, dia dari kakekku, dia dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لا تتخذوا قبري عيدا ، ولا بيوتكم قبورا ، وصلوا علي ، فإن تسليمكم يبلغني أينما كنتم  (أخرجه الحافظ محمد بن عبد الواحد المقدسي في كتابه : "الأحاديث المختارة")

“Jangan kalian jadikan kuburanku sebagai Id (tempat yang dikunjungi berulang-ulang dengan ritual tertentu) dan jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, bershalawatlah kepadaku, karena salam kalian akan disampaikan kepadaku dimana saja kalian berada.” (HR. Alhafiz Muhammad bin Abdulwahid Al-Maqdisi dalam kitabnya, ‘Al-Ahadits Al-Mukhtarah’)

Demikianlah yang dilakukan sebagian penziarah di sisi kuburan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di dada, atau di bawahnya seperti orang sedang shalat. Posisi seperti ini tidak boleh saat menyampaikan salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam atau menyampaikan salam kepada selainnya, baik terhadap para raja dan para pembesar atau selainnya. Karena itu adalah posisi ketundukan dan kerendahan serta penghambaan yang tidak layak diberikan selain kepada Allah, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari yang mengutip pendapat para ulama. Perkara ini jelas bagi siapa saja yang memperhatikan dan tujuannya adalah mengikuti petunjuk salafushalih.

Adapun orang yang sudah dikuasai perasaan fanatic, hawa nafsu dan taklid buta serta buruk sangka kepada para penyeru petunjuk salafushshaleh, maka urusannya kembali kepada Allah. Kami mohon kepada Allah semoga kita semua mendapatkan hidayah dan taufiqNya untuk mengutamakan yang hak atau yang lainnya, sesungguhnya Allah Ta’ala sebaika-baik yang dimohon”

Syekh Abdulaziz bin Baz rahimahullah.

Majmu Fatawa Bin Baz, 16/108-110