145532: Menghadiri Jenazah Kerabat Yang Kafir Di Gereja


Saya seorang wanita muslimah. Salah seorang kerabat saya meninggal dunia dan kekerabatan kami sangat dekat. Saya ingin tahu hukum menghadiri jenazah di gereja? Saya tidak mengucapkan sedikitpun kalimat yang mereka ucapkan. Saya cukup datang dan duduk saja?

Published Date: 2017-10-06

Alhamdulillah

Pertama:

Tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk mengantar jenazah orang kafir walaupun dia kerabatnya, karena mengantarkan jenazah, merupakan hak muslim atas muslim lainnya, sebab dia merupakan bentuk pemuliaan dan loyalitas yang tidak boleh diberikan kepada orang kafir. 

Abu Thalib paman Nabi shallallahu alahi wa sallam meninggal dunia, maka beliau memerintahkan Ali untuk menguburkannya dan beliau tidak mengantarkannya serta tidak hadir dalam pemakaman. Padahal Abu Thalib telah dikenal sikap dan pembelaannya terhadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Betapapun Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat mencintainya dan berbakti kepadanya, tidak ada yang menghalanginya dari semua itu kecuali karena sang paman meninggal dalam keadaan kafir. Bahkan ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan,

لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْهُ

“Sungguh aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang dari hal tersebut.”

Maka turunlah ayat,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (سورة التوبة: 113)

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Juga diturunkan ayat:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai.”  (HR. Bukhari, no. 3884, dan Muslim, no. 24)

Abu Daud dan Nasai meriwayatkan dari Ali radhiallahu anhu, dia berkata, Aku berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sesungguhnya pamanku adalah orang tua yang sesat telah meninggal. Beliau bersabda, ‘Pergilah, kuburkan dia.”

Agama Islam meskipun menyerukan kepada silaturahim kepada kerabat dan berbuat baik kepada mereka, hanya saja Islam memerintahkan untuk memutus wala antara mukmin dan kafir. Apabila di sana terdapat bentuk wala, maka dilarang, apabila di dalamnya terapat perbuatan kebaikan tanpa ada wala, dibolehkan.

Imam Malik rahimahullah berkata, “Seorang muslim tidak boleh memandikan bapaknya jika sang bapak meninggal dalam keadaan kafir, tidak pula mengiring jenazahnya dan memasukkannya ke dalam kubur, kecuali jika dia khawatir tidak ada yang mengurusinya, maka dia boleh menguburnya.” (Al-Mudawanah, 1/261)

Dikatakan dalam kitab Syarah Muntaha Iradah (1/347), “Seorang muslim tiak boleh memandikan (jenazah) kafir.” Sebagai bentuk pelarangan menyerahkan wala’ kepada orang kafir, juga karena dalam masalah tersebut memberi makna memuliakannya dan mensucikannya, maka hal itu tidak boleh, sebagaimana mendoakannya. Riwayat tentang kisah Abu Thalib dimandikan tidak shahih. Ibnu Munzir berkata, memandikan mayat orang musyrik bukan sunah yang diajarkan, lalu dia menyebutkn hadits Ali: Cukup menguburkannya. “Tidak dikafani, dishalatkan dan diantar jenazahnya” Berdasarkan firman Allah Taala, “Jangan kalian jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah.” (QS. Al-Mumtahanah: 13) Tapi cukup dia dikubur apabila tidak ada orang kafir yang menguburnya, sebagaimana dilakukan terhadap kaum kafir pada perang Badar, mereka ditempatkan di sebuah lobang.”

Dalam kitab Kasyaful Qana (2/123) dikatakan, ‘Pasal, diharamkan bagi seorang  memandikan mayat orang kafir, meskipun dia kerabatnya, dilarang pula mengkafaninya atau menyalatkannya atau mengantar jenazahnya dan menguburkannya.” Berdasarkan firman Allah Taala,

يا أيها الذين آمنوا لا تتولوا قوما غضب الله عليهم

“Wahai orang-orang beriman, jangan kalian jadikan kaum yang Allah murkai sebagai para penolong.”

Termasuk memandikannya dan semacamnya, adalah bentuk berwala kepadanya. Karena hal itu berarti membesarkan dan mensucikannya, sama dengan menyalatkannya.

“Kecuali jika dia tidak mendapatkan orang selainnya yang dapat menguburkannya, maka dia hendaknya menguburkannya ketika tidak ada orang lain.” Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika dikhabarkan tentang kematian Abu Thalib, beliau berkata kepada Ali, “Pergilah dan kuburkanlah.” (HR. Abu Daud, Nasai) Demikian pulan dengan orang-orang kafir yang terbunuh perang Badar, mereka dilempar (di lobang untuk dikubur).

Disebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (9/10), “Apa hukum Allah menghadiri jenazah orang-orang kafir yang menjadi protokoler politik dan kebiasaan yang disepakati?

Jawab:

Jika ada orang kafir yang dapat menguburkan jenazah orang kafir, maka kaum muslimin tidak boleh ikut menguburkannya, jika tidak boleh ikut berpartisipasi dan menolong orang kafir dalam penguburan tersebut atau berbasa basi dengan mereka ikut menggotong jenazahnya karena protokoler politik. Karena semua itu tidak dikenal dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga tidak dikenal oleh Khulafaur Rasyidin. Bahkan Allah Taala melarang Rasululullah shallallahu alaihi wa sallam untuk berdiri di atas kubur Abdullah bin Ubay bin Salul dan Allah memberikan alasan bahwa dia adalah orang kafir.

Allah Taala berfirman,

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Jangan shalatkan atas salah seorang dari mereka selamanya, jangan berdiri di atas kuburannya. Sungguh mereka telah kufur kepada Allah dan Rasul-Nya dan mati dalam keadaan fasik.”

Adapun jika tidak ada orang yang ikut menguburkannya, hendaknya kaum muslimin yang menguburkannya, sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadap kaum kafir dalam perang Badar, dan terhadap pamannya Abu Thalib saat dia wafat, beliau berkata kepada Ali, ‘Kuburkan dia.”

Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta; Abdullah bin Quud, Abdullah bin Gudayyan, Abdurrazaq Afifi, Abdulaziz bin Abdullah bin Baz.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah, “Apakah dibolehkan bagi seorang muslim mengantarkan jenazah non muslim, mohon penjelasannya?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Tidak dibolehkan bagi seorang muslim mengantarkan jenazah non muslim, karena mengantarkan jenazah termasuk hak muslim terhadap muslim, bukan hak orang kafir dari orang muslim. Maka, sebagaimana terhadap orang kafir tidak boleh mengawali salam dan meluaskan jalan untuknya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Jangan mulai salam kepada orang Yahudi dan Nashrani, jika kalian bertemu mereka di jalan, giring mereka ke jalan yang lebih sempit.” Maka, tidak dibolehkan mengantarkan jenazah orang kafir, siapapun orang kafir tersebut, walaupun dia orang yang paling dekat dengan anda.”

(Diringkas dari Fatawa Nurun Alad-Darb)

Kedua:

Menghadiri jenazah orang kafir di gereja lebih besar kesalahannya dibanding sekedar mengiringinya saja. Karena menghadiri seperti itu akan membuat seseorang mendengarkan kalimat-kalimat kufur dan batil. Inilah perkara yang sering diabaikan oleh orang yang membolehkan hadir pada kesempatan tersebut dengan menetapkan syarat tidak mengikuti ritual yang dilakukan di sana. Karena ketika seseorang duduk, menyaksikan dan mendengar kata-kata kufur dan kebatilan, itu sendiri merupkan kemunkaran yang tidak boleh dilakukan.

Allah Taala berfirman,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعاً (سورة النساء: 140)

“Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam janaham.” (QS. An-Nisa: 140)

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Firman Allah Taala:

‘Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain’ maksud ‘selainnya’ adalah selain kekufuran.

‘Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka’ Hal ini menunjukkan wajibnya menjauhi ahli maksiat jika telah tampak kemungkaran pada mereka. Karena siapa yang tidak menjauhi mereka pertanda rida terhadap perbuatan mereka dan rida kepada kekufuran adalah kufur.

‘Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka’ Siapa yang duduk di majelis maksiat dan tidak mengingkarinya, maka dia mendapatkan dosa yang sama.

Maka semestinya mengingkari mereka apabila mereka berbicara dengan maksiat dan melakukannya. Jika tidak dapat mengingkarinya, hendaknya dia beranjak dari tempat tersebut agar dirinya tidak termasuk seperti yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Diriwayatkan dari Umar bin Abdulaziz radhiallahu anhu bahwa beliau menangkap sejumlah orang yang minum khamar. Lalu ada yang mengatakan kepadanya bahwa di antara sejumlah orang yang ditangkap itu ada yang sedang berpuasa. Namun beliau juga menjatuhkan hukum terhadapnya seraya membaca ayat ini

إنكم إذا مثلهم

‘Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka’

Maksudnya adalah bahwa rida dengan kemaksiatan merupakan kemaksiatan. Karena itu, yang diazab adalah pelakunya dan orang yang rida terhadapnya dengan hukuman terhadap orang kemaksiatan sehingga semuanya binasa. Sebagaimana dikatakan, ‘setiap teman akan ikut dengan temannya.”

Al-Jashash berkata dalam Ahkamul Quran (2/407), “Dalam ayat ini terdapat dalil wajibnya mengingkari kemungkaran terhadap pelakukanya. Bentuk pengingkarannya adalah menampakkan ketidaksukaan jika dia tidak mungkin menghilangkannya, juga dengan tidak bergaul dengannya serta membantunya sebelum dia berhenti dari kemungkaran dan kembali seperti semula”

Maka jelaslah, bahwa hadir dalam ritual jenazah di gereja merupakan kemungkaran yang besar, karena di dalamnya seseorang akan mendengar kekufuran, hadir dalam acara bid’ah serta diam terhadap semua itu, kemudian mengantarkan jenazah mengandung makna memuliakannya dan wala terhadapnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Kita memohon kepada Allah semoga diberikan keteguhan, hidayah dan taufikNya.

Soal Jawab Tentang Islam
Create Comments