Mon 6 DhQ 1435 - 1 September 2014
12315
Menderita Dengan Bisikan Setan Tentang Dzat Allah
Seseorang selalu mendapatkan bisikan setan tentang Allah Azza wa Jalla. Dia sangat takut sekali. Apa yang dia lakukan?


Alhamdulillah

Apa yang disebutkan penanya tentang masalah yang dikhawatirkan akibatnya, maka saya katakan kepadanya, "Bergembiralah, karena akibatnya hanyala kebaikan. Karena bisikan setan tidak diragukan lagi dihembuskan kepada orang-orang beriman untuk merongrong akidah mereka yang lurus di hati mereka serta untuk menimbulkan gangguan dalam jiwa dan pikiran untuk memperkeruh keimanan mereka yang jernih, bahkan hendak memperkeruh kejernihan kehidupan mereka, jika mereka beriman.

Apa yang dia alami, bukanlah pertama kali yang menimpa orang beriman dan juga bukan orang yang terakhir kali. Tapi hal itu akan terus terjadi selama di dunia ada orang beriman. Kondisi ini juga pernah dialami para shahabat radhiallahu anhum.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, "Beberapa orang sahabat mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya kepadanya, 'Kami merasakan dalam diri kami apa yang terasa berat untuk kami sampaikan." Beliau bersabda, 'Apakah kalian telah mendapatkannya?' Mereka berkata, 'Ya,' Beliau bersabda, 'Itulah tanda iman yang nyata." (HR.Muslim)

Dalam Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim), juga diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

يأتي الشيطان أحدكم فيقول من خلق كذا ؟ من خلق كذا ؟ حتى يقول من خلق ربك؟! فإذا بلغه فليستعذ بالله ولينته

"Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian, lalu dia akan bertanya, 'siapa yang menciptakan ini, siapa yang menciptakan itu?' Hingga akhirnya dia bertanya, 'Siapa yang menciptakan tuhanmu?' Jika sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaknya dia berlindung kepada Allah dan berhenti (tidak meneruskan)."

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam didatangi seseorang, lalu dia berkata, 'Sungguh aku merasakan dalam jiwaku yang seandainya aku menjadi burung merpati lebih aku sukai daripada aku mengucapkannya.' Maka Nabi shallallahu alaihi wa slalam bersabda,

 الحمد لله الذي رد أمره إلى الوسوسة (رواه أبو داود)

"Segala puji bagi Allah yang hanya dapat menggoda orang mukmin berupa bisikan." (HR. Abu Daud)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata dalam Kitab Al-Iman. Seorang mukmin akan diuji dengan bisikan setan dan bisikan kekufuran yang akan membuat dadanya sempit. Sebagaimana perkataan seorang shahabat, "Ya Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapatkan dalam dirinya yang sekiranya langit runtuh menimpa bumi, lebih dia sukai daripada dia berbicara tentang hal tersebut." Maka beliau bersabda, "Itulah iman yang nyata."

Dalam riwayat lain, ketika shahabat itu menyatakan dirinya berat mengatakan hal tersebut, beliau bersabda, "Segala puji bagi Allah yang membuat setan hanya dapat membisikkan (tidak dapat membuatnya kafir)." Maksudnya orang mukmin itu merasakan bisikan tersebut di dada orang beriman sementara dirinya sangat membencinya. Upayanya untuk mengusir bisikan tersebut dari hatinya merupakan bentuk iman yang nyata, sebagaimana seorang mujahid yang menghadapi musuh, maka dia akan melawannya hingga dia dapat mengalahkannya. Ini merupakan jihad yang agung."

Kemudian beliau berkata, "Karena itu, ada di kalangan penuntut ilmu dan ahli ibadah akan mengalami bisikan dan syubhat tersebut melebihi dari yang lainnya, karena orang selainnya tidak menempuh syariat dan pedoman Allah, akan tetapi dia menuruti hawa nafsunya dan lalai dari zikir kepada Tuhannya. Dan itu yang diinginkan setan. Berbeda dengan orang yang menghadap Allah dengan ilmu dan ibadah, maka mereka adalah musuh setan yang akan selalu dikejar untuk mencegah mereka dari jalan Allah Ta'ala." (Dikutip dari cetakan India, hal. 147)

Maka saya katakana kepada sang penanya, "Jika telah jelas bahwa hal tersebut merupakan bisikan dan keragu-raguan dari setan, maka berjihadlah dan lawanlah. Ketahuilah, sungguh dia tidak akan dapat membuatmu celaka jika engkau menunaikan kewajiban jihad kepadanya dan berpaling darinya serta tidak lagi tunduk dan mengekor di belakangnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

  إن الله تجاوز عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل به أو تتكلم   (متفق عليه)

"Sesungguhnya Allah akan mengampuni umatku keragua-ruguan yang dibisikkan setan di dadanya selama dia tidak mengerjakannya dan mengatakannya." (Muttafaq alaih)

Jika ditanyakan kepada anda, "Apakah anda meyakini apa yang menjadi keragu-raguan anda?" "Apakah anda menganggap hal itu sebagai kebenaran?" "Apakah mungkin bagi anda untuk mencirikan Allah Subhaanahu wa ta'ala?" Lalu anda berkata, "Kita tidak berhak membicarakan hal ini, maha suci Allah, ini semua adalah dusta yang besar, lalu anda mengingkari dengan hati anda dan lisan anda, dan anda orang yang paling menghindari dari hal itu, maka itu berarti hanya sebatas bisikan keragu-raguan dan godaan yang sedang menimpa anda serta jerat kesyirikan dari setan yang selalu menelusup tubuh anak Adam melalui pembuluh darahnya agar membuat anda celaka dan mengaburkan agama anda. 

Karena itu, anda akan mendapatkan perkara-perkara remeh yang tidak dipedulikan setan untuk dibisikkan dengan keraguan atau tuduhan. Anda misalnya mendengar adanya kota yang besar dan penuh dengan penduduk di timur dan di barat, tidak pernah dalam satu haripun timbul keraguan bahwa kota itu sebenarnya tidak ada atau bahwa kota itu sebenarnya telah hancur dan tidak layak huni serta tidak berpenghuni, dan semacamnya. Hal seperti itu tidak mengundang setan untuk membisikkan keraguan padanya. Akan tetapi yang menjadi perhatian besar setan adalah merusak keimanan seorang muslim. Dia selalu berusaha dengan segala tipu dayanya untuk memadamkan cahaya ilmu dan hidayah dan menjerumuskan seseorang dalam kegelapan syirik dan keraguan.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita obat mujarab yang mengandung kesembuhan, yaitu dengan sabdanya, "

 فليستعذ بالله ولينته

"Maka berlindunglah kepada Allah, dan sudahilah."

Jika seseorang menyudahi hal tersebut, dan melanjutkan penghambaannya kepada Allah untuk memohon apa yang ada pada-Nya, maka atas kekuasaan Allah, hal itu akan hilang. Maka berpalinglah dari segala bisikan yang mendatangi hatimu dalam masalah ini. Beribadahlah kepada Allah, berdoa dan mengagungkan-Nya. Maka, apa yang dibisikkan selama ini, bukanlah hakikat nyata, akan tetapi hanyalah lintasan pikiran, keragu-raguan yang tidak ada dasarnya.

Nasehat ini dapat disimpulkan sebagai berikut;

1-      Berlindung kepada Allah dan menghentikan sama sekali persangkaan-persangkaan tersebut sebagaimana diperintahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

2-      Berzikir kepada Allah dan mengendalikan jiwa agar tidak terus menerus dalam keragu-raguan.

3-      Konsentrasi dan sungguh-sungguh dalam ibadah serta beramal untuk menunaikan perintah Allah dan mencari ridhanya. Kapan saja ibadah dilaksanakan dengan fokus, khusyu, dan nyata, maka hal itu akan mengalihkan kita dari bisikan keraguan insya Allah.

4-      Banyak berlindung dan berdoa kepada Allah agar anda diberikan keselamatan dalam masalah ini. 

Saya mohon kepada Allah Ta'ala semoga anda diberikan keselamatan dari segala keburukan.

Syekh Muhamad bin Saleh Al-Utsaimin, Fatawa wa Rasail, juz 1, hal. 57-60