Mon 0 Shw 1435 - 28 July 2014
126377
Bagaimana Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- Meriwayatkan Banyak Hadits, Padahal Masa Menjadi Sahabat Rasulullah Hanya Tiga Tahun Saja ??
Salah satu dari saudari seiman bertanya kepada saya, dan saya tidak bisa menjawabnya, ia berkata: “Ketika Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- memeluk agama Islam, dan menjadi sahabat Rasulullah selama kurang lebih tiga tahun sebelum beliau meninggal dunia. Bagaimana mungkin ia mampu meriwayatkan hadits sebanyak itu ?, Saya mohon penjelasannya, jawaban yang disertai dalil, haingga memungkinkan bagi saya untuk menjelaskan kepada saudari tadi dan memahamkannya.


Alhamdulillah

Pertama:

Hal tersebut bukan termasuk hal yang sulit, jika kita mencoba untuk menghitung-hitung dengan cara sederhana, maka permasalahan tersebut mudah terpecahkan.

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Kurun waktu tiga tahun Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- menemani Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berarti lebih dari 1050 hari.

Abu Hurairah bermulazamah kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan sesungguhnya. Ia menemani beliau dimana saja beliau berada dan kemana saja beliau pergi, ia menghabiskan sebagian besar harinya bersama Rasulullah. Sebagaimana yang ia riwayatkan sendiri dan diakui oleh para sahabat yang lain. (Coba anda fikirkan) berapa hadits kira-kira yang Abu Hurairah dengar dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- setiap harinya?

Kami tidak ingin melebih-lebihkan pada jumlah bilangan hadits yang dihafal oleh Abu Hurairah, agar alasannya bisa diterima oleh pembaca, namun kami ingin menunjukkan bilangan tertentu yang bisa diterima oleh pembaca yang munshif (benar-benar ingin mengetahui dan mengikuti al haq). Misalnya Abu Hurairah menghafal lima hadits saja setiap harinya dalam berbagai kesempatan, karena hadits ada yang qauli (perkataan), fi’li (perbuatan) atau iqrari (persetujuan) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- terhadap perbuatan atau perkataan yang terjadi di depan beliau atau disampaikan kepada beliau. Hadits juga bisa berupa sifat-sifat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Jikalau Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- meriwayatkan kepada kita tentang perbuatan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- atau kejadian tertentu atau tata cara keluarnya beliau menuju masjid untuk mendirikan shalat, maka hal tersebut dianggap sebagai hadits menurut ‘urf (kebiasaan) para ulama hadits.

Kalau misalnya pada setiap kali selesai shalat lima waktu, Abu Hurairah –radhiyallau ‘anhu- ia mendengar kalimat tertentu dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- atau ia menyaksikan sikap tertentu, maka semuanya itu akan menjadi ilmu yang dikumpulkan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- pada setiap satu harinya lima hadits.

Kami juga tidak yakin kalau angka lima kalimat tersebut dianggap angka yang besar bagi kedua teman akrab pada setiap harinya. Lalu bagaimana dengan Abu Hurairah yang sengaja mewakafkan dirinya untuk ilmu, ia menemani Rasul yang paling agung, tuan sekalian manusia, Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- ?!

Berdasarkan fakta di atas, selama Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- bersama dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada akhir masa hidupnya, maka ia akan mendapatkan lebih dari 5000 hadits.

Demikianlah yang terjadi pada hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam kitab-kitab sunnah, sekitar 5374 hadits yang ada pada “Musnad Baqi bin Mukhollad” yang merupakan ensiklopedi terbesar tentang pembukuan hadits. Yang dinukil dari DR. Akram Umari dalam kitabnya “Baqi bin Mukhollad wa Muqaddimah Musnadihi” hal. 19.

Lantas mana sikap berlebih-lebihan yang ditujukan kepada Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- dalam periwayatan hadits ??!

Kami menyangka bahwa setiap orang yang munshif (ingin sampai pada kebenaran) akan berfikir tentang jumlah hadits yang dikumpulkan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- dibandingkan dengan lamanya ia menjadi sahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka semua tuduhan yang ditujukan kepada Abu Hurairah tidak sah dan terbantahkan.

Bagaimana jika seorang pembaca yang mulia, mengetahui bahwa 5000 hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah dalam buku-buku hadits mencakup hadits shahih, dha’if dan maudhu’ ?

Bagaimana jika pembaca yang mulia mengetahui bahwa 5000 hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallu ‘anhu- dalam buku-buku hadits mencakup yang terulang dua kali dengan matan dan redaksi yang sama namun dengan sanad yang berbeda ?, sebagian hadits diriwayatkan dari 10 jalur dengan 1 redaksi, para ulama menganggap yang demikian itu sebagai 10 hadits bukan 1 hadits ??

Bagaimana jika pembaca yang mulia mengetahui bahwa 5000 hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallu ‘anhu- dalam buku-buku hadits tidak semuanya diambil dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara langsung, namun diambil dari sahabat-sahabatnya yang lebih dahulu memeluk agama Islam ?

Bagaimana jika pembaca yang mulia mengetahui bahwa Abu Hurairah –radhiyallu ‘anhu- telah menemani Rasulullah lebih dari 4 tahun, bukan hanya tiga tahun.  

Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata selama menemani Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- :

“Ia mendatangi Khoibar pada tahun ke-7, pada bulan Shafar. Sedangkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- meninggal dunia pada bulan Rabi’ul Awal pada tahun ke-11, jadi masa (dari tahun ke-7 sampai ke-11) selama 4 tahun lebih, inilah pendapat yang dikuatkan oleh Humaid bin Abdurrahman al Humairi”. (Fathul Baari: 6/608)

Adapun pernyataan Abu Hurairah sendiri bahwa ia menemani Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- selama 3 tahun, sebagaimana yang tertera pada “Shahih Bukhori” nomor hadits: 3591, bahwa ia berkata:

صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثَ سِنِينَ ، لَمْ أَكُنْ فِى سِنِىَّ أَحْرَصَ عَلَى أَنْ أَعِىَ الْحَدِيثَ مِنِّى فِيهِنَّ

“Saya (Abu Hurairah) menemani Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- selama 3 tahun, tidaklah ada dari usiaku yang lebih gigih untuk memahami hadits kecuali pada kurun waktu 3 tahun tersebut”.

Riwayat di atas difahami bahwa Abu Hurairah selama tiga tahun tersebut ia bermulazamah dengan sungguh-sungguh, kecuali beberapa hari ketika ia keluar kota ke Bahrain, atau pada masa awal keislamannya, atau pada hari-hari peperangan, yang menjadikannya tidak bisa mulazamah kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada hari-hari beliau.

Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata:

“Seakan yang dianggap mulazamah oleh Abu Hurairah adalah yang mulazamahnya sungguh-sungguh, tepatnya setelah kembali dari perang Khoibar, dan ia seakan tidak menganggap dirinya mulazamah ketika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam perjalanannya, peperangan, haji atau umrahnya; karena mulazamahnya Abu Hurairah pada beberapa waktu tersebut berbeda dengan  mulazamahnya ketika di Madinah. Jadi kurun waktu yang disebutkan dalam hadits adalah hanya mulazamahnya yang sungguh-sungguh saja, sedangkan di luar waktu tersebut ia tidak menganggapnya mulazamah”. (Fathul Baari: 6/608)

Jika telah menjadi jelas bahwa Abu Hurairah menemani Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih dari empat tahun, dan kami kurangi beberapa haditsnya yang terjadi pengulangan dan yang dha’if, lantas mana sisi berlebih-lebihannya Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- dalam meriwayatkan hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-?!

Kedua:

Kami akan menukil beberapa perkataan ulama kita –rahimahumullah- yang menjelaskan sebab banyaknya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- dalam kitab-kitab hadits dari pada sahabat yang lainnya –radhiyallahu ‘anhum-:

Al ‘Allamah Muhammad Rasyid Ridha –rahimahullah- berkata:

“Ada beberapa sebab yang menjadikan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah jumlahnya banyak:

Pertama:

Bahwa ia sengaja ingin menghafal sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan memperhatikan setiap keadaannya, untuk diambil manfaat dan hikmahnya dan diajarkan kepada yang lainnya, atas dasar itulah ia bermulazamah dan bertanya kepada beliau tatkala banyak di antara para sahabat tidak berani bertanya kepada beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kecuali dalam keadaan darurat. Telah ditetapkan dalam riwayat bahwa para sahabat merasa senang jika ada sebagian orang arab baduwi datang menemui Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masuk Islam; karena mereka pasti akan banyak bertanya kepada beliau.

Di antara dalil yang menjelaskan sebab di atas, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abu Hurairah berkata:

يا رسول الله ! من أسعد الناس بشفاعتك ؟ قال : لقد ظننت أن لا يسألني عن هذا الحديث أحد أولى منك لما رأيت من حرصك على الحديث

 “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan syafa’atmu ?, beliau menjawab: “Saya telah mengira bahwa tidak ada orang yang lebih utama darimu untuk menanyakan tentang masalah ini, karena saya melihat akan kesungguhanmu untuk mempelajari hadits”.

Dan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ubai bin Ka’ab, bahwa Abu Hurairah adalah orang yang berani untuk bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang suatu perkara, yang tidak ditanyakan oleh yang lainnya”.

Kedua:

Bahwa Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- terus bermulazamah kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan mengikuti beliau ketika berkunjung ke beberpa istrinya, para sahabatnya untuk mengambil manfaat dari beliau, meskipun di tengah jalan, maka masa pertemuan yang sebentar seakan sama dengan masa bertemunya para sahabat yang lain yang sudah bertahun-tahun, karena pertemuan mereka dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- hanya pada waktu-waktu tertentu, seperti shalat berjama’ah, berkumpul untuk kemaslahatan umat, atau kebutuhan mendesak, dan lain-lain, sebagaimana yang disampaikan kepada Marwan.

Al Baghawi meriwayatkan dengan sanad yang baik –sebagaimana pernyataan al Hafidz Ibnu Hajar- dari Ibnu Umar bahwa ia berkata kepada Abu Hurairah:

أنت كنت أَلَزَمَنا لرسول الله صلى الله عليه وسلم وأعلمَنا بحديثه .

“Kamu yang paling banyak bermulazamah dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan yang paling mengetahui tentang hadits beliau”.

Dan dalam “Al Ishabah” dari Ibnu Umar berkata: “Abu Hurairah lebih baik dari saya, dan yang lebih mengetahui tentang hadits”.

Dari Thalhah bin Ubaidillah: “Tidak diragukan lagi bahwa Abu Hurairah mendengar dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- apa yang kami tidak mendengarnya”.

Ketiga:

Bahwa Abu Hurairah adalah seorang yang kuat hafalannya, ini adalah keistimewaan yang dimiliki oleh perorangan, namun dahulu pada masa baduwi jumlah mereka banyak. Mereka banyak mengandalkan hafalannya. Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa masyarakat Yunani banyak di antara mereka yang membenci bid’ah menulis pada awal mula mereka mengenal tulisan. Mereka berkata: “Ketika manusia mengandalkan tulisannya, maka hafalannya akan menjadi lemah, dan kami bangga dengan para penghafal dari kalangan umat kami, sejarah mereka tetap terjaga dengan baik. Imam  Syafi’i berkata: “Abu Hurairah adalah yang paling kuat hafalannya pada masanya”. Imam Bukhori juga mengatakan hal yang sama.

Dan yang lebih dari itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Umar –radhiyallahu ‘anhu- bahwa ia berkata kepada Abu Hurairah:

أنت كنت ألزمنا لرسول الله صلى الله عليه وسلم وأحفظنا لحديثه .

“Kamu dahulu yang paling terus-menerus bermulazamah dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi was allam- dan yang lebih hafal dengan hadits-haditsnya”.

Keempat:

Bahwa ia mendapatkan kabar gembira dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yaitu; tidak pernah lupa. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits mengulurkan selendang, yaitu; bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada Abu Hurairah:

ابْسُطْ رِدَاءَكَ . فَبَسَطْهُ . فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ : ضُمّهُ . قال أبو هريرة : فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ (رواه البخاري 119 - وهو مروي من طرق متعددة في الصحاح والسنن)

“Gelarlah selendangmu”, maka ia pun menggelar selendangnya. Lalu ia menciduk dengan kedua tangannya, lalu Rasul bersabda: “gabungkan kedua tanganmu”, Abu Hurairah berkata: “Maka saya menggabungkan kedua saya, maka saya tidak pernah melupakan sesuatu setelah kejadian tersebut”. (HR. Bukhori 119), hadits ini diriwayatkan dari banyak jalur dalam kitab-kitab shahih, dan sunan.

Kelima:

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mendoakannya, sebagaimana yang diriwayatkan An Nasa’i dari hadits Zaid bin Tsabit, ulamanya para sahabat –radhiyallahu ‘anhu- :

أن رجلاً جاء إلى زيد بن ثابت فسأله ، فقال له زيد : عليك بأبي هريرة ، فإني بينما أنا وأبو هريرة وفلان في المسجد ، ندعو الله ونذكره ، إذ خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى جلس إلينا فقال : عودوا للذي كنتم فيه . قال زيد فدعوت أنا وصاحبي ، فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يؤمّن على دعائنا ، ودعا أبو هريرة فقال : إني أسألك مثل ما سأل صاحباي ، وأسألك علمًا لا يُنسى , فقال : سبقكم بها الغلام الدوسي ( قال الحافظ ابن حجر في " الإصابة " 4/208 إسناده جيد )

“Bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit dan bertanya kepadanya. Maka Zaid berkata kepadanya: “Temui Abu Hurairah, karena ketika kami (saya, Abu Hurairah dan fulan) berada di Masjid, kami memohon kepada Allah dan berdzikir, seraya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menghampiri kami, hingga duduk di antara kami, dan bersabda: “Lanjutkan apa yang menjadi aktifitas kalian”. Zaid berkata: “Maka saya dan teman saya berdoa, sedangkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengamini doa kami. Dan Abu Hurairah berdoa: “(Ya Allah) Saya mohon kepada-Mu seperti yang kedua sahabatku mohon kepada-Mu, dan saya mohon kepada-Mu agar diberi ilmu yang tidak saya lupakan”. Beliau bersabda: “Kalian telah didahului oleh pemuda yang cinta kepada ilmunya”.  (Disampaikan oleh al Hafidz Ibnu Hajar dalam “al Ishabah” 4/208 dengan sanad yang baik).

Keenam:

Sangat haus dalam periwayatan hadits untuk tujuan tertentu; karena ia menghafal hadits untuk menyebarkannya. Mayoritas para sahabat yang lain mereka menyebarkan hadits pada saat dibutuhkan sampai mereka mengingatnya dalam masalah hukum, fatwa atau cara menyimpulkan dalil. Orang yang haus akan sesuatu pasti ia akan lebih mampu mengingatnya pada setiap kesempatan; karena ia bertujuan untuk mengajarkannya. Sebab inilah sangat berkaitan dengan sebab pertama yang menyebabkannya banyak meriwayatkan hadits.

Ketujuh:

Bahwa ia meriwayatkan dengan apa yang didengar langsung, dan apa yang disampaikan oleh para sahabatnya yang lain. Beliau juga dikenal sangat berusaha untuk meriwayatkan hadits dari para sahabat yang masuk Islam terlebih dahulu darinya, seperti Umar dan Abu Bakr, Fadhal bin Abbas, Ubay bin Ka’b, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah dan Abu Bashrah al Ghifari. Ia terus terang dalam periwayatan hadits mereka dengan menyebutkan nama mereka. Yang tidak ia sebutkan masuk dalam “Marasiil” (Hadits Mursal); karena kejadiannya terjadi sebum ia masuk Islam. Marasiil para sahabat hujjah (dalil kuat) menurut jumhur ulama.

Barang siapa memikirkan sebab-sebab di atas, maka ia tidak akan menjadi heran dengan banyaknya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Juga tidak terlihat ada penolakan dari personal para sabahat kala itu yang meragukan keadilan dan kejujurannya. Berarti kalau belakangan ada penolakan maka itu disebabkan karena tidak mengtahui sebab-sebab di atas.

Semua hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shahihnya sebanyak 446 hadits, sebagiannya ia mendengarnya sendiri dan sebagian yang lain ia mendengar dari para sahabat yang lain. Dan sebenarnya kalau dikumpulkan sangat mungkin untuk dibaca pada satu majelis; karena kebanyakan hadits Rasul adalah kalimatnya singkat.

Apakah seorang yang berakal masih merasakan ada manipulasi hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah atau sahabat lain yang lebih sedikit hafalannya, sedang ia sangat bersungguh-sungguh untuk meriwayatkan dan menyampaikannya??! (Majalah al Manar: 19/25)

Wallahu a’lam.

Soal Jawab tentang Islam