Mon 27 DhQ 1435 - 22 September 2014
13610
Allah Menaksirkan Musibah Bagi Anak-anak, Kenapa?
Saya punya teman wanita non muslim. Saya telah berusaha menolongnya untuk bisa mengenal agama yang benar. Di antara pertanyaan yang dilontarkan kepada saya adalah: "Saya memahami keyakinan bahwa Allah itu selalu memberi cobaan, dan agar dapat memanfaatkan orang seperti Anda, saya tanyakan: Ada seorang ibu yang membuang bayinya di sebuah kotak karton, karena ia tidak menghendaki bayi tersebut. Berarti ia telah gagal menempuh ujian kasih sayang dengan nilai jeblok. Demikian juga seorang wanita yang memiliki banyak kasih sayang dan rasa rindu untuk memiliki seorang anak, lalu mencuri seorang bayi untuk memenuhi keinginannya. Berarti ia juga gagal menempuh ujiannya karena ia telah menempuh cara yang salah dalam mendapatkan bayinya tersebut. Saya tidak melontarkan pertanyaan berkaitan dengan orang-orang dewasa yang telah berbuat salah tersebut. Akan tetapi yang saya tanyakan adalah dalil realistis berkaitan dengan sang bayi. Dengan kata lain, apakah Allah juga memberi cobaan kepada si bayi karena memberi kesempatan orang kepada sang ibu untuk membuang anaknya dalam kardus? Cobaan macam apakah itu? Apakah seorang bayi yang tersiksa secara fisik karena kedua orang tuanya juga mendapat cobaan? Seberapa banyak rasa sakit yang dapat ditahan oleh si bayi? Oleh sebab itu, pertanyaan saya ini berkaitan dengan orang-orang yang bersih, bukan para pelaku dosa. Kenapa Allah memberi kesempatan anak-anak yang masih suci itu untuk menerima berbagai cobaan di berbagai penjuru dunia? Saya tidak bisa memahami hal itu.


Al-Hamdulillah yang Maha Terpuji oleh setiap lisan, yang diibadahi pada setiap jaman, yang ilmunya meliputi setiap tempat, tak pernah tersibukkan oleh segala urusan, tak memiliki sekutu dan tandingan, tak punya isteri dan anak-anak, kebijaksanaannya meliputi seluruh hamba-Nya. Tak ada sesuatu yang menyerupai diri, Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat.
Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada utusan Allah sebagai rahmat bagi sekalian makhluk, hujjah bagi seluruh manusia, yang menyampaikan risalah dan menunaikan amanah, berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, sehingga beliau meninggalkan kita di jalan yang putih bersih, malamnya bagaikan siangnya; yang menyimpang dari jalan itu pasti akan binasa, wa ba'du:
Harus kita ketahui wahai saudaraku, setiap orang yang mengimani adanya Allah dan keberadaan Allah sebagai Tuhan Pencipta meskipun orang itu dari kalangan non muslim sekalipun pasti akan mengetahui bahwa Allah sebagai Rabb pasti berbeda dengan makhluk-Nya pada segala sisi. Maka tidak ada alasan untuk menyerupakan atau memberperbandingkan Allah dengan makhluk-Nya. Firman Allah:

"..Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat…" (Asy-Syura : 11)

Apabila orang yang memiliki sesuatu di dunia ini dapat menggunakan miliknya itu sesuka hati tanpa dimintai pertanggungjawaban oleh sesama makhluk karena itu adalah miliknya, maka Allah sebagai Pencipta yang tidak serupa dengan sesuatu apapun juga berhak untuk memperlakukan ciptaan-Nya sekehendak-Nya. Sebagai makhluk-Nya, kita juga yakin bahwa Allah memiliki hikmah yang dalam yang tidak akan mungkin dimasuki oleh kekurangan apapun. Bahkan setiap orang yang mempercayai keberadaan Allah dan beriman bahwa Allah adalah Rabb-Nya, pasti dapat menerima hal itu. Karena kalau tidak, berarti ia kurang mengimani Rabbnya. Dan pasti dimaklumi oleh orang yang memiliki akal dan iman yang serendah-rendahnya bahwa yang berhak menjadi Rabb/Tuhan hanyalah yang Maha Sempurna dalam segala hal, jauh dari segala kekurangan. Kalau tidak demikian, bukanlah Rabb yang sebenarnya. Dengan eksistensi kita sebagai makhluk ciptaan Allah, tidak mungkin kita bisa mendapatkan sedikitpun dari hikmah-Nya, kecuali setelah diberitahukan oleh Allah. Segala hikmah dari perbuatan Allah yang telah diajarkan kepada kita, akan dapat kita pahami dan kita percayai. Sementara segala yang disembunyikan oleh Allah sehingga menjadi ilmu yang khusus bagi Allah, kita imani, dan kita menyadari bahwa Allah hanya melakukan sesuatu karena adanya hikmah yang besar, karena Allah itu Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Sehingga mustahil ada hasrat dalam hati kita untuk meminta pertanggungjawaban Allah atas perbuatan-Nya dalam kekuasaan dan terhadap para makhluk-Nya. Kalau tidak, berarti kita telah melangkahi posisi ketuhanan, dan berarti kita juga melangkahi hak kita, sehingga kita menduga-duga bahwa kita dapat mengetahui apa yang diketahui oleh Allah. Ucapan semacam ini tak mungkin dilontarkan oleh seorang Atheis sekalipun yang tidak mempercayai adanya Tuhan! Wal iyadzu billah.
Kalau kita bisa mengakui segala pakar specialis di bidangnya padahal mereka manusia seperti kita, tanpa menggungat mereka, seperti para dokter dan insinyur atau yang lainnya, dengan alasan karena tingkat keilmuan kita tidak memungkinkan kita untuk memahami apa yang mereka utarakan, tentu lebih layak dan lebih pantas lagi kita mengakui Yang Maha Mengetahui yang mengetahui segala sesuatu, untuk berbuat sekehendak-Nya dalam mengurus semua ciptaan-Nya, smentara kita tidak memahaminya; bahwa itu adalah kebijaksanaan-Nya belaka dan semua itu adalah kebenaran, tidak diragukan lagi.
Kita adalah munusia biasa, sehingga merupakan satu kebijaksaaan kadang-adang bila kita melakukan hal-hal yang kurang baik bagi kita karena mengandung satu manfaat, yang apabila tidak kita lakukan kita akan dituduh tidak bijaksana dan kurang berakal. Misalnya orang sakit yang takut dirinya celaka, sementara ia tahu bahwa obat penyakitnya dengan ijin Allah adalah dengan meminum obat tertentu. Tentu bijaksana bila ia meminum obat itu meskipun terasa pahit. Kalau ia tidak mau meminumnya, tentu justru dianggap tidak teledor dan kurang akal. Demikianlah, banyak hal dalam kehidupan kita yang tidak kita sukai, tetapi terpaksa kita lakukan karena mengandung kemaslahatan tertentu.
Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi, tidak ada alasan menyerupakan-Nya dengan makhluk, dengan kekuasaan-Nya, tentu saja berhak melakukan sebagian hal yang tidak disukai makhluknya karena mengandung banyak kemaslahatan besar yang tidak bisa dinalar, atau sebagian besar tidak bisa dimengerti. Sebagian kecil dari hikmah itu telah terungkap bagi kita. Itu semua karena rahmat Allah terhadap para hamba-Nya yang beriman, dengan memperlihatkan kepada mereka sebagian hikmah semua itu di dunia agar hati mereka tenang. Misalnya, kalau kita mau mencari sebagian hikmah yang dapat kita pahami dengan diciptakannya anak bayi, kemudian ia wafat. Bisa jadi bila ia hidup, ia akan melakukan berbagai perbuatan maksiat dan dosa-dosa besar, sehingga bisa menyebabkan dirinya kekal di Neraka, atau menyebabkan lama mendekam di dalamnya, atau menyengsarakan kedua orang tuanya atau orang lain, seperti kondisi anak kecil yang dibunuh oleh Nabi Khidir dalam kisahnya bersama Nabi Musa 'Alaihimassalam, yakni yang terdapat dalam surat Al-Kahfi. Atau seandainya ia besar, ia akan mengalami kesengsaraan hebat, sehingga kematian itu baginya adalah rahmat dari Allah.
Demikian pula bila seorang bayi ditakdirkan hidup cacat, bisa jadi kesengsaraan itu akan menghalangi dirinya melakukan banyak perbuatan maksiat, yang kalau saja ia tidak cacat ia pasti akan melakukannya sehingga mendapatkan siksa di Hari Kiamat nanti. Kemudian tidak setiap penyakit atau cacat itu menjadi siksaan. Bisa jadi juga semua itu menjadi cobaan bagi kedua orang tuanya, sehingga dengan cobaan itu Allah mengampuni sebagian dosa-dosa keduanya, atau mengangkat derajat keduanya di Surga kalau mereka sabar menghadapi cobaan itu. Kemudian bila anak itu menjadi besar, cobaan itu akan merambat kepadanya, yang apabila ia bersabar dengan penuh keimanan, memang bisa jadi Allah mempersiapkan pahala besar bagi mereka yang sabar tanpa batas, tak bisa dihitung. Allah berfirman:

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." (Az-Zumar : 10)

Bagi kita sebagai muslim, hidup itu tidaklah berakhir dengan kematian. Bahkan kita percaya di balik kematian itu akan ada Surga dan Neraka. Di dalamnyalah terdapat kehidupan sejati. Para pelaku kebajikan akan memperoleh pahala dari segala kebaikan yang mereka amalkan di sisi Allah setelah masa penantian mereka. Demikian juga para pelaku kejahatan akan memperoleh ganjarannya. Tidak akan mungkin sama yang baik dengan yang buruk. Demikian juga orang yang mendapatkan cobaan lalu bersabar, tidak akan sisis-sia kesabarannya itu di sisi Allah. Bahkan bisa jadi orang yang tidak mendapatkan cobaan itu di dunia akan berangan-angan mendapatkan musibah serupa, karena ia melihat betapa tinggi derajat orang yang mendapatkannya. Banyak dalil yang menunjukkan hal itu dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul. Di antaranya:
Allah berfirman:

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.." (Al-Baqarah : 155)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sungguh ajaib keadaan seorang mukmin, karena seluruh kondisinya adalah baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin saja. Apabila ia mendapatkan kesenangan, lalu ia bersyukur, itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, lalu ia bersabar, maka itupun menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim No. 2999)

Dengan semua penjelasan ini menjadi jelas bahwa semua musibah yang terjadi terhadap orang-orang yang masih suci dalam pandangan kita, bahkan juga seluruh manusia tidaklah secara pasti merupakan siksaan buat mereka. Bahkan terkadang merupakan rahmat dari Allah. Hanya saja akal kita terlalu picik. Lebih sering kita tidak mampu memahami hikmah Allah dalam hal itu. Jadi hendaknya kita mengimani bahwa Allah itu lebih adil, lebih bijaksana, lebih mengetahui dan lebih memiliki rahmat terhadap hamba-hamba-Nya. Sehingga kita berserahdiri kepada-Nya. Kita ridha dan mengakui kelemahan dan ketidakmampuan kita dalam mengetahi hakikat diri kita sendiri sekalipun. Atau kita akan menyombongkan akal kita yang picik, terpedaya oleh diri kita sendiri yang lemah, serta merasa harus meminta pertanggungjawaban dari Allah dan menggugatnya. Keyakinan semacam itu tidak akan mungkin terbetik pada diri orang yang beriman akan adanya Allah sebagai Pencipta, Raja-diraja, Yang Maha Bijaksana dan Maha Paripurna pada segala sisi. Kalau kita lakukan hal itu, berarti kita telah menghantarkan diri kita kepada kemarahan dan kemurkaan Allah, sementara tak ada sesuatu apapun yang berbahaya bagi Allah.
Oleh sebab itu, Allah telah memperingatkan hal itu dengan firman-Nya:

"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiyaa : 23)

Demikian juga dengan kelemahan dan kepicikan pandangan manusia, mereka hanya mencukupi diri dengan melihat musibah-musibah tersebut tanpa berusaha mengetahui berbagai manfaatnya dan melihat berbagai kenikmatan lain baginya dan yang ada di sekitarnya. Padahal segala kenikmatan Allah bagi manusia tidak bisa dibandingkan dengan sekedar musibah yang menimpa mereka. Kalau ada orang yang banyak berbuat baik, lalu sesekali ia tidak berbuat baik, melupakan kebaikannya dianggap tidak mengenal budi. Bagaimana pula terhadap Allah yang tidak memiliki sekutu dalam sifat-Nya. Segala perbuatan Allah di dunia ini adalah kebaikan semata, tidak mungkin merupakan keburukan dari sisi manapun.
Demikian juga, sesungguhnya para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah. Namun demikian, mereka adalah orang-orang yang paling banyak dan palin berat cobaan dan musibah yang diterimanya. Kenapa? Bukan menjadi siksaan buat mereka, bukan pula karena kehinaan mereka di sisi Rabb mereka, akan tetapi karena Allah mencintai mereka dan hendak menyimpan pahala kebaikan mereka untuk di Surga nanti. Allah menetapkan berbagai musibah itu bagi mereka untuk mengangkat dan meninggikan derajat mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala dapat melakukan apa saja dan bagaimana saja serta kapan saja Allah menghendaki. Tidak ada bisa menggugat keputusan-Nya, atau menolak perintah-Nya. Allah adalah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Allah itu lebih Tinggi, lebih Mengetahui dan lebih Bijaksana. Sebagai catatan untuk redaksi pertanyaan: "..teman wanita saya," sesungguhnya tidak boleh mengadakan hubungan yang tidak disyariatkan antara lelaki dengan wanita. Untuk penjelasan dan keterangan lebih jauh terhadap persoalan ini, silakan melihat fatwa No. 9465, 1200 pada situs yang sama.

Soal-jawab Keislaman