Fri 25 Jm2 1435 - 25 April 2014
3749
SEBAB PENDUKUNG UNTUK MELAKUKAN QIYAMUL LAIL
Apa perkara yang dapat membantu untuk dapat qiyamul lail (tahajud)?


Alhamdulillah

Sebab-sebab pendukung untuk dapat menjalankan qiyamul lail itu banyak di antaranya adalah:

1.    Ikhlas karena Allah Ta’ala, sebagaimana Allah perintahkan ikhlas dalam beramal hanya untuk-Nya, tidak kepada selain-Nya,

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5)

 Semakin kuat keikhlasan seorang hamba, maka semakin besar kemungkinan dia mendapatkan taufiq untuk melakukan kataatan dan ibadah (kepada Allah). 

Dalam hadits Ubay bin Ka’b radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

بشر هذه الأمة بالسناء والدين والرفعة والنصر والتمكين في الأرض ، فمن عمل منهم عمل الآخرة للدنيا لم يكن له في الآخرة من نصيب (رواه أحمد صحيح الجامع 2825)

"Berikan kabar gembira pada umat ini dengan kemuliaan, agama, ketinggian, kemenangan dan kekuasaan di bumi. Barangsiapa di antara mereka beramal dengan amalan akhirat untuk (mendapatkan bagian) di dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat." (HR. Ahmad dalam Shahih Al-Jaami)

Mutharif bin Abdullah bin As-Syuhair berkata,

"Kebaikan amalan tergantung dengan kebaikan hati. Dan kebaikan hati tergantung dengan kebaikan niatan."

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata,

"Sesuai dengan kadar niat ditambah semangat kuat dan keinginan seorang hamba, maka akan mendapatkan taufiq dan bantuan Allah Ta'ala. Bantuan dari Allah diturunkan kepada seorang hamba sesuai kadar semangat kuat, niat, rasa pengharapan dan ketakutan, sebaliknya kegagalan juga terkait dengan kadar niatnya. Karenanya, para ulama salaf yang mulia sangat berusaha menyembunyikan ketaatannya, seperti qiyamul lail. Seseorang bertanya kepada Tamim bin Aus Ad-Dary radhiallahu anhu, dengan menanyakan kepadanya, "Bagaimana shalat malam anda?" Kemudian beliau sangat marah sekali dan mengatakan, "Demi Allah, satu rakaat yang saya tunaikan di tengah malam dalam kondisi tersembunyi lebih saya cintai dibandingkan dengan saya menunaikan shalat seluruh malam kemudian saya ceritakan kepada orang." Biasanya Ayyub As-Sikhtiyani menunaikan (shalat) seluruh malam. Ketika mendekati fajar, beliau kembali berbaring di atas ranjangnya. Ketika Shubuh telah terbit, beliau mengeraskan suaranya seakan baru bangun pada saat itu.

2.    Orang yang ingin melakukan qiyamullail hendaknya merasakan bahwa Allah Ta’ala yang mengajaknya untuk qiyam. Kalau seorang hamba merasa bahwa Tuannya mengajak untuk melakukan itu, padahal Dia tidak membutuhkan ketaatan semua orang, maka hal itu seharusnya lebih menuntutnya untuk memenuhi keinginannya.

Allah Ta’ala berfirman,

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan." (QS. Al-Muzammil:  1-4)

Sa’ad bin Hisyam bin Amir bertanya kepada Aisyah radhiallahu anha, "Tolong beritahukan kepadaku tentang Qiyam Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Maka beliau mengatakan, "Apakah anda tidak membaca surat ‘Wahai orang yang berselimut (Al-Muzammil)?" Saya menjawab, "Ya." Maka beliau melanjutkan, "Sesungguhnya Allah Azza Wa jalla telah mewajibkan qiyamul lail pada awal surat ini. Maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam menunaikannya bersama para shahabat selama setahun. Kemudian Allah menahan akhir (surat) selama dua belas bulan di langit. Sampai akhirnya Allah turukan akhir surat ini untuk meringankan. Sehingga qiyamul lail sunnah setelah diwajibkan." (HR. Muslim)

3.            Mengetahui keutamaan qiyamul lail. Barangsiapa yang mengetahui keutamaan ibadah ini, dia akan menjaga senantiasa bermunajat kepada Alla Ta’ala dan berdiri menghadap kepada-Nya pada waktu itu. Di antara keutamaan ibadah ini, hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أفضل الصلاة بعد الصلاة المكتوبة الصلاة في جوف الليل ، وأفضل الصيام بعد شهر رمضان صيام شهر الله المحرم   (رواه مسلم)

"Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat di tengah malam. Dan sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah Muharrom." (HR. Muslim)

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

أحب الصلاة إلى الله صلاة داود ، وأحب الصيام إلى الله صيام داود ، كان ينام نصف الليل ، ويقوم ثلثه ، وينام سدسه ، ويصوم يوماً ويفطر يوماً  (متفق عليه)

"Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat Nabi Daud, puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Dia tidur setengah malamnya, lalu qiyamullail (menunaikan shalat) sepertiganya, kemudian tidur lagi seperenamnya. Dan (beliau) puasa sehari serta berbuka sehari." (Muttafaq’alaihi)

Darai Amr bin Abasah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أقرب ما يكون الرب من العبد في جوف الليل الآخر ، فإن استطعت أن تكون ممن يذكر الله في تلك الساعة فكن  (رواه الترمذي والنسائي)

"(Waktu) terdekat seorang hamba kepada Tuhannya waktu pertengah malam akhir. Kalau sekiranya anda dapat menjadi orang yang diingat oleh Allah pada waktu itu, maka lakukanlah." (HR. tirmizi dan Nasa’i)

Dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

عجب ربنا من رجلين: رجل ثار عن وطائه ولحافه من بين أهله وحبه إلى صلاته فيقول الله جل وعلا : أيا ملائكتي انظر إلى عبدي ثار من فراشه ووطائه من بين حبه وأهله إلى صلاته رغبة فيما عندي ، وشفقة مما عندي " (رواه أحمد وهو حسن ، صحيح الترغيب 258

"Tuhan kita takjud terhadap dua orang. Seorang yang meniggalkan ranjang dan selimutnya di antara keluarga dan yang dicintainya untuk menunaikan shalat. Allah Azza Wajallah berfirman, ‘Wahai malaikat-Ku, lihatlah hamba-Ku yang meninggalkan ranjang dan selimut serta yang dicintai dari keluarganya untuk menunaikan shalatnya karena berharap apa yang ada pada diri-Ku dan takut terhadap (azab) yang ada pada diri-Ku." (HR. Ahmad dan hadits hasan, Shaheh At-Targhib, 258)

Qiyamullail dapat menghilangkan kelalaian hati, sebagaimana ada dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhuma sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من قام بعشر آيات لم يكتب من الغافلين ، ومن قام بمائة آية كتب من القانتين ، ومن قام بألف آية كتب من المقنطرين  (رواه أبوداود وابن حبان وهو حسن ، صحيح الترغيب 635)

"Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat dengan membaca) sepuluh ayat, maka tidak akan dicatat dari golongan orang-orang yang lalai. Barangsiapa yang berdiri (membaca) seratus ayat, maka dia dicatat menjadi orang qanitin (orang-orang yang taat). Dan barangsiapa yang berdiri (membaca) seribu ayat, maka dicatat sebagai orang muqontorin (mendapatkan pahala berlimpah)." (HR. Abu Daud, Ibnu Hibban hadits hasan. Shaheh At-Targib, 635)

Yahya bin Muaz berkata,

"Obat hati itu ada lima; Membaca Al-Qur’an dengan tafakur, kosongnya perut (puasa), qiyamullail, beribadah di akhir malam dan berteman dengan orang saleh."

4.    Meresapi kondisi ulama salaf dan orang shaleh dalam qiyamullail dan bagaimana konsistensi mereka dalam hal itu. Dahulu para salaf menikmati qiyamullail, mereka sangat bergembira sekali.

Abdullah bin Wahb berkomentar, "Semua yang dinikmati hanyalah sekali kenikmatan saja keculai ibadah. Sesungguhnya ia mempunyai tiga kenikmatan, ketika anda bersamanya, ketika anda mengingatnya dan ketika anda diberi pahalanya."

Muhammad bin Munkadir mengatakan, "Kenimatan dunia tidak tersisa kecuali tiga, qiyamul lail, bertemu saudara dan shalat secara berjamaah."

Tsabit Al-Bannani mengatakan, "Aku tidak dapatkan di hatiku yang lebih nikmat dari qiyamul lail."

 Sementara Yazid Ar-Raqqasii mengatakan, "Memperpanjang tahajud, merupakan kesenangan para ahli ibadah. Dengan memanjangkan haus (puasa), dapat menggembirakan hatinya ketika bertem Allah."

Mukhalid bin Husain mengatakan, "Tidaklah saya bengun di waktu malam kecuali saya dapatkan Ibrahim bin Adham mengingat Allah dan shalat, sehingga saya mendapatkan bagian akan hal itu. Namun saya bersedih dengan ayat ini, "Itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah yang memiliki keutamaan nan agung."

Abu ‘Asyim An-Nabil berkata, " Abu Hanifah dahulu dikenal dengan julukan Al-Watad (pasak) karena seringnya shalat. "

Dari Al-Qasim bin Main, dia berkata, "Abu Hanifah berdiri (menunaikan shalat malam) mengulang-ulangi dan menangis dengan (membaca) ayat ini ( بل الساعة موعدهم والساعة أدهى وأمر) dan beliau merintih sampai datang wakut Shubuh."

Ibrahim bin Syimas berkata, "Dahulu saya melihat Ahmad bin Hanbal menghidupkan malamnya sementara beliau masih kecil."

Abu Bakar Al-Marwadi berkata, "Dahulu saya bersama Imam Ahmad sekitar empat bulan dalam sebuah peperangan. Dan beliau tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, dan (membaca) Al-Qur’an waktu siang hari. Saya tidak tahu kapan beliau menghatamkan (Al-Qur’an) karena beliau menyembunyikannya."

Dahulu Imam Bukhari berdiri (menunaikan) shalat tahajud waktu malam, maka beliau membaca antara separuh atau sepertiga Al-Qur’an. Sehingga beliau dapat menghatamkan waktu malam pada setiap tiga malam.

Al-Allamah Abdul Hadi mengatakan ketika menceritakan qiyamnya Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, "Biasanya waktu malam beliau menyendiri dari semua orang. Menyendiri dengan Tuhannya, meratap berdoa dan senantiasa menjaga tilawah Al-Qur’an. Mengulang-ulang berbagai macam ibadah malam dan siang. Ketika beliau telah menunaikan shalat, anggota tubungnya gemetar sampai miring ke kanan dan ke kiri."

Ibnu Rajab mengomentari gurunya Imam Ibnu Qayyim, "Biasanya beliau sangat (menjaga) ibadah, dan sangat panjang sekali shalatnya. Saya tidak menyaksikan (orang seperti beliau) dalam ibadah dan ilmunya dengan Al-Qur’an, hadits dan hakekat keimanan."

Al-Hafid Ibnu Hajar mengatakan ketika mensifati gurunya Al-hafiz Al-Iroqi, "Saya telah bersama beliau. Saya tidak melihat beliau meninggalkan qiyamul lail bahkan hal itu telah menjadi kebiasaannya."

5.    Tidur pada sisi kanan

Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah memberikan ajaran kepada umatnya agar tidur pada sisi kanan. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 “Jika salah seorang dari kalian hendak tidur, hendaknya mengibas sarungnya, karena dia tidak tahu apa ada di baliknya. Kemudian hendaknya dia berbaring pada sisi kanan, lalu berdoa dengan mengucapkan,

باسمك ربي وضعت جنبي وبك أرفعه إن أمسكت نفسي فارحمها وإن أرسلتها فاحفظها بما تحفظ به عبادك الصالحين  (متفق عليه)

"Dengan nama-Mu wahai Tuhanku, aku telah menaruh meletakkan tubuhku dan dengan-Mu mengangkatnya. Kalau Engkau tahan jiwaku, maka kasihanilah. Kalau Engkau lepas, maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-Mu yang saleh." (Muttafaq alaih)

Dari Barra bin Azib radhiallahu anhuma sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Ketika anda hendak tidur, maka hendaklah anda berwudhu (seperti) wudhu untuk shalat. Kemudian berbaring pada sisi kanan anda." (Muttafaq alaih)

Dari Hafshoh radhi allahunha, dia berkata, "Biasanya Nabi sallallahu alaihi wa sallam ketika hendak berbaring di atas ranjang, beliau menjadikan tangan kanannya di bawah pipi kanan." (HR. Thabrani, Shahih Al-Jami, no. 4523)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, "Berbaringnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam pada sisi kanan, ada rahasianya. Yaitu bahwa hati (jantung) berada di sisi kiri. Kalau tidur pada sisi kiri, maka akan berat tidurnya, karena dia dalam kondisi tenang dan istirahat, sehingga tidurnya nyenyak (berat). Kalau tidur pada sisi kanan, maka hatinya akan gelisah sehingga tidak nyenyak tidurnya karena hatinya gelisah dan terus meminta dan condong padanya.

6.    Tidur dalam kondisi suci

Tadi telah disebutkan dalam hadits Barra bin Azib radhiallahu anhu di dalamnya terdapat riwayat bahwa Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Katika anda mendatangi tempat tidur anda, maka berwudhulah (seperti) wudhu anda untuk shalat." (Muttafaq alaihi)

Dari Muaz bin Jabal radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ما من مسلم يبيت على ذكر طاهراً فيتعارّ من الليل ، فيسأل الله خيراً من أمر الدنيا والآخرة إلا أعطاه إياه  (رواه أبو داود وأحمد ، صحيح الجامع، رقم 5754)

“Tidaklah seorang muslim bermalam dalam kondisi berzikir dan suci, kemudian kemudian bangun malam hari, dan dia meminta kepada Allah kebaikan dari urusan dunia dan akhirat, kecuali (Allah) berikan kepadanya." (HR. Abu Daud dan Ahmad. Shahih Al-Jami, no. 5754)

Disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

طهّروا هذه الأجساد طهركم الله ، فإنه ليس عبد يبيت طاهراً إلا بات معه في شعاره ملك ، لا يتقلب ساعة من الليل إلا قال : اللهم اغفر لعبدك ، فإنه بات طاهراً  (رواه الطبراني ، قال المنذري : إسناد جيد ، صحيح الجامع 3831)

“Sucikanlah tubuh ini, semoga Allah mensucikan kalian. Karena tidaklah seorang hamba bermalam dalam kondisi suci, kecuali bermalam bersamanya Malaikat di rambutnya. Tidak dia berbolak-berbalik pada malam itu, kecuali dia mendoakan, "Ya Allah ampunilah hamba-Mu, karena dia bermalam dalam kondisi suci." (HR. Thabrani, Al-Munziri berkomentar, sanadnya Jayyid (bagus), Shahih Al-jami, no. 3831)

7.    Tidur lebih awal

Tidur setelah Isya lebih awal merupakan wasiat nabawi serta kebiasaan bagus dan sehat sebagaimana telah disebutkan keutamaannya dalam hadits Abu Barzah Al-Aslami radhiallahu anhu,

"Sesungguhnya Nabi sallallahu alaih wa sallam biasanya lebih senang mengakhirkan (shalat) Isya, dan beliau biasanya tidak menyukai tidur sebelumnya dan berbincang-bincang setelahnya." (HR. Bukhari)

Dikutip dari Al-hafidz Ibnu Hajar dari Al-Qhadi Iyad ucapannya, "(Ungkapan) "Beliau biasanya  tidak suka tidur sebelumnya (shalat Isya)" Karena hal itu dapat membuatnya kehilangan waktunya secara umum, atau dari  waktu pilihan (karena ketiduran). Adapun "Berbincang-bincang di waktu malam setelah Isya" dapat membuatnya kehilangan shalat Subuh (akibat begadang), atau dari waktu pilihan,  atau tidak dapat qiyamul lail."

Ibnu Rafi’ mengatakan, "Biasanya Umar bin Khatab radhiallahu anhu membunyikan pecutnya setelah pertengahan malam, lalu mengatakan, "Berdirilah, semoga Allah memberikan karunia untuk (menunaikan) shalat."

Di antara yang terkait dengan tidur adalah alas tidur yang tepat. Maksdunya agar tidak terlalu berlebihan dalam hal isi kasurnya dalam hal kehalusan dan melembutkan. Karena hal itu merupakan satu penyebab banyak tidur dan melenakan, sehingga  membuatnya malas dan keenakan.

Terdapat dalam riwayat hadits Aisyah radhiallahu anha, dia berkata, "Dahulu bantal Nabi sallallahu alaihi wa sallam yang dibuat tidur malam terbuat dari kulit (binatang) dan isinya dari dedaunan kering pohon korma." (HR. Abu Daud dan Ahmad, Shahih Al-Jami, no. 4714)

Darai Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, "Sesungguhnya Umar bin Khatab masuk ke (rumah) Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam sementara beliau di atas tikar. Terlihat bekas tikar di pinggangnya yang mulia. Kemudian Umar berkata, "Wahai nabi Allah, bagaimana kalau sekiranya kami buatkan ranjang yang lebih baik dari ini?" Maka beliau sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Urusan apa saya dengan dunia. Perumpamaan diriku dengan dunia adalah seperti pengendara  yang berjalan di hari panas, lalu dia berteduh di bawah pohon sementara waktu siang, kemudian berangkat dan  meninggalkannya." (HR. Ahamd dan Hakim, Shahih Al-Jami, no.  5545)

Dahulu Ali bin Bakkar rahimahullah, pembantunya menghamparkan ranjang untuknya. Kemudian beliau mengusapnya  dengan tangannya seraya berkata, "Demi Allah, kamu enak, kamu dingin, Demi Allah aku tidak akan melewati malamku di atasmu. Kemudian berdiri dan menunaikan shalat hingga Fajar."

Di antaranya juga, tidak berlebih-lebihan dalam tidur dengan nyenyak (hingga tidak shalat). Ibrahim bin Adham berkata, "Kalau anda waktu malam dalam kondisi tidur, waktu siang dalam kondisi bingung, dan senantiasa dalam kemaksiatan. Bagaimana anda dapat membuat ridha dengan Dzat yang selalu mengatur urusan anda?" 

Menjaga zikir syar’i sebelu tidur. Karena zikir ini tameng yang sangat kuat menjaga dari setan dengan izin Allah serta dapat membantu untuk bangun.

Diantara zikir-zikir ini adalah, apa yang telah ada ketetapan dari hadits Abu hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إذا أوى أحدكم إلى فراشه فليفضه بداخلة إزاره ، فإنه لا يدري ما خلّفه عليه ، ثم ليضطجع على شقه الأيمن ، ثم ليقل باسمك ربي وضعت جنبي وبك أرفعه إن أمسكت نفسي فارحمها وإن أرسلتها فاحفظها بما تحفظ به عبادك الصالحين  (متفق عليه)

“Jika di antara kalian hendak tidur, maka hendaknya dia mengibas-ngibas sarungnya, karena dia tidak tahu apa yang ada dibaliknya. Kemudian hendaknya dia berbaring di sisi kanan, lalu  berdoa dengan mengucapkan, "Dengan nama-Mu wahai Tuhanku, aku meletakkan pinggangku. Dan dengan-Mu aku mengangkatnya. Kalau Engkau tahan jiwaku (matikan), maka kasihilah. Kalau Engkau lepas (biarkan hidup), maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-Mu yang shaleh." (HR. muttafaq alaih)

Dan dari Aisyah radhiallahu anha sesungguhya Nabi sallallahu alaihi wa sallam biasanya ketika hendak tidur setiap malam, merapatkan kedua tangannya kemudan meniupnya sambil membaca: (قل هو الله أحد) dan  (قل أعوذ برب الفلق)  dan  (قل أعوذ برب الناس)

Kemudian beliau mengusap tubuhnya sedapatnya, dimulai dari wajah hingga depan tubuhnya. Beliau melakukan hal itu tiga kali." (HR. Muttafaq alaihi)

Dari Abu Mas ud radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat di akhir surat Al-Baqarah pada malam hari, maka keduanya akan melindunginya.” (Muttafaq alaih)

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam biasanya apabila hendak tidur, membaca:

 الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا ، وكفانا فكم ممن لا كافي له ولا مؤوي له  (رواه مسلم)

“Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi makan dan minuman kepada kami. Dan telah mencukupinya. Berapa banyak orang yang tidak cukup dan dan tidak mendapatkan tempat tinggal.” (HR. Muslim)

Dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu dan kisah setan yang menasehatinya sambil mengatakan, "Jika engkau hendak ke pembaringan, maka bacalah Ayat Kursi,  hingga selesai. Maka sungguh engkau anda akan senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah dan setan tidak akan mendekatimu  higga pagi. Kemudian Abu Hurairah menceritakan hal itu kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam, dan beliau mengatakan kepadanya, “Dia (kali ini) benar kepadamu, padahal dia (biasanya) pembohong.” (HR. Muttafa alaihi)

Dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada putrinya Fatimah radhiallahu anha ketika beliau mendatangi (ayahnya) untuk meminta pembantu. Beliau mengatakan kepadanya dan kepada Ali, “Apakah anda berdua mau aku tunjukkan yang lebih baik untuk kalian berdua dibandingkan seorang pembantu? Ketika kalian berdua menuju ke pembaringan, maka bertasbihlah tigapuluh tiga, bertahmid tigapuluh tiga, dan bertakbir tigapuluh empat. Karena hal itu lebih baik bagi kalian berdua dibandingkan seorang pembantu.” (HR. Muttafaq alaih)

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah surat Al-Kafirun ketika anda akan hendak tidur. Karena ia dapat meniadakan kesyirikan.” (HR. Baihaqi, Shahih Al-Jami, no. 1172)

Dari Hafshah radhiallahu anha sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam, bahwa ketika beliau berada di pembaringannya, biasanya beliau menjadikan tangan kanannya di bawah pipi kanannya dan berdoa, "Wahai Tuhanku, jagalah diriku dari siksa-Mu, di hari hamba-hamba-Mu dibangkitkan." (HR. Abu Daud, Shahih Al-Jami, no. 4532)

Dari Barra bin Azib radhiallahu anhuma sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau hendak ke tempat pembaringanmu r anda, maka berwudhulah (seperti) wudhu untuk shalat. Kemudian berbaringlah pada sisi kanan dan bacalah doa:

اللهم أسلمت نفسي إليك ، ووجهت وجهي إليك ، وفوضت أمري إليك ، وألجأت ظهري إليك ، رغبة ورهبة إليك ،  لا ملجأ ولا منجا منك إلا إليك ، آمنت بكتابك الذي أنزلت ، وبنبيك الذي أرسلت

“Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu. Aku arahkan wajahku kepada-Mu. Aku serahkan sepenuhnya urusanku kepada-Mu. Aku arahkan punggungku kepada-Mu dengan penuh harap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tempat keselamatan kecuali hanya dari-Mu. Aku telah beriman dengan kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan dengan Nabimu  yang telah Anda utus."

Kalau engkau meninggal, maka engkau meninggal dalam kondisi fitrah (suci). Dan jadikanlah ia kata terakhir yang engkau ucapkan.” (Muttafaq alaih)

Begitu juga seeorang muslim hendaknya menjaga zikir syar’i ketika bangun dari tidur. Di antaranya adalah apa yang telah ada ketetapan dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaiih wa sallam bersabda:  "Jika salah dari kalian bangun dari tidur, hendaknya dia membaca,

الحمد لله الذي رد علي روحي ، وعافاني في جسدي ، وأذن لي بذكره  (رواه الترمذي والنسائي ، صحيح الجامع 326)

"Segala puji hanya milik Allah yang telah mengembalikan ruhku, dan menyehatkan badanku. Dan dizinkah untukku mengingat-Nya.”  (HR. Tirmizi dan Nasa’i, shahih Al-Jami, no. 326)

Dari Ubadah bin Shamit radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa terbangun di malam hari lalu membaca,

لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير ، الحمد لله ، سبحان الله ، ولا إله إلا الله ، والله أكبر ، ولا حول ولا قوة إلا بالله

"‘Tiada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah saja dan tidak dipersekutukan-Nya. Baginya seluruh kerajaan dan seluruh pujian. Dan Dia mampu terhadap segala sesuatu. Segala pujian hanya milik Allah, dan maha suci Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar. Tiada kekuatan dan daya melainkan Allah."

Kemudian dia berkata, Allahummagfirlii (Ya Allah ampunilah aku), atau berdoa, maka dia akan dikabulkannya. Kalau dia berwudhu dan menunaikan shalat, maka shalatnya akan diterima.” (HR. Bukhari)

Imam Ibnu Bathal mengatakan, “Allah telah menjanjikan lewat lisan Nabi-Nya sallallahu alahi wa sallam bahwa orang yang bangun dari tidurnya, mengucapkan ketauhidan kepada Tuhannya, mengakui kerajaan bagi-Nya. Mengakui akan kenikmatan dengan menyanjung-Nya. Membersihkan dari apa yang tidak layak bagi-Nya dengan bertasbih, merendahkan diri dengan bertakbir. Menyerahkan akan kelemahan dari kemampuan kecuali dengan bantuan-Nya. Kalau dia berdoa akan dikabulkan. Kalau menunaikan shalat akan diterima shalatnya. Maka hendaknya bagi orang yang telah mendapatkan hadits ini, berusaha menyempatkan untuk mengamalkannya. Dengan mengikhlaskan niatannya hanya untuk Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.

Dari Barra bin Azib radhiallahu anhu, dia  berkata, biasanya Nabi sallallahu alaihi wa sallam ketika bangun tidur berdoa:

الحمد لله الذي أحيانا بعد ما أماتنا وإليه النشور (رواه مسلم)

“Segala puji hanya milik Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan kepada-Nya akan dikumpulkan.” (HR. Muslim)

Dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam biasanya ketika bangun malam, mengusap (bekas) tidur dari wajahnya dengan tangannya. Kemudian melihat ke langit dan membaca sepuluh ayat terakhir di surat Ali Imran, yaitu ayat:      ( إن في خلق السماوات والأرض …)      (HR. Muslim)

Imam Nawawi mengomentari, “Di dalamnya ada anjuran untuk mengusap bekas tidur dari wajah. Dan anjuran membaca ayat-ayat ini ketika bangun tidur.

8.    Membiasakan tidur sejenak waktu siang hari. Boleh  sebelum atau setelah zuhur. Dari Anas radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu a’laihi wa sallam bersabda:

قيلوا فإن الشياطين لا تقيل  (رواه الطبراني ، الصحيحة 2647)

“Tidurlah sebentara (siang hari) karena syetan itu tidak tidur sebentar (waktu siang).” (HR. Thabrani, As-Shahihah, 2647)

Ishaq bin Abdullah berkata, "Orang yang tidur sejenak (waktu siang) termasuk kebiasaan orang baik. Ia dapat membuka hati dan mendatangkan kekuatan untuk qiyamul lail."

Hasan Al-Basyri pernah melewati pasar di siang hari dan melihat hiruk pikuk mereka. Beliau bertanya, "Apakah mereka tidak tidur sebentar (waktu siang)." Dikatakan kepada beliau,”Tidak." Maka beliau mengomentari, “Sesungguhnya saya melihat malam mereka adalah malam yang buruk."

9.    Menjauhi banyak makan dan minum. Karena mengkonsumsi banyak keduanya merupakan kendala terbesar yang memalingkan seseorang dari qiyamul lail. Dan menjadi halangan baginya (menunaikan qiyamul lail). Sebagaimana yang telah ada dalam hadits Al-Miqdam bin Makdi karb radhialahu anhu sesunggunya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ما ملأ آدمي وعاءاً شراً من بطنه ، حسْب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه ، فإن كان لا محالة فثلث لطعامه ، وثلث لشرابه ، وثلث لنفسه  (رواه الترمذي وابن ماجه ، صحيح الجامع 5674)

“Tidak ada wadah yang lebih buruk untuk dipenuh olah Bani Adam selain perutnya. Cukup seseorang menyantap beberapa suapan yang dapat menguatkan punggungnya. jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk nafasnya.”(HR. Tirmizi dan Ibnu Majah, Shahih Al-Jami, no. 5674)

Dan dari Abu Juhaifah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam berkata kepada seseorang  bersendawa di majelisnya, "Perpendek sendawa anda. Karena sesunggunya orang yang paling kenyang di dunia, adalah orang yang paling lapar di akhirat.” (HR. Hakim, Shahih Al-Jami, no. 1190)

Sofyan At-Tsauri mengatakan, “Hendaknya anda sedikitkan makan. Maka anda akan mendapatkan qiyamul lail."

Ma’qal bin Habib ketika melihat suatu kaum yang banyak makan, berkomentar, “Kami melihat teman-teman kami tidak ingin melaksanakan qiyamul lail."

Wahb bin Munabbih mengatakan, “Tidak ada dari kalangan Bani Adam yang lebih disenangi oleh setan, selain mereka yang  banyak makan dan sering tidur.”

10.  Berusaha keras pada diri untuk menunaikan qiyam lail. Ini termasuk faktor pembantu terbesar  untuk dapat qiyamul lail. Karena jiwa manusia, tabiatnya adalah mengarah dan condong kepada keburukan dan kemungkaran. Barangsiapa yang menuruti ajakannya, maka akan menuntunya pada kebinasaan. Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita untuk berusaha keras dalam firman-Nya, "Dan berusaha keraslah menuju Allah dengan sebenar-benar jihad.”

Firman Allah Ta'ala, “Dan orang-orang yang berusaha keras menuju Kami, maka Kami akan tunjukkan jalan menuju jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang muhsin.”

Allah Ta’ala berfirman, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.”

Dari Fudholah bin Ubaid radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:  “Seorang mujahid adalah orang yang berusaha keras pada dirinya menuju Allah.” (HR. Tirmizi dan Ibnu Hibban, As-Shahih, no. 549).

Dalam hadits Uqbah bin Amir radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الرجل من أمتي يقوم من الليل يعالج نفسه إلى الطهور وعليه عُقَد ، فإذا وضأ يديه انحلت عقدة ، وإذا وضأ وجهه انحلت عقدة ، وإذا مسح رأسه انحلت عقدة ، وإذا وضأ رجليه انحلت عقدة ، فيقول الله عز وجل للذين من وراء الحجاب : انظروا إلى عبدي هذا يعالج نفسه ، ويسألني ، ما سألني عبدي فهو له  (رواه أحمد وابن حبان ، صحيح الترغيب، رقم 627)

“Seseorang dari umatku berdiri menunaikan shalat malam. Dia berupaya mengatasi dirinya untuk bersuci dan padanya terdapat beberapa ikatan. Ketika membasuh tangannya, terlepas satu ikatan. Ketika membasuh wajahnya, terlepas satu ikatan. Ketika mengusap kepalanya, terlepas satu ikatan. Ketika membasuh kedua kakinya, terlepas satu ikatan. Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada orang yang di belakang hijab, ”Lihatlah hamba-Ku, dia mengatasi dirinya dan meminta kepada-Ku. Apa yang diminta oleh hamba-Ku maka baginya sesuai yang diminta.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Shahih At-Targib, no. 627)

Muhammad bin Munkadir mengatakan, “Aku berusaha keras mengatasi diriku selama empat puluh tahun, sampai aku dapat konsisten.”

Tsabit Al-Bannani mengatakan, “Aku berjuang keras mengatasi  diriku untuk qiyamul lail selama dua puluh tahun. Dan aku baru dapat menikmatinya selama dua puluh tahun.”

Umar bin Abdul Aziz mengatakan,”Sebaik-baik amalan adalah apa yang tidak disukai oleh jiwa.”

Abdullah bin Mubarok mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang sholeh terdahulu itu membiasakan diri terhadap kebaikan. Sementara jiwa-jiwa kita hampir tidak dapat membiasakan (diri dalam kebaikan) kecuali dengan dipaksa. Maka selayaknya kita paksakan."

Qotadah mengatakan, “Wahai Bani Adam, jika engkau tidak ingin melakukan kebaikan kecuali dengan kesungguhnya, maka ketahuilah, jiwa anda condong bosan, malas dan jenuh. Akan tetapi orang mukmin itu dapat menanggung beban."

11.  Menjauhi dosa dan kemaksiatan. Kalau seorang muslim ingin mendapatkan kemuliaan bermunajat kepa Allah Ta’ala dan merasakan ketenangan dalam bezikir di kegelapan malam, maka hindarilah perbuatan dosa. Karena orang yang tercemar dengan kemaksiatan tidak akan mendapatkan taufiq untuk menunaikan qiyamul lail.

Seseorang bertanya kepada Ibrahin bin Adham, “Sesungguhnya saya tidak mampu menunaikan qiyamul lail, tolong saya diberikan obatnya?" Beliau menjawab, ”Jangan berbuat maksiat waktu siang hari, maka Dia akan membangungkan anda waktu malam hari. Karena berdirinya anda di hadapan-Nya waktu malam, termasuk kemuliaan yang agung. Sementara kemaksiatan tidak layak mendapatkan kemuliaan itu."

Seseorang bertanya kepada Hasan Al-Basri, “Wahai Abu Said, saya tidur dalam kondisi sehat. ingin menunaikan qiyamul lail saya telah persiapkan untuk bersuci, kenapa saya tidak dapat bangun?" Hasan menjawab, “Dosa-dosa anda yang mengikat anda." Beliau rahimahullah kemudian berkata, “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan suatu dosa, maka dia akan terhalang melakukan qiyamul lail dan puasa di siang hari."

Fudhail bin Iyad mengatakan,”Kalau anda tidak mampu melakukan qiyamul lail dan puasa di siang hari. Ketahuilah anda terhalangi dan terikat. Ikatan anda adalah dosa anda."

12.  Muhasabah (intropeksi diri) dan mengecam diri karena meninggalkan qiyam.

Intropeksi diri merupakan syiar orang saleh dan ciri orang jujur.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ibnu Qoyyim mengatakan, “Kalau seorang hamba akan ditanya dan dihisab segala sesuatu sampai pada pendengaran, penglihatan dan hatinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatn dan hari. Semuanya itu akan ditanyakan.” Maka seseorang lebih berhak untuk mengintropeksi diri sebelum di pertanggung jawabkan dalam hisab.

Qiyamul lail adalah bentuk ibadah yang mana hati berhubungan dengan Allah Ta’la dan mampu dapat mengalahkan godaan dunia fana. Dan berusaha keras di waktu suara tenang, mata tertidur dan orang-orang tidur berbolak-balik di atas ranjang. Oleh karena itu, qiyamul lail termasuk barometer keinginan kuat yang jujur, dan ciri jiwa besar. Allah telah menyanjung dan membedakan dengan orang lain dalam firman-Nya:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ  (سورة الزمر)

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Dan qiyamul lail hukunya sunnah muakad, Nabi sallallahu alaihi wa sallam sangat menganjurkan untuk menunaikannya dalam sabdanya:

عليكم بقيام الليل فإنه دأب الصالحين قبلكم ، ومقربة إلى ربكم ، ومكفرة للسيئات ، ومنهاة عن الإثم مطردة للداء عن الجسد  (رواه الترمذي وأحمد)

“Hendaknya anda semua (menunaikan) qiyamul lail, karena ia merupakan kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kamu. Dapat mendekatkan diri kepada Tuhanmu, pelebur kejelekan, tameng dari berbuat dosa, serta dapat menolak penyakit dari tubuh.” (HR. Tirmizi dan Ahmad)

Dalam hadits dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda: “Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah qiyamul lail.” Dan Nabi sallallahu’alaihi wa sallam telah menjaga qiyamul lail. Beliau tidak pernah meninggalkan, baik waktu safar maupun bermukim. Beliau sallallahu alaihi wa sallam berdiri menunaikan (shalat). Beliau, Anak Bani Adam yang telah diampunni dosanya yang lalu maupun berikutnya, sampai kakinya bengkak. Ketika dikatakan hal itu kepada beliau, maka beliau berkomentar, “Apakah saya tidak boleh menjadi hamba yang (pandai) bersyukur.” (HR. Muttafaq alaihi)

Begitu juga kondisi para salaf yang mulia semoga Allah merohmati semuanya.

Abu Darda radhiallahu anhu mengatakan, “Shalatlah dua rakaat di tengah malam untuk kegelapan di kubur.”

Ahmad bin Harb mengatakan, “Saya heran kepada orang yang telah mengetahui surga dihiasi di atasnya, sementara api neraka dinyalakan di bawahnya. Bagaimana dia data tidur diantara keduanya.”

Biasanyanya Umar bin Zar ketika melihat waktu malam telah tiba beliau mengatakan, “Telah datang waktu malam. Malam itu menakutkan, tapi Allah lebih berhak untuk ditakuti.”

Oleh karena itu Fudhoil bin Iyad mengatakan, “Saya mendapatkan suatu kaum yang merasa malu kepada Allah di gelapnya malam panjangnya panjangnya berbaring. Dia berbaring pada satu sisi, ketika bergerak dia mengatakan, ‘Ini bukan bagian anda, maka bangunlah, dan ambil bagian anda di akhirat.'

Hasan berkata, ”Saya tidak mengetahui suatu amalan yang sangat membutuhkan  perjuangan dibanding dengan  malam hari dan menafkahkan harta. Ketika ditanya kepadanya, “Kenapa orang yang sering melakukan tahajud wajahnya sangat bagus?" Beliau menjawab, “Karena mereka menyendiri dengan Ar-Rahman, maka Allah kenakan padanya cahaya  dari cahaya-Nya."

Dahulu para wanita salaf menunaikan tahajud dengan qiyamul lail, begadang untuk melakukan  ketaatan. Dimanakah para wanita sekarang ini dari amalan nan agung tersebut?

Urwah bin Zubair mengatakan, “Saya mendatangi Aisyah radhiallahu anha suatu hari untuk memberikan salam kepadanya, maka saya dapatkan beliau shalat dan membaca Firman Allah Ta’ala ( فمن الله علينا ووقانا عذاب السموم ) diulang-ulangi sambil menangis. Maka aku menunggunya, ketika merasa lama menunggu, aku pergi ke pasar untuk suatu keperluan kemudian aku kembali lagi ke Aisyah, ternyata keadaannya tetap seperti semula, mengulang-ulang ayat ini dalam shalatnya dan menangis."

Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, "Jibril mengatakan kepadaku. Kembalilah (rujuk) kepada Hafshah karena beliau sering berpuasa dan shalat." (HR. Hakim, Shahih Al-Jami; no. 4227)

Muadzah Al-Adawiyah dari kalangan tabiin yang sholehah waktu malam pengantin barunya menunaikan shalat bersama suaminya Shilah bin Usyaim sampai fajar. Ketika suami dan anaknya terbunuh di medan peperangan, beliau menghidupkan seluruh malam dengan shalat dan beribadah dan merendahkan diri (dihadapan Allah) dan tidur waktu siang. Ketika beliau mengantuk dalam shalat malamnya, dia mengatakan kepada dirinya, “Wahai jiwa, (waktu) tidur ada di depan anda.

Dahulu Habibah Al-Adawiyah ketika selesai shalat Isya, berdiri di atas atap rumahnya, beliau kenakan pakaian dan kerudungnya, kemudian berkata, “Wahai Tuhanku, bintang telah muncul, mata telah tidur, para raja telah menutup pintunya. Sementara pintu-Mu tetap terbuka. Dan masing-masing kekasih menyendiri dengan kekasihnya. Inilah aku berada di hadapan-Mu. Kemudian memulai dengan shalat dan munajat kepada Tuhannya sampai akhir malam. Ketika telah datang akhir malam, dia berkata, “Ya Allah, malam telah berlalu, dan siang akan datang. Duhai, apakah ibadah malamku diterima sehingga aku memberikan ucapan selamat, atau ditolak sehingga memberikan ucapan belasungkawa."

Umrah istri habib Al-Ajmi menunaikan shalat qiyamul lail suatu malam, sementara suaminya tertidur. Ketika telah mendekati akhir malam, suaminya masih tidur, beliau bangunkan dan mengatakan kepadanya,”Bangunlah wahai tuanku, malam telah lewat, dan siang telah datang. Di hadapanmu ada jalan panajang sementara bekal hanya sedikit. Kafilah orang-orang saleh telah berjalan di depan kita sementara kita tetap berdiam diri."

Kami memohon kepada Allah agar membantu kita dalam mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya  dan beribadah dengan baik. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi kita Muhammad.

Syekh Muhammad Shaleh Al-Munajjid