- » .
- » » .

49860: Seseorang Bertanya Tentang I’rab (Penjelasan Struktur Kata Dalam Kalimat) الصابئون Dan Bagaimana Cara Menjawab Orang Yang Berkata Itu Adalah Kesalahan Bahasa Yang Ada Di Dalam Al Qur’an ?


Saya ingin menjelaskan struktur kata “الصابئون “ dalam surat Al Maidah. Kenapa ditambah huruf “ و“, padahal pada ayat yang lain ditambah “ ي “, dan ada kemiripan dari kedua ayat tersebut. Hal ini telah menyebabkan perbedaan yang sengit antara saya dan seorang nasrani yang berakata: “Sungguh di dalam al Qur’an terdapat kesalahan dari sisi Nahwu (gramatika bahasa Arab)”. Saya berkata kepadanya: “Saya akan meninggalkan agama Islam jika benar terjadi satu kesalahan saja dari sisi bahasa dalam al Qur’an”. Perkataan saya ini karena sangat kuatnya iman saya kepada al Qur’an, dan yakin bahwa al Qur’an adalah kalamullah –subhanahu wa ta’ala-, suci dari tuduhan orang-orang pendusta.

Published Date: 2015-04-19

Alhamdulillah

Kata “ الصابئين “ dengan “ي  “ manshub (istilah gramatika bahasa Arab) di kedua surat al Baqarah dan al Hajj, dalam firman Allah –ta’ala-:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (سورة البقرة: 62)

“Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al Baqarah: 62)

Dan firman Allah yang lain:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (سورة الحج: 17)

“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al Hajj: 17)

Kata yang sama namun dengan “ و “ yang marfu’ (gramatika bahasa Arab) dalam surat al Maidah dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (سورة  المائدة: 69)

“Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. al Maidah: 69)

Adapun kedua ayat sebelumnya maka tidak ada masalah dari sisi I’rabnya (gramatika bahasa Arab); karena kata “الصابئين  “ sebagai ma’thuf (kata sambung) pada kata yang berkedudukan manshub yaitu: “الذين  “ sebagai isim “إنّ  “. Maka kata “الصابئين  “ adalah manshub yang tanda nashabnya adalah huruf ya’; karena sebagai jama’ mudzakkar salim.

Akan tetapi yang menjadi masalah adalah pada ayat ke-3 tepatnya pada surat al Maidah, karena kedudukan kata  “الصابئين  “ sebenarnya sama dengan kedua ayat sebelumnya, namun ternyata posisi kata tersebut adalah marfu’.

Para ahli nahwu dan ahli tafsir telah menyebutkan beberapa penjelasan dari masalah tersebut, mereka juga menyebutkan contoh yang serupa yang dikenal dalam bahasa Arab, kami cukupkan di sini dengan tiga hal yang paling populer:

Pertama:

Bahwa dalam ayat tersebut ada yang diawalkan dan ada yang diakhirkan, maka atas dasar itu bahwa redaksi sebenarnya (selain dalam al Qur’an) adalah:

إن الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى ، من آمن بالله ...فلا خوف عليهم ، ولاهم يحزنون ، والصابئون كذلك

“Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah…… maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati dan para shabiin juga demikian”.

Jika redaksinya demikian maka kata “الصابئون  “ I’rabnya adalah sebagai mubtada’ marfu’ dan tanda rafa’nya adalah “ الواو “ karena ia adalah jama’ mudzakkar salim. Dan yang semisal dengan ini dalam bahasa Arab adalah perkataan sebuah syair yang menyatakan:

فمن يك أمسى بالمدينة رحله فإني وَقَيَّار ٌبها لغريب

“Barang siapa yang hewan tunggangannya berada di kota sampai sore, maka saya dan unta saya siap (mengangkut) untuk orang asing”.

Yang menjadi dasar dari masalah ini adalah kata “قيار  “ adalah nama dari seekor kuda atau untanya. Kata ini kedudukannya sebagai isim marfu’ sebagai mubtada’, tidak berkedudukan manshub sebagai ma’thuf pada isim “ إنّ  “ yaitu ya’ mutakallim (kata ganti saya) pada kalimat: “ فإني “.

Kedua:

Bahwa kata “ الصابئون “ sebagai mubtada’, dan kata “النصارى  “ ma’thuf ‘alaihi, dan kalimat “من آمن بالله  “ adalah khobar dari “ الصابئون “, adapun khobar “ إنّ  “ adalah mahdzuf yang menjadi cirinya adalah khobar mubtada’ “ الصابئون “. Dan yang semisal dengan ini dari ungkapan bahasa Arab adalah:

نحن بما عندنا ، وأنت بما عندك راضٍ ، والأمر مختلف

“Kami ridha dengan apa yang kami miliki, dan kamu ridha dengan apa yang kamu miliki dalam urusan yang berbeda”.

Yang menjadi dasar dari masalah ini adalah bahwa mubtada’ “نحن  “ tidak disebutkan khobarnya, cukup dengan khobar ma’thuf “أنت  “, maka khobarnya adalah “راض  “ yang menunjukkan sebagai khobar mubtada’ awal, yang redaksi sebenarnya adalah:

نحن بما عندنا راضون ، وأنت بما عندك راض

““Kami ridha dengan apa yang kami miliki, dan kamu ridha dengan apa yang kamu miliki”.

Ketiga:

Bahwa “ الصابئون “ ma’thuf pada kedudukan isim “إنّ  “, maka huruf-huruf “إنّ  “ dan saudaranya masuk pada kalimat ismiyah yang terdiri dari mubtada’ dan khobar, isim “إنّ  “ kedudukan aslinya sebelum dimasuki “إنّ  “ ia adalah marfu’ sebagai mubtada’. Dari sisi inilah kata “ الصابئون “ adalah marfu’ karena ia adalah ma’thuf pada kedudukan asli dari isim “إنّ  “. (Baca: “Audhahul Masalik / Ibnu Hisyam / Syarah Muhyiddin: 1/352-366, dan Tafsir Asy Syaukani dan al Alusi pada penafsiran ayat ini)

Apa yang anda sebutkan tentang kuatnya keyakinan anda dan tsiqahnya anda pada kalamullah –subhanahu wa ta’ala- adalah kewajiban dari setiap muslim. Allah –ta’ala- berfirman:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافاً كَثِيراً (سورة النساء: 82)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An Nisa’: 82)

Syekh Ibnu ‘Asyur –rahimahullah- berkata dalam tafsirnya:

“Selanjutnya… Dan di antara kewajiban yang harus diyakini bahwa redaksi ayat di atas memang begitulah yang diturunkan oleh Allah, dan seperti itulah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyampaikan kepada umatnya, dan seperti itu pula redaksi yang diterima oleh kaum muslimin, juga telah ditulis di dalam mushaf-mushaf, sedangkan mereka semua adalah orang Arab yang asli, kita juga memiliki dasar dalam ungkapan bahasa Arab tentang macam-macam ma’thuf yang serupa dengan ayat di atas meskipun penggunaannya tidak banyak dipakai, namun redakssi tersebut termasuk redaksi yang fashih dan ringkas”.

Ibnu ‘Asyur menilai dari sisi manfaat dari sisi Balaghah dengan digunakannya kata “الصابئون  “ sebagai marfu’, ia berkata apa artinya ?

“Sungguh marfu’ pada redaksi ini adalah asing, maka seorang yang membaca akan terhenti pada kata tersebut dan bertanya: Kenapa isim ini marfu’?, padahal biasanya pada redaksi seperti ini adalah seharusnya manshub ?

Maka hendaknya dijawab: “Keasingan akan marfu’nya kata “الصابئون  “ sesuai dengan keasingan masuknya orang-orang shabiin termasuk yang dijanjikan mendapatkan ampunan; karena mereka menyembah planet-planet, mereka sebenarnya lebih jauh dari petunjuk (hidayah) dari pada orang-orang Yahudi dan Nasrani sampai hampir saja mereka berputus asa akan dijanjikan pengampunan dan keselamatan, maka hal itu diperingatkan bahwa pengampunan Allah begitu agung, mencakup semua orang yang beriman kepada Allah, hari kiamat, dan beramal shaleh meskipun dari kalangan orang-orang shabiin”. (Baca: Tafsir ayat al Maidah dari “Tafsir Ibnu ‘Asyur”)

Dan untuk mengetahui siapa sebenarnya mereka orang-orang shabiin?, baca jawaban soal nomor: 49048.

Akan tetapi tetap memiliki pelajaran berharga bagi kita yang tidak selayaknya ditinggalkan pada konteks ini:

Pertama:

Kita semua hendaknya menaruh perhatian khusus pada ilmu agama (syar’i); tidak cukup seseorang hanya berpegang teguh pada apa yang dimiliki dari keyakinan sebelumya, meskipun itu menjadi sebaik-baik tempat kembali dan tempat berlindung, akan tetapi jika ditambah dengan pengetahuan ilmu syar’i –insya Allah- akan menambah rasa aman dari goncangan keimanan di hadapan syubhat dan semisalnya yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam.

Kedua:

Mengundang perhatian kami tentang sikap seperti ini yang kurang peduli akan besarnya kewajiban terhadap al Qur’an, yaitu: kewajiban mentadabburi dan mempelajari, dan tidak hanya sebatas membacanya. Allah –ta’ala- berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الأَلْبَابِ (سورة ص: 29)

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”. (QS. Shaad: 29)

Syekh Ibnu as Sa’di –rahimahullah- berkata:

“Inilah hikmah diturunkannya al Qur’an, agar manusia mengambil pelajaran pada ayat-ayatnya, mengeluarkan ilmunya, memperhatikan rahasia-rahasia dan hikmahnya, karena dengan mentadabburinya dan memahami maknanya dan memikirkannya berulang-ulang, anda akan mendapatkan berkah dan kebaikannya. Inilah yang menjadikan kita disuruh untuk mentadaburi al Qur’an, itulah sebaik-baik amal. Bacaan yang disertai dengan pemahaman lebih baik dari bacaan cepat yang jauh dari tujuan tersebut. Yang menjadi dasar dari semua ini adalah apa yang telah disebutkan di atas, yaitu; jika kita semua melaksanakan kewajiban tadabur ini secara berkala, maka tidak lah ayat-ayat seperti ayat di atas akan menjadikan kita terhenti, untuk bertanya dan membahasnya sebelum menghadapi masalah dengan musuh-musuh kita.

Ketiga:

Jika kita melaksanakan kedua kewajiban di atas, maka kita sudah siap bersegera untuk mengambil kendali untuk berdakwah kepada non muslim dan menyingkap tabir pada mereka dengan cara yang baik, mengungkap kebatilan yang mereka miliki, dari pada kita berada pada ranah membela diri yang menjadi ciri dari kelemahan dan kekalahan.

Allah lah pemilik taufiq dan hidayah.

Soal jawab tentang Islam
Create Comments