Senin 12 Shofar 1443 - 20 September 2021
Indonesian

Arti dari Sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- : “Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu”.

Pertanyaan

Saya berharap dari Anda yang terhormat agar menjelaskan kepada saya apa arti dari: “dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu” dalam sabda Nabi –shallallau ‘alaihi wa sallam- saat bersujud:

اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك وبمعافاتك من عقوبتك وأعوذ بك منك لا أحصي ثناءً عليك أنت كما أثنيت على نفسك

“Ya Allah, sungguh aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari pada murka-Mu, dan dengan ampunan-Mu dari hukuman siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu sebagaimana pujian-Mu sendiri atas diri-Mu”.

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Shohihnya (751), dari ‘Aisyah berkata: “Aku kehilangan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada suatu malam dari tempat tidur beliau, maka aku mencari beliau seraya tanganku menempel pada tengah telapak kaki beliau, sementara beliau ada di masjid dan kedua (telapak kaki) tersebut dalam kondisi tegak berdiri, dan beliau bersabda:

  اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ 

“Ya Allah, sungguh aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari pada murka-Mu, dan dengan ampunan-Mu dari hukuman siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu sebagaimana pujian-Mu sendiri atas diri-Mu”.

Al Munawi –rahimahullah- berkata:

“Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu”, maksudnya dengan rahmat-Mu dari hukuman siksa-Mu, karena apa yang dimintai perlindungan dari-Nya itu bersumber dari kehendak dan ciptaan-Nya, dengan seizin dan keputusan-Nya, Dia-lah yang telah menyebabkan terjadinya sebab-sebab yang bisa diambil manfaat darinya, baik secara penciptaan ataupun secara kauniyah, dan Dia-lah yang melindungi darinya dan menolak keburukannya baik secara penciptaan maupun secara kauniyah”. (Faidhul Qadiir Syarh al Jami’ as Shaghir: 2/176)

Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata:

“Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu” berlindung dengan sifat ridho dari pada sifat murka, dan dengan perbuatan mengampuni dari pada perbuatan memberi hukuman, dan berlindung kepada-Nya dari dua sisi, dan seakan berlindung kepada-Nya dengan menggabungkan apa yang terpisah dari dua kalimat sebelumnya; karena berlindung kepada-Nya akan kembali kepada makna ucapan sebelumnya disertai kandungan manfaat yang mulia, dan itulah kesempurnaan tauhid, dan yang dimintai perlindungan oleh orang yang berlindung dan lari darinya hanyalah perbuatan Allah, kehendak dan kekuasaan-Nya, hanya Dia semata yang menentukan hukum, maka jika Dia menginginkan seorang hamba-Nya keburukan, maka Dia tidak menjadikannya berlindung kecuali Dia, karena Dia-lah yang menginginkan apa yang buruk menimpanya, dan Dia juga yang menginginkan untuk menolak darinya, maka Allah subhanah menjadi tempat berlindung dari dua sisi kehendak-Nya:

  وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ  

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia”. (QS. Al An’am: 17)

Jadi Dia-lah yang menimpakan bencana, dan Dia juga yang menghilangkannya, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, maka tempat berlari dari-Nya menuju kepada-Nya, lari dari-Nya menuju kepada-Nya, tempat berlindung dari-Nya menuju kepada-Nya, sebagaimana berlindung kepada-Nya, karena tiada Rabb melainkan Dia, dan tidak ada yang mengatur seorang hamba kecuali Dia, Dia-lah yang menggerakkan, membolak-balikkan, merubah sesuai dengan kehendak-Nya”. (Thoriq Al Hijratai wa Bab as Sa’adatain: 1/431)

Wallahu A’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam