Rabu 18 Muharrom 1446 - 24 Juli 2024
Indonesian

Penafsiran Firman Allah Ta’ala إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19).

Pertanyaan

Bagaimanakah penafsiran ayat:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19).

Ringkasan Jawaban

Islam dalam makna umumnya adalah tunduk dan berserah diri serta taat kepada Allah, Tuhan semesta alam, beribadah kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya. Sementara Islam dalam makna khususnya adalah agama yang dibawa oleh Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ’Aliahi wa Sallam. Allah tidak akan menerima agama selain Islam dari siapapun.

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19).

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya, kecuali Islam yang maknanya adalah patuh dan berserah diri serta tunduk kepada Allah Ta’ala, beribadah kepada-Nya semata, beriman pada-Nya, beriman pada para Rasul-Nya, beriman pada ajaran yang mereka (para Rasul) dibawa dari sisi Allah. Setiap Rasul itu mempunyai aturan dan jalan yang terang. Allah mengakhiri para Rasul itu dengan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah mengutusnya untuk seluruh manusia. Allah tidak akan menerima agama dari siapapun selain dari agama Islam, yang dibawa oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

Orang-orang beriman dari kalangan pengikut para nabi terdahulu semuanya itu Muslim (beragama Islam) dalam makna umumnya. Mereka akan masuk surga dengan keislamannya. Kalau salah seorang di antara mereka mengetahui pengutusan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka tidak akan diterima agama darinya kecuali dia mengikuti agama Islam.

Qatadah dalam menafsiri ayat ini mengatakan, “Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah, menetapkan ajaran yang dibawa dari sisi Allah yaitu agama Islam yang telah disyariatkan untuk diri-Nya. Allah mengutus para utusan-Nya dengan membawa Islam. Para wali (kekasih) Allah menunjukkan Islam. Allah tidak menerima selain agama Islam dan tidak memberikan pahala, kecuali dengan Islam.”

Abul Aliyah mengatakan, “Islam adalah ikhlas karena Allah semata, dan beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya.” (Tafsir At-Thabari, 6/275).

Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan, ”Firman-Nya,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19).

adalah pemberitahuan dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama disisi-Nya yang diterima dari seseorang kecuali agama Islam. Yaitu mengikuti ajaran para rasul yang telah diutus oleh Allah pada setiap kesempatan, hingga diakhiri dengan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menutup semua semua jalan yang menuju kepada-Nya kecuali dari arah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Siapa yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan agama yang bukan dari syariat-Nya, maka ia tidak akan diterima, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85).

Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa agama yang diterima di sisi-Nya terbatas pada agama Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19).

Tafsir Ibnu Katsir (2/25).

Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah mengatakan, “Az-Zajjaj mengatakan, ‘Agama adalah nama untuk semua yang dengannya makhluk menyembah Allah, dan memerintahkan mereka untuk menegakkannya serta dengannya mereka akan diberi balasan.’

Syaikh Ali bin Ubidillah mengatakan, ‘Agama adalah sesuatu yang dikomitmenkan oleh seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla.’

Ibnu Qutaibah mengatakan, ‘Islam adalah masuk ke dalam kedamaian. Artinya, kedamaian dalam ketundukan dan mengikuti Rasulullah. Makna yang semisalnya adalah berserah diri. Jika dikatakan, ‘Salima Fulanun Li Amrika wa Istaslama wa Aslama (Fulan menyerahkan diri pada perintahmu dan masuk Islam). (Kitab Zadul Masir, 1/267).

As-Sa’di Rahimahullah mengatakan, “Allah mengabarkan,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19).

artinya adalah agama yang tidak ada agama di sisi Allah selainnya dan tidak diterima selainnya adalah Islam. Yaitu tunduk kepada Allah semata lahir dan batin dengan apa yang disyariatkan melalui lisan para Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85).

Siapa yang beragama selain agama Islam, maka dia hakikatnya belum beragama kepada Allah, karena dia tidak menapaki jalan yang telah disyariatkan melalui lisan para Rasul-Nya.” (Kitab Tafsir As-Sa’di, hal. 964).

Ibnu Utsaimin Rahimahullah mengatakan, “Islam dengan makna umumnya adalah beribadah kepada Allah dengan apa yang disyariatkan semenjak diutusnya para Rasul hingga terjadinya hari Kiamat. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa syariat-syariat yang lalu semuanya adalah memasrahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman tentang Ibrahim,

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS. Al-Baqarah : 128).

Dan Islam dengan makna khususnya setelah diutusnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dikhususkan pada ajaran yang Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus, karena ajaran yang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus menghapus semua agama yang lama. Maka orang yang mengikutinya menjadi muslim, dan orang yang menyalahinya bukan muslim. Para pengikut para Rasul terdahulu adalah seorang Muslim pada zaman para Rasul tersebut. Orang Yahudi itu Muslim pada zaman Nabi Musa Alaihis Salam. Orang Nasrani itu juga Muslim pada zaman Isa Alaihis Salam. Sementara ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus, mereka semua kafir (mengingkarinya). Maka mereka semua bukan kaum Muslimin.

Agama Islam ini adalah agama yang diterima di sisi Allah, yang bermanfaat bagi pemeluknya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran : 19).

Dan firman-Nya,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85).

Agama Islam ini adalah agama yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan umatnya. Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِينا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah : 3).

(Kitab Syarh Tsalatsatul Usul, hal. 20).

Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullah mengatakan, “Agama para Nabi ‘Alaihimus Shalatu Was Salam adalah agama yang satu, meskipun syariatnya berbeda-beda. Allah Ta’ala berfirman,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. As-Syura : 13).

Dan firman Allah,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mukminum : 51-52).

Dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إنا معاشر الأنبياء ديننا واحد، والأنبياء أخوة لعلات

“Sesungguhnya kami para Nabi agama kami itu satu, dan para nabi itu saudara seayah.”

Agama para nabi itu adalah agama Islam.  Allah tidak akan menerima agama selainnya. Yaitu penyerahan total kepada Allah dengan tauhid, tunduk dengan ketaatan dan membebaskan diri dari kesyirikan dan pelaku syirik.

Allah Ta’ala berfirman tentang Nuh,

وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“...dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)." (QS. Yunus : 72).

Allah berfirman tentang Ibrahim,

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". (QS. Al-Baqarah : 131).

Allah berfirman tentang Musa,

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

“Berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." (QS. Yunus : 84).

Allah berfirman tentang Nabi Isa,

وَإِذْ أَوْحَيْتُ إِلَى الْحَوَارِيِّينَ أَنْ آمِنُوا بِي وَبِرَسُولِي قَالُوا آمَنَّا وَاشْهَدْ بِأَنَّنَا مُسْلِمُونَ

Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku." Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." (QS. Al-Maidah : 111).

Allah telah berfirman tentang para Nabi terdahulu dan tentang Taurat,

يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا

yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah,” (QS. Al-Maidah : 44).

Allah berfirman tentang Ratu Saba’,

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (QS An-Naml : 44).

Maka Islam adalah agama para nabi semuanya. Yaitu menyerahkan secara penuh kepada Allah semata. Barangsiapa yang menyerahkan secara penuh kepada-Nya dan kepada yang lainnya, maka ia termasuk musyrik. Dan siapa yang tidak menyerahkan secara penuh, maka dia termasuk orang sombong. Dan setiap orang musyrik dan orang sombong dari penghambaan kepada Allah itu adalah kafir.

Menyerahkan diri secara penuh kepada Allah mengandung peribadatan kepada-Nya semata, hanya mentaati-Nya semata, yaitu patuh pada setiap waktu dengan melakukan apa yang diperintahkan pada waktu itu. Ketika pada permulaan Islam diperintahkan agar menghadap ke Baitul Maqdis, kemudian setelah itu diperintahkan menghadap ke Ka’bah, maka kedua perintah tersebut ketika diperintahkan termasuk dalam Islam. Agama adalah ketaatan. Kedua perbuatan itu termasuk ibadah kepada Allah, meskipun ada variasi dalam melakukannya yaitu arah orang yang shalat.

Begitu juga para Rasul. Agama mereka satu, meskipun berbeda syariat dan manhajnya, arah dan ibadahnya. Hal itu tidak menghalangi bahwa agamanya satu. Sebagaimana hal itu tidak menghalangi syariat Rasul itu satu. Seperti yang kita contohkan tadi. Menghadap ke Baitul Maqdis awalnya, kemudin menghadap ke Ka’bah yang berikutnya dalam syariat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Agama para nabi itu satu, meskipun syariatnya berbeda-beda. Terkadang Allah mensyariatkan -pada suatu waktu- suatu urusan karena ada hikmahnya, kemudian menyariatkan urusan lain pada waktu lainnya karena juga ada hikmahnya. Maka mengamalkan syariat yang telah dihapus sebelum penghapusannya adalah ketaatan kepada Allah. Setelah dihapus, maka harus mengamalkan syariat yang menghapusnya. Siapa yang masih berpegang teguh dengan syariat yang telah dihapus (Mansukh) dan meninggalkan syariat yang menghapus (Nasikh), maka dia tidak termasuk dalam agama Islam, juga tidak termasuk pengikut salah satu dari para Nabi. Oleh karena itu orang-orang Yahudi dan Nasrani (dihukumi) kafir, karena mereka berpegang teguh dengan syariat yang telah dihapus dan diganti.

Allah Ta’ala mensyariatkan setiap umat sesuai dengan kondisi dan waktunya, cukup memperbaiki kondisinya dan mencakup kemaslahatannya. Kemudian Allah menghapus  syariat yang dikehendaki-Nya itu karena telah selesai masanya, hingga Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad sebagai penutup para Nabi untuk seluruh manusia di atas muka bumi sepanjang masa hingga hari kiamat. Allah membuatkan syariat untuknya, yang mencakup dan relevan untuk tiap waktu dan tempat. Syariat ini tidak akan diganti dan tidak akan dihapus. Maka semua penduduk bumi tidak bisa kecuali harus mengikutinya dan beriman kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً

Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua,” (QS. Al-A’raf : 158).

Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad, hal. 194. Silahkan lihat pertanyaan no. 172775 .

Wallahu A’lam.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam