Donasi untuk situs islamqa.info

Kami memohon donasi dengan suka rela untuk mendukung situs ini, agar situs anda -islamqa.info – berkelanjutan dalam melayani Islam dan umat Islam insyaallah

Makna Bahwa Allah Ta'ala Ada Di Langit

17-11-2012

Pertanyaan 131956

Saya mendengar sebagian dari orang yang menafikan bahwa Allah Ta'ala di langit, dia mengatakan, bahwa langit akan binasa, Allah yang maha suci tidak akan mengambil tempat di sana. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Langit bersuara keluh dan dia berhak demikian, tidak ada satu tempat di dalamnya kecuali di sana ada malaikat yang sedang berdiri (shalat), ruku atau sujud." Maha Suci Allah jika mengambil tempat di antara malaikat-Nya.

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Perkataan yang disebutkan dalam pertanyaan adalah hak (benar), namun yang dikehendaki adalah batil (rusak). Bagian yang hak adalah bahwa Allah tidak mengambil di langit juga tidak mengambil tempat di antara malaikat-Nya. Namun yang batil dari ungkapan tersebut adalah kehendak untuk menafikan sifat tinggi bagi Allah Ta'ala di atas makhluk-Nya. Dan menggiring orang-orang dengan pemahaman bahwa Ahlussunah wal jamaah, jika mereka mengatakan, 'Sesungguhnya Allah berada di atas langit' maknanya adalah bahwa langit akan meliputinya dan melindunginya.

Pernyataan semacam ini tidak ada seorang pun dari kalangan Ahlussunnah yang mengatakan demikian.

Ahlussunnah mengatakan bahwa Allah berada di langit bukan bersumber dari bait seorang penyair, juga bukan dari sebuah prosa yang fasih. Akan tetapi mereka mengatakan demikian dan meyakininya karena bersumber dari firman Allah Ta'ala dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.  

Untuk mengetahui dalil-dalil tentang tingginya Allah Ta'ala di atas makhluk-Nya, silakan lihat jawaban soal no. 992 dan 124469

Untuk membantah tuduhan yang terdapat dalam soal tersebut, maka kami katakan, bahwa lafaz 'السماء' memiliki dua makna; Pertama: Tinggi. Kedua: Benda makhluk yang telah dikenal, yaitu lagit-langit yang terpelihara. Maka jika Ahlussunah mengatakan, 'الله في السماء' maka yang dimaksud 'السماء' di sini adalah 'العلو' (tinggi). Siapa yang memahami bahwa 'السماء' adalah benda yang dikenal, maka berarti arti 'في' dalam kalimat tersebut bermakna 'على' (di atas).

Al-Hafiz Ibnu Al-Bar rahimahullah berkata, "Adapun firman Allah Ta'ala,

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ  (سورة الملك: 16)

"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?" (QS. Al-Mulk: 16)

Maknanya adalah "Siapa yang di atas langit." Maksudnya adalah di atas Arasy.

Boleh jadi 'في' (di dalam) memiliki makna 'على' (di atas). Bukankah anda memperhatikan firman Allah Ta'ala, 

فَسِيحُوا فِي الْأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ(سورة التوبة: 2)

"Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan." (QS. At-Taubah: 2)

Maksudnya adalah (berjalan) di atas muka bumi.

Begitu pua firman-Nya

وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ   (سورة طه: 71)

"Dan Sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma." (QS. Thaha: 71) 

At-Tamhid, 7/130

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, "Makna bahwa Allah di langit maksudnya adalah di atas langit. Karena makna 'في' (di dalam) di sini adalah 'على' (di atas). Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala, 

قل سيروا في الأرض

"Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu." (QS. Al-An'am: 11) 

Dapat juga makna 'في' di sini adalah zharfiah (menunjukkan berada di suatu tempat). Maka makna  'السماء' ketika itu adalah 'tinggi'. Maka maknanya adalah bahwa Allah berada di ketinggian. 'السماء' dapat juga bermakna 'tinggi' sebagaimana firman Allah Ta'ala, 

أنزل من السماء ماء

Tidak benar jika 'في' bermakna zarfiyah (berada di suatu tempat) jika makna 'السماء' adalah benda fisik yang tampak. Karena jika demikian mengisyaratkan bahwa langit meliputi Allah. Ini jelas makna yang batil. Karena Allah maha besar, tidak ada sesuatupun dari makhluknya yang meliputinya."

(Majmu Fatawa Syekh Al-Utsaimin, 4/283)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, "Kalangan salaf dan para imam  serta seluruh ulama sunah, ketika mereka mengatakan, "Sesungguhnya Dia (Allah) di atas Arasy" dan bahwa "Dia di atas langit di atas segala sesuatu." Mereka tidak mengatakan bahwa ada sesuatu yang meliputinya atau menampungnya atau menjadi tempat baginya. Maha suci Allah Ta'ala dari semua itu. Akan tetapi Dia berada di atas segala sesuatu, Dia tidak membutuhkan segala sesuatu, justeru segala sesuatu yang membutuhkan-Nya, Dia tinggi dari segala sesuatu, Dia menguasa Arasy dan Dia yang menguasai pembawa Arasy, dengan kekuatan-Nya, atau kekuasaan-Nya, seluruh makhluk membutuhkan-Nya, Dia tidak membutuhkan Arasy, juga tidak membutuhkan seluruh makhluk.

Apa yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunah berupa firman-Nya,

(أأمنتم من في السماء)

Dan ayat semacamnya, maka sebagian dari mereka memahami bahwa yang dimaksud 'السماء' adalah jenis makhluk yang tinggi, lebih tinggi dari Arasy dan apa yang ada di bawahnya. Mereka berkata, maksud ucapan 'في السماء' maknanya adalah 'على السماء' (di atas langit). Sebagaimana firman-Nya,

ولأصلبنكم في جذوع النخل

"Dan Sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma." (QS. Thaha: 71)

Maksudnya adalah di atas batang pohon korma.

Juga sebagaimana firman-Nya,

فسيروا في الأرض (سورة آل عمران: 137)

"Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi." (QS. Ali Imran: 137)

Sebenarnya tidak perlu menafsirkannya demikian. Akan tetapi yang dimaksud 'السماء' adalah nama untuk menunjukkan ketinggian. Maka ucapan 'في السماء' maknanya adalah 'في العلو دون السفل' (Dalam ketinggian, bukan di bawah). Dialah yang Maha Tinggi dan paling tinggi. Baginya yang paling tinggi di atas yang tinggi. Dia di atas Arasy, tidak ada selain-Nya di sana. Dia maha tinggi dan paling tinggi. Maha suci Allah dan maha tinggi."

(Majmu Fatawa, 16/100-101)

Wallahua'lam.

Nama-nama dan Sifat-sifat
tampilan di situs islamqa.info