Rabu 18 Muharrom 1446 - 24 Juli 2024
Indonesian

Terkena Penyakit Was-was Dalam Bersuci

Pertanyaan

Seorang wanita mendapatkan ujian Allah dengan was-was dalam bersuci dan ada perasaan menahan buang angin setelah berwudhu. Suatu hari saya merasa ada yang memerintah untuk menghina Al-Qu’ran dan menghina Allah, setelah itu dia menangis. apa obat agar terlepas dari was-was ini?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Banyak sekali orang yang terkena penyakit was-was, tiada daya upaya  kecuali dari Allah. pengobatan was-was adalah memperbanyak berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Terutama dengan membaca dua surat pelindung (surat Al-Falaq dan An-Nas), sesungguhnya tidak sesuatu bacaan untuk perlindungan yang sebanding (keumtaamannya) seperti kedua surat ini.

قل أعوذ برب الفلق

سورة  الفلق/1 إلى آخرها

“Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,” (QS. Al-Falaq: 1 sampai akhir surat)

Ayat ini mengandung perlindungan dari kejahatan Setan. Karena setan termasuk di antara makhluk-makhluk Alah. Dan dalam surat An-Nas:

قل أعوذ برب الناس

سورة  الناس/1 إلى آخرها

“Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (QS. An-Nas: 1 sampai akhir surat)

Maka obat hal itu adalah dengan berlindung dengan nama Allah dari Setan yang terkutuk. Kembali kepada Allah tabaroka wa ta’ala. Berkeinginan kuat dengan benar, dimana seseorang tidak lagi menghiraukan perasaan was was yang muncul di hatinya.

Contohnya ketika berwudhu sekali atau dua kali atau tiga kali, maka jangan hiraukan was-was  setan. Meskipun kadang ada perasaan pada diri manusia seakan dia belum berwudhu, atau ada anggota wudhu belum dibasuh, atau dia belum berniat. Maka jangan hiraukan hal itu. Begitu juga ketika dalam shalatnya dia merasakan atau terjadi pada dirinya bahwa dia belum bertakbiratul ihram, maka jangan hiraukan dan lanjutkan serta  sempurnakan shalatnya.

Begitu juga jika ada lintasan dalam hatinya apa yang disebutkan tadi dengan menghina Allah azza wajalla, atau menghina mushaf atau prilaku kekufuran lainnya, maka jangan hiraukan hal itu dan jangan sampai mengganggunya. Bahkan jika seandainya terjadi hal ini terucap oleh mulutnya tanpa sadar, maka hal itu tidak ada apa-apa. Karena Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

لاَ طَلَاق َفي إِغْلاَق  (أخرجه أبو داود، رقم 2193 وأحمد في المسند، 6/276 وحسنه الألباني في الإرواء رقم 2047)

“Tidak (jatuh) perceraian ketika tertutup akalnya (kondisi sangat marah).” (HR. Abu Daud, no. 2193 dan Ahmad dalam Al-Musnad, 6/276 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam kitab Al-Irwa, no. 2047)

Kalau perceraian orang yang was was itu tidak jatuh, maka hal ini lebih utama lagi. Tetapi hendaknya dia tinggalkan dan jangan diperhatikan.

Maka nasehatku terhadap orang ini dan orang lainnya yang terkena ujian (was-was) hendaknya dia memperbanyak berlindung dengan nama Allah dari setan terkutuk, juga dengan membaca dua surat nan agung (Al-Falaq dan An-Nass), punya keinginan kuat dan jujur (untuk meninggalkan was was) serta tidak meghiraukan was-was setan itu.

Jika setan membisikkan dalam hatinya ada keraguan terhadap Allah atau semisal itu, jangan diperhatikan. Karena tidak ada yang merasa terganggu dari keraguan ini kecuali karena ada keimanan dalam hatinya. Orang yang tidak beriman tidak akan memperdulikan perasaan ragu-ragu atau tidak ragu-ragu. Akan tetapi yang meraskan sakit dari keraguan ini dan ada was-was itu adalah orang yang beriman.

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada shahabat,

ذلك صريح الإيمان  (رواه مسلم، رقم 132)

“Itu adalah keimanan yang jelas.” HR. Muslim, 132.

Maksudnya apa yang dihembuskan setan dalam hati kamu tentang semua hal semacam ini itu adalah pertanda keimanan yang jelas, maksudnya iman yang murni atau keimanannya dijadikan murni. Karena apa yang ada dalam hatinya berupa keragu-raguan dan dia tidak tenang dengan keraguan ini dan tidak menghiraukannya  dan dia merasa terganggu serta tidak menginginkan hal itu (semua itu menunjukkan adanya iman dalam hati). Karena setan tidak mendatangi kecuali hati yang hidup (dengan iman) agar dia dapat merusaknya. Adapun kalau hati telah rusak tidak perlu setan datangi karena dia telah rusak.

Dikatakan kepada Ibnu Abbas atau Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya orang Yahudi mengatakan, bahwa kami tidak pernah merasakan was was dalam shalat kami,’ beliau menjawab,

نعم ، وما يفعل الشيطان بقلب خراب

“Ya. Apa yang mau dilakukan setan terhadap hati yang telah rusak .”

Maka wasiatku kepadanya agar berpaling dari semua ini. Awalnya akan merasakan sakit. Akan anda lihat bahwa dia shalat tanpa bersuci atau shalat tanpa takbiratul ihram atau semisal itu. Akan tetapi setelah itu dia akan merasa lega dan akan hilang keraguan dan was-was dengan izin Allah.

Segala pujian hanya milik Allah, disana banyak orang mengeluh dengan keluhan ini dan disampaikan  agar dia melakukan perlawanan yang selayaknya, maka Allah menyembuhkannya. Kami mohon kepada Allah semoga Allah berikan dia kesembuhan.

Refrensi: Kitab Liqoat Al-Bab Al-Maftuh karangan Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin. Hal. 14.