Jum'ah 6 Rabi'uts Tsani 1440 - 14 Desember 2018
Indonesian

Apakah Diharuskan Mencintai Khulafa Rasyidin Lebih Besar Dibanding Keluarga dan Anak-anak?

172195

Tanggal Tayang : 07-03-2016

Penampilan-penampilan : 831

Pertanyaan

Saya tahu bahwa kita diwajibkan mencintai Rasulullah saw lebih besar dibanding cinta terhadap kedua orang tua, anak-anak dan isteri. Atas karunia Allah, Rasulullah lebih saya cintai dari segala apapun di dunia ini. Akan tetapi, terkait dengan Khulafaurrasyidin, apakah wajib mencintai mereka melebihi cinta terhadap anak dan keluarga? Karena saya mencintai Abu Bakar Ash-Shidiq lebih dari segala apapun di dunia ini sesudah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mohon jawabannya.

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Mencintai shahabat secara umum merupakan salah satu kewajiban agama dan merupakan salah satu amal utama di sisi Allah Ta’ala. Hal tersebut ditunjukkan oleh dalil-dalil syari’I, di antaranya;

Pertama: Dari Al-Barra bin Azib radhiallahu anhu dia berkata, ‘Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الأَنْصَارُ لاَ يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ ، وَلاَ يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ ، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ (رواه البخاري، رقم 3783، ومسلم، رقم 75)

“Orang-orang Anshar, tidaklah mencintai mereka kecuali dia orang beriman, tidaklah membenci mereka kecuali dia orang munafik. Siapa yang mencintai mereka, Allah akan mencintainya. Siapa yang membenci merka, Allah akan membencinya.” (HR. Bukhari, no. 3783 dan Muslim, no. 75)

Kedua: Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu dia berkata,

وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ ، وَبَرَأَ النَّسَمَةَ ، إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيَّ : أَنْ لَا يُحِبَّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ ، وَلَا يُبْغِضَنِي إِلَّا مُنَافِقٌ (رواه مسلم ، رقم 78)

“Demi Yang memecahkan biji, dan menciptakan jiwa. Sesungguhnya janji Nabi Al-Ummi sallalahu’alaiahi wa sallam kepadaku, “Bahwa tidak ada yang mencaiku melainkan dia orang mukmin dan tidaklah membenciku kecuali dia orang munafik. (HR. Muslim, no. 78).

Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya, “Apakah mencintai Abu Bakar dan Umar merupakan sunah?” Beliau berkata, “Tidak, dia adakah kewajiban.” (HR. Allaalika’I, dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah, 7/1312)

Ath-Thahawi rahimahullah berkata,

“Kami mencintai para shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan kita tidak berlebih-lebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka serta tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka. Kita membenci siapa yang membenci mereka dan menyebut mereka dengan tidak baik. Kita tidak membicarakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama dan keimanan serta ihsan. Membenci mereka adalah kekufuran, nifaq adan melampaui batas.”
Disebutkan dalam kitab “Al-I’tiqod Al-Qadiri”, hal. 248, yaitu I’tiqod yang menjadi kesepakatan antara Khalifah Al-Qadiri billah (wafat tahun 422H) serta para ulama dan seluruh masyarakat, “Wajib mencintai para shahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam seluruhnya. Kita yakini bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”

Sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar rahimahullah dari salah seorang ulama jarh wa ta’dil, namanya adalah Abul Arab Ash-Shaqly sebagai jawaban atas perkataan seseorang ‘saya tidak mencintai Ali bin Abi Thalib’, maka dia berkata, ‘Siapa yang tidak mencintai shahabat, maka dia tidak dipercaya dan dihormati.” (Tahzib At-Tahzib, 1/236)

Penafsiran cinta yang wajib tersebut dapat ditafsirkan sebagai cinta karena mereka adalah pendamping dan pembela Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Siapa yang sudah mengenal mereka, perjuangan mereka dalam membela Islam dan kaum muslimin serta mengetahui cinta Nabi shalllallahu alaihi wa sallam kepada mereka kemudian tidak mencintai mereka karena itu, maka mereka telah meninggalkan salah satu kewajiban agama, dan sesuai kadar tersebut iman mereka berkurang.

Telah diriwayatkan dari hadits Abdullah bin Mughafal, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي ، لاَ تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي ، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ ، وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي ، وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ ، وَمَنْ آذَى اللَّهَ فَيُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ ) رواه الترمذي (3862) وضعفه بقوله : غريب لا نعرفه إلا من هذا الوجه ، وضعفه الألباني في " ضعيف الترمذي "

“Perhatikanlah para shahabatku, jangan jadikan mereka sebagai sasaran (kecaman) sesudahku, siapa yang mencintai mereka, maka dengan cintaku, aku mencintai mereka, siapa yang membenci mereka, maka dengan kebencianku aku membenci mereka. Siapa yang menyakiti mereka, dia telah menyakiti aku, siapa yang menyakiti aku, dia telah menyakiti Allah. Siapa yang menyakiti Allah, maka Dia akan mengazabnya.” (HR. Tirmizi, no. 3862, dia menyatakan dhaif dengan ucapan ‘gharib, tidak kami ketahui kecuali dari riwayat ini’ dinyatakan lemah oleh Al-Albany dalam kitab Dhaif Tirmizi)

Apabila membenci para shahabat karena itu semua, maka dia telah masuk dalam kekufuran dan nifaq, nauzubillah. Adapun jika membenci mereka karena sebab-sebab dunia lainnya tanpa ijtihad yang dibenarkan, maka itu merupakan kefasikan dan kemaksiatan.

Karena itu, Malik bin Anas rahimahullah berkata, “

كَانَ السَّلَفُ يُعَلِّمُونَ أَوْلَادَهُمْ حُبَّ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ كَمَا يُعَلِّمُونَ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ )رواه اللالكائي في " شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة، 7/1313)

“Dahulu para salaf mengajarkan anak-anak mereka cinta terhadap Abu Bakar dan Umar sebagaimana mereka mengajarkan surat Al-Quran.” (HR. Allalikaa’i dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah Wal Jamaah, 7/1313)

Ayub Ass-Sakhtiani rahimahullah berkata,

" مَنْ أَحَبَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ فَقَدْ أَقَامَ الدِّينَ ، وَمَنْ أَحَبَّ عُمَرَ فَقَدْ أَوْضَحَ السَّبِيلَ ، وَمَنْ أَحَبَّ عُثْمَانَ فَقَدِ اسْتَنَارَ بِنُورِ الدِّينِ ، وَمَنْ أَحَبَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالعُرْوَةَ الْوُثْقَى ، وَمَنْ قَالَ الْحُسْنَى فِي أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ بَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ " (رواه اللالكائي في " شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة  7/1316)

“Siapa yang mencintai Abu Bakar dia telah menegakkan agama, siapa yang mencintai Umar, dia telah menerangkan jalannya, siapa yang mencintai Utsman dia telah mendapatkan sinar agama, siapa yang mencintai Ali bin Abi Thalib, dia telah menggenggam buhul yang kuat. Siapa yang berkata baik terhadap para shahabat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dia telah terbebas dari nifaq.” (HR. Allaalikaa’I dalam Syarah Ushul I’tiqad Ahlissunnah Wal Jamaah, 7/1316)

Jika seseorang memperhatikan apa yang telah dipersembahkan para Khulafaurrasyidun terhadap agama ini, serta besarnya kedudukan mereka di sisi Tuhan Rabbul aalamin, maka hal itu akan menyebabkan timbulnya rasa cinta bagi mereka dan penghormatan kepada mereka melebihi kepada yang lainnya, bahkan lebih besar dari cintanya kepada dirinya, keluarganya dan anak-anaknya. Karena kedudukan mereka akan menjadi kecil di hadapan kedudukan mereka yang agung. Hendaknya dia pun mengetahui bahwa makhluk paling mulia dan kekasih Allah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam meninggal dalam keadaan dia ridha kepada mereka. Beliau mengaitkan cintanya dengan kecintaan kita kepada mereka. Maka tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut akan memunculkan rasa cinta dalam hati terhadap mereka yang tidak tertandingin oleh cinta dan penghormatan terhadap yang lain. Jika kita perhatikan ada orang yang di dunia mengutamakan orang yang dicintainya, baik berupa anak, isteri, teman, melebih terhadap dirinya sendiri, lalu dia berkorban untuk mewujudkan kecintaannya terhadap orang yang dicintainya dengan hartanya atau dengan jiwanya, maka seharusnya hal tersebut lebih mendorongnya untuk mengutamakan kecintaannya kepada Khulafaurrasyidin melebihi terhadap dirinya, keluarganya dan semua manusia.

Akan tetapi, meskipun demikian kami katakan, siapa yang tidak muncul perasaan ini dalam dirinya, baik karena kurangnya ilmu, lemah keyakinan, atau sebab lainnya yang menghalanginya, maka tidak kami katakana dia berdosa dan berhak mendapatkan azab oleh Allah. Akan tetapi, orang tersebut layak dinasehati dan diberikan pengajaran serta peringatan. Untuk memperluas bahan bacaan, lihat bab wajibnya mencintai shahabat Rasulullah dalam tesis yang berjudul; Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah Terhadap Para Shahabat Mulia.’ Oleh Nashir bin Ali Aidh Hasan Syekh, 2/757-766.

Wallahua’lam.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan