Sabtu 7 Rabi'uts Tsani 1440 - 15 Desember 2018
Indonesian

Suamiku Mendzalimiku Dengan Dalih Melakukan Ketaatan Kepada Kedua Orang Tuanya

212610

Tanggal Tayang : 14-05-2015

Penampilan-penampilan : 1994

Pertanyaan

Suami saya menzalimi saya dengan dalih taat kepada kedua orang tuanya. Apakah sudah semestinya dia menzalimi saya demi taat kepada orang tuanya? Sebagai contoh: Ayahnya mengucapkan padanya pada hari raya, "Hendaknya engkau tinggal bersama kami dan tinggalkanlah istrimu," atau mengatakan kepadanya pada saat hari jumat, "Eengkau harus makan siang bersama kami dan tinggalkanlah istrimu!!" Padahal sebagaimana diketahui saya baru menjadi istrinya selama delapan bulan saja dan saat ini sedang mengandung calon anak pertama. Ketika saya mengatakan kepada suami saya, "Jangan engkau terus-terus meninggalkanku," Dia menjawab, "Saya tidak mungkin bermaksiat kepada ayah saya."

Teks Jawaban

Alhamdulillah ...

Patut untuk kita perhatikan, dan hendaknya menjadi perhatian dari kebanyakan para istri di awal kehidupan rumah tangganya, sesungguhnya perintah dan permintaan ayah kepada suami anda agar dia tinggal dan berkumpul dengan mereka dan menghabiskan liburan jumat serta hari-hari lebaran bersama mereka, hal semacam itu terkadang terjadi di awal pernikahan yang tidak bisa di hindari. Hal demikian merupakan perkara yang sifatnya kondisional. Hendaknya anda juga memahami  bahwa para ayah di usia seperti ini setelah pernikahan putra-putra mereka,memiliki perasaan kangen dan rindu di hati mereka. Karena sebelumnya putra-putra mereka memenuhi relung kehidupan mereka, dan setelah mereka menikah ada perasaan yang berbeda. Yaitu merasa sendiri setelah lepasnya mereka dari pengawasan ayah mereka. Sehingga kadang-kadang mereka para ayah melontarkan beberapa masalah dan meminta supaya putra-putra mereka mengatasinya. Atau mewajibkan mereka suatu hal. Ini semua untuk menguji dan memelihara kepedulian putra-putra mereka, serta mengingatkan kepada mereka bahwa mereka merupakan unsur terpentig dalam kehidupan ayah dan sebagai poros dari sebuah lingkaran serta mengingatkan akan fungsi pentingnya mereka dan hak mereka yang seakan ada seseorang telah datang kepada mereka untuk merenggut mereka darinya.

Maka perhatikanlah wahai saudariku, di satu sisi anda semestinya menjadi penolong suami anda agar dia  melaksanakan ketaatan kepada kedua orang tuanya, dan dari sisi lain hendaknya anda bersikap cerdas dengan tidak menampakkan sikap kecemasan dan kecemburuan dari hal tersebut. Akan tetapi hendaknya anda menolong diri anda sendiri untuk mewujudkan solusi sehingga kondisi di mana anda berada di dalamnya tidak berkelanjutan, malah semestinya anda memanfaatkan kondisi tersebut untuk kemaslahatan diri anda.

Semestinya anda merasa nyaman dan legowo dengan apa yang dilakukan oleh suami anda, dan hendaknya anda bersikap bijaksana dengan mengambil jalan tengah, yaitu anda memberikan kesempatan kepada suami anda agar memberikan dan memenuhi hak kedua orang tuanya. Hal demikian tak perlu menuntut banyak hal dari anda!!

Dengan kondisi suami anda, dia bisa memenuhi dan berbagi untuk tinggal bersama kedua orang tuanya akan tetapi dia juga berusaha untuk tetap menemani anda agar nantinya menjadi satu keluarga yang utuh yang menghimpun kalian semuanya. Bisa saja dia menyampaikan uzur kepada keluarganya karena mengkhawatirkan anda yang tinggal seoarang diri, di mana anda masih membutuhkan perhatian khususnya usia pernikahan anda masih baru dan terlebih lagi saat ini anda sedang hamil. Dalam hal ini suami anda sangat berhati-hati bersikap demi menjaga perasaan mereka di suatu waktu, dan di waktu yang lain dia kembali kepada anda. Untuk melakukan ini semua pasti dia memerlukan alasan dan alibi yang baik dan dibutuhkan kecerdasan dalam hal tersebut !!

Akan tetapi melihat kondisi anda saat ini kami bisa menyampaikan kepada anda, hendaknya anda bersabar dengan situasi rumit yang di hadapi suami anda dan hendaknya anda mengalah dari kepentingan anda sebatas kemampuan anda. Tetap mintalah pertolongan kepada Allah untuk memberikan jalan keluar dan menghilangkan kesedihan anda serta memperbaiki kondisi dan kehidupan anda.

Tidak ada salahnya anda membangun komunikasi dengan suami anda dan membicarakan permasalahan anda kepadanya dengan penuh kelembutan. Utarakanlah kepadanya setiap ketidaknyamanan yang anda rasakan karena sikapnya dan sebisa mungkin anda mengingatkan kewajibannya kepada anda yang tentu saja didasari pemahaman anda akan kewajibannya kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi patut bagi suami anda untuk menanamkan kesungguhan dalam dirinya agar bisa bersikap seimbang dalam memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap keluarganya :

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, no. 1867 dari Abu Juhaifah dia berkata :

"آخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ سَلْمَانَ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ ، فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ ، فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً ، فَقَالَ لَهَا : مَا شَأْنُكِ ؟
قَالَتْ : أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الدُّنْيَا !!
فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا ، فَقَالَ : كُلْ .
قَالَ : فَإِنِّي صَائِمٌ !!
قَالَ : مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ ؟
قَالَ : فَأَكَلَ .
فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ ، قَالَ : نَمْ .
فَنَامَ ، ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ ، فَقَالَ : نَمْ .
فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ : قُمْ الْآنَ .
فَصَلَّيَا ، فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ :
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ !!
فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ،
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( صَدَقَ سَلْمَانُ " .(

“Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mempersaudarakan antara Salman dan Abu Ad Darda, maka suatu hari Salman berkunjung ke rumah Abu Darda. Lalu dia mendapati kondisi istri Abu Darda sedang bersedih dan tidak bahagia. Maka dia bertanya kepadanya, “Apa gerangan yang sedang engkau hadapi?” Ummu Darda’ menjawab,  “Saudaramu Abu Darda sama sekali dia tidak peduli dengan  dunia!!” Lalu datanglah  Abu Darda. Dia memasakkan untuk saudaranya masakan, kemudian mengatakan kepada Abu Darda, “Makanlah.” Dia menjawab, “Saya sedang berpuasa!!” Salman menjawab,  “Saya tidak akan makan kalau engkau tidak makan.”   Lalu Abu Darda’ makan.

Tatkala malam tiba, Abu Darda beranjak untuk melaksanakan shalat malam, lalu Salman mengatakan, “Tidurlah,” Kemudian dia tidur. Selang beberapa menit dia bangun untuk shalat malam, Salman mengatakan, “Tidurlah.” Ketika sampai di sepertiga malam terakhir Salman mengatakan, “Sekarang bangunlah,” Lalu keduanya pun shalat malam, dan Salman mengatakan, “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dan dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka penuhilah hak-hak setiap yang memiliki hak atasmu!!”.  Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan menyampaikan apa yang dia dapati dari  Salman kepada beliau, lalu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh benar apa yang dikatakan Salman.”

Hendaknya anda meminta nasehat sebagian orang-orang yang ikhlash dari para sahabat atau kerabat akan bermanfaat dan akan memberikan solusi yang praktis dalam hal tersebut. Meskipun kami berpendapat masa pernikahan yang anda lalui masih sangat dini untuk melibatkan orang lain dalam urusan kalian berdua. Yang paling utama adalah kalian berdua menghadapi permasalahan kalian dengan saling memahami dan komunikasi yang harmonis di antara kalian berdua.

Untuk mendapatkan kesempurnaan antara hubungan kalian berdua, maka kami menyarankan kepada anda supaya anda minta izin kepada suami anda untuk mengunjungi kedua orang tua anda manakala dia berkunjung kepada kedua orang tuanya. Jika memang anda dan orang tua anda tinggal di satu negara yang sama, supaya kunjungan ini menghibur anda dan menggantikan keharmonisan atau sesuatu yang mungkin terlewatkan saat anda berinteraksi dengan suami anda. Atau kalian menyepakati pekan ini berkunjung kepada kedua orang tuanya dan pekan yang lain berkunjung ke kedua orang tua anda jika memang suami anda setuju akan hal tersebut. Dan berusahalah sebisa mungkin untuk selalu menjalin hubungan dengan keluarga suami anda serta berbuat baik kepada kedua orang tuanya semampu anda. Berikanlah bakti dan kasih sayang anda kepada mereka selama anda mampu dengan disertai hadiah-hadiah yang mudah bagi anda untuk melaksanakannya.

Dan bila memungkinkan anda bisa mengusulkan kepada suami anda agar dia menyambut kedua orang tuanya di rumahnya pada saat hari liburnya, dan anda bisa melayani serta memuliakan mereka sehingga anda diuntungkan dengan keberadaan suami anda di sisi anda dan merasakan keharmonisan seluruh keluarga di rumah anda, jika memang kondisi mendukung untuk hal demikian. Sesungguhnya kehidupan suami-istri merupakan bagian dari kehidupan umat manusia di dunia ini, dan di dalam kehidupan ini tidak ada sesuatupun yang akan terhindar dari kesusahan, serta terhindar dari kekeruhan hidup, maka hendaklah anda berusaha sekuat tenaga untuk menjernihkan air dari kekeruhannya sebatas kemampuan anda.  

Semoga Allah memberikan kemudahan terhadap urusan anda, dan memperbaiki kondisi anda, serta menghimpun anda dan suami anda dalam kebaikan.

Wallahu A’lam.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan