Jum'ah 6 Rabi'uts Tsani 1440 - 14 Desember 2018
Indonesian

Hadits Batil Karangan Syiah Dalam Menentukan Nama Allah Yang Mulia

228582

Tanggal Tayang : 06-01-2016

Penampilan-penampilan : 1707

Pertanyaan

Aku dahulu mencari nama-nama yang mulia untuk aku berdoa dengannya, maka aku mendapatkan beberapa jawaban. Maka aku mendapatkan hadits dalam kitab Biharul Anwar, karangan Al-Majlisi, hal. 222, dia berkata di dalamnya, Dari Abdullah, dari bapaknya alaihissalam, dia berkata, ‘Amirul Mukminin alaihissalam berkata,
“Aku melihat Khidr alaihissalam semalam sebelum perang Badr. Maka aku berkata kepadanya, ‘Ajarkan kepadaku sesuatu yang membuatku menang menghadapi musuh.’ Dia berkata, ‘Ya huwa, ya man laa huwa illaa huwa (Wahai dia, yang tidak ada dia selain dia’ Maka di pagi harinya, aku kisahkan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu dia berkata, ‘Wahai Ali, engkau telah diajarkan nama yang agung’. Ketika Ammar bin Yasir mendengar Ali mengulang-ulang ucapan tersebut terus menerus dalam perang Shifin. Maka dia bertanya kepadanya, maka dia menjawab, ‘Ini adalah nama Allah yang mulia dan salah satu pilar tauhid.’
Sejauhmana kebenaran riwayat ini?

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Pertama:

Syiah rafidhah merupakan salah satu kelompok yang sesat. Mereka adalah makhluk Allah yang paling pendusta dan paling sering berdusta kepada Allah dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Rafidhah (syiah) merupakan kelompok di tengah umat yang paling berdusta secara mutlak. Mereka merupakan kelompok yang mengaku Islam tapi paling ghuluw (melampaui batas) dan paling berat kesyirikannya."  (Majmu Fatawa, 27/175)

Kedua:

Kitab Biharul Anwar, karangan Al-Majlisi, termasuk kitab syiah yang terkenal, penuh dengan dusta dan kesesatan yang sudah dikenal pada golongan ini.

Syekh Ibn Baz rahimahullah berkata, “Telah menyampaikan kepadaku orang yang aku percaya dan banyak menelaah kitab-kitab syiah, bahwa kitab ini, yaitu Biharul Anwar, penuh dengan hadits-hadits dusta dan palsu. (Majmu Fatawa Bin Baz, 26/225)

Lihat soal: 184543

Ketiga:

Al-Majlisi berkata dalam kitab Biharul Anwar, 61/242, “Tauhid bagi orang yang jujur. Melalui sanadnya dari Wahab bin Wahab Al-Qurasyi, dari Abu Abdillah dari bapak datuknya alaihimussalam, dia berkata, ‘Amirul mukminin alaihissalam berkata, ‘Aku melihat Khidhr alaihissalam semalam sebelum perang Badar, maka aku berkata kepadanya, ‘Ajarkan aku sesuatu untuk mengalahkan musuh.’ Maka dia berkata, ‘Ya huwa, yaa man laa huwa illa huwa.’ Maka dipagi harinya aku kisahkan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau berkata, “Wahai Ali, engkau telah diajarkan nama yang agung.”

Sanad dari riwayat ini rusak dan tidak bernilai apa-apa. Wahab bin Wahab ini adalah Wahab bin Wahab bin Katsir bin Abdullah bin Zumah Abul Bukhturi Al-Qurasyi Al-Madani. Dia meriwayatkan dari Abu Abdillah Ja’far bin Muhamad yang disebut dalam sanad Al-Majlisi. Dia adalah pendusta besar. Ibnu Main berkata, “Dia pendusta, musuh Allah.” Utsman bin Abi Syaibah, “Saya berpendapat bahwa dia akan dibangkitkan di hari kiamat sebagai dajal.” Ahmad berkata, “Dia selalu memalsukan hadits sekehendaknya.” Dia juga berkata, “Dia adalah orang yang paling pendusta.” Demikian pula dikatakan oleh Ishaq bin Rahawaih. Syuaib bin Ishaq berkata, “Pendusta ini adalah Abul Bukhturi.” Yang lain juga menyebutkan demikian. Ibnu Jarud berkata, “Dia pendusta dan busuk. Mayoritas malamnya digunakan untuk memalsukan hadits. Demikian pula ikut mendustaknnya, Waqi, Hafsh bin Gayats, Ibnu Adi dan lainnya.”

(Lihat, Lisanul Mizan, 6/231-233)

Keempat:

Dia menyebut Allah Taala dengan dhamir (kata ganti) “Huwa” demikian pula berdoa dengannya. Maka dia berkata ‘Ya huwa, ya huwa’ dan semacamnya. Itu merupakan bid’ah yang diada-adakan dalam agama, sebagaimana telah kami jelaskan dalam jawaban soal no. 9389

Kelima:

Terdapat riwayat menetapkan nama Allah yang agung dalam sunah nabi yang shahih dalam beberapa hadits. Telah kami sebutkan dan uraikan pendapat dalam masalah ini dalam fatwa no.  146569

Wallahu a’lam.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan