Ahad 8 Rabi'ul Awwal 1442 - 25 Oktober 2020
Indonesian

Semua Kebaikan Yang Dilakukan & Diserahkan Menjadi Urusan Allah

Pertanyaan

Allah Ta’ala berfirman:

 قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ (18) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ (20)

طه /18-20

“Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”. (QS. Thaha: 18-20)

Pertanyaannya tentang tafsir ayat ini, pendapat saya adalah setelah Musa menjelaskan tentang sejauh mana pentingnya tongkat baginya pada saat Allah menyuruhnya untuk melemparkannya dan ia melemparkannya dengan segera, maka hal itu menunjukkan adanya “Tsiqah ‘Amya’” (taat buta) kepada Sang Pencipta, bisa jadi seorang manusia meninggalkan sesuatu yang ia cintai dan mempunyai manfaat yang besar baginya, hanya dengan tsiqah (taat & percaya) bahwa yang telah menyuruhmu adalah Allah Ta’ala, dan karenanya Dia akan mengembalikan kepadamu kebaikan yang banyak dan manfaat yang lebih banyak karena tsiqah kepada-Nya, dan melepaskan sesuatu yang penting karena taat kepada-Nya, apakah ucapan ini benar atau salah ?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Pertama:

Kami ingatkan bagi si penanya yang mulia akan pentingnya menggunakan kata-kata yang baik; karena kata itu adalah wadahnya makna.

Lebih utama bagi si penanya untuk menggunakan kata: “Tawakkal” (pasrah), “Istislam (berserah), atau husnudzon kepada Allah, dan kalimat-kalimat syar’i lainnya yang mengandung makna yang benar sebagai ganti dari ungkapan “Tsiqah ‘Amya’” (taat buta) makna yang terkandung di dalamnya tidak sesuai dengan kedudukan berpasrah kepada Allah, beriman dan bertawakkal kepada-Nya.

Kalau tidak, maka hal itu memang tsiqah, hanya saja tidak buta, bahkan karena keyakinan yang kuat bahwa kebaikan itu berada pada tangan-Nya, dan keburukan tidak tertuju kepada-Nya Yang Maha Suci dan segala puji hanya bagi-Nya. Dan bahwa beristiqamah di atas syari’at-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya adalah kunci semua kebaikan.

Kedua:

Imam Thahawi –rahimahullah- berkata:

“Jejak Islam tidak akan menancap kokoh kecuali berdiri di atas pasrah dan berserah diri”. (Syarah Thahawiyah: 1/231)

Syeikh Al Barrak berkata di dalam Syarah Thahawiyah (128) dengan sedikit perubahan:

“Keislaman seorang hamba tidak akan tenang, kecuali jika kakinya menancap di atas berserah diri”.

Kata “Istislam” dan “Taslim” arti keduanya berdekatan, Allah Ta’ala berfirman:

 وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

لقمان: 22

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan,…”. (QS. Luqman: 22)

Islam adalah berserah diri dan adanya keterikatan, hal ini menuntut tidak adanya persengketaan, dan barang siapa yang memperkarakan maka berarti ia tidak berserah diri….

Berserah diri merupakan dasar yang penting, jika anda telah menanam dasar agama; beriman kepada Allah, Rasul dan kitab-Nya.

Beriman kepada Allah:

Mencakup bahwa Allah Ta’ala adalah Tuhan yang hak yang tidak berhak disembah kecuali Dia, dan bahwa Allah Ta’ala Rabb dan Raja dari segala sesuatu, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai sifat yang sempurna, terbebas dari kekurangan, tidak ada kezhaliman tidak ada kesia-siaan pada ciptaan-Nya, syari’at dan kekuasaan-Nya, bahkan Dia Allah Ta’ala Maha Bijaksana pada semua hal tersebut.

Jika anda telah mewujudkan hal ini, dan semua yang datang kepada anda terkait Allah Ta’ala dan Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka harus berdiri dengan berserah diri; karena pergolakan dan persengketaan tidaklah datang kecuali karena lemahnya keimanan kepada keadilan Rabb dan lemahnya keimanan kepada hikmah-Nya.

Semua yang menentang kebenaran adalah batil, akan tetapi kadang-kadang pertentangan itu keberanian yang terus terang, seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir atau mereka yang imannya mengalami goncangan, atau hampir hilang, maka mereka berbicara pertentangan pada syari’at Allah dan takdir-Nya, terkadang mereka tidak mengucapkannya akan tetapi ada di dalam jiwanya.

Seorang muslim wajib untuk menolak semua pertentangan yang terlistas di dalam fikirannya, atau yang ia dengar dari mulutnya para syetan, atau dari mulut orang-orang yang bodoh, menolak hal itu dengan keimanan bahwa Allah adalah Maha Menentukan dan Maha Adil, Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Hal ini tidak menunjukkan bahwa syari’at itu bertentangan dengan akal, akan tetapi akal yang jelas tidak bertentangan dengan dalil naqli yang benar, akan tetapi dalil akal dan dalil naqli mempunyai kekuatannya, mempunyai batasannya, maka tidak mungkin bagi akal manusia mampu mengetahui dan mencakup segala sesuatu, akan tetapi ada batasannya yang berhenti di sana; karena manusia itu kurang, maka tidak mungkin bahwa semua pertanyaan ia mampu menjawabnya, atau ia jawab, maka anda harus mengatakan: Allahu A’lam, Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Maka jika manusia itu menyerahkan (sepenuhnya), maka ia akan merasa banyak rehat dan menenangkan.

Pertentangan yang menghampiri anda:

Anda menolaknya dengan penjelasan-penjelasan dan hujjah yang menguak keburukan syubhat yang datang.

Jika hal itu tidak memungkinkan karena minimnya ilmu, maka tolaklah dengan dasar ini yaitu; dengan cara berserah diri dan katakanlah:

“Aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan syetan selalu menghembuskan was-was ke dalam jiwa…”.

Ketiga:

Adapun makna yang saya fahami dari ayat tersebut adalah bahwa hal itu benar, karena secara tekstual telah disebutkan oleh para ahli tafsir, bahwa Musa –‘alaihis salam- telah mengira bahwa Allah telah menyuruhnya untuk membuang tongkatnya, dari Wahab: “Allah berfirman kepada Musa: ( ألقها يا موسى )  “Lemparkan (tongkat tersebut) wahai Musa !”, maka Musa mengira bahwa Allah berfirman: “Buanglah” maka ia pun membuangnya ke tanah”. (At Tafsir al Basith (14/382), Tafsir Al Baghawi (5/269).

“Barang siapa yang memasrahkan sesuatu kepada Allah, maka ia tidak akan pernah kehilangan”. (Tafsir Al Qurthubi: 18/26)

Syeikh As Sa’di berkata:

“As Syakir (Maha Berterima kasih) dan As Syakuur (Maha Diucapi terimakasih) termasuk Nama-nama Allah Ta’ala, yang akan menerima dari hamba-hamba-Nya amal mereka yang sederhana dan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang besar, yang jika hamba-Nya mengamalkan perintah-perintah-Nya dan taat kepada-Nya, maka Dia akan membantu dan memujinya, dan memberikan balasan cahaya di dalam hatinya, keimanan dan keluasan di dalamnya. Dan pada fisiknya (diberikan) kekuatan dan giat dalam amal, dan keadaannya (diberikan) tambahan berkah dan pertumbuhan, dan pada semua aktifitasnya (diberikan) tambahan taufik.

Kemudian setelah itu, akan diberikan pahala berikutnya di sisi Allah dengan sempurna, semua itu tidak akan bisa menguranginya.

Di antara bentuk terimakasih-Nya kepada hamba-Nya, bahwa barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, dan barang siapa yang mendekat kepada-Nya satu jengkal, Dia akan mendekat kepadanya satu hasta, dan barang siapa yang mendekat kepada-Nya satu hasta, maka Dia akan mendekat kepadanya satu depa, dan barang siapa yang datang kepadanya dengan berjalan, maka Dia akan mendatanginya dengan berlari, dan barang siapa yang selalu terhubung kepada-Nya maka ia akan beruntung berkali lipat.

Di samping Nama-Nya Maha Berterima kasih, Dia juga Maha Mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan pahala yang sempurna, sesuai dengan niat, keimanan dan kataqwaannya, mana yang tidak berhak mendapatkannya. Maha Mengetahui akan amal para hamba-Nya, tidak menelantarkannya, bahkan mereka mendapatkannya dengan balasan yang paling sempurna, sesuai dengan niat mereka yang diketahui oleh Dzat Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”. (Tafsir As Sa’di: 76)

Keempat:

Pada ayat di atas ada makna ilmiyah yang penting, bermanfaat bagi seorang muslim dalam interaksinya dengan apa yang ia terima dari perintah Rabb alam semesta dan Rasul-Nya yang mulia, yaitu; sur’atu al istijabah (respon cepat) untuk hal itu, tidak malas, tidak lambat, tidak berhenti dan tidak menundanya.

Yang menunjukkan hal tersebut dari ayat di atas adalah bahwa Allah Ta’ala telah berfirman: “Maka ia (Musa) telah melemparkannya”. Huruf Fa’ menunjukkan arti setelahnya/akibat (maka), bahwa Musa –‘alaihis salam- telah bersegera dan berkomitmen kepada perintah Tuhannya mentaati-Nya, maka beliau melemparkan tongkatnya -yang mempunyai manfaat baginya dan masih membutuhkannya- segera setelah mendengar ucapan Rabbul ‘Alamin.

Demikianlah seharusnya kondisi seorang muslim dengan perintah Tuhannya, Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا 

 الأحزاب/36  

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS. Al Ahzab: 36)

Kami juga menasehatkan kepada anda, bahwa lintasan dan makna yang ada pada diri anda hendaknya disesuaikan dengan ucapan para ulama pada penafsiran ayat tersebut, hendaknya anda juga memperbanyak melihat tafsir yang mudah dan dekat, seperti; “Mukhtashar at Tafsir” cetakan Markaz Tafsir, atau “At Tafsir al Muyassar” cetakan Wizaratul Auqaf, dan selanjutnya dan yang yang lebih penting adalah “Tafsir Syeikh As Sa’di –rahimahullah-; karena yang demikian ini akan banyak membantu anda mentadabburi makna ayat dan memperhatikan kelembutan hasil istinbath (kesimpulan) darinya.

Wallahu A’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam