Sabtu 1 Shofar 1442 - 19 September 2020
Indonesian

Seorang Jin Memberitakan Beberapa Hal Pada Saat Ruqyah, Apakah Boleh Mempercayainya ?

322314

Tanggal Tayang : 24-09-2020

Penampilan-penampilan : 11

Pertanyaan

Pada salah satu forum ruqyah salah seorang jin memberitakan kepada saya bahwa ia sedang melihat pintu-pintu langit sedang terbuka, hal itu setelah saya membacakan ruqyah dan sesaat setelah saya membacakan dzikir dan doa-doa, sampai ia masuk Islam dan mengumumkan keislamannya dan nampak ada kejujuran pada dirinya. Pertanyaannya adalah apakah mungkin bagi salah seorang jin mampu melihat pintu-pintu langit benar-benar terbuka di tengah berdoa misalnya, atau hal itu termasuk majas (perumpamaan saja) ?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Jin itu di alam ghaib dari kita, kita tidak bisa mastikan terjadinya sesuatu dari keadaan mereka, kecuali apa yang telah dikabarkan oleh wahyu kepada kita.

Wahyu telah mengabarkan bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kepada jin kemampuan untuk sampai ke atas yang tidak bisa dicapai oleh manusia.

Allah Ta’ala berfirman menceritakan keadaan mereka:

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا ، وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا 

الجن/9.

“dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api”. (QS. Al Jin: 9)

Dari Abu Hurairah berkata: “Sungguh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda:

إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِي السَّمَاءِ، ضَرَبَتِ المَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ، فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الحَقَّ، وَهُوَ العَلِيُّ الكَبِيرُ، فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ، وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ، فَيَسْمَعُ الكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، ثُمَّ يُلْقِيهَا الآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ، حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الكَاهِنِ، فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا، وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ، فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ، فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا: كَذَا وَكَذَا، فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنَ السَّمَاءِ 

 رواه البخاري (4800(

“Jika Allah telah memutuskan sesuatu di langit, maka para malaikat mengepakkan sayapnya tunduk pada firman-Nya, seakan seperti rantai di atas batu yang halus, dan jika telah dihilangkan ketakutan pada hati mereka, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian ?”, mereka menjawab kepada yang bertanya: “Kebenaran, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar, lalu peristiwa tersebut didengar oleh pencuri kabar langit, dan para pencuri ini berada bertingkat satu dengan yang lainnya, yang di atas mendengar satu kata disampaikan kepada yang ada di bawahnya, lalu disampaikan lagi kepada yang di bawahnya, sehingga sampai pada lisannya tukang sihir dan dukun, namun bisa jadi mereka ini terserang oleh panah api sebelum mereka menyampaikannya, dan bisa jadi mereka sampaikan hal yang belum mereka ketahui, ia mencampur satu berita dengan seratus kebohongan, seraya dikatakan: “Tidakkah dia telah berkata kepada kita ini dan itu pada suatu hari ?”, maka ucapannya dibenarkan juga dengan kalimat yang telah didengar dari langit”. (HR. Bukhori: 4800)

Hanya saja kemampuan mereka ini terbatas, meskipun setelah semua yang ada di hadits tersebut, bisa jadi mereka tidak mampu mengetahui apa yang dekat dengan mereka di langit.

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Sulaiman –‘alaihis salam-:

فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلَّا دَابَّةُ الْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي الْعَذَابِ الْمُهِينِ 

سبأ/14.

“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”. (QS. Saba’: 14)

Kesimpulannya bahwa Allah telah mengkhususkan jin itu dengan beberapa sifat, dengan kecepatan bergerak naik ke atas; hanya saja kita tidak diberitahukan akan batasakan kemampuan mereka ini, maka kita tidak bisa memastikan sesuatu apa yang tidak ada di dalam wahyu.

Bukan termasuk kebenaran pada diri seseorang jika ia berkata:

“Bahwa jin itu mampu melihat pintu-pintu langit berdasarkan pada ucapan seorang jin; karena ia tidak diketahui kebaikan, kefasikan atau kekufurannya, sosok yang tidak diketahui beritanya tidak bisa dijadikan tumpuan, apalagi di dalam jin ada para syetan yang berlebihan dalam kebohongan, sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata:

وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ، فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ، وَقُلْتُ: وَاللَّهِ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

قَالَ: إِنِّي مُحْتَاجٌ، وَعَلَيَّ عِيَالٌ وَلِي حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ.

قَالَ: فَخَلَّيْتُ عَنْهُ، فَأَصْبَحْتُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ البَارِحَةَ؟ 

قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً، وَعِيَالًا، فَرَحِمْتُهُ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ، قَالَ:  أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ، وَسَيَعُودُ  فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ، لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ سَيَعُودُ ...

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ 

قَالَ: لاَ.

قَالَ:  ذَاكَ شَيْطَانٌ

رواه البخاري  2311

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah meminta saya untuk menjaga zakat Ramadhan, lalu ada yang datang mengambil makanan lalu aku menangkapnya dan saya berkata: “Demi Allah, aku akan melaporkan kamu kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-“.

Ia berkata: “Saya orang miskin, saya mempunyai keluarga dan saya sangat membutuhkannya”.

Saya berkata: “Saya melepaskannya dan pada pagi harinya, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Wahai Abu Hurairah, apa yang telah dilakukan oleh tawananmu tadi malam ?”.

Saya berkata: “Wahai Rasulullah, ia telah mengadukan bahwa sedang sangat membutuhkan dan ia mempunyai tanggungan keluarga, maka saya mengasihinya dan aku melepaskannya”.

Beliau bersabda: “Ia telah membohongimu dan ia pun akan kembali”.

Saya tahu bahwa ia akan kembali berdasarkan sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa ia akan kembali….

Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Sungguh ia telah berkata benar kepadamu padahal ia adalah pendusta, apakah kamu tahu siapa yang berbicara kepadamu selama tiga malam wahai Abu Hurairah ?”.

Ia berkata: “Tidak”

Beliau bersabda: “Itulah syetan”. (HR. Bukhori: 2311)

Kesimpulan:

Bahwa ucapan seorang jin itu adalah ucapan yang tidak diketahui tidak bisa dijadikan ilmu, dan seorang muslim itu diperintah untuk tidak mengikuti apa yang tidak menjadi sumber ilmu, terdapat di dalam firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا 

 الإسراء/36.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al Isra’: 36)

Sebagaimana bagi seorang peruqyah agar tidak memperluas pembicaraan bersama seorang jin yang merasuki tubuh manusia; karena ketidaktahuannya, tidak bisa diketahui kejujuran dan kedustaanya , tidak memperpanjang dan memperluas komunikasi di luar yang dibutuhkan untuk ruqyah; karena hal itu akan tambah menyakiti orang yang sedang sakit tersebut dan keluarganya.

Wallahu a’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam