Sabtu 10 Shofar 1443 - 18 September 2021
Indonesian

Bagaimana Cara Agar Menjadi Seorang Hamba Yang Menggapai Keridhoan Allah Bukan (Keridhoan) Manusia?

Pertanyaan

Bagaimana saya menjadikan keinginan kuatku adalah mendapatkan keridhoan Allah, tidak berpaling terhadap apa yang dikatakan orang? Dan kitab-kitab apa yang dapat membantuku akan hal ini?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Sesungguhnya tujuan teragung seorang hamba mukmin adalah mendapatkan keridhoan Tuhan seluruh Alam. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيم  التوبة /72

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.QS. At-Taubah: 72.

Diriwayatkan Bukhori dalam shohihnya, (6549) dan Muslim di shohihnya, (2829) dari hadits Abi Said Al-Khudri berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ لِأَهْلِ الجَنَّةِ: يَا أَهْلَ الجَنَّةِ؟ فَيَقُولُونَ: لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيَقُولُ: هَلْ رَضِيتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، فَيَقُولُ: أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ ، قَالُوا: يَا رَبِّ ، وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ؟ فَيَقُولُ: أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي ، فَلاَ أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا

“Sesungguhnya Allah Tabaroka wa ta’ala berkata kepada penduduk surga, “Wahai penduduk surga. Maka mereka menjawab, “Kami penuhi panggilan-Mu dan kegembiraan kepada-Mu wahai Tuhan Kami. Allah bertanya, “Apakah kamu semua telah ridho? Mereka semua menjawab,”Bagaimana kami tidak ridho. Sementara Engkau telah berikan kepada kami apa yang tidak diberikan kepada seorangpun dari makhluk-Mu. Maka Allah berfirman, “Saya akan berikan kepada kamu semua yang lebih baik dari itu semua. Mereka mengatakan, “Wahai Tuhanku, apa lagi yang lebih baik dari itu semua? Maka Allah berfirman,”Saya halalkan kepada kamu semua keridhoan-Ku, maka saya tidak akan pernah marah kepada kamu semua selamanya.

Tujuan hidup seorang mukmin adalah mencari keridhoan Allah semata tanpa menyekutukan Allah meskipun orang-orang pada marah. Dan tanda orang-orang munafik adalah mereka sangat menjaga keridhoan makhluk meskipun Tuhan seluruh alam murka. Allah berfirman terkait dengan urusan orang munafik:

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ  التوبة/ 62

“Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin. QS. At-Taubah: 62

Diantara yang dapat membantu seorang hamba dalam menggapai keridhoan Allah semata adalah berikut ini:

Pertama: seorang hamba mengenal Tuhannya. Dia meyakini bahwa semua perkara ada di tangan-Nya. Bahwa Dia sendiri yang mengatur suatu urusan. Dan Dia Sendiri yang Merendahkan dan Mengangkat. Dia Sendiri yang Memuliakan dan Menghinakan. Tidak ada yang dapat menahan terhadap apa yang diberikan dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang ditahan. Bahwa semua manusia tidak memilikinya dan tidak memiliki dirinya manfaat maupun kemudhorotan. Tidak memiliki kematian dan kehidupan dan tidak memilik apapun juga. Kalau seorang hamba meyakini hal itu, maka hatinya akan tergantung kepada Tuhannya. Karena keimanannya bahwa manusia tidak dapat memberikan manfaat kecuali dengan izin Tuhannya. Dan tidak dapat mencelakainya kecuali dengan izin-Nya semata. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ   أخرجه الترمذي في "سننه" (2516) ، وصححه الشيخ الألباني في "السلسلة الصحيحة" (5/497(

“Ketahuilah bahwa seluruh umat kalau berkumpul untuk memberikan manfaat sesuatu kepada anda, tidak akan dapat memberikan manfaat kepada anda kecuali sesuatu itu telah di catatkan Allah kepada anda. dan kalau mereka berkumpul untuk mencelakai sesuatu kepada anda, maka mereka semua tidak dapat mencelakai sesuatu kecuali telah Allah catatkan hal itu kepada anda. HR. Tirmizi di sunannya, (2516) dinyatakan shoheh oleh Albani di ‘Silsilah As-Shohehah, (5/497).

Kedua: seorang hamba harus yakin bahwa kecintaan dan keridhoan manusia kepadanya itu atas izin Tuhan dan Tuannya. Kalau dia telah menjadikan Tuhan ridho kepadanya, maka Dia akan memberikan kecintaan-Nya ke dalam hati hamba-hamba-Nya yang beriman.

Telah dikeluarkan Tirmizi di Sunannya, (3267) dari hadits Baro’ bin ‘Azib radhiallahu anhu berkata:

قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ:" يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ حَمْدِي زَيْنٌ وَإِنَّ ذَمِّي شَيْنٌ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم. ذَاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ   والحديث صححه الشيخ الألباني في "صحيح الترمذي" (2605(

“Ada seseorang berdiri dan bertanya, Wahai Rasulullah sesungguhnya pujianku adalah hiasan dan celaanku adalah suatu kejelekan. Maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda,”(Yang berhak demikian) Itu adalah Allah azza wajalla. Hadits dinyatakan shohih oleh Albani di Shoheh Tirmizi, (2605).

Hanya Allah semata, kalau ada seseorang yang menyanjung seorang hamba dan memuji itu adalah hiasan baginya. Dan ketika murka kepada seorang hamba dan mencelanya maka itu merupakan suatu kejelekan. Sementara orang lain dari selain-Nya, maka dia tidak berhak memiliki hal itu sedikitpun kecuali dengan izin-Nya.

Telah ada hadits, bahwa Allah saja yang menaruh kecintaan seorang hamba atau membencinya dalam hati para makhluk.

Telah dikeluarkan oleh Bukhori dalam shohihnya, (3209) dan Muslim di shohihnya, (2637) dari Hadits Abu Hurairah berkata, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ ، قَال فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ ، وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ: إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ ، قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضُوهُ ، قَالَ: فَيُبْغِضُونَهُ ، ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الْأَرْضِ

“Sesungguhnya Allah ketika mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril. seraya berfirman,”Sesungguhnya saya mencintai fulan, maka cintailah dia. Berkata, “Maka Jibril mencintainya. Kemudian (Jibril) memanggil di langit seraya mengatakan, “Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka penduduk langit pada mencintainya. Berkata,”Kemudian mendapat penerimaan di bumi. Dan ketika (Allah) membenci seorang hamba, maka akan memanggil Jibril seraya berfirman, “Sesungguhnya saya membenci fulan, maka bencilah dia. Berkata,”Maka Jibril membencinya, kemudian (Jibril) memanggil kepada penduduk langit, sesungguhnya Allah membenci fulan, maka bencilah dia. Berkata,”Maka semuanya membencinya kemudian diberikan kebencian di bumi.

Ketiga: Seorang hamba berkeyakinan bahwa berpalingnya hati untuk menggapai keridhoan manusia bukan kepada Tuhan seluruh alam merupakan suatu penipuan. Akan kembali kepada pemiliknya ketercelaan tanpa ada pujian baginya. Terhina tanpa ada pertolongan untuknya. Bahwa kalau dia mencari keridhoan Allah semata, maka Allah akan mencukupinya dari manusia. Allah berfirman:

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا  (الإسراء/22)

“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah). (QS. Al-Isro’: 21)

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Shohihnya, (277) dari hadits Aisyah sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرْضَى اللَّهَ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ ، وَمَنْ أَسْخَطَ اللَّهَ بِرِضَا النَّاسِ وَكَلَهُ اللَّهُ إلى الناس 

والحديث صححه الشيخ الألباني في "السلسلة الصحيحة" (2311

“Siapa yang mendapatkan keridhoan Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan mencukupinya. Dan siapa yang mendapatkan kemurkaan Allah dengan keridhoan manusia, maka Allah wakilkan kepada manusia itu. Hadits dinyatakan shoheh oleh Syekh Albani di ‘Silsilah As-Shohehah, (2311).

Silahkan melihat Ka’b bin Malik radhiallahu ‘anhu bagaimana semangat kuatnya adalah kejujuran dan mendapatkan keridhoan Allah semata. Karena keimanannya bahwa Allah akan mencukupkannya kalau dia jujur. Dibandingkan kalau semangat kuatnya adalah keluar dari kemurkaan manusia meskipun dengan berbohong, maka Allah hampir menjadikan manusia murka kepadanya.

Ka’b radhiallahu ‘anhu menceritakan kisah taubatnya, beliau mengatakan kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنِّي وَاللَّهِ لَوْ جَلَسْتُ عِنْدَ غَيْرِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ، لَرَأَيْتُ أَنْ سَأَخْرُجُ مِنْ سَخَطِهِ بِعُذْرٍ ، وَلَقَدْ أُعْطِيتُ جَدَلًا ، وَلَكِنِّي وَاللَّهِ ، لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ اليَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَى بِهِ عَنِّي ، لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ ، وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ ، تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ ، إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عَفْوَ اللَّهِ ، لاَ وَاللَّهِ، مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ ، وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَى ، وَلاَ أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَّا هَذَا فَقَدْ صَدَقَ، فَقُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِيكَ

أخرجه البخاري في "صحيحه" (4418) ، ومسلم في "صحيحه" (769)

“Sesungguhnya demi Allah, kalau sekiranya saya duduk di selain dirimu dari penduduk dunia. Pasti saya bisa keluar dari kemarahannya dengan alasan. Sungguh saya telah diberikan pandai berdebat. Akan tetapi demi Allah, sungguh saya telah mengetahui kalau saya ceritakan kepada anda hari ini dengan cerita bohong agar anda ridho kepada diriku, maka Allah hampir akan memberikan murkamu kepadaku. Kalau saya ceritakan dengan jujur, maka akan anda dapatkan ketidak sukaan anda kepadaku. Sungguh saya berharap mendapatkan ampunan Allah. demi Allah, saya tidak ada alasan. Demi Allah, tidak ada yang lebih kuat dan lebih mudah dibanding diriku ketika saya meninggalkan anda. maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,”Kalau ini benar, dia telah jujur. Maka berdirilah sampai Allah memutuskan untuk anda. HR. Bukhori di shohihnya, (4418) dan Muslim di shohihnya, (2769).

Keempat: hendaknya anda mengetahui bahwa tidak ada jalan untuk mendapatkan keridhoan manusia. Karena asal manusia itu adalah zholim dan bodoh. Sementara keridhoan manusia adalah tujuan yang tidak mungkin di dapatkan. Karena mereka tidak ridho kepada Tuhannya, apakah mereka akan ridho kepada anda?

Telah dikeluarkan oleh Baihaqi dalam ‘Az-Zuhdul Al-Kabir, (180) dengan sanad shohih dari Hasan Al-Basri bahwa dikatakan kepada beliau:

إن الناس يأتون مجلسك ليأخذوا سقط كلامك فيجدون الوقيعة فيك ، فقال : هون عليك فإني أطمعت نفسي في جوار الله ، فطمعت ، وأطمعت نفسي في الجنان فطمعت ، وأطمعت نفسي في الحور العين ، فطمعت ، وأطمعت نفسي في السلامة من الناس ، فلم أجد إلى ذلك سبيلا ، إني لما رأيت الناس لا يرضون عن خالقهم علمت أنهم لا يرضون عن مخلوق مثلهم

“Sesungguhnya ada orang-orang yang mendatangi majelis anda untuk mencari kesalahan perkataan anda sehingga dia dapat menjerumuskan anda. maka beliau mengatakan, “Tenang saja anda. karena sesungguhnya saya labuhkan harapanku disisi Allah, maka saya mendapatkannya. Saya mengharapkan pada diriku surga, dan saya mendapatkannya. Saya mengharapkan pada diriku bidadari, maka saya mendapatkannya. Saya mengharapkan selamat dari orang-orang, saya tidak mendapatkan jalan kesana. Sesungguhnya ketika saya melihat orang-orang tidak pernah rela kepada Penciptanya, saya tahu bahwa mereka tidak akan rela dari makhluk yang semisal dengan mereka.

Syafi’i rahimahullah telah mengatakan kepada Yunus bin Abdul A’la,”Wahai Aba Musa, kalau sekiranya anda telah bersungguh-sungguh sekuat tenaga agar mendapatkan keridhoan manusia semua, maka tidak ada jalan (untuk mendapatkan hal itu). Kalau seperti itu, maka ikhlaskan amalan dan niatan anda hanya untuk Allah Azza Wajalla. (Dikeluarkan Baihaqi di ‘Syu’abil Iman, (6518). Maka hendaknya keinginan kuat seorang hamba adalah mendapatkan keridhoan Tuhannya semata, kalau Dia telah ridho, maka cukup bagi anda. hendaknya syiar kehidupan anda dan kebiasaan anda bersama dengan Tuhan Seluruh alam.

فَلَيْتَكَ تَحْلُو، وَالْحَيَاةُ مَرِيرَةٌ ... وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالْأَنَامُ غِضَابُ

وَلَيْتَ الَّذِي بَيْنِي وَبَيْنَكَ عَامِرٌ  ... وَبَيْنِي وَبَيْنَ الْعَالَمِينَ خَرَابُ

إِذَا صَحَّ مِنْكَ الْوُدُّ فَالْكُلُّ هَيِّنٌ .... وَكُلُّ الَّذِي فَوْقَ التُّرَابِ تُرَابُ

Alangkah baiknya jika Engkau bersikap manis (kepadaku), meskipun (sekiranya) hidup ini pahit.

Alangkah baiknya jika Engkau ridha (kepadaku), meskipun (sekiranya) semua manusia marah (kepadaku).

Alangkah baiknya jika terbangun (hubungan baik) antara aku dengan-Mu.

Meskipun (sekiranya) seluruh alam semesta (bersikap) buruk (kepadaku).

Jika (Engkau) benar benar Cinta (padaku), maka segalanya mudah.

Semua yang ada di atas tanah, adalah tanah.

Sementara untuk kitab-kitab, saya belum mengetahui kitab yang ditulis khusus terkait dengan tema ini. Akan tetapi saya mewasiatkan semua umat Islam agar lebih banyak mengenal Allah. setiap kali seorang hamba mengenal Tuhannya, maka keinginan kuatnya adalah hanya mencari keridhoan Tuhannya semata. Dan tidak akan terganggu oleh kemurkaan manusia.

Diantara kitab-kitab yang baik akan hal itu adalah kitab ‘AN-Nahjul Asma Fi Syarhi Asmaillahil Husnaa’ karangan Dr. Muhammad Al-Hamud An-Najdy. Begitu juga kami mewasiatkan akan banyak mentelaah kitab-kitabnya Ibnu Rojab Al-Hanbali dan Ibnu Qoyyim, perkatan mereka dalam tema ini sangat bermanfaat sekali.

wallahua’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam