Sabtu 20 Shofar 1441 - 19 Oktober 2019
Indonesian

Seputar Haji Wada

175128

Tanggal Tayang : 24-07-2019

Penampilan-penampilan : 255

Pertanyaan

Saya ingin mengenal lebih banyak tentang haji Wada tentang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa alaihi wa sallam serta apa yang beliau sampaikan kepada umat

Teks Jawaban

Alhamdulillah

Mengetahui lebih banyak tentang haji Wada yang dilakuukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada tahun ke sepuluh  hijriah menuntut untuk melihat kembali hadits-hadits yang menjelaskan haji tersebut serta menyimak kitab-kitab yang menjelaskan rincian dan hukumnya serta pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya. Kitab-kitab seputar ini banyak, akan tetapi kami akan jelaskan beberapa di antaranya yang terpenting sebagai berikut:

  1. Penjelasan tentang hadits Jabir tentang tata cara haji Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karangan Syekh Muhamad bin Saleh Utsaimin rahimahullah.
  2. Penjelasan hadits Jabir tentang tata cara haji Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Syekh Abdullah bin Jibrin rahimahullah.
  3. Haji Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan radiallahu anhu, karangan Syekh Muhamad bin Nashirudin Albany rahimahullah.
  4. Haji Wada, karangan Syekh Muhamad Zakaria Al-Kandahlawi.
  5. Khutbah Wada, Fawaid Wa Faraid, karangan DR. Muhamad Abdul Ghani.
  6. Di antaranya apa yang ditulis oleh Ibnu Qayim dalam kitabnya yang berharga ‘Zaadul Maad Fi Hadyi Khairil Ibad’ Bab tentang tata cara haji Nabi shallallahu alaihi wa sallam, 2/97-285.

Kami akan sampaikan di sini hadits Jabir bin Abdillah sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim rahimahullah dalam shahihnya. Membaca hadits ini cukup memberikan gambaran secara umum tentang kejadian agung tersebut dalam kehidupan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Ja’far bin Muhamad, dari bapaknya, dia berkata, ‘Kami datang menemui Jabir bin Abdillah. Lalu dia bertanya tentang orang-orang yang hadir hingga sampai kepada saya, maka saya katakan, ‘Aku adalah Muhamad bin Ali bin Husain. Lalu tangannya diturunkan di atas kepalakku, lalu copot kancing atas dan bawah baju, lalu dia letakkan tangannya di dadaku, dan ketika itu aku masih anak muda, lalu dia berkata, “Selamat datang wahai keponakanku, bertanyalah yang kamu inginkan.” Lalu aku bertanya kepadanya, dan dia buta, kemudian datanglah waktu shalat, lalu dia bangkit dengan pakaiannya dan berselimut dengannya, setiap kali dia letakkan di pundak, kedua ujungnya melorot karena kecilnya. Sementara itu selendangnya diletakkan disampingnya, kemudian dia shalat mengimami kami. Maka aku katakan kepadanya, “Beritahukan kepadaku tentang haji Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” Beliau memberi isyarat angka Sembilan dengan (jari) tangannya, lalu berkata, ‘Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tinggal (di Madinah) selama Sembilan tahun tidak melakukan haji, kemudian dia mengizinkan orang-orang untuk melaksanakna haji pada tahun ke sepuluh. Lalu beliau mulai ihram dan melantunkan kalimat tauhid,

لَبَّيْكَ اللهُمَّ ، لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ ، وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilanMu Ya Allah, Aku penuhi panggilanMu, Tidak ada sekutu bagiMu. Aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan adalah milikMu. Tidak ada sekutu bagiMu.”

Maka orang-orang pun mengucapkan kalimat yang beliau ucapkan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak sedikitpun melarang mereka dari hal tersebut. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terus dalam talbiahnya.”

Jabir radiallahu anhu (melanjutkan) berkata, “Ketika itu kami tidak niat selain haji (ifrad), kami belum mengenal umrah (haji tamatu). Hingga akhirnya kami tiba di Baitullah bersama beliau. Lalu beliau mengusap rukun (Hajar Aswad), kemudian ramal (berjalan cepat) selama tiga putara, kemudian berjalan biasa pada empat putaran berikutnya. Kemudian beliau mendekat ke Maqam Ibrahim lalu membaca

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

سورة البقرة: 125 

Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.” QS. Al-Baqarah: 125

Lalu dia menjadikan maqam Ibrahim antara dirinya dengan Ka’bah. Bapakku berkata, dan aku yakin apa yang dia sebutkan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Beliau (shalat) dua rakaat dengan membaca Qul huwallahu ahad dan Qul yaa ayyuhal kaafirun. Kemudian beliau kembali menuju Hajar Aswad dan mengusapnya. Lalu keluar pintu Masjid menuju Shafa. Ketika mendekati bukit Shafa, beliau membaca,

إِنَّ الصَّفَا والْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ

سوة البقرة: 158 

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah.” Qs. Al-Baqaarah: 125

Kemudian membaca

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ 

“Aku mulai dengan apa yang Allah mulai (bukit Shafa).”

Beliau mulai (sai) dari Shafa, kemudian mendakitnya. Ketika mulai terlihat Ka’bah, maka beliau menghadap kiblat, lalu beliau mengucapkan kalimmat tauhid dan takbir dengan membaca,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Tidak ada tuhan yang disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya segala puji, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada tuhan yang disembah kecuali Allah semata. Dia menunaikan janjiNya, membela hambaNya dan sendiri dalam mengalahkan pasukan musuh.”

Kemudian beliau berdoa di antara itu, hal itu dia lakukan sebanyak tiga kali.

Kemudian beliau turung (dari bukit Shafa) berjalan menuju Marwah, hingga ketika kakinya turun di wadi (lembah) dia berlari, lalu setelah naik lagi, dia berjalan kembali, lalu dia melakukan di Marwah apa yang dia lakukan di Shafa, hingga akhi putarannya di Marwah. Lalu beliau bersabda, “Seandainya nanti aku masih mengalami apa yang pernah aku alami kini, niscaya aku tidak akan membawa hadyu, dan aku jadikan (ihramnya) untuk umrah (tamatu). Siapa di antara kalian yang tidak membawa hadyu, hendaknya bertahallul dan menjadikannya ihramnya sebagai ihram umrah.” Lalu Suraqah bin Malik bin Ju’syum bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah berlaku untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?” Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memasukkan jari jemarinya satu sama lain dan berkata, ‘Umrah masuk dalam haji’ beliau ucapkan dua kali, ‘Tidak, untuk selamanya.’ Lalu Ali bin Abi Thalib dari Yaman dengan onta Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia mendapati Fatimah radiallahu anha termasuk yang sudah tahallul dan memakai pakaian yang dicelup serta memakai celak mata, lalu dia mengingkarinnya, maka dia berkata, “Ayahku memerintahkan aku demikian.” Ali berkata, ‘Lalu aku pergi menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam karena merasa gusar atas apa yang diperbuat oleh Fatimah seraya meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkait apa yang dia sampaikan, aku sempaikan kepada beliau bahwa aku mengingkarinnya. Maka beliau bersabda, “Dia (Fatimah benar), dia benar. Apa yang engkau katakan ketika engkau niat haji?” Aku berkata, “Ya Allah, aku niat ihram sebagaimana niatnya RasulMu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya, aku membawa hadyu, maka engkau tidak boleh tahallul,” Hady yang dibawa oleh Ali berasal dari Yaman dan yang dibawa Nabi shallallahu alaihi wa sallam berjumlah seratus. Maka orangg-orang bertatahallul dan memendekkan rambutnya, kecuali Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan orang-orang yang membawa hadyu. Ketika datang hari Tarwiyah, mereka menuju Mina, lalu mereka ihram untuk haji, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengendarai kendaraannya, lalu beliau shalat di sana; Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, Shubuh. Kemudian beliau diam sejenak hingga matahari terbit. Beliau berpesan agar dibuatkan tenda dari bulu binatang di Namirah (Muzdalifah). Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berjalan. Saat itu orang-orang Quraisy meyakini Rasulullah shallallahu alaihi wa salla akan wukuf di Masy’aril haram (muzdalifah) sebagaimana kaum jahiliah melakukannya. Namun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melewatinnya hingga tiba di Arafah. Di Namirah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah mendapat tenda didirikan, lalu beliau singgah di sana. Tatkala matahari tergelincir, beliau minta dihadirkan Quswa (onta tunggangannya), lalu hewan itu membawanya hingga beliau mendatangi wadi (tanah landai). Kemudian beliau berkhutbah dan berkata,

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا ، أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوعٌ ، وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ ، وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَائِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ ، كَانَ مُسْتَرْضِعًا فِي بَنِي سَعْدٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ ، وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ ، وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَانَا رِبَا عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ ، فَاتَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ ، فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ ، وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ ، فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ ، وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ، وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ ، كِتَابُ اللهِ ، وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّي ، فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ؟ قَالُوا : نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ ، فَقَالَ : بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ ، يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ ، اللهُمَّ اشْهَدْ ، اللهُمَّ اشْهَدْ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ .

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian haram diganggu, sebagaimana mulianya hari kalian ini dan mulianya bulan kalian ini, di negeri kalian ini. Ketahuilah, sesungguhnya semua perkara jahiliah digugurkan, darah yang ditumpahkan pada masa jahiliah digugurkan (tidak diberlakukan hukum qishash, kafarat, dll). Darah pertama yang tumpah dan aku gugurkan adalah darah Ibnu Rabiah bin Harits, dahulu dia disusukan di Bani Saad, lalu dibunuh oleh Huzail. Riba pada masa jahilah digugurkan, riba pertama yang aku gugurkan adalah riba Abas bin Abdulmuthalib, semuanya digugurkan. Bertakwalah kepada Allah terhadap isteri, sesungguhnya kalian mengambil mereka sebagai amanah Allah, kalian halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah, hak kalian yang menjadi kewajiban mereka adalah tidak mengizinkan seorang pun yang tidak dia suka menempati alas (khusus) kalian. Jika mereka (para isteri) melakukan hal itu, kalian (para suami) maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Hak mereka yang menjadi kewajiban kalian memberi nafkah dan memberi pakaian yang ma’ruf. Aku tinggalkan di antara kalian sesuatu yang tidak akan membuat kalian tersesat apabila berpegang teguh dengannya; Kitabullah. Kalian bertanya kepada, apa yang akan kalian katakan? Mereka berkata, ,”Kami bersaksi bahwa engkau telah sampaikan (Islam) dan tunaikan nasehat.” Maka beliau tunjukkan jari telunjuknya ke langit dan di arahkan ke orang-orang, “Ya Allah, saksikanlah, ya Allah, saksikanlah.” Sebanyak tiga kali.

Kemudian dikumandangkan azan, lalu iqamah, kemudia beliau shalat Zuhur, lalu iqamah (lagi) kemudian beliau shalat Ashar, beliau tidak shalat apapun di antara kedua shalat itu. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengendarai hewannya hingga tiba di tempat wukufnya. Ditambatkan Qushwa (ontanya) di bebatuan, sementara jalan pejalan kaki ada di hadapannya dan beliau menghadap kiblat. Beliau terus wukuf hingga matahari terbenam. Saat cahaya kekuningan menghilang dan matahari pun terbenam, beliau memboncengkan Usamah di belakangnya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggesah Al-Qushwa hingga lehernya tercekik oleh talil kekangnya dan kepalanya nyaris menyentuh tempat naik pelana, maka beliau berkata, “Wahai manusia, tenanglah, tenanglah” Setiap kali melewati bebukitan, beliau mengendurkan sedikit (tarikan kekangnya) hingga hewannya dapat mendaki. Hingga akhirnya beliau tiba di Muzdalifah. Di sana beliau shalat Maghrib dan Isya dengan sekali azan dan dua kali iqamah, beliau tidak bertasbih di antara keduanya sedikitpun. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berbarig tidur hingga terbit fajar. Lalu beliau shalat Fajar ketika telah jelas masuk waktu shubuh, didahului azan dan iqamah.

Kemudian beliau mengendarai Al-Qushwa hingga tiba di Masy’aril Haram (tengah Muzdalifah), maka beliau menghadap kiblat, lalu berdoa, bertakbir, bertahlil dan mengucapkan kalimat-kalimat tauhid. Beliau terus berada di sana hingga sinar mulai terang, maka beliau berangkat sebelum matahari terbit. Beliau memboncengkan Fadhl bin Abbas, dia adalah orang yang rambutnya, berkulit putih dan tampan. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berangkat, lewatlah beberapa wanita yang berlarian. Fadhl memandangi mereka, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meletakkan tangannya di wajah Fadhl kemudian Fadhl mengalihkan wajahnya dan melihat di arah lain, kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengalihkan tangannya dari sisi lain ke wajah Fadhl untuk mencegah wajahnya memandang dari arah lain. Hingga akhirnya beliau tiba di Wadi Muhasir, beliau berjalan lebih cepat, kemudian beliau menempuh jalan tengah yang lurus menuju jumrah kubra (jumrah Aqabah), sehingga beliau mendatangi jumrah yang berada di bawah pohon, kemudian beliau melotar sebanyak tujuh lontaran seraya bertakbir pada setiap lontaran. Batu lontaran sebesar kerikil yang dapat dijentikkan, beliau melontar dari arah wadi (posisi Ka’bah di sebelah kiri dan Mina di sebelah kanan). Kemudian beliau berangkat menuju tempat penyembelihan hewan, lalu beliau Menyembelih 63 hewan sembelihan dengan tangannya, kemudian sisanya beliau serahkan kepada Ali dan beliau ikutsertakan dalam hadyunya. Kemudian beliau meminta sebagian daging onta, lalu dimasukkan ke dalam panci dan dimasak, maka keduanya memakannya dan meminum maraqnya (masakan berkuah).

Kemudian Rasulullah  shallallahu alaihi wa sallam mengendarai hewannya dan berangkat menuju Ka’bah Baitullah, lalu beliau shalat Zuhur di Mekah, kemudian beliau mendatangi Bani AbdulMuthalib yang sedang menimba air zamzam, lalu beliau berkata, ‘Berikan kami minum wahai Bani AbdulMuthalib, kalau seandainya tidak khawatir orang-orang ikut-ikutan menimba seperti kalian, aku akan ikut menimba bersama kalian. Maka, mereka memberi beliau  sewadah air zamzam, maka beliaupun minum darinya.”

Syekh Al-Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah telah meriwayatkan 144 pelajaran dari hadits ini, antara pelajaran dalam bidang fiqih, akidah, akhlak dan pendidikan. Kami simpulkan dalam beberapa pelajaran berikut ini.

Beliau berkata, “Di antara pelajaran dalam hadits ini adalah:

  1. Haji yang dilaksanakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam terjadi pada tahun 10 H.
  2. Para sahabat, baik laki maupun perempuan, adalah orang yang paling bersungguh-sungguh menuntut ilmu dari beliau, berdasarkan riwayat, ‘Sesungguhnya Asma binti Umais melahirkan Muhamad bin Abu Bakar, maka dia mengutus seseorang untuk bertanya apa yang harus dia perbuat.”
  3. Menuntut ilmu tidak khusus bagi laki-laki saja, sebagaimana laki-laki disyariatkan menuntut ilmu, bahkan menjadi fardhu ain (kewajiban setiap individu) Jika ibadahnya tidak dapat terlaksana dengan baik kecuali dengannya, maka hal itu menjadi wajib baginya, maka wajib baginya, begitu juga berlaku bagi wanita, tidak ada bedanya.
  4. Hendaknya seseorang menghadirkan dalam hatinya bahwa ketika dia datang ke Mekah lalu melakukan ihram, hal itu semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah Taala. Firman Allah Taala,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

سورة  الحج: 27 

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” QS. Al-Hajj: 27.

Seruang atas perintah Allah, tak merupakan seruan Allah. Dia yang menyerukan, maka saya memenuhi seruannya seraya mengatakan, ‘Labbaika allahumma labbaik’….

  1. Talbiah tak lain berisi tauhid yang murni. Karena seseorang berkata, ‘Labbaika allahumma labbaika’ Labbaika adalah jawaban dari sebuah panggilan. Karena itu, jika salah seorang dari kita ada yang memanggilnya, maka dia akan berkata, ‘labbaika’. Kata ‘labbaika’ adalah bentuk ganda (dalam bahasa Arab), yang dimaksud di sini adalah pengulangan. Pakar nahwu (tata bahasa Arab) menyebutkan bahwa kalimat ini dimasukkan dalam bentuk mutsanna (ganda), maknanya adalah ‘banyak’. Seakan-akan anda berkata, ‘Ya Tuhan, ini adalah jawaban setelah jawaban.’ Diulan sebagai bentuk penguatan.
  2. Pujian kepada Allah Taala atas kemuliaan dan kenikmatanNya. Dialah pemilik keutamaan tersebut.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ 

سورة النحل: 53 

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” QS. An-Nahl: 53

  1. Seyogyanya bagi jamaah haji atau umrah apabila tiba di Mekah segera berangkat ke Masjidilharam untuk melakukan tawaf, karena itulah tujuan utamanya. Jangan sampai yang bukan menjadi tujuan utama didahulukan. Tapi yang menjadi tujuan utamalah yang seharusnya didahulukan atau yang lainnya.
  2. Kesungguhan para sahabat radiallahu anhum untuk mengetahui apa yang diperbuat Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk mereka ikuti.
  3. Sunah, sebagaimana diwujudkan dalam perbuatan, juga diwujudkan dalam bentuk meninggalkan. Apabila ada sebab untuk dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam namun beliau tidak melakukannya, menunjukkan bahwa sunah dalam hal tersebut adalah ditinggalkan.
  4. Hendaknya, saat anda melakukan sai, anda menghadirkan perasaan bahwa anda sangat membutuhkan rahmat Allah Azza wa Jalla, sebagaimana halnya dahulu Ibu Ismail radiallahu anha sangat membutuhkan rahmat Allah Taala. Seakan-akan anda sedang meminta tolong kepadaNya akibat pengaruh dosa dan berbagai dampaknya.
  5. Baiknya pengajaran dan dakwah Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada kebaikan.
  6. Pengajaran hendaknya dengan ucapan dan perbuatan, berdasarkan sabdanya, 

فشبك رسول الله صلى الله عليه وسلم أصابعه واحدة في الأخرى وقال : دخلت العمرة في الحج

“Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memasukkan jari jemarinya satu sama lain dan berkata, ‘Umrah masuk dalam haji”

  1. Riba telah digugurkan seluruhnya, maka tidak boleh diambil apapun alasannya. Riba yang telah tetap dalam tanggungan seseorang, tidak boleh diambil, walaupun dia melakukan akad sebelum masuk Islam atau sebelum tahu hukumnya. Adapun yang sudah terlanjur dia pegang, lalu seseorang mendapatkan nasehat dan ilmu dari Allah (tentang keharamannya), tidak diharuskan baginya untuk membebaskan diri darinya, akan tetapi yang masih ada menjadi tanggungan orang lain, maka taubat darinya tidak sempurna kecuali dengan meninggalkannya dan tidak menggenggamnya.
  2. Penjelasan tentang keadilan Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana tampak dalam zahir sabdanya, “Riba jahiliah digugurkan. Dan riba pertama yang aku gugurkan adalah riba kami, riba Abas bin Abdulmuthalib, maka sesungguhnya dia digugurkan.” Maka perkara pertama yang beliau berantas dari perkara jahiliah adalah apa yang berkaitan dengan perkara kerabatnya. Hal ini sebagaimana yang beliau nyatakn dalam sebuah hadits, “Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhamad mencuri, sungguh akan aku potong tangannya.” Demikianlah, wajib bagi seseorag untuk  menegakkan keadilan, tidak membedakan apakah dia kerabat atau orang jauh, kaya atau miskin, kuat atau lemah. Manusia berada di bawah satu hukum, seseorang tidak diistimewakan (di depan hukum) selain keistimewaan yang Allah berikan kepadanya.
  3. Di dalamnya terdapat isyarat bahwa yang dituntut mencari rizki dan memenuhi kebutuhan sandang adalah laki-laki (suami), berdasarkan firmanNya,

ولهن عليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف

“Dan hak mereka (para wanita) atas kamu semuanya rizki dan pakaian secara makruf.”

Adapun wanita, maka tuntutannya adalah tetap di rumahnya untuk memperbaiki urusannya, urusan suami dan anak-anaknya. Inilah yang dilakukan generasi salafusaleh ridhwanullahi alaihim.

  1. Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berpegang teguh terhadap Kitabullah dan kembali kepadanya dan bahwa dengannya terdapat perlindungan dari segala keburukan. Jika ada yang bertanya, ‘Apa yang anda katakan tentang sunah yang secara tegas tidak terdapat disebutkan dalam Al-Quran. Kami katakan, ‘Semua sunah yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wa salalm, maka dia pada hakekatnya terdapat dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

سورة  الأحزاب: 21 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik.” QS. Al-Ahzab: 21

Dia juga berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ 

سورة  الحشر: 7 

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.” QS. Al-HAsyr: 7

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّون اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

سورة آل عمران: 31   

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Ali Imron: 31

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

سورة الأعراف: 158 

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk." QS. Al-A’raf: 158

Maka, semua sunah yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ajarkan, hakekatnya dia berasal dari Al-Quran, akan tetapi hal itu tidak harus diwujudkan dengan menyebutnya secara khusus.

  1. Pengakuan para sahabat radiallahu anhum atas jasa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan perkataan mereka, “Kami bersaksi, bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan dan memberi nasehat.” Persaksian yang diucapkan para sahabat radiallahu anhum ini wajib pula dipersaksikan oleh setiap muslim, bahwa kita pun bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menunaikan tugasnya dan menyampaikan nasehatnya. .
  2. Bolehnya memberikan isyarat ke tempat keberadaan Allah Azza wa Jalla, yaitu dilangit. Tapi apakah tempat itu melingkupinya? Jawabannya tidak. Akan tetapi, KursyNya seluas langit dan bumi, Dialah yang Maha Suci berada di atas langit yang Dia ciptakan, di atas ArasyNya, Di Maha Tinggi di atas makhlukNya dengan zat dan sifatNya, berdasarkan firman Allah Taala,

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

سورة البقرة: 255 

“Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS. Al-Baqarah: 255

  1. Selayaknya, bahkan semestinya bagi pemimpin menjadi orang yang paling segera melaksanakan apa yang dia perintahkan. Dalilnya adalah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menarik tali kekang ontanya (agar jalan perlahan). Beliau tidak mengatakan kepada orang-orang agar tenang berjalan sementara dia biarkan hewan kendaraannya jalan dengan cepat. Tapi beliaulah orang yang pertama melakukannya (jalan dengan lambat). Demikianlah halnya pemimpin panutan, apakah dia pemimpin di lapangan atau pemimpin dalam ilmu (ulama), wajib baginya bersungguh-sungguh mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, karena dia adalah panutan.
  2. Bagusnya perhatian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap siapa yang harus beliau perhatikan, bahkan termasuk kepada hewan. Hal tersebut tampak ketika beliau jalan mendaki, maka beliau melambatkan jalan ontanya sedikit. Hal ini menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada hewan tersebut.
  3. Tawadhunya Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang bersedia memboncengkan Fadhl bin Abbas radiallahu anhuma, bukan tokoh masyarakat, begitu juga ketika berangkat dari Arafah menuju Muzdalifah, beliau memboncengkan Usamah bin Zaid radiallahu anhu, padahal dia adalah maula (mantan budak) nya.
  4. Dalam riwayat ini terdapat dalil dermawannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, karena beliau Menyembelih hadyu seratus ekor onta sebanding dengan 700 ekor kambing. Sementara sekarang banyak orang yang keberatan Menyembelih hayu seekor kambing saja, bahkan kadang dia lebih memilih ibadah yang kurang utama dan meninggalkan yang lebih utama hanya karena ingin tidak mengeluarkan hadyu.
  5. Di dalamnya terdapat pelajaran bahwa perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam merupakan teladan, karena ucapan beliau kepada Bani AbdilMuthalib, “Berilah aku minum (zamzam) wahai Bani Abdulmuthalib, kalau aku tidak khawatir orang-orang menyaingin kalian untuk menimba (air zamzam) niscaya aku akan menimbanya sendiri.” Karena, jika beliau ikut menimbanya, niscaya hal itu akan menjadi sunah yang diikuti dan akhirnya akan menyaingi mereka (Bani Abdulmuthalib) dalam mengambil Air Zamzam.
  6. Di dalamnya terdapat pelajaran rendah hatinya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika meminum air Zamzam dari embernya yang biasa dijadikan tempat minum orang-orang. Mereka memberikan ember itu kepada beliau dan beliau minum darinya.

Alhamdulillah rabbil allamin, wa shallallahu wa sallam wa baaroka alaa nabiyyina muhammadin wa alaa aalihi wa shahbihi ajmaiin.”

Diringkas dari kitab ‘Syarh Hadits Jabir bin Abdullah radiallahu anhuma tentang tata cara haji Nabi shallallahu alaihi wa sallam, hal. 85-139.

Wallahu a’lam.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam

Kirim Catatan