Boleh berziarah ke makam orang yang meninggal dalam keadaan kafir dengan tujuan untuk mengambil Pelajaran saja.
Hal itu sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia berkata:
زار النبي صلى الله عليه وسلم قبر أمه ، فبكى وأبكى من حوله ، فقال : استأذنت ربي في أن أستغفر لها ، فلم يؤذن لي ، واستأذنته في أن أزور قبرها فأذن لي ، فزوروا القبور فإنها تذكر الموت أخرجه مسلم ( 3/65 ) وأبو داوود ( 2/72 ) والنسائي ( 1/286 ) وابن ماجه والحاكم والبيهقي وأحمد
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan ziarah kubur ke makam ibu-nya, Beliau menangis dan orang-orang disekitar beliau juga ikut menangis. Beliau lalu bersabda, "Aku minta izin kepada Tuhanku untuk memohonkan ampun baginya (ibuku), tetapi Dia tidak mengizinkan aku. Lalu, aku meminta izin kepada-Nya untuk berziarah ke kubur ibuku, maka Dia memberi izin kepadaku. Karenanya, ziarah kuburlah kalian, karena ziarah kubur itu dapat mengingatkan mati." (HR. Muslim (3/65), Abu Daud (2/72), al-Nasa'i (1/286), Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, dan Ahmad).
Demikian juga sebagaimana diriwayatkan oleh Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata: (Dahulu kami bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- (dalam suatu safar. Dalam riwayat lain, pada Perang Penaklukan Kota Makkah). Kemudian beliau pun singgah bersama kami. Sedang kami bersama beliau hampir seribu pengendara. Kemudian beliau sholat dua rakaat, lalu menghadapkan wajahnya kepada kami, sedang kedua matanya bercucuran. Lalu berdirilah Umar bin Al-Khoththob kepada beliau, seraya menebus beliau dengan ayah dan ibunya. Umar berkata, “Wahai Rasulullah, kenapakah anda?” Beliau bersabda, “Aku memohon kepada Tuhan-ku -Azza wa Jalla- untuk memohonkan ampunan bagi ibuku. Namun Dia tak mengizinkan aku. Karenanya, kedua mataku bercucuran, karena kasihan kepadanya terhadap neraka; dan aku meminta izin kepada Tuhan-ku untuk menziarahinya. Lalu Dia mengizinkan aku. Sesungguhnya dahulu melarang kalian dari ziarah kubur. Ziarahilah (sekarang) kuburan. Sungguh ziarah kubur akan memberikan tambahan kebaikan kepada kalian”. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/355-359), Ibnu Abi Syaibah (4/139), Ibnu Hibban, dan al-Hakim. Tambahan lainnya dari al-Hakim, yang mengatakan: "Hadis ini shahih berdasarkan syarat-syarat kedua syekh tersebut." Adz-Dzahabi sepakat dengannya, dan hadis ini sebagaimana mereka katakan. Al-Tirmidzi meriwayatkannya secara ringkas dan shahih.
Ketika berziarah ke makam orang kafir hendaknya tidak mengucapkan salam kepadanya, tidak berdoa untuknya, akan tetapi menyampaikan kepadanya kabar tentang neraka.
Dan dalilnya sebagaimana dalam Hadis Sa’ad bin Abi Waqash, ia berkata:
جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : إن أبي كان يصل الرحم ، وكان وكان ، فأين هو ؟ قال : في النار ، فكأن الأعرابي وجد من ذلك ، فقال : يا رسول الله ! فأين أبوك ؟ قال : ( حيثما مررت بقبر كافر فبشره بالنار ) قال : فأسلم الأعرابي بعد ، فقال : لقد كلفني رسول الله صلى الله عليه وسلم تعباً ! ما مررت بقبر كافر إلا بشرته بالنار أخرجه الطبراني في المعجم الكبير ( 1/191 ) وابن السني في عمل اليوم والليلة ( 588 ) والضياء المقدسي في الأحاديث المختارة بسند صحيح وقال الهيثمي ( 1/117-118 ) : " رواه البزار والطبراني في الكبير ، ورجاله رجال الصحيح
("Seorang badui pernah datang kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata, "Sesungguhnya bapakku dahulu menyambung kekerabatan, begini dan begini. Nah, dimanakah ia? Beliau bersabda, "Di neraka".Ia (Ibnu Umar) berkata, "Seakan-akan orang badui itu bersedih karena hal itu. Kemudian orang itu bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, dimanakah bapakmu?" Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, "Dimana pun engkau melewati kubur seorang musyrik, maka kabarilah ia dengan neraka". Ia (Ibnu Umar berkata, "Lalu orang badui itu masuk Islam setelah itu seraya berkata, "Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- sungguh telah membebaniku dengan kepayahan; tidaklah aku melewati sebuah kubur orang kafir, kecuali aku kabari dengan neraka), Diriwayatkan oleh al-Tabarani dalam al-Mu`jam al-Kabir (1/191), Ibn al-Sunni dalam `Amal al-Yawm wa’l-Laylah (588), dan al-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Ahadith al-Mukhtara dengan sinad shahih. Al-Haythami (1/117-118) mengatakan: “Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan al-Tabarani di al-Kabir, dan rantai perawinya adalah rantai perawi hadits-hadits yang shahih.”
Dan demikian juga hadits Abu Hurairah, Hadis marfu’:
إذا مررتم بقبورنا وقبوركم من أهل الجاهلية ، فأخبروهم أنهم من أهل النار رواه ابن السني في اليوم والليلة
(“Jika kalian melewati kuburan kami dan kuburan kalian orang-orang Jahiliyah, maka katakan kepada mereka bahwa mereka adalah dari orang-orang penghuni Neraka.”) Diriwayatkan oleh Ibn as-Sunni dalam “Al-Yawm wa al-Laylah” dengan sanad yang mencakup Yahya bin Yaman, yang memiliki ingatan yang buruk, berdasarkan otoritas Muhammad bin Umar. Saya tidak mengenalnya dari Abi Salamah berdasarkan otoritasnya, tetapi tampaknya dia adalah Ibn Amru, dengan fat-ha pada 'ain dan sukun pada mim, kemudian waw setelah ra'. Waw dihilangkan oleh juru ketik, dan dia adalah hadis hasan.
Wallahu a’lam.