Berdalih takdir Ketika berbuat dosa dengan mengatakan: “Allah Yang Maha Menang”

Pertanyaan 132820

Di negara kita, banyak diantara kita yang mengatakan frasa “Allah Yang Maha Menang”, hal ini seringkali dalam konteks protes karena tidak berbuat sesuatu, sebagai contoh Ketika anda bertanya kepada sesorang, kenapa anda tidak melakukan ini dan itu ? dan ia menjawab “Allah Yang Maha Menang”, atau anda bertanya: “kenapa anda tidak menepati janji ?” dia menjawab “Allah Yang Maha Menang”, lalu apa hukum ungkapan seperti ini? Khususnya dalam konteks tersebut ?

Teks Jawaban

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah, wa ba'du:

Allah ‘azza wajalla berfirman:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

يوسف / 21

( Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.) QS. Yusuf /21.

Ibnu Katsir mengatakan: “artinya jika Dia menghendaki sesuatu maka tidak ada yang bisa menolak ataupun menentang, sebaliknya Dia-lah satu-satunya Yang Maha Menang”

Sa’id bin Jubair berkata: “Artinya, Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Akhir kutipan dari “Tafsir Ibnu Katsir” (4/378).

Syekh Al-Saadi rahimahullah berkata: artinya: perintah-Nya yang Maha Kuasa pasti terjadi, tidak ada sesuatu pun yang bisa membatalkan atau mengalahkan-Nya (akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti) oleh karena itulah mereka melakukan apa yang mereka lakukan untuk mengalahkan hukum-hukum takdir Allah, padahal mereka lebih tidak berdaya dan lemah dari itu. Akhir kutipan dari “Tafsir Al-saadi”, (hal. 395).

Ini Adalah firman-Nya Yang Maha Kuasa:

وَهُوَ القاهر فَوْقَ عِبَادِهِ

الأنعام/ 18

(Dialah Penguasa atas hamba-hamba-Nya), QS. Al-An’am /18, dan sebagainya.

Ungkapan orang yang mengatakan: “Allah Yang Maha Menang” jika di ungkapkan dengan maksud sifat Allah Yang Maha Menang dan Maha Kuasa, Maha Kuat dan Maha Perkasa, maka yang ia maksud Adalah tepat sebagaimana mestinya.

Adapaun jika ia bermaksud sebagai dalih bagi dirinya Ketika ia lalai atau Ketika berbuat dosa maka ia hanya menggunakan takdir sebagai alasan,  dan takdir hanyalah alasan untuk malapetaka, bukan untuk kesalahan.

Syekhul Islam rahimahullah berkata: “Keimanan terhadap takdir itu wajib, dan takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk melanggar perintah, larangan, janji, dan ancaman Allah.” Akhir kutipan dari “Majmu’ al-Fatawa” (1/155).

Beliau juga mengatakan: Karena argumen yang didasarkan pada takdir  Adalah keliru menurut kodrat dan akal manusia, maka tidak ada bangsa yang menganutnya, dan itu juga bukan merupakan doktrin orang-orang rasional yang bertentangan dengan  pandangan mereka. Oleh karena itu, tidak ada kepentingan siapa pun yang dapat didasarkan padanya, baik di dunia ini maupun di akhirat. Akhir kutipan dari “Majmu’ al-Fatawa” (1/167).

Syekh Al-Saadi rahimahullah berkata: “setiap orang yang berakal tidak menerima takdir sebagai alasan, sekalipun ia mengikuti takdir dalam keadaan apapun, pijakannya tidak akan kokoh di atasnya.

Adapun syariat, maka Allah Ta'ala telah menggugurkan dalil yang didasarkan padanya dan tidak menyebutkannya kecuali pada orang-orang yang menyekutukan-Nya dan mengingkari para Rasul-Nya.

Akhir kutipan dari “Tafsir Al-Saadi” (1/763).

Diriwayatkan oleh Muslim (2664) dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ، وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

'Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta 'ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan: 'Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu'. Tetapi katakanlah: 'lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata 'law' (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan syetan.')

Syeikhul Islam rahimahullah berkata:

“Maka, ketika musibah terjadi pada dirinya, ia diminta untuk melihat takdir dan tidak meratapi masa lalu, melainkan menyadari bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya dan apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya. Maka, semestinya ia melihat takdir ketika ada musibah yang menimpanya dan memohon ampun ketika ia melakukan kesalahan. Akhir kutipan.“Majmu al-Fatawa” (8/77).

Beliau juga mengatakan:

“Seseorang tidak diminta untuk melihat takdir pada saat ia diperintahkan untuk melakukan sesuatu, tetapi pada saat terjadi musibah yang tidak mungkin dicegah, maka apapun yang terjadi pada dirimu baik karena ulah manusia atau pun tidak maka bersabarlah, berlapang dada dan berserah dirilah”. Akhir kutipan dari “Majmu’ al-Fatawa” (8/178).

Komentar untuk pernyataan ini: “sebagaimana Allah Maha Pemenang atas segala urusan-Nya”, Dia Adalah Hakim Yang Adil, Yang Menciptakan makhluk dan Yang Memutuskan perkara, Dia telah memerintahkan kita ketaatan, dan melarang kita melakukan perbuatan dosa; melihat takdir-Nya, dan menggunakannya sebagai alasan untuk membatalkan hukum-Nya Adalah amal perbutan oran-orang musyrik, sebagaimana Allah menggambarkan tentang mereka dalam firman-Nya:

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ * قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

الأعراف/28-29

(Apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kekejian. Pantaskah kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui?” * Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku memerintahkan aku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) di setiap masjid dan berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Kamu akan kembali kepada-Nya sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan.”) QS. Al-A’raf /28-29.

Wallahu a’lam.

Rujukan

Beriman Kepada Qadar
Kata-kata Yang Terlarang

Refrensi

Soal Jawab Tentang Islam

at email

Buletin

Daftarkan email Anda untuk menerima buletin dari situs Tanya Jawab Tentang islam

phone

Aplikasi Tanya Jawab Tentang Islam

Akses lebih cepat ke konten dan kemampuan menjelajah tanpa internet

download iosdownload android