Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Mayoritas ulama—dan inilah pendapat yang benar—berpendapat bahwa beliau menikahi sebelas istri (yang telah beliau gauli sebagai istri). Ketika beliau wafat, beliau meninggalkan sembilan orang istri, sedangkan Khadijah binti Khuwailid dan Zainab binti Khuzaimah—raḍiyallāhu ‘anhumā—telah wafat lebih dahulu sebelum beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- wafat.
Inilah pendapat para sahabat beliau sebgaimana yang diriwatkan dari beliau oleh para imam di dalam kitab-kitab mereka yang shahih:
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu:
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يطوف على نسائه في ليلة واحدة ، وله تسع نسوة رواه البخاري 280 .
“Bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- biasa mendatangi (mengunjungi) para istrinya dalam satu malam, dan beliau memiliki sembilan orang istri. Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 280.
Adapun riwayat yang hanya dibawakan oleh Mu‘adz bin Hisyam dari ayahnya dalam riwayat al-Bukhari (no. 265) yang menyebutkan bahwa jumlah mereka “sebelas”, maka itu adalah kekeliruan. Yang benar, beliau biasa mendatangi sembilan orang istri.
Ibnu Hajar berkata:
Ibnu Khuzaimah berkata: Riwayat tersebut hanya diriwayatkan secara tunggal oleh Mu‘adz bin Hisyam dari ayahnya. Adapun Sa‘id bin Abi ‘Arubah dan selainnya meriwayatkan dari Qatadah dengan lafaz “sembilan orang istri”. Selesai. Al-Bukhari telah memberi isyarat kepada riwayat Sa‘id bin Abi ‘Arubah dengan menggantungkannya (mu‘allaq) di sini, dan beliau menyambungkannya kembali setelah dua belas bab dengan lafaz:
كان يطوف على نسائه في الليلة الواحدة ، وله يومئذ تسع نسوة . " فتح الباري " 1/377
“Beliau biasa mendatangi para istrinya dalam satu malam, dan pada waktu itu beliau memiliki sembilan orang istri.” (Fath al-Bari, 1/377)
Dari ‘Athā’ ia berkata: Kami menghadiri jenazah Maimūnah di Saraf bersama Ibnu ‘Abbās. Lalu Ibnu ‘Abbās berkata:
هذه زوجة النبي صلى الله عليه وسلم فإذا رفعتم نعشها فلا تزعزعوها ولا تزلزلوها وارفقوا فإنه كان عند النبي صلى الله عليه وسلم تسع كان يقسم لثمان ولا يقسم لواحدة . رواه البخاري ( 4780 ) ومسلم ( 1465
“Ini adalah istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka apabila kalian mengangkat kerandanya, jangan kalian guncangkan dan jangan kalian goyangkan, perlakukanlah dengan lembut. Sesungguhnya Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memiliki sembilan orang istri; beliau membagi giliran kepada delapan orang, dan tidak membaginya kepada satu orang.” (HR. Bukhari (no. 4780) dan Muslim (no. 1465)).
Adapun istri yang tidak mendapatkan pembagian giliran adalah Saudah binti Zam‘ah, karena ia menyerahkan jatah malamnya kepada ‘Aisyah—raḍiyallāhu ‘anhumā.
Ibnul Qayyim berkata:
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa beliau wafat dengan meninggalkan sembilan orang istri, dan beliau membagi giliran di antara mereka kepada delapan orang, yaitu: ‘Aisyah, Hafshah, Zainab binti Jahsy, Ummu Salamah, Shafiyyah, Ummu Habibah, Maimunah, Saudah, dan Juwairiyah.
Istri beliau yang paling pertama menyusul beliau wafat setelah beliau meninggal adalah Zainab binti Jahsy pada tahun 20 H, dan yang paling akhir wafat di antara mereka adalah Ummu Salamah pada tahun 62 H, pada masa kekhalifahan Yazid. (Zād al-Ma‘ād, 1/114)
Adapun budak perempuan (imā’) beliau, maka Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memiliki empat orang budak perempuan.
Ibnu al-Qayyim berkata:
Abu ‘Ubaidah berkata: Beliau memiliki empat orang, yaitu Māriyah, yang merupakan ibu dari putra beliau Ibrahim; Raiḥānah; seorang budak perempuan lain yang cantik yang beliau peroleh dari sebagian tawanan perang; dan seorang budak perempuan yang dihadiahkan kepada beliau oleh Zainab binti Jahsy. (Zād al-Ma‘ād, 1/114)