Bunuh diri termasuk dosa besar, dan tidak ada di dalam Islam bunuh diri dengan tujuan melihat Allah, atau untuk mendekatkan diri kepada-Nya, lalu bagaimana seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan apa yang telah dilarang oleh-Nya, dan telah diperingatkan darinya, dan telah mengancam pelakunya dengan adzab yang besar dan pedih ?
Dan kalau hal ini di syari’atkan, maka pasti akan dilakukan oleh orang yang paling dicintai oleh Allah, dan yang paling banyak rindu untuk bertemu dengan-Nya, dari para Nabi dan orang-orang sholeh, maka tinggalkanlah gangguan syetan kepada anda, dan berhati-hatilah untuk terjerumus pada dosa besar ini yang justru akan menghalangi anda dari melihat Allah di akhirat, dan akan menyebabkan anda masuk neraka jahannam, kekal dan dikekalkan di dalamnya !!.
Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menjelaskan bahwa orang yang bunuh diri akan disiksa pada hari kiamat sesuai dengan ia membunuh dirinya sendiri.
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
مَن تردى من جبل فقتل نفسه فهو في نار جهنم يتردى فيه خالداً مخلداً فيها أبداً ، ومَن تحسَّى سمّاً فقتل نفسه فسمُّه في يده يتحساه في نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبداً ، ومَن قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يجأ بها في بطنه في نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبداً رواه البخاري ( 5442 ) ومسلم ( 109
“Barang siapa yang terjun dari gunung lalu ia bunuh diri maka ia berada di neraka jahannam dengan terjun ke dalamnya kekal dan dikekalkan di dalamnya selamanya, dan barang siapa menegak racun lalu ia bunuh diri, maka racunnya berada di tangannya ia menegaknya di dalam api neraka jahannam kekal dan dikekalkan di dalamnya selamanya, dan barang siapa yang bunuh diri dengan sebuah besi, maka besinya berada di tangannya ditusukkan ke perutnya di neraka jahannam kekal dan dikekalkan di dalamnya selamanya”. (HR. Bukhori: 5442 dan Muslim: 109)
Dan dari Tsabit bin Dhahhaq –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
مَن قتل نفسه بشيء في الدنيا عذب به يوم القيامة رواه البخاري ( 5700 ) ومسلم ( 110 ) .
“Barang siapa yang bunuh diri dengan sesuatu di dunia, maka akan disiksa dengannya pada hari kiamat”. (HR. Bukhori: 5700 dan Muslim: 110)
Dan dari Jundub bin Abdullah –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
كان فيمن كان قبلكم رجل به جرح فجزع فأخذ سكيناً فحز بها يده فما رقأ الدم حتى مات . قال الله تعالى : بادرني عبدي بنفسه حرمت عليه الجنة رواه البخاري ( 3276 ) ومسلم ( 113
“Bahwa ada seseorang yang ada sebelum kalian telah terluka, lalu ia mengeluh dan mengambil pisau dan memotong tangannya, dan tidaklah darahnya terhenti sampai ia mati. Allah Ta’ala berfirman: “Hambaku telah mendahului-Ku dengan diri-Nya, maka Aku telah haramkan surga kepadanya”. (HR. Bukhori: 3276 dan Muslim: 113)
Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah meninggalkan kepada orang yang bunuh diri, sebagai hukuman baginya dan ancaman kepada orang lain untuk melakukan perbuatannya, dari Jabir bin Sumrah –radhiyallahu ‘anhu- berkata:
أُتي النبي صلى الله عليه وسلم برجل قتل نفسه بمَشاقص فلم يصل عليه رواه مسلم ( 978
“Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah dihadirkan orang yang bunuh diri dengan panah kepada beliau, lalu beliau tidak menshalatkannya”. (HR. Muslim: 978)
An Nawawi berkata:
“Al Musyaqish adalah anak panah”.
Dalam hadits ini terdapat dalil bagi orang yang berkata: “Orang yang bunuh diri tidak disholatkan karena kedurhakaannya, dan ini madzhabnya Umar bin Abdul Aziz dan Al Auza’iy. Hasan, An Nakho’i, Qatadah, Malik, Abu Hanifah, Syafi’i dan jumhur ulama berkata: “Tetap dishalatkan”. Dan mereka menjawab hadits ini bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- beliau sendiri tidak menshalatkannya sebagai ancaman kepada manusia untuk perbuatan seperti itu, dan dan para sahabat telah menshalatkannya”. Selesai. (Syarah Muslim: 7/47)
Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara apa yang telah Dia syari’atkan, dan yang paling utama adalah melakukan ibadah-ibadah fardhu, kemudian melaksanakan hal-hal yang sunnah, sebagaimana hadits yang telah diriwayatkan oleh Bukhori (6502) dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
إن الله قال : من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب، وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه ، وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها وإن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه
“Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya”.
Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiq, dan menjaga anda dari kejahatan diri anda, dan bisikan syetan.
Wallahu A’lam