Alhamdulillah.
Para ulama fiqih sepakat bahwa rujuk dianggap sah dengan ucapan yang menunjukkan hal tersebut, seperti dengan mengatakan kepada isterinya yang telah dicerai, aku rujuk kami, atau aku rujuk dia..
Mereka berbeda pendapat apakah rujuk dapat dilakukan dengan perbuatan, seperti dengan menjimaknya atau dengan mencumbunya seperti menyentuh, mencium atau 45904.
Rujuk tidak disyaratkan harus didepan penghulu, tidak pula disyaratkan dua orang saksi, akan tetapi disunahkan menghadirkan saksi ketika rujuk, berdasarkan firman Allah Ta’ala,
فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً) سورة الطلاق: 2)
“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” SQ. At-Talaq: 2.
Tidak disyaratkan sang isteri yang ditalak harus berada di rumah suaminya, bahkan rujuk dianggap sah dalam keadaan isteri tetap berada di rumah keluarganya.
Karena itu, jika anda telah mengatakan kepada isteri anda, engkau saya rujuk, maka rujuknya dianggap sah, maka dia menjadi isteri anda kembali. Kecuali jika talaknya berdasarkan imbalan, yaitu dia membayar sejumlah uang tertentu kepada anda, atau dia tidak menuntut harta yang menjadi haknya dari anda, maka itu dianggap khulu’, atau talaq ba’in, maka dia tidak dapat kembali kepada anda kecuali dengan akad baru dan mahar baru.
Wallahua’lam.